
"Sekarangkan mas Ver....mas Arshana ada disini ma. Jadi mama gak perlu merasa kesepian lagi." hampir saja Zulfa salah sebut nama. Sudah kebiasaan memanggil dengan sebutan Verko sekarang harus dirubah.
"Nama suamimu sebelumnya siapa sayang? Pasti bukan nama asli kan?" kata Yolanda tau mendengar Zulfa hampir salah sebut nama.
"Eh iya ma, dulu mas Arshana tuh pakai nama Verko Lhasian. Jadi aku gak tau kalau sebenarnya nama asli bukan itu," jawab Zulfa apa adanya.
"Pantas saja! Bisa-bisanya dia berbohong dan baru jujur saat sudah nikah sama kamu. Emang anak mama satu itu suka bikin greget. Tapi mama menyayanginya." ujar Yolanda sambil membalik halaman foto.
Zulfa hanya tersenyum menanggapi ocehan Yolanda yang membuat Zulfa jadi teringat akan mamanya yang sudah meninggal. Matanya mulai berkaca-kaca, dia ingin merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang ibu. Namun tidak pernah Zulfa dapatka sejak dirinya masih kecil. Sekarang melihat sikap Yolanda yang lembut padanya membuat hati Zulfa menghangat.
Yolanda yang sadar kalau Zulfa hanya diam, ia pun menoleh dan sontak saja terkejut melihat mata Zulfa yang senitihkan air mata.
"Kenapa nangis? Ada kata-kata mama yang menyakiti hatimu ya? Mama minta maaf." ucap Yolanda panik sekaligus merasa bersalah.
"Enggak ma, perkataan mama gak ada yang salah kok. Aku hanya teringat akan mama kandungku yang sudah meninggal. Selama ini aku tidak pernah mendapat kasih sayang dari seorang ibu yang begitu tulus. Dari kecil mama tiriku malah memperlakukan aku seperti pembantu. Dan saat bertemu mama, aku bisa merasakan sosok ibu dalam diri mama. Mangkanya aku nangis karna terharu. Maaf ya ma aku jadi curhat." jelas Zulfa menyerka air matanya lalu tersenyum kembali membuat Yolanda tertegun melihat senyum manis dari bibir Zulfa.
"Sekarang kamu punya mama, anggap saja mama ini adalah ibu kandungmu sendiri. Gak perlu sungkan dengan mama. Mama senang ada kamu yang bisa diajak ngobrol. Kalau boleh mama tau, ibu kamu meninggal kenapa? Kalau kamu gak keberatan menceritakannya." satu tangan Yolanda, ia gunakan untuk menyipak anak rambut Zulfa ke belakang.
"Gak keberatan kok ma. Mama meninggal karna kecelakaan bersama papa. Saat mama baru saja dua minggu keluar dari rumah sakit karna melahirkan aku. Mama sempat koma dan nyawanya tidak tertolong. Jadi papa merawatku sendiri, setelah itu papa nikah lagi dengan mama Elena. Dan melahirkan Firsi adik tiriku. Mereka tidak benar-benar sayang padaku ma. Aku hanya dijadikan pembantu oleh mereka. Walau papa sudah menegurnya, mama Elena tetap memperlakukanku semena-mena. Dulu masih ada nenek, tapi ia meningg saat aku baru saja masuk kuliah. Dan saat kuliah itu aku memutuskan untuk tinggal di asrama. Karna aku capek kalau harus dirumah. Aku juga harus bekerja untuk membiayai hidup, walau kuliahku sudah ada beasiswa. Mama Elena selalu melarang papa untuk memberikan uang pada aku. Huufh." akhir kata Zulfa menarik nafas panjang, merasakan sesak didadanya mengingat masa kecil yang seharusnya penuh canda tawa malah menjadi bencana.
Yolanda mendengar tersebut bisa merasakan bagaimana penderitaan Zulfa selama ini. Pasti sangat besat, ditambah kasih sayang yang dibedakan. Yolanda sampai berkaca-kaca mendengarnya. Ia menarik tubuh Zulfa ke dalam pelukannya. Saat itu juga Zulfa bisa merasa tenang. Ketenangan yang tidak pernah dia rasakan.
"Ada mama sekarang, kamu gak akan sendiri lagi. Ada suamimu juga yang menyayangi dan mencintaimu dengan tulus. Kamu boleh cerita apapun sama mama, kamu boleh peluk mama semaumu. Sekarang kamu adalah anak mama. Putri kesayangan mama." Zulfa terharu mendengar perkataan Yolanda padanya. Ia memeluk erat ibu mertuanya yang baru beberapa jam dia kenal. Rasa nyaman langsung tertoreh pada hatinya.
__ADS_1
"Makasih, makasih mama sudah menyayangi Zulfa. Mau menerima Zulfa jadi menantu mama, menerima segala kekurangan Zulfa." balas Zulfa memeluk Yolanda erat.
"Iya sayang, sudah jangan nangis lagi. Cantikmu nanti hilang, masa putri mama harys nangis. Kamu kan kuat." ucap Yolanda merenggangkan pelukannya lalu satu tangan ia gunakan untuk mengusap pipi Zulfa yang basah akan air mata.
🥀
🥀
🥀
Arshana akan kembali memegang perusahaan keluarganya. Lantas bagaimana dengan Arganta? Dia telah menyerahkan posisinya kembali kepada Arshana. Walau kakaknya tidak mempermasalahkam hal tersebut, Arganta tetap tidak mau dan menyuruh Arshana untuk kembali menjabat sebagai presdir perusahaan Abhimarta Group. Sementara Arganta akan mengambil alih perusahaan Dharvanta yang sudah berada ditangannya.
