
Setelah Brima pergi, Verko menyusul Zulfa ke belakang. Ia melihat istrinya sedang berkutat didapur. Bau harum tercium di indera Verko, ia tau kalau istrinya sedang memasak. Dia mendekatinya dan memeluk dari belakang membuat Zulfa telonjak kaget. Beruntung sepatula yang dia pegang tidak terlempar.
"Kamu ngagetin aja sih mas, tadi didepan sekarang tiba-tiba meluk kayak gini. Bikin kaget tau." protes Zulfa tetao dalam posisinya tanpa meminta Verko melepas pelukannya.
"Maaf sayang, aku tadi cium aroma masakan kamu yang harum jadi aku kesini." jawab Verko perlahan melepaskan genggaman tangannya yang melingkar diperut Zulfa.
"Kak Brima sudah pulang? Kok kamu tinggal kesini." tanya Zulfa.
"Sudah, dia pulang barusan. Besok kamu yakin mau masuk kerja?." tanya Verko membuat Zulfa mengernyit.
"Ya iyalah, kalau gak kerja ngapain juga dirumah. Emangnya kamu gak mau masuk kerja? Dirumahkan gak ada kegiatan apapun. Lebih baik bekerja bisa buat nabung." Zulfa memang perempuan yang hebat dan menggunaka waktu dengan baik. Dia juga suka menabung sedikit maupun banyak.
Uang hasil kerjanya selama ini juga ditabung. Sudah kekumpul lumayan, ditambah dari pemberian Anin. Menurut Zulfa sudah lebih dari cukup untuknya selama ini. Besok Zulfa berniat untuk memberi tau Anin agar tidak ngasih uang terus padanya. Dia sudah punya suami yang bisa menafkahi. Zulfa gak mau Anin terua-terusan memberinya uang.
"Iya sih, besok aku aja yang kerja. Kamu gak usah, dirumah saja." ujar Verko meneguk air yang sudah dia tuang ke dalam gelas.
"Hah, aju bosan kalau dirumah terus mas. Gak ada kerjaan, palingan juga nyuci dan nyapu setelah itu udah gaka da kerjaan lagi. Biarin lah aku kerja besok, ya maa pliiis." Zulfa benar ingin sekali bisa bekerja membantu Verko, kalau dirumah ia merasa bosan tidak ada teman yang bisa diajaknya bicara.
"Hmm aku akan bikin kamu gak bisa bekerja besok. Tunggu malam ini." ujar Verko tersenyum menatap Zulfa lalu pergi ke kamar mandi.
Zulfa masih bengong ditempat memikirkan maksud perkataan suaminya tadi sambil terus memasak. Setelah sadar, pipi Zulfa langsung bersemu merah. Ia merasa malu dan gugup. Jantungnya jadi berpacu lebih cepat. Dia tau maksud suaminya adalah meminta haknya. Beruntung suaminya didalam kamar mandi, andai ada didepannya Zulfa makin sala tingkah. Sekarang saja dia harus menahan debatan jantungnya yang tidak karuan.
Selesai memasak Zulfa menghidangkan dimeja makan. Ia menata dengan rapi, menyiapkan air dan piring untuk suaminya. Verko sudah keluar dari kamar mandk sejak tadi. Ia berada dikamarnya lalu Zulfa menyusul untuk meminta suaminya makan. Mereka pun duduk berdua dimeja makan.
"Hmm baunya harum, dilihat saja sudah menggugah selera." ucap Verko sudah tak sabar mencicipi masakan istrinya.
"Segini cukup mas?." tanya Zulfa mengambilkan nasi ke piring Verko.
"Cukup," balas Verko.
Zulfa pun mengambil lauk untuk ditaruh dipiring suaminya. Setelah itu dia mengisi piringnya sendiri. Verko mulai mencicipi masakan istrinya. Dan sudah diduga masakan Zulfa sangat enak. Cocok dilidah Verko, Menurutnya masakan Zulfa begitu enak.
