Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
40 #Kemarahan Firsi


__ADS_3

Keesokan paginya, Zulfa dan Maira pergi ke kampus bersama. Sebenarnya tidak ada jadwal, tapi mereka menghadiri rapat organisasi. Setelah rapat selesai mereka tidak langsung kembali dan duduk sejenak ditaman kampus. Mereka membayangkan pertama kali masuk dikampus dan bertemu menjadi sahabat sampai sekarang.


Masa-masa itu tidak akan pernah Zulfa lupakan. Dan sebentar lagi dia akan lulus menjadi sarjana bareng dengan sahabatnya pula. Ditengah-tengah mereka asyik mengobrol, datang lah Firsi bersama Agnes dan Nevy. Firsi tiba-tiba mendorong Zulfa dari belakang sampai tersungkur kebawah. Maira sontak terkejut dan membantu Zulfa untuk bangun kembali. Zulfa juga tak kalah terkejutnya saat dia didorong secara tiba-tiba.


"Maksud loh apa sih? Suka sekali cari masalah dengan kita. Zulfa salah apa sama loh!! Seenaknya dorong-dorong. Kalau ada masalah katakan jangan main kekerasan. Kalian bukan anak kecil yang harus diajari caranya menjaga attitude!!" tegas Maira marah.


"Diam loh!! Dia...." sambil menunjuk ke arah Zulfa. "Temen loh ini yang cari masalah duluan sama gue. Ngerendahin harga diri gue!! Dan dia berani melawan gue!!" ketus Firsi menatap Zulfa dengan rasa dendam yang menumpuk.


Maira ingin menjawab ucapan Firsi, tapi tangannya ditahan oleh Zulfa agar tak menanggapi perkataannya. "Eh kalian itu harusnya sadar diri, kuliah disini saja pakai beasiswa. Jangan belagu jadi orang, miskin saja gayanya pententeng. Firsi sama kalian itu beda. Gak selevel, bisa saja harga diri loh yang sudah dikotori oleh lelaki b*j*ngan diluar sana." sindir Agnes mengarah ke Zulfa. Membuat amarah Zulfa memuncak saat dirinya dituduh kalau tubuhnya sudah kotor.


"Jaga bicaramu Agnes!! Aku gak pernah sekali pun mengotori tubuhku dengan memberikan kepada prua ingusan diluar sana. Harusnya yang kamu katakan seperti itu adalah sahabatmu ini bukan aku! Tanya sama dia, tubuhnya dipakai oleh siapa!!" Zulfa balik mencecar dan kembali memantik emosi Firsi yang semakin meluap saat dirinya direndahkan didepan kedua sahabatnya.


"Loh!! Sini ikut gue....." Firsi menarik tangan Zulfa dengan kuat ke arah luar kampus. Maira melihat itu langsung mengejar Firsi dan Zulfa. Dia takut sahabatnya dilukai oleh Firsi.


Zulfa yang ditarik keluar berusaha melepaskan genggaman tangan Firsi. Tapi dirinya tidak sekuat tenaga Firsi. "Lepaskan!! Kamu mau bawa aku kemana sih" ujar Zulfa.


"Loh harusnya musnah dari dunia ini. Loh kira gue takut hah!! Loh pengerusak dalam rumah tangga papa dan mama. Sekarang loh malah seenaknya ngehina gue didepan teman-teman gue. Jadi loh harus diberi pelajaran" tegas Firsi tanpa melepas cengkraman tangan Zulfa.


"Apa kamu bilang? Aku pengerusak dirumah tangga papa dan mama? Gak salah bicara. Harusnya aku yang ngomong begitu. Hadirnya mama kamu membuat hidupku berubah, ditambah lahirnya manusia seperti kamu!! Sudah dibaikin malah ngelunjak. Aku gak pernah sekali pun menyakitimu, tapi apa? Selama ini kamu dan mama tidak pernah menghargai aku" balas Zulfa merasa sakit hati karna dituduh sebagau pengerusak rumah tangga papanya sendiri. Padahal jelas-jelas ibu tirinya yang menjadi pengerusak kebahagiaan Zulfa.


"Karna memang loh gak pantas dihargai dan loh pantas menderita. Sekarang gue akan tambah penderitaan dalam hidup loh!!" sahut Firsi mendorong Zulfa ke arah jalan raya yang banyak mobil dan pengendara lain berlalu lalang, kebetulan arus lalu lintas terlihat padat kendaraan.


"Aaarrgh!!" teriak Zulfa tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang oleng ke jalan raya.

__ADS_1


"Zulfaaa!!" teriak Maira berjalan ke arah Firsi.


Bugh.


"Auuw!!" ringis Zulfa, sesaat dia sadar kalau ada seseorang yang memeluknya.


"Kak Verko..." gumam Zulfa melihat Verko terjatuh bebarengan dengan dirinya. Ternyata Verko telah menyelamatkan Zulfa dari maut.


"Kamu gak pa-pa kan?" tanya Verko kepada Zulfa.


"Gak pa-pa" jawab Zulfa masih syok dan takut. Verko pun membantu Zulfa untuk bangun.


"Ck, sialan!!" umpat Firsi tak terima melihat Zulfa selamat. Padahal tadi dia sudah membayangkan bagaimana kalau Zulfa tertabrak mobil dan merenggang nyawa. Tanpa berpikir konsekuensi apa yang akan didapatnya nanti kalau sampai Zulfa ditabrak mobil beneran.


Verko yang marah langsung menghampiri Firsi dengan tatapan yang tidak suka. "Loh punya otak gak!! Yang loh lakuin itu bahaya. Dia itu kakak loh, tega banget sama kakak sendiri" marah Verko memaki Firsi yang menjadi pusat perhatian.


"Ohh tentu aku akan ikut campur. Karna Zulfa calon istriku, apapun yang menjadi urusannya akan menjadi urusanku juga. Terutama dengan orang busuk sepertimu!! Zulfa tidak akan menghinamu, kalau enggak loh sendiri yang mencari masalah duluan" ujar Verko.


Zulfa berusaha melerai agar tidak dilihat banyak orang. Maira yang kesal dan marah ikut memarahi Firsi dengan tindakan bodohnya. Tapi Agnes dan Nevy malah membela Firsi yang jelas-jelas salah. Padahal mereka melihat sendiri Firsi hampir membuat Zulfa tertabrak mobil gara-gara didorong ke jalan raya.


"Siapa sih pria ini, datang-datang sewot banget. Eh mas biasa aja lah, gak usah ngotot-ngotot gitu. Orangnya belum tertabrak juga, masih utuh tuh. Masih bisa berdiri, gak usah ngegas lah" sahut Agnes tidak suka melihat Verko.


"Eh mbak, kalian kan tadi sudah lihat semuanya. Kalau dia salah jangan dibelain, temen macem apa yang mendukung temannya melakukam kejahatan. Punya otak dipakai dong!!" balas Verko ngegas karna sudah terlanjut emosi.

__ADS_1


"Yang salah itu dia bukan sahabat gue. Masnya kan datang saat sudah disini, belum tau kejadian sebelumnya. Jadi gak usah ikut campur kalau belum tau kejadian awalnya." kini giliran Nevy yang menyahut.


Zulfa mencoba melerai Verko dan ketiga perempuan yang sekarang ada didepannya. Namun, Verko tak menghiraukan ucapan Zulfa. Dia sudah terbawa emosi duluan melihat pujaan hatinya hampir ditabrak mobil.


"Kak sudah, jangan berantem. Malu dilihatin orang. Ayo kita balik, gak usah diladenin. Percuma, dia gak bakalan mau ngalah. Jangan jadi orang gila dengan ngeladenin mereka." ucap Zulfa dengan nada sedikit keras agar Verko mau mendengar. Dan cara itu berhasil membuat Verko berhenti berdebat dengan Firsi.


"Ya sudah, aku antar kamu pulang" balas Verko.


"Enggak, aku gak mau pulang. Bawa saja aku kemana pun pokoknya jangan pulang" ucap Zulfa. Verko pun mengangguk.


"Maira, aku pergi dulu ya. Nanti aku kabari, maaf gak bisa menemani kamu" ucap Zulfa.


"Gak pa-pa kamu pergi saja. Nanti aku nyusul belakangan. Kak hati-hati ya bawa motornya" ucap Maira.


"Iya tenang saja" jawab Verko lalu Zulfa naik ke atas motor Verko.


Kini tinggal Firsi dan kedua sahabatnya yang terlihat kesal melihat Zulfa pergi begitu saja. Giliran Maira yang menghujat Firsi dengan cecaran, kekesalannya melihat Zulfa hampir melayang karna tindakan bodoh Firsi. Maira menarik tangan Firsi dengan kasar untuk masuk kembali kedalam kampus. Dia malu kalau harus dilihatin banyak orang, apalagi kendaraan banyak.


"Loh mau bawa gue kemana sih, lepasin gak!! Woi lepasin! Ck.....Auuw!!" ringis Firsi saat tangannya dihempaskan paksa oleh Maira sehingga dia hampir tersungkur kebawah.


"Denger ya loh, gue maupun Zulfa tidak pernah membuat masalah dengan loh!! Tapi ulah loh tadi adalah hal bodoh!! Mungkin loh bakalan puas membuat Zulfa celaka, tapi ingat banyak saksi mata yang melihat tindakan loh tadi. Bisa saja setelah itu loh akan dipenjara!! Kalau loh berani lagi nyakitin Zulfa, tau sendiri akibatnya. Gue selama ini diem bukan berarti gue takut sama cecunguk seperti loh!!" cecar Maira sambil menunjuk-nunjuk ke arah Firsi.


"Ohh lih ngancem gue? Berani juga loh. Pacar gue orang kaya, dia busa menggunakan kekuasaannya untuk menyelamatkan gue. Jadi maupun gue berurusan dengan polisi gak masalah. Loh jangan jadi pahlawan kesiangan deh untuk dia. Memangnya gue takut sama loh? Gak sama sekali!! Gue akan tetap membuat sahabat loh itu menderita!!" tekan Firsi membuat Maira semakin emosi, tapi masih bisa ditahannya.

__ADS_1


"Ohh ya? Buktikan kalau gitu. Sampai dimana keahlian loh, gue rasa loh akan terus bersembunyi dibalik ketiak kekasih loh. Kalau gue jadi loh pasti malu, setelah tuan Arshan pergi malah cari pengganti dengan cepat. Duuh gimana tuh kalau bisa disebut wanita murahan ya" ejek Maira tersenyum sinis ke arah Firsi. Lalu dia pergi begitu saja saat melihat wajah Firsi yang merah ledam.


"Arrgh!! Sialan loh!! Gue akan bales loh" teriak Firsi tapi tidak dihiraukan oleh Maira. Dia tetap melenggang pergi.


__ADS_2