
Setibanya di mansion, Arshana berjalan kelantai atas untuk menemui Zulfa. Ternyata yang dicari berada diruang tengah bersama Sang Mama. Arshana tersenyum lalu merangkul kedua bahu wanita yang sangat dicintainya. Yolanda dan Zulfa tersentak kaget tiba-tiba ada yang merangkul bahu mereka. Saat menoleh ada Arshana yang tersenyum tanpa dosa sudah membuat mereka terkejut.
Arshana berjalan mendekati Zulfa, lalu duduk disampingnya. "Kamu bisa gak sih Mas jangan ngagetin gitu, untung aku gak punya riwayat jantung!" gerutu Zulfa kesal dan mencubit pinggang Arshana. Sampai Si empu meringis kesakitan.
"Auwwhh! Sakit sayang, iya deh aku gak ulangi lagi," keluh Arshana sambil mengusap pinggangnya yang nyeri akibat cubitan Zulfa. Sangat terasa, karna cubitannya kecil.
Sedangkan Yolanda tertawa melihat Arshana yang mendapatkan balasan dari istrinya. "Mangkanya jangan suka usil! Enak kan kena cubitan cinta dari istrimu!" ujar Yolanda tertawa mengejek kepada Arshana.
"Ishh! Mama selalu gitu, padahal tadinya cuma bercanda saja malah dibikin serius! Mana tau aku kalau akhirnya kalian bakalan kaget!" sahut Arshana berdecak kesal.
"Loh koo malah kamu yang marah sih, Mas. Harusnya aku sama mama, udah lah mendingan kamu ganti baju sana. Mandi sekalian, bentar lagi aku nyusul," kata Zulfa.
Lali Arshana bergegas ke kamar untuk mandi sekaligus berganti baju. Zulfa pergi menyiapkan pakaian untuk suaminya. Ia ingin sekali bertanya kepada suaminya tentang video Firsi yang sedang viral. Beneran adik tirinya atau bukan. Jika benar Zulfa gak habis pikir sih dengan tindakan Firsi yang kotor seperti itu.
Pintu kamar mandi terbuka, Arshana sudah selesai menyegarkan tubuhnya kembali. Ia keluar dengan memakai handuk yang dililitkan ke pinggang saja. Lalu dia ambil pakaian yang sudah disiapkan Zulfa. Setelah berganti pakaian, Arshana menghampiri Zulfa yang sedang berdiri dibalkon kamar.
Zulfa kembali tersentak saat seseorang memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Arshana melihat istrinya itu melamun, nyatanya dia sampai kaget barusan.
"Mas, kamu sudah selesai ternyata!" ucap Zulfa berusaha bersikap biasa.
"Kamu kenapa sayang? Ada yang mengganggu pikiranmu? Kok melamun!" tanya Arshana membalikkan tubuh Zulfa menghadapnya.
"Iya mas. Tentang Firsi! Kamu sudah lihat video viral yang sekarang jadi pembicaraan itu?" tanya Zulfa memastikan.
Arshana yang memang sudah tau langsung mengangguk. Ya jelas karna semua itu adalah ulahnya yang ingin membalas perlakuan Firsi dan Denis kepada istrinya. Sekaligus sahabat Zulfa. Namun, sekarang Arshana berlagak tidak tau apapun. Hanya sekedar melihat saja.
"Didalam video itu beneran Firsi apa bukan sih Mas? Jelas banget wajahnya Firsi, tapi aku berharap itu bukan dia. Kalau benar pasti papa sangat kecewa dan marah besar. Dimedia sosial saja sudah banyak yang hujat, apalagi kalau didunia nyata. Aku takut saja dia jadi bahan hinaan orang!" jelas Zulfa mengungkapkan rasa kekhawatirannya.
