
Sesampainya Zulfa diasrama, ia langsung mengetuk pintu. Tak lama Maira membukakannya. Ternyata dia belum tidur karna penasaran menunggu Zulfa pulang. Maira sempat melihat wajah Zulfa yang berseri-seri. Sudah bisa ditebak olehnya kalau Verko berhasil menyatakan perasaannya kepada Zulfa.
Zulfa langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Hari ini sangat melelahkan baginya, tapi bisa terbayar dengan rasa bahagianya. Maira masih setia menunggu Zulfa selesai mandi. Beberapa menit kemudian, Zulfa sudah selesai. Ia beranjak ke meja rias sambil ditanya-tanya oleh Maira.
"Zulfa....Tadi kak Verko ngajak kamu kemana? Kok kamu pulang-pulang wajahnya berseri gitu. Bukannya kamu masih kes sama dia ya!" Maira pura-pura tidak tau agar tidak dicurigai oleh Zulfa kalau tadi dialah yang mengatakan semuanya kepada Verko.
Zulfa masih diam ditanyai oleh Maira. Lalu ia beranjak naik ke atas ranjang, duduk disamping Maira yang terlihat penasaran sekali. Zulfa pun langsung bercerita semuanya dari awal sampai akhir tanpaada yang ditutup-tutupi oleh Zulfa. Membuat Maira yang mendengarnya jadi terkejut. Saat Zulfa mengatakan kalau Verko malah ingin menikahinya. Maira gak akan menyangka Verko bisa melakukan itu. Dia mengira Verko akan mengajak Zulfa pacaran.
"Fa kamu serius kan gak bohong sama aku? Kak Verko beneran bilang kayak gitu? Ya ampun Fa kamu beruntung banget loh. Aku kira dia bakal ngajak kamu pacaran, eh taunya malah langsung ngajak nikah. Wah sat set banget tuh, gak mau mengulur waktu. Benar juga loh yang dikatakan sama kak Verko, buat apa mengulur waktu demi kesenangan yang gak pasti. Nanti ujung-ujungnya disakitk. Lebih bagus langsung nikah, aku dukung deh Fa kalau gitu. Jadi iri sama kamu, aahhh" ujar Maira memeluk Zulfa karna rasa bahagia yang tidak diutarakannya.
"Aku juga gak menyangka Mai, kalau kak Verko tuh mau ngajak aku menikah. Yaa aku kira sama seperti yang kamu katakan tadi. Eh taunya dugaan aku salah, dia memang tipe pria idaman. Udah sabar, baik, perhatian, aku cuek pun dia sikapnya gak berubah sama sekali. Tetap seperti awal kami bertemu jadi rekan kerja. Benar-benar pria idaman banget deh. Apalagi prinsipnya sama kek aku" balas Zulfa membalas pelukan Maira.
"Iya kamu beruntung Fa. Kalau nanti kamu sudah mendapatkan dia seutuhnya, jaga baik-baik. Susah jaman sekarang mau dapetin pria kayak kak Verko gitu. Gak jauh-jauh deh, itu Si Rey kamu lihat. Nembak kamu ngajak apa? Pacaran kan? Hmm untung kamu tolak. Dia tuh anak orang kaya, bisa saja semena-mena nantinya. Emang ya kita itu kalau mau melihat baik buruknya orang bukan dari penampilan dan harta tapi dari hati. Orang kaya saja belum tentu punya attitude yang baik, tapi mereka selalu menganggap rendah kalangan bawah" papar Maira panjang lebar menjabarkan semua yang dia tau.
"Tapi kalau yang aku lihat sih, Rey itu anaknya baik loh. Gak seperti yang lain, walau dia kaya gak ada sombongnya sama sekali. Hanya saja emang hatiku gak bisa menerima dia sebagai pasangan, aku hanya menganggapnya sebagai teman baik" balas Zulfa sambil perlahan melepaskan pelukannya.
"Kamu benar Fa, Rey memang baik banget. Gak ada sombong sama sekali. Dan banyak sebenarnya perempuan dikampus yang suka sama dia. Tapi Rey sendiri malah milih kamu, kasihan aku lihatnya. Semoga saja dia bisa mendapat pasangan yang mencintainya dengan tulus."
"Semoga saja begitu. Eh Mai, aku deg degan dengan jawaban papa nanti gimana. Aku takut papa gak setuju Mai, haduh gimana ya. Belum apa-apa aku sudah takut duluan" kata Zulfa, walau sudah berpikir positif tetap saja pikirannya melayang kemana-mana.
__ADS_1
"Kalau menurutku sih papa kamu bakalan setuju saja asalkan kamu bahagia dan pasangan kamu bisa bertanggungjawab. Yang aku khawatirkan malah mama tirimu Fa. Dia pasti tidak akan setuju, kalau enggak gitu mulutnya nyinyir. Eh maaf Fa aku gak bermaksud ngejelekin mama kamu" Maira langsung menutul mulutnya. Ia kebiasaan suka ceolas ceplos kalau ngomong.