__ADS_1
"Masakan kamu enak banget, kalau gini makin betah makan dirumah. Ditambah melihat istriku yang cantik, makin sayang deh." puji Verko membuat Zulfa jadi salah tingkah dipuji begitu.
Ia hanya menunduk sambil tersenyum. Malu kalau sampai Verko melihat pipinya yang sudah merah seperti tomat.
"Makasih mas pujiannya." balas Zulfa mengangkat wajahnya menatap Verko yang sedang makan.
Mereka pun melanjutkan makan sampai habis. Lalu Zulfa membawa piring yang kotor untuk dicuci. Verko berniat membantu tapi tidak diperbolehkan oleh Zulfa. Ia malah diminta menunggu dikamar saja. Verko pun tidak memaksa dan menurut pergi ke kamar.
...*****...
Zulfa sekarang berada didalam kamar mandi. Sudah lima belas menit dia disana dan masih betah. Zulfa sedang menetralkan jantungnya yang tidak aman. Tangannya memegang dada yang semakin bergemuruh dan merasa gugup untuk pergi ke kamar. Sudah pasti nanti kalau dia sampai dikamar, Verko akan meminta haknya seperti yang dikatakan tadi. Zulfa mondar mandir didalam kamar mandi tidak jelas.
Suara ketukan pintu semakin membuat Zulfa merasa gugup dan deg degan. Ia sampai menggigit bibir bawahnya. Bagaimana nanti kalau keluar, bisa-bisa pipinya langsung bersemu merah. Bayangan akan memadu cinta terus terlintas dikepala Zulfa. Suara ketukan pintu terus terdengar, membuat Zulfa akhirnya membuka pintu dan berusaha bersilap biasa saja.
Ceklek.
"Kamu gak pa-pa kan? Kok lama banget dikamar mandi. Aku dari tadi sudah nungguin kamu tapi gak kunjung masuk kamar mangkanya aku susulin kesini. Kamu sakit?." tanya Verko khawatir sambil meletakkan telapak tangannya dikening Zulfa.
"Enggak mas, aku gak pa-pa. Jangan terlalu cemas, cuma gugup aja." kata terakhir diucapkan Zulfa dengan lirih sambil menunduk. Namun Verko bisa mendengarnya karna ada didekat Zulfa. Ia ngerti sekarang kalau istrinya sedang dilanda dengan perasaannya sendiri.
"Kok malah tanya mas? Bukannya tadi saat aku masak kamu bilang mau....."
"Mau apa? Emangnya tadi aku bilang apa?." Sepertinya memang Verko ingin menggoda istrinya itu. Zulfa jadi berdecak kesal, ia pun berlalu sambil ngedumel.
"Issh sudah lah lupakan mas, aku mau tidur. Besok harus kerja." ucap Zulfa sambil berjalan ke arah kamar. "Tadi dia sendiri yang bilang gitu sekarang malah balik nanya. Kok suka lihat istrinya kesal." dumel Zulfa sambil membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam meninggal Verko yang tersenyum melihat sikap Zulfa.
Verko pun menyusul ke dalam kamar, membuka lalu menutupnya kembali. Zulfa benar-benar ingin tidur, dia keburu kesal duluan. Bahkan selimut itu sudah menutupi tubuhnya. Badannya membelakangi Verko. Terlihat Zulfa benar-benar kesal. Ia suda gugup duluan tapi malah Verko bertanya seperti itu.
"Sayang, jangan ngambek dong. Aku hanya bercanda saja, maafin deh." ucap Verko menatap wajah Zulfa yang membelakanginya dari samping.
Zulfa memilih pura-pura tidak mendengarnya. Ia masih kesal dengan sikap sikap suaminya. Verko malah merasa lucu dengan sikap Zulfa yang ngambek. Dia masih punya banyak ide agar Zulfa tidak ngambek lagi padanya.
__ADS_1
"Sayang maafin aku. Jangan ngambek dong nanti cantiknya hilang loh. Kalau nanti aku pindah ke yang lain gimana?." perkataan Verko berhasil membuat Zulfa langsung membalikkan tubuhnya.