Arganta akan mengembangkan perusahaan tersebut dan merubah nama Dharvanta menjadi nama Abhimarta Group yang akan dijadikan cabang perusahaannya. Arshana pun menerimanya dan akan kembali bekerja di perusahaan. Lalu siapa yang akan menjadi asisten dia? Sedangkan Arganta sudah tidak lagi menjadi bawahannya. Arshana sudah memilih siapa orang tersebut. Siapa lagi kalau bukan penolongnya, yaitu Brima. Ya dia akan menjadikan Brima sebagai asistennya.
Bu Aida dan Brima sudah diundang untuk datang ke mansion. Keluarga Arshana ingin berterima kasih secara langsung dengan mereka sekaligus untuk mengganti uang yang sudah dipakai untuk berobat Arshana waktu itu. Kedatangan mereka disambut dengan hangat. Mereka juga diajak untuk makan malam bersama. Tadi Bu Aida dan Brima dijemput langsung oleh asisten tuan Felix. Sebelumnya Arshana sudah mengatakan kepada Brima agar dia tidak kaget tiba-tiba ada mobil yang datang.
"Kami sebagai keluarga dari Arshana mau mengucapkan beribu terima kasih sama kalian yang sudah menolong putra kami. Bahkan kalian harus memakai uang tabungan untuk membiayai rumah sakitnya. Saya berterima kasih sekali terutama sama kamu, tanpa ada kamu saat itu mungkin nyawa anak saya tidak bisa tertolong lagi." ucap tuan Felix menatap ke arah Bu Aida dan Brima yang duduk didepannya.
"Sama-sama om, sudah tugas kami untuk saling tolong-menolong. Waktu itu saya juga mementingkan kondisi tuan muda serta nyawanya yang ingin direnggut oleh orang lain. Yang terpenting sekarang tuan muda Arshana bisa kembali pulang," jawab Brima sopan.
"Putra anda sudah saya anggap sebagai anak kandung sendiri sama seperti putra saya. Kami mau minta maaf juga sudah menyembunyikan identitas asli putra anda. Kami terpaksa atas kemauan tuan muda. Saya juga khawatir dengan keselamatan tuan muda pasa saat itu." ucap Bu Aida menerangkan sekaligus meminta maaf. Ia juga merasa bersalah sudah menyembunyikan identitas Arshana.
"Gak pa-pa, saya mengerti hal itu. Saya sebagai ibu juga khawatir melihat kondisi anak saya. Kalau waktu berputar kebelakang, saya juga pasti akan melakukan hal sama. Lebih baik dia bersembunyi dan orang mengetahuinya sudah tiada. Kalau sampai orang yang mengincarnya tau anak saya masih hidup, pasti mereka akan mengincar nyawa Arshana. Jadi jangan meminta maaf pada kami. Malah kami yang harus berterima kasih." sahut Yolanda yang punya naluri seorang ibu. Dia bisa mengerti, lebih baik menyembunyikan dari pada musuhnya tau.
__ADS_1
"Saya akan mengganti uang yang sudah digunakan untuk berobat putra saya selama dirumah sakit. Katakan saja berapa, saya akan menggantinya," kata tuan Felix.
"Tidak perlu tuan, saya ikhlas membantu. Tuan muda sudah saya anggal anak sendiri, jadi tuan tidak perlu repot-repot untuk menggantinya." Bu Aida menolaknya secara halus. Ia membantu Arshana tak pernah memikirkan soal kembali atau tidaknya.
"Jangan begitu, kalian berhak untuk mendapatkan uang kalian kembali. Kalau memang anda tidak mau mengatakan berapapun, saya akan tetap mengembalikannya. Dan anda tidak boleh menolak." lalu tuan Felix mengeluarkan cek dan mengisinya dengan nominal yang begitu besar. Setelah diisi dengan nominal yang menurutnya cukup untuk mengganti biaya rumah sakit Arshana.
"Ambillah, jangan pernah ditolak." tuan Felix menyodorkan cek yang sudah diisi nominal.
Saat dilihat Bu Aida dan Brima sangat terkejut melihat isi nominal yang tertera. Uang yang mereka keluarkan saja tidak sebanyak yang ada dicek tersebut.
"Tiga ratus juta......Tuan ini sangat terlalu banyak. Uang biaya rumah sakit tidak sebesar yang ada didalam sini. Saya tidak bisa menerima uang sebanyak ini." Bu Aida sangat kaget melihat nominalnya, ia pun mengembalikan lagi karna menurutnya terlalu besar.
"Tidak apa-apa, anggap saja sebagai rasa terima kasih kami. Sisa uangnya bisa anda gunakan apapun. Kami juga ikhlas memberikannya, tolong diambil jangan ditolak. Saya mohon..."
"Ambil saja itu adalah hak kalian, jangan ditolak. Saya akan senang kalau anda mau menerimanya." sahut Kakek Abhi bersuara secara dari tadi dia diam.
Mendengar Kakek Abhi yang berbicara membuat Brima menoleh sejenak kepada ibunya. Lalu ia ambil cek tersebut untuk menghargai keluarga Arshana. Kalau pun berlebih masih bisa ia sumbangkan buat anak panti atau orang miskin.
"Baiklah saya akan menerimanya. Saya ucapkan terima kasih tuan dan nyonya. Terima kasih juga buat anda tuan muda sudah menerima saya bekerja diperusahaan anda." ucap Brima tersenyum bahagia.
"Gak perlu terima kasih, aku senang bisa membantu. Tanpamu aku mungkin sudah gak ada disini. Beruntung saat itu kau lewat dekat sana." ujar Arshana kembali tersenyum.
"Iya tuan muda....."
__ADS_1
"Kalau begitu sekarang kita makan malam bersama. Makanannya sudah siap dimeja. Mari kita makan sama-sama." ajak Yolanda