"Ngapain sih kamu khawatir segala sama dia! Sudah jelas kalau Firsi itu jahat sama kamu, masih juga khawatir! Dia saja tidak ada belas kasihan sama kamu, gak menyayangi kamu seperti kamu menyayangi dia, dan Firsi sudah jahat sama kamu! Masih ingin membelanya? Dia gak pantas kamu belain, lagian pantas kok Firsi menerima akibat dari perbuatannya! Kalau berani berbuat ya harus berani bertanggung jawab dong! Masa kabur dari kenyataan, gak bakalan bisa! Aku lihat waktu pulang tadi, ada beberapa foto Firsi yang tersebar! Makin tau dong orang diluaran sana!" ucap Arshana panjang lebar dan Zulfa pun menghela nafas berat.
__ADS_1
"Walaupun Firsi sudah jahat sama aku. Apa pantas aku membalas kejahatannya dengan kejahatan juga? Terus apa bedanya aku sama dia, Mas? Sama-sama jahatnya kan? Maka dari itu aku gak mau membalas dengan perbuatan yang sama. Aku hanya berharap dia bisa berubah suatu saat nanti. Apa mau kamu mempunyai istri penjahat?" pertanyaan terakhir dari Zulfa seolah menusuk hati Arshana. Dia tertampar dengan pertanyaan tersebut.
Lantas bagaimana dengan dirinya sekarang? Apakah nanti Zulfa bisa menerima kenyataan yang ada? Arshana belum tau pasti. Yang dipikirkan sekarang adalah melindungi istrinya dam calon anaknya. Walau begitu, Arshana akan tetap menerima bila nanti Zulfa tau yang sebenarnya. Kecuali berpisah! Arshana tidak mau itu terjadi, karna dia begitu mencintai Zulfa dan tak mau kehilangan separuh jiwanya.
"Ya enggak lah sayang. Sudahlah jangan pikirkan itu terus, kamu mau jalan-jalan keluar gak? Beli apa gitu?" tanya Arshana mengalihkan pembicaraan agar Zulfa tidak memikirkan Firsi terus.
"Ayo mas! Aku pengen banget jajan diluar, kita beli siomay yuk yang ada didepan kampusku dulu!" ajak Zulfa antusias.
"Jauh banget sayang. Bikin sendiri saja kalau siomay, biar dibikinin koki rumah lebih higienis!" ujar Arshana.
"Gak mau! Aku ingin siomay yang ada didepan kampus! Rasanya tuh beda mas! Kenapa sih kamu jadi protektif gini, dulu saja saat kamu masih bekerja ditoko sama aku, makanan dari luar pun kamu makan! Tapi sejak balik kesini selalu apa-apa harus koki yang buatin, kalau gak gitu Bi Tarmi! Kalau yang dijual gak bersih pasti sudah banyak yang protes karna sakit perut!" gerutu Zulfa kesal dengan sikap suaminya yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu dan calon anak kita. Sekarang disini ada Baby Arfa, kamu harus bisa jaga pola makan dan kesehatan juga," timpal Arshana sambil mengusap lembut perut istrinya.
Zulfa mengernyit mendengar panggilan Arshana untuk calon anak mereka. "Baby Arfa? Kok panggilannya gitu mas? Anak kita belum lahir, jenis kelaminnya juga belum tau!" ujar Zulfa bingung.
"Gak pa-pa lah, itu panggilan special dari papinya dong! Baby Arfa tuh singkatan dari Arshana Zulfa. Nama kita dong sayang!" jelas Arshana lalu mengecup kedua pipi Zulfa dengan gemas.
"Jadi pergi kan mas?" tanya Zulfa mendongak menatap Arshana.
"Ya sudah deh iya!" jawab Arshana pada akhirnya mengizinkan.
"Dari pada ngambek gak selesai-selesai entar, mendingan aku turutin saja!" batin Arshana.
Senyum mengembang terbit dibibir Zulfa. Dia sangat senang sekali dan bersorak gembira, lalu dia mencium bibir Arshana secara tiba-tiba. Arshana tersentak kaget melihat Zulfa bisa menciumnya dahulu. Biasanya dia yang akan memulai awal, sekarang malah gantian. Apa karna hormon ibu hamil? Entahlah! Arshana tak mau ambil pusing. Dia malah suka dengan perlakuan istrinya barusan.
Zulfa sedang duduk didepan meja rias sambil merapikan rambutnya. Setelah itu dia mengambil tas yang ada diatas ranjang. Arshana sudah menunggu dibawah. Lalu mereka berpamitan kepada Yolanda untuk pergi keluar. Tidak hanya sendiri, Arshana meminta dikawal beberapa bodyguard untuk berjaga-jaga. Terlihat aneh kalau didengar, hanya keluar untuk beli siomay aja harus dikawal. Jelas! Karna keluarga Arshana sudah dikenal banyak orang dan tak bisa dipungkiri kalau dia juga banyak musuh.
Arshana tak mau kejadian yang menimpa dirinya terjadi juga dengan istrinya. Apalagi sekarang ada calon anak mereka, pasti Arshana akan menjaga lebih ketat lagi. Sebab penerus keluarga Abhimarta akan lahir dab jelas semakin banyak pula musuh yang ingin merenggut keturunan keluarganya. Sehingga Arshana tidak mau mempublikasi kehamilan istrinya ke media.
__ADS_1
Beruntungnya juga keluarga Zulfa belum ada yang tau terutama Firsi yang jelas ingin berniat jahat kepada istrinya. Hanya keluarga Arshana saja yang tau tentang kehamilan Zulfa. Arshana akan menjelaskan nanti sepulang dari jalan-jalan kepada keluarganya. Agar tak ada yang mempublik kehamilam Zulfa sampai anak mereka lahir.
Mobio Arshana sudah terparkir didepan georbak siomay yang dimaksud Zulfa, tepat didepan kampusnya dulu.
"Kamu didalam mobil saja sayang, biar aku yang belikan," cegah Arshana saat melihat istrinya hendam keluar.
"Hm ya sudah deh! Sama cilok sekalian ya mas!" ucap Zulfa tersenyum manis.
"Iya, itu saja kan? Ada yang lain?" tanya Arshana memastikan sebelum dia pergi membeli.
"Sudah itu saja kok!" jawab Zulfa.
"Oke!"
Arshana keluar menuju pedagang siomay yang tak jauh dari mobilnya. Ia memesan satu porsi siomay dan cilok sesyai reques istrinya. Setelah itu dia membayarnya, namun pedagang tersebut tidak punya kembalian. Sebab uang yang diberikan Arshana jumlahnya seratus ribu.
"Ambil saja pak kembaliannya!" kata Arshana.
Pedagang tersebut sangat senang dan mengucapkan terima kasih kepada Arshana (Wajar orang haya gak ada uang receh🤭). Lalu Arshana kembali masuk dalam mobil dan memberikan dua kantong plastik kepada Zulfa.
"Sesuai permintaan kamu siomay dan cilok, habisin ya!" ucap Arshana.
"Wahh makasih mas! Aku habisin kok," jawab Zulfa mengambil cilok yang ada dalam plastik dan membukanya.
Sudah lama dia tak makan siomay yang ada disini. Berasa nostalgia kemasa kuliah dulu. Setelah itu, Arshana melajukan mobilnya kembali.
"Mas buka mulutnya!" ucap Zulfa sambil menyuapkan satu siomay untuk Arshana.
Arshana menurut tanpa penolakan. Dia sudah pernah membeli dulunya bersama Zulfa, walau awal-awal Arshana merasa gak banget beli ditepi jalan. Karna dia sudah terbiasa makan dirumah dengan masakan koki. Dan saat pertama kali coba Arshana langsung suka dengan rasanya. Cita rasa baru yang tak pernah dinikmati.
__ADS_1
"Hmm rasanya masih sama, enak!" kata Arshana sambil terus fokus menyetir. Dia tak mau memakai sopi karna ingin berduaan dengan istrinya tanpa ada gangguan dan risih adanya orang lain.
"Jelas dong! Penjualnya saja masih sama, pasti rasanya juga tetap sama!" jawab Zulfa.