Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
93 #Gagal


__ADS_3

"Jangan kesini, Ma! Tetap disitu saja!" ucap Arshana melarang.


"Kenapa Arshan?" tanya Yolanda sambil menangis melihat keadaan putranya yang kacau.


"Dengarkan saja kata Arshana, Ma! Jangan kesini, kalau mama gak mau terluka!" kata Arshana.


Bi Tarmi membawa kotak P3K dan langsung dia berikan kepada Arshana. Arshana langsung mengobati luka ditangan Arganta dengan pelan. Dia bersihkan dulu sisah darah yang masih menempel, lalu dioleskan obat merah. Setelah itu dia tutup luka ditangan Arganta yang cukup lebar. Tidak hanya satu sayatan, ada beberapa. Ingin sekali Arshana membawa Arganta kerumah sakit. Tapi sudah bisa ditebak, pasti Arganta akan menolak dan makin kacau nanti.


"Loh tidur sekarang! Jangan melakukan hal seperti tadi. Gue gak suka lihat loh begini!" ucap Arshana lalu membantu Arganta untuk berbaring diatas ranjang.


Arshana bisa bernafas lega melihat Arganta sudah bisa tenang lagi. Kalau sudah begini hanya Arshana yang bisa menenangkan Arganta. Orang lain? Bukan tenang malah akan diserang. Oleh sebab itu, Arshana melarang Yolanda agar tidak masuk ke kamar Arganta.


Melihat Arganta sudah tenang dan terlelap, Arshana menyuruh ART untuk membersihkan kamar adiknya. Tanpa dia harus beranjak dari sana. Setelah memastikan semua bersih dan Arganta tenang, baru Arshana keluar dari kamar adiknya dengan perasaan lega.


...*****...


Arganta merasakan sesak didadanya dan keringat dingin yang mengucur. Pikirannya kembali masuk ke memori masa lalu. Dia mengunci pintu dari dalam. Kaca yang menyatu dengan lemari dipecahkan oleh Arganta, barang-barang semua dilempar kelantai. Ranjang yang tadinya rapi diacak-acak oleh Arganta.


"Papa......Mama.....Mereka sangat keji dengan kalian! Mereka orang-orang bi*dab! Kenapa kalian tinggalin aku! Aku gak punya siapa-siapa!" Arganta meringkuk disamping ranjang sambil membawa satu pecahan kaca.


"Daniel ingin ikut kalian! Jangan tinggalin Daniel sendiri disini! Takut! Papa Mama!" gumam Arganta sambil tangannya dia sayat menggunakan pecahan kaca tadi berulangkali.


Sampai darah mengucur tanpa henti. Tak ada rasa sakit yang dirasakan Arganta. Hanya ketakutan, gelisah, dan merasakan lingkup kamarnya pengap. Seolah tak ada cahaya yang masuk, bahkan suara dobrakan pintu yang ada diluar tak terdengar ditelinga Arganta. Ia kembali menyayat tangannya, sampai darah menetes kelantai.


"Daniel harus apa? Mereka banyak sekali! Daniel takut!" racau Arganta tanpa henti. Disaat itu pintu sudah berhasil didobrak dari luar oleh Arshana.


...*****...


Sekarang Arshana mendapat banyak pertanyaan dari kedua orang tua serta