
Setelah Daniel membaca semua isis dari memo tersebut. Tak terasa air matanya menetes, padahal Daniel tidak pernah menangis. Dia adalah lelaki yang kuat, tapi kali ini air mata itu tumpah. Dipandangi fotonya satu per satu. Dia masukkan kembali memo tersebut kedalam kotak, lalu disambarnya kunci mobil. Ia berlari keluar apartemen menuju parkiran.
Sudah bisa ditebak kemana arah tujuan Daniel sekarang. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju rumah utama. Disepanjang jalan tangannya mengusap air mata yang masih menetes. Ia berusaha untuk tidak menangis lagi karna tidak ingin keluarga kandungnya melihat dia menangis.
Setibanya didepan gerbang, ia langsung masuk perkarangan saat satpam membukakan pintu. Dibukanya pintu mobil, kakinya berjalan pelan menuju pintu masuk. Ia sudah membayangkan wajah ayah dan ibu kandungnya. Padahal selama ini Daniel tinggal dirumah utama juga, tapi tidak tau kalau sebenarnya mereka adalah keluarga kandungnya sendiri. Yang artinya selama ini dia menjadi asisten kakaknya sendiri.
Saat sudah berada diruang tamu masih ada kakek dan Yolanda. Entah kemana perginya tuan Felix, dia tidak ada disana. Daniel menatap wajah ibu kandungnya, kakinya stak diambang pintu. Tangannya masih memegang kotak tersebut. Daniel berjalan pelan ke arah Yolanda dengan perasaan yang campur aduk. Kakek baru menyadari kalau Daniel kembali lagi.
"Daniel, sejak kapan kamu kembali lagi?." tanya kakek heran melihat perubahan diwajah Daniel.
Sementara Daniel hanya diam karna masih syok dengan kenyataan yang ada. Kakinya terus melangkah sampai tepat didepan Yolanda. Lututnya seolah tak bisa menompang tubuhnya sendiri. Ia langsung berlutut didepan Yolanda. Lutunya sebagai tumpuan. Yolanda bingung kenapa dengan Daniel yang tiba-tiba datang dan berlutut didepannya.
"Kamu kenapa Daniel? Jangan seperti ini, ayo duduklah disampingku." ucap Yolanda membantu Daniel untuk berdiri dan duduk disampingnya.
"Sekarang kamu katakan ada apa?." tanya Yolanda bingung begitu pun dengan kakek.
Daniel hanya menatap lekat ke arah Yolanda. Tatapannya tidak bisa diartikan. Mungkin itulah gambaran perasaan Daniel sekarang. Dalam hatinya ia sangat mengagumi sosok ibu kandungnya yang baik. Dan keluarganya yang selama ini juga tulus padanya. Walau saat itu mereka tidak tau kebenarannya.
"Kamu kenala Daniel? Tiba-tiba datang dan berlutut didepan menantuku? Jelaskan kami tidak paham." sahut kakek heran melihat Daniel hanya diam saja dari tadi.
Tangan Daniel langsung membuka kotak pemberian mamanya. Ia ambil amplop yang berisi surat dari mamanya untuk diberikan kepada orang tua kandungnya.
__ADS_1
"Surat ini akan menjawabnya." ucap Daniel sambil memberikan amplop tersebut yang berisi surat dari mamanya.
Yolanda bingung tapi tangannya tetap mengambil amplop tersebut. Pandangannya bergantian mengarah kepada kakek dan hanya mendapatkan anggukan saja. Akhirnya Yolanda membuka isi amplop tersebut yang ternyata didalamnya ada secarik kertas. Dibaca oleh Yolanda secara seksama dan teliti.
Felix Abhimarta
Yolanda Quella
Surat ini kami sampaikan agar tidak ada lagi rahasia yang tertutupi. Saya mama dan papanya Daniel. Saat kalian membaca surat ini mungkin kami sudah tiada. Biarkan surat ini yang akan membuka semuanya. Kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada kalian. Daniel Afrenda bukanlah anak kandung kami, tapi anak kandung kalian Arganta Abhimarta. Maafkan suamiku yang sudah menukar putra kalian dengan putra kami yang sudah meninggal. Saat itu suamiku tidak ingin melihat aku bersedih dan terpukul. Sehingga dia berani berbuat nekat untuk menukar bayi kalian. Kebetulan saat itu bayi kalian persis disamping bayiku yang sudah tiada.
Aku tidak tau kalau sebenarnya bayiku sudah meninggal. Suamiku berkata jujur saat Daniel sudah berusia lima tahun dan saat itu aku sungguh menyayanginya. Seolah belahan jiwaku ada padanya. Aku tidak sanggup kalau hidup tanpa dia. Jadi aku dan suamiku menutupi hal ini dari siapapun. Hanya kami yang tau. Bahkan Daniel pun juga tidak tau kebenarannya. Dia tau kalau kotak yang aku berikan sudah dia buka dan pesan ini sampai kepada kalian. Maafkan aku Yolanda, aku sungguh tidak tau. Maafkan kesalahan kami yang tidak jujur sama kalian. Jangan salahkan Daniel atas kejadian ini, karna dia tidak tau apa-apa.
Kami sungguh meminta maaf, kami menyayangi Daniel seperti putra kandung kami sendiri. Sekarang berbahagialah dengan putra kalian Arganta. Karna Daniel sudah ada bersama kami sekarang. Yang didepan kalian adalah Arganta Abhimarta. Terima kasih karna Arganta memberi warna dalam hidupku dan suamiku hingga akhir kehidupan kami. Sekarang kami serahkan dia kepada kalian yang berhak atasnya. Aku tidak memaksa kalian untuk memaafkan kami. Cukup jujur dengan kenyataan sudah membuatku tenang. Terima kasih dan sampai jumpa.
Leisa Artika
Tatapan Yolanda langsung tertuju kepada Daniel setelah membaca surat tersebut. Matanya berkaca-kaca dan langsung memeluk Daniel sambil menangis. Rindu yang selama ini tersimpan dalam hati Yolanda sekarang bisa dia timpahkan. Daniel menerima pelukan pertama dari ibu kandungnya. Kakek yang melihat menantunya menangis menjadi heran. Bahkan Felix yang baru datang dari lantai atas juga ikut terheran. Kakek pun mengambil kertas yang tadi dibaca oleh Yolanda. Dia baca secara seksama sampai akhir.
"Mama kangen sayang, mama rindu sama kamu. Hiks....Tiap malam mama berharap bisa memelukmu, tapi tidak bisa mama jangkau. Karna mama kira kamu memang sudah meninggal. Maafin mama yang selama ini tidak tau kenyataannya. Padahal setiap hari kamu kesini menemui Arshana." ucap Yolanda sambil memeluk Daniel.
"Mama tidak perlu meminta maaf sama aku. Kita sama-sama gak tau kenyataan yang sebenarnya. Kalau saja aku tau, pasti dari dulu Arganta akan kesink temui mama sama papa." pelukan Yolanda semakin erat kepada Daniel. Rindunya begitu dalam, sampai setiap malam Yolanda berharap Arganta bisa hadir dalam mimpinya.
__ADS_1
Sementara kakek dan Felix yang membaca surat tadi langsung mematung ditempat. Tuan Felix hanya bisa menatap Daniel tak percaya bahwa yang didepannya sekarang adalah Arganta yang mereka kira sudah meninggal. Kakek pun juga menatap Daniel dengan teliti, memang wajahnya hampir mirip dengan Felix tapi cenderung kepada Yolanda. Makanya selama ini kakek merasa kalau Daniel mempunyai kemiripan dengan anaknya. Tapi tidak pernah dianggap serius.
"Mas lihat, ini Arganta. Dia masih hidup mas, dia belum pergi meninggalkan kita. Selama ini aku tidak sadar kalau Arganta bersama kita. Dilingkungan rumah dia sendiri." ucap Yolanda saat menyadari ada suaminya disana.
Tuan Felix perlahan mendekat ke arah Daniel lalu memeluknya dengan erat. Memang selama ini Felix terlihat baik-baik saja didepan Yolanda. Tapi sebenarnya dalam lubuk hatinya, dia begitu merindukan Arganta. Anak yang begitu dinanti-nanti oleh mereka, bahkan Arshana terlihat antusias saat menyambut kehadiran adiknya.
"Papa kangen sama kamu nak, hati papa hancur saat tau kalau kamu meninggal. Maafkan papa yang tidak tau kenyataan yang asli. Andai saat itu papa bisa mencari tau langsung kebenaran yang asli. Tapi papa tidak sampai kesana, karna memang kami kira kamu sudah tiada." ucap tuan Felix dipelukan Daniel.
"Sudah pa, jangan sedih lagi. Arganta sudah ada disini buat papa dan mama. Arganta minta tolong maafkan kesalahan papa dan mama yang sudah tiada. Aku sebagai Daniel meminta kerendahan hati papa, mama dan kakek untuk bisa memaafkan kesalahan orang tuaku. Setelah ini hanya ada Arganta, karna Daniel sudah pergi bersama mereka." ucap Daniel dengan sepenuh hati.
"Tidak semudah itu untuk memaafkan mereka. Bayangkan bagaimana sedihnya kami saat kehilanganmu. Hancur! Sedangkan dia dengan mudahnya menukarmu dengan bayi mereka yang sudah meninggal. Kamu tidak merasakan sedihnya orang tuamu." sahut kakek yang terlihat masih syok dengan kenyataan yang ada dan belum bisa memaafkan kesalahan Afrenda dan Leisa.
"Aku tau kakek marah, aku tidak memaksa kakek untuk memaafkan mereka sekarang. Tapi aku mohon agar kakek bisa memaafkannya suatu saat nanti. Mereka juga orang tua yang sudah merawatku dengan kasih sayang dan cinta. Bahkan rela mengorbankan nyawa mereka sendiri untuk keselamatanku, tanpa mereka aku tidak akan pernah bisa hidup dan bertemu sama kalian." jelas Daniel membuat Felix maupun Yolanda bingung.
Lantaran selama ini Daniel tidak pernah menceritakan apapun tentang masa lalunya. Kalau ditanya soal orang tuanya dia hanya menjawab kalau mereka sudah meninggal. Tidak pernah dijelaskan kronologinya secara detail. Melihat wajah penuh tanda tanya, akhirnya Daniel menceritakan semuanya dari awal sampai sekarang dia bisa bertemu dengan keluarganya.
Kakek, Felix, maupun Yolanda yang mendengar cerita Daniel begitu terkejut. Tidak menyangka kalau putranya punya masa lalu yang begitu menyedihkan. Yolanda langsung memeluknya lagi dengan erat. Seolah merasakan penderitaan Daniel selama ini.
"Maafkan mama. Mama tidak menyangka kalau kejadiannya seperti itu, jadi orang tua asuhmu meninggal untuk melindungimu." ucap Yolanda yang diberi anggukan oleh Daniel.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
...Sudah jelas ya siapa Arganta sebenarnya. Eits masih ada lanjutan dibab selanjutnya. Pantengin terus, author mohon maaf kalau telat up nya 🙏. Tenang author double up kok 😁. Jempolnya kasih dong 🤭...