
Hari yang dinanti oleh Zulfa datang juga. Hari ini acara wisudanya, Zulfa sangat bahagia bisa lulus menjadi sarjana. Apalagi dia adalah mahasiswi yang mendapat nilai paling tinggi. Devon sangat bangga dengan pencapaian Zulfa selama ini. Karna dia bisa berjuang sendiri, walau tanpa ada Devon disampingnya.
Pihak kampus memberikan apresiasi kepada Zulfa karna bisa lulus dengan predikat paling unggul. Memang tidak diragukan lagi, sejak dahulu Zulfa memang anak yang pintar selalu mendapat juara kelas. Pantas kalau dia bisa lulus kuliah dengan predikat yang tinggi. Suatu kebanggaan bagi Zulfa bisa mencapai dititik sekarang. Perjuangannya tidak sia-sia.
Devon terus berucap bangga melihat putrinya. Setelah Zulfa turun dari panggung, Devon langsung menghampiri dan memberi ucapan selamat. Mereka saling berpelukan. Sesuai janji Devon, dia datang ke wisuda Zulfa. Walau sendiri tanpa istrinya, tidak masalah bagi Zulfa. Karna yang dia inginkan kehadiran ayahnya.
Setelah acara wisuda selesai Zulfa pergi menghampiri Maira sahabat terbaiknya. Ia akan berfoto bersama Maira untuk mengabadikan momen yang langkah. Dengan masih memakai toga, Zulfa mengambil ponsel lalu membuka kamera. Mereka sangat bahagia bisa lulus bersama. Zulfa meminta tolong kepada Verko untuk memfotokan dirinya dengan Maira.
Verko ada disana untuk melihat wisuda calon istrinya. Zulfa senang karena Verko hadir juga diwisudanya. Selesai foto bersama, kini Zulfa dan Maira akan membuat vidio lempar toga. Tentu dibantu oleh Verko, tadi mereka sempat foto begitu lalu beralih ke vidio. Dengan senang hati Verko membantu Zulfa. Sekarang adalah momen bahagia untuk calon istrinya.
"Selamat Zulfa kamu sudah berhasil." ucap Verko kepada Zulfa.
"Makasih kak." balas Zulfa tersenyum.
"Aku bangga denganmu, jarang sekarang perempuan sepertimu. Langka kayaknya, tapi berhasil aku temukan." ucap Verko membiat Zulfa terkekeh.
"Ada-ada saja kamu kak, lagian diluar sana masih banyak perempuan yang melebihiku." jawab Zulfa.
"Iya, tapi sekarang yang aku temukan dan ada didepanku adalah kamu. Bukan mereka yang kamu maksud." sahut Verko sambil memberikan ponsel Zulfa.
"Heheh, makasih ya kak sudah fotoin aku sama Maira," ucapnya.
__ADS_1
"Sama-sama." balas Verko senyumnya mengembang menatap orang yang dia cintai bisa bahagia.
Selesai membuat vidio dan berfoto, Zulfa dan Maira kini duduk berdua tanpa Verko. Pria itu sudah kembali untuk bekerja dan Devon masih disana menunggu Zulfa yang masih mengobrol dengan Maira.
"Aku gak nyangka Mai bisa lulus dengan predikat terbaik. Senang banget rasanya, apalagi bisa lulus bareng kamu. Ternyata aku kuat ya bisa dititik sekarang. Menyelesaikan kuliah walau tanpa orang tua. Huuufh...." Zulfa membayangkan perjuangan dia selama ini, kuliah sendiri tanpa kasih sayang orang tuanya. Kerja untuk membiayai kehidupannya. Semua itu terbayang dibenak Zulfa sekarang.
"Kamu hebat Zulfa, aku dari awal sudah percaya kalau kamu bisa. Nyatanya sekarang kita lulus. Aku senang dan bangga melihat kamu tadi diatas mimbar. Mereka yang selama ini remehin kamu jadi malu sendiri. Ingin bersaing denganmu tapi tidak bisa," balas Maira.
Selama kuliah Zulfa selalu mendapat cibiran kalau dia tidak bisa lulus. Banyak yang meremehkan Zulfa karna dia kuliah sendiri sambil kerja. Walau mereka tau kalau Zulfa pintar dalam segala mata pelajaran. Tetap saja mereka meremehkan kemampuan Zulfa. Tapi Zulfa selalu mengabaikan perkataan mereka, niatnya untuk kuliah dan lulus tepat waktu. Apalagi ada Maira yang selalu disampingnya, membuat Zulfa tidak merasa sendiri.
"Iya Maira, aku senang sudah lulus. Tapi kita tidak bisa tidur bareng lagi, bersenang-senang dan bercanda tawa. Aku akan rindu momen itu, kamu akan balik ke rumah. Aku juga akan kembali kerumahku, walau tak ingin." ujar Zulfa menunduk pilu.
"Mana bisa gitu, iya kalau jodoh kamu bisa bersebelahan rumah. Kalau enggak gimana? Berdoalah yang terbaik. Semoga keinginanmu bisa tercapai, karna aku juga menginginkan itu." balas Zulfa tersenyum ke arah Maira.
Maira langsung memeluk Zulfa dengan erat sambil menangis. Karna mereka akan berpisah, walau masih bisa bertemu tapi tidak sedekat dahulu. Selesai melepas satu sama lain, Zulfa pamit kepada Maira untuk pulang. Tak lupa Zulfa juga berpamitan kepada ayah dan ibu Maira. Setelah itu dia pergi masuk ke dalam mobik ayahnya. Barang-barang Maira sudah dipindahkan sejak kemarin, sehingga dia tidak perlu repot untuk mengambilnya.
"Bay Maira, sampai jumpa. Nanti telfon aku kalau sudah sampai rumah." ucap Zulfa membuka jendela mobil lalu melambaikan tangan kearah Maira.
"Siap.." jawab Maira.
Mobil pun melaju meninggalkan halaman kampus. Wajah Zulfa tak henti-hentinya tersenyum. Dia sangat bahagia hari ini bisa lulus tepat waktu dengan predikat terbaik. Impian Zulfa dari dulu. Devon bangga dengan Zulfa dan tak henti-hentinya memuji putrinya. Bahagianya Zulfa itu sederhana, tidak perlu dengan barang mewah seperti adik tirinya Firsi. Cukup dengan kasih sayang dan perhatian Devon sudah membuat Zulfa amat bahagia.
__ADS_1
...*****...
Sampai dirumah, Zulfa langsung pergi ke kamarnya untuk berganti baju dan membersihkan make up. Tak lama dia keluar dari kamar mandi dan pergi ke ruang ganti. Setelah semua selesai, Zulfa memilih turun menemui Devon dibawah. Sekarang Zulfa teramat bahagia, walau sampai dirumah tadia dia harus melihat wajah ibu tirinya yang bertatap tajam menandakan tidak suka.
Belum sampai turun ke bawah, Zulfa mendengar bising didepan kamar Firsi. Karna kamarnya tidak jauh dari kamar Firsi sehingga sebelum sampai kebawah Zulfa melewati kamar adiknya. Zulfa semakin mendekat sampai tepat didepan pintu. Terdengar jelas suara Firsi yang terisak. Zulfa yang khawatir langsung mengetuk pintu, ia takut ada sesuatu yang terjadi kepada Firsi.
Tok....Tok... "Firsi bukan pintunya, kamu kenapa? Firsi, boleh aku masuk?." tak ada jawaban dari dalam membuat Zulfa semakin khawatir. Dia terus mengetuk pintu berharap Firsi mau membukanya. Tapi harapannya palsu, Firsi tak kunjung membuka pintu.
"Firsi jangan buat kakak khawatir. Buka pintunya Firsi, kamu kenapa? Kamu ada masalah?." walau Firsi sudah jahat kepadanya, Zulfa tetap perhatian kepada Firsi. Terkadang memang perbuatan Firsi membuat Zulfa sakit hati.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, terdengar suara gagang pintu dibuka. Terlihat Firsi yang acak-acakan, Zulfa lega melihat Firsi membuka pintu. Tapu dia khawatir melihat keadaan Firsi yang tidak baik-baik saja. Niat untuk memberi perhatian, malah Firsi memaki Zulfa.
"Ngapain sih loh ganggu mulu, mau pamer karna sudah lulus iya? Sok nyombongin diri? Pergi loh, jangan ganggu gue!!." pungkas Firsi sudah ditebak oleh Zulfa reaksi apa yang akan dia dapat.
"Aku hanya khawatir sama kamu. Tadi aku mau kebawah tapi gak sengaja mendengar kamu menangis. Kamu ada masalah apa? Cerita saja, aku bisa menjadi pendengarmu." ucap Zulfa dengan tulus memposisikan dirinya sebagai kakak yang sayang dengan adiknya.
"Gue gak butuh loh!! Gak sudi gue deket loh apalagi berbagi cerita sama loh! Dari dulu aku tidak pernah menganggap loh ada. Jadi gak udah sok akrab dengan gue. Mendingan loh pergi dan jangan ganggu gue. Paham!!." bentak Firsi langsung menutup pintu begiru saja sambil membantingnya keras.
Zulfa sampai terkejut dan mengelus dada. Sifat Firsi memang tidak bisa berubah, selalu membencinya. Padahal Zulfa berusaha menjadi kakak yang baik untuk dia. Memang dasarnya Firsi seperti Elena, jahat dan suka menindas.
Zulfa pun pergi ke bawah menghampiri Devon yang ada diruang tamu sedang membawa buku. Zulfa langsung duduk disamping Devon memeluk ayahnya begitu erat. Sempat membuat Devon terkejut, tiba-tiba Zulfa memeluknya. Dia senang melihat sikap Zulfa kepadanya yang manja. Itulah yang dirindukan oleh Devon.
__ADS_1