Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
73 #Manisan


__ADS_3

Arganta akan pergi ke perusahaan untuk menghadiri rapat besar bersama Arshana juga. Mereka akan berkumpul digedung perusahaan Abhimarta Group. Rapat dimulai tepat pukul delapan. Arganta sudah berangkat duluan bersama Felix.


Sedangkan Arshana masih dirumah karna Zulfa tidak ingin dia pergi. Dari bangun tidur, Zulfa sudah mengatakan kepada Arshana agar menemaninya. Padahal kemarin Arshana sudah mengatakan akan ada rapat diperusahaan. Tapi malah Zulfa menahannya agar tidak pergi. Sudah dibujuk tetap saja Zulfa merengek.


"Aku akan cepat pulang, selesai rapat aku akan kembali. Ayolah sayang, izinkan aku pergi ya. Papa pasti sudah nunggu aku disana. Kamu mau apa sih, nanti aku belikan," ucap Arshana membujuk.


"Gak mau, pokoknya kamu harus tetap dirumah. Aku pengen kamu temenin terus mas, besok kan juga bisa," jawab Zulfa sambil memeluk Arshana.


"Gak bisa dong sayang, kan sudah direncanaka hari ini. Rapat ini penting, banyak petinggi perusahaan lain yang datang. Jadi gak bisa ditunda, kasihan ding mereka yang dari jauh. Janji deh nanti cepat pulang dan besok aku akan ambil libur buat nemenin kamu seharian. Gimana?" tawar Arshana sambil menangkup kedua pipi Zulfa karna gemas melihat tingkah istrinya.


Zulfa terlihat berpikir sejenak. "Janji ya cepat pulang dan besok temenin aku seharian," kata Zulfa.


"Iya, janji deh! Sekarang aku boleh pergi kan?"


"Iya boleh, tapi jangan lama." Zulfa berasa berat untuk melepaskan Arshana, dia ingin sekali ditemani suaminya seharian.


"Iya sayang," ucap Arshana lalu mengecup kening Zulfa. Turun ke pipi dan terakhir bibir.


Zulfa pun membawakan tas Arshana keluar. Sampai didepan, Zulfa berikan tas ditangannya lalu mengecup punggung tangan Arshana. Dalam sekejab mobil Arshana sudah melesat keluar halaman mansion dan sudah tidak nampak lagi dari pandangan Zulfa.


Zulfa kembali masuk ke dalam. Dia tidak kembali ke kamar melainkan pergi ke taman samping. Padahal baru saja Arshana pergi, belum ada setengah jam. Tapi Zulfa sudah kangen banget. Dia duduk dibangku taman yang dihiasi berbagai macam bunga. Dan yang paling disukai Zulfa adalah mawar putih. Semua tanaman, baik toga maupun hias, Yolanda lah yang menanamnya.


Kalau dipandang tampak asri dan menyejukkan. Membuat Zulfa betah berlama disana. Mansion tersebut juga punya kebun dibelakangnya yang ditenamani oleh berbagai macam buah dan sayur. Ada tukang kebun sendiri yang merawatnya. Tapi dibatasi oleh dinding, sehingga kalau dilihat tampak terpisah dari mansion. Padahal juga tidak, hanya dibatasi dinding saja.


Zulfa yang sedang asyik melihat sekeliling, matanya menangkap pohon mangga dan rambutan yang sudah berbuah, tentu dari kebun. Dinding yang menjadi pembatas masih kurang tinggi dari pada pohon mangga dan rambutan yang tumbuh. Jadi masih bisa dilihat oleh Zulfa. Entah kenapa Zulfa ingin sekali makan manisan mangga dan rambutan. Membayangkannya saja sudah membuatnya ngiler.


Dia pun beranjak pergi hendak ke kamar untuk mengambil ponsel. Zulfa berniat meminta suaminya untuk membelikan manisan mangga. Tapi kalau dipikir menunggu suaminya bakalan lama. Langkahnya tidak jadi ke kamar, tapi beralih ke depan.


"Putri mama ini cari siapa sih? Kok mondar mandir dari tadi," tanya Yolanda turun dari tangga melihat Zulfa seperti orang kebingungan.


"Mang Mamat kemana ma? Kok gak kelihatan," tanya Zulfa kepada Yolanda.

__ADS_1


"Ada kok tadi dibelakang, kenapa memangnya cari Mang Mamat?" tanya balik Yolanda dan sekarang dia sudah ada didepan Zulfa.


"Mau minta tolong ngambilin mangga sama rambutan dibelakang," jawab Zulfa membuat Yolanda heran.


"Untuk apa sayang? Bukannya didapur juga ada mangga ya," kata Yolanda.


Memang didapur ada mangga yang sudah matang. Tapi yang diinginkan Zulfa adalah mangga yang masih setengah matang. Bukan mangga yang sudah matang.


"Aku pengen yang masih setengah matang ma. Aku pengen buat manisan mangga dan rambutan," jawab Zulfa.


"Tumben kamu pengen buat manisan, kenapa gak beli saja dari pada ribet."


"Gak ma, aku pengen buat sendiri. Aku ke belakang dulu ya ma," karna sudah tidak sabaran. Zulfa pun berlalu ke belakang untuk menghampiri Mang Mamat tukang kebun yang selalu merawat semua tanaman dikebun kecuali tanaman hias dan toga. Kalau tukang kebun untuk bersih-bersih sudah ada sendiri.


Karna Yolanda penasaran, dia pun mengekor Zulfa ke belakang. Mang Mamat baru saja selesai dari kebun dan mengembalikan peralatan ke tempat semula.


"Mang Mamat," panggil Zulfa, yang disebut namanya pun menoleh.


"Hmm, kalau Mang Mamat gak sibuk. Saya mau minta tolong, bisa gak Mamang ambilkan mangga dan rambutan yang ada dikebun. Tapi mangga yang setengah matang saja," ucap Zulfa sedikit tak enak hati menyuruh Mang Mamat untuk memenuhi keinginanya.


"Untuk apa non? Bukannya saya sudah mengambil buah yang sudah matang, untuk apa nona muda minta mangga yang belum matang?" tanya Mang Mamat.


"Mau buat manisan, boleh ya Mang?" pinta Zulfa memohon.


Mang Mamat pun mengiyakan, karna dia sendiri tak enak hati melihat nona mudanya malah memohon seperti itu. Dia pikir aneh! Sudah ada mangga yang matang kenapa harus minta yang belum matang.


"Nona muda tunggu disini saja, saya ambilkan," ucap Mang Mamat melihat Zulfa hendak mengikutinya.


"Aah ya sudah lah Mang, nanti Mamang bawa ke dapur saja. Makasih ya Mang sudah mau saya repotkan," kata Zulfa.


"Tidak apa-apa non, sudah tugas saya. Kalau begitu saya ambil dulu," balas Mang Mamat sopan.

__ADS_1


Yolanda yang melihat Zulfa seperti itu jadi merasa aneh. Sampai dia teringat sesuatu, lantas bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil. Yolanda pun memilih ke dapur.


"Mau buat bumbunya sayang?" tanya Yolanda pada Zulfa yang terlihat sedang melihat bumbu dapur.


"Iya ma," jawab Zulfa.


"Biar mama saja yang buatkan, mama jago loh kalau buat begini. Kamu tunggu saja, nanti mama panggil," ucap Yolanda mengambil alih bahan yang ada didepan Zulfa.


"Eh ma gak perlu, Zulfa bisa sendiri. Ini kan keinginan Zulfa, nanti malah merepotkan mama," ujarnya mencegah.


"Tidak usah membantah, mama gak merasa direpotkan kok. Kalau kamu mau lihat gak pa-pa, tapi jangan membantu. Duduk saja disana, oke sayang!" Yolanda tetap memaksa Zulfa agar tidak membantunya. Dia ingin mengerjakannya sendiri, kalau hanya buat manisan buat Yolanda kecil.


Karna Yolanda melarangnya untuk mrmbantu, Zulfa pun hanya bisa duduk sambil melihat mama mertuanya mengotak-atik bumbu dapur. Dengan lihainya Yolanda meracik bumbu ini dan itu.


Mang Mamat pun kembali dengan membawa tiga buah mangga muda dan dua ikat rambutan. Sesuai dengan reques Zulfa tadi. Setelah ditaruh, Mang Mamat kembali ke belakang. Disana juga ada Bi Tarmi yang berniat membantu Yolanda, tapi yang dibantu malah menolak.


Bi Tarmi pun memilih untuk mengupas buahnya saja sampai selesai, lalu dipotongnya mangga muda tersebut. Zulfa jadi merasa bosan kalau hanya sekedar melihat. Ingin membantu juga gak boleh. Inimah namanya dia sama dengan menyuruh, padahal dia tadi niat buat bikin sendiri sambil menunggu Arshana pulang biar gak bosan. Eh tetap saja akhirnya juga sama.


Beberapa saat kemudian, manisan pun jadi. Yolanda membawanya ke ruang keluarga. Zulfa hanya melihat saja sudah kepengen banget. Ditaruhnya ke atas meja oleh Yolanda dan menyuruh Zulfa untuk mencobanya.


"Awas non, itu asam banget mangganya. Tadi bibi sudah coba," ucap Bi Tarmi yang juga ikut mereka. Tadi dia sempat mencoba mangga sedikit dan rasanya asam sekali. Bi Tarmi gak yakin kalau nona mudanya kuat untuk memakan.


Satu suap dimasukkan ke dalam mulutnya. "Hmm enak, mama pintar sekali buatnya. Pas bumbunya," ucap Zulfa antusias.


"Duh non, mangga asam begitu kok dibilang enak," ujar Bi Tarmi melihat Zulfa maka dengan lahap. Melihatnya saja sudah keluh itu lidah.


Yolanda hanya tersenyum melihat Zulfa. "Makanlah, mama juga mau coba rambutannya saja." Yolanda pun mengambil rambutan tanpa menyentuh mangga muda. Karna dia tidak suka yang berbau asam.


"Bi cobain nih, enak loh," kata Zulfa.


"Enggak non terima kasih, bibi lihatnya saja sudah keluh. Apalagi mencobanya, bibi ke dapur dulu." Bi Tarmi pun melenggang pergi ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2