"Gak pa-pa santai saja. Lagian memang kenyataannya begitu. Aku jadi berpikir lagi setelah kamu ngomong Mai. Iya juga kenapa aku gak kepikiran tentang mama. Pasti dia bakal ngerendahin aku, kalau gak gitu ngehina kak Verko nanti. Gimana nih Mai, aku gak mau kak Verko dihina oleh mama tiriku. Dia itu kan gak mau punya memantu kalangan bawah. Maunya orang kaya semua" Zulfa jadi berpikir kembali tentang mamanya. Yang jelas tidak bakalan setuju. Zulfa gak sampai memikirkan kesana tadi, yanh dia pikirkan hanya jawaban dari papanya.
"Sudah jangan dipikirkam, jawaban mama kamu gak penting. Yang penting itu restu dari papa kamu. Yang menikahkan kalian papamu Fa, bukan mama tirimu. Jadi gak perlu dengerin jawaban mamamu. Yang menjalankan rumah tangga kamu bukan dia. Kalau pun mama kamu minta menantu yang kaya, kan masih ada anak kesayangannya itu. Gak punya harga diri kalau menurutku, suka ganti-ganti pasangan. Jijik aku lihatnya" ucap Maira blak-blakan tanpa ada yang dia tutupi.
Begitu Maira kalau bersama Zulfa tidak ada yang dia tutup-tutupi selalu berbicara apa adanya. Kalau suka bilang suka, kalau gak suka pasti mengatakan tidak suka. Sikap Maira itulah yang membuat Zulfa jadi senang bersahabat dengannya. Membuat persahabatan mereka terjalin dengan harmonis, sebab saling terbuka satu sama lain. Memang begitu seharusnya sebagai seorang sahabat yang baik.
"Sudah lah gak perlu bahas dia Mai. Aku males dengernya. Tadi aku juga sudah bilang sama kak Verko kalau aku gak bisa menikah sebelum hari kelulusan. Nanti malah beasisku dicabut, tinggal dikit lagi selesai" ucap Zulfa malas kalau harus membahas Firsi.
"Iya deh iya. Benar apa katamu Fa. Menikahnya tunda dulu sampai kamu lulus. Toh juga gak lama kan, ya sudah sekarang sabar aja dulu." Zulfa mengangguk.
"Iyaa, kalau marahan terus gak baik buat diri sendiri nanti malah menjadi tekanan batin. Terus mengarah kepada pikiran, ujung-ujungnya mengganggu konsentrasi. Gak baik kan?" ujar Zulfa.
"Halah lah kamu dari minggu lalu ngecuekin kak Verko terus. Hitung tuh berapa hari, gak kasihan ih. Padahal kak Verko juga suka kan sama kamu. Cuma emang dia gak mau ngungkapin hanya karna apa? Minder bukan? Leh kamu sih gak pengertian, nyalahin dia terus. Yang katanya gak peka lah, inilah. Kamu sendiri juga gak peka dengan perasaannya" giliran Maira yang memarahi Zulfa habis-habisan. Yang dimarahi hanya nyengir doang tanpa dosa.
"Sudah lah Mai jangan dibahas. Aku jadi makin merasa bersalah nih sama dia. Aku kan juga sudah minta maaf sama kak Verko. Siapa sih Mai yang gak berpikir negatif kalau dia bertemu cewek berduaan apalagi ditempat yang dibilang cocok buat ngedate." Maira tau soal Delli yang sempat bertemu dengan Verko direstoran. Karna dia ada disana bersama Zulfa dan melihat itu semua didepan matanya.
Awalnya Maira mengira kalau perempuan yang bersaa Verko adalah pacarnya. Tapi Maira masih bisa berpikiran positif, berbeda dengan Zulfa yang marah duluan dan ngambek gak jelas. Saat Maira dengar sendiei dari Verko, barulah dia percaya kalau perempuan yang diretoran saat itu bukan lah pacarnya. Mungkin saja teman, pikirnya Maira saat bertemu dengan Verko.
__ADS_1
"Ya sudah, tidur yuk. Jam berapa ini, sudah larut malam. Besok aku mau ke kampus ambil buku, ayo tidur" ajak Maira.
Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur karna hari semakin larut malam. Zulfa pun ikut tidur disamping Maira. Malam ini mereka mengakhiri cerita dengan mimpi yang indah. Terutama bagi Zulfa yang sudah pasti akan bermimpi indah bersama orang yang dicintai.
...☘️☘️☘️...
...Assalamu'alaikum...
...Apa kabar guys? ...
...Semoga sehat selalu ya, jangan sakit-sakit😊...
...Lama nih mimin gak sapa readers 😁....
...Dukung terus author ya, Like, Vote, and Komen. Author suka baca komenan kalian deh 🤭❤....
...Pencet jempolnya guys jangan kelewat 👍....
...See You All, By By 👋...
__ADS_1