Dia semakin kesal dengan ucapan suaminya. Dalam hatinya gak rela kalau milikinya malah dimiliki orang lain. Dia berdecak kesal dan langsung bangun dari tidurnya.
"Ohh jadi kamu mau berpindah ke lain hati mas? Silahkan, gak masalah!. Aku mau tidur diluar aja dari pada sama kamu yang nyakitin." ujar Zulfa, walau hatinya mengatakan tidak rela. Tapi ia gak mungkin mengatakan tidak, keburu kesal duluan.
Zulfa pun mengambil selimutnya hendak tidur diluar. Tapi tangannya dipegang oleh Verko lalu menariknya. Zulfa yang belum siap tidak bisa menjaga keseimbangannya dan langsung ambruk dipangkuan Verko. Kesempatan itu tidak dilepas oleh Verko begitu saja. Ia tatap lekat wajah Zulfa. Sedangkan Zulfa sendiri malah memberontak untuk dilepaskan tapi tidak digubris sama Verko.
"Lepasin mas, kamu kan mau cari yang lain. Ya sudah sana ngapain narik-narik aku segala. Lepasin gak!." kesal Zulfa berusaha lepaa dari pelukan Verko tapi malah membuat tenaganya habis.
"Mana bisa aku berlabu ke orang lain. Hatiku sudah menyatu hanya untukmu seorang sampai kapan pun. Istriku ini cantik, imut, manis, pintar. Paket komplit, mana mungkin aku sia-siakan. Hatiku hanya milikmu sayang." setelah berucap tanpa aba-aba Verko malah memagut bibit Zulfa.
"Emmhhkk....." Zulfa begitu terkejut mendapat serangan dadagan dari suaminya. Tangannya berontak memukuli lengan Verko tapi malah membuatnya lelah sendiri.
Makin lama Verko makin gencar bermain dibibir Zulfa. Ia menyecapnya dengan lembut dan sedikit menggingit bibir Zulfa. Tak ada yang bisa Zulfa lakukan selain membalasnya. Tangannya berhenti memukul, ia juga kebih kalem sekarang tidak berontak lagi.
"Jadilah wanitaku untuk selamanya. Aku hanya milikmu dan kamu hanya milikku." bisik Verko ditelinga Zulfa, bisikan itu membuat bulu kuduk Zulfa merinding.
Hawa panas mulai terasa, aliran darahnya berdesir. Zulfa bisa merasakan, matanya menatap Verkl dengan lekat. Bibirnya keluh tidak bisa berkata apapun seolah terhipnotis. Jadi dia hanha bisa memandangi wajah suaminya.
'Aku akan menjadikanmu wanitaku selamanya. Aku mecintai kamu dan tidak ingin kehilanganmu.' batin Verko.
Setelah itu Verko perlahan merebahkan tubuh Zulfa dengan posisi dia diatasnya. Kini ia kembali memagut lembut bibir Zulfa dan kali ini tidak ada penolakan. Malah Zulfa balik membalasnya membuat Verko tersenyum. Ia semakin gamas menyusuri leher Zulfa dan meninggalkan jejak disana. Zulfa melenguh saat Verko terus menyusuri bagian tubuhnya. Suara lenguhan itu sangat terasa indah ditelinga Verko.
Dan akhirnya malam itu menjadi malam yang panas untuk mereka, sekaligus malam yang indah. Mereka berhasil melakukan penyatuan, entah berapa ronde yang sudah mereka lakukan. Verko tidak akan henti melakukan penyatuan kalau gak Zulfa mengatakam capek. Terakhir dia rebahkan tubuhnya disamping tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.
...🥀🥀🥀...
...Dah ya author gak mau ngintip mereka 🙈....
...Kalian bayangin lah sendiri atau yang sudah punya PakSu bisa tuh 😄. ...
__ADS_1
...Dukung Imeilda terus ya guys. Masih pagi nih author mau ngopi dulu 😁. ...
...See You All 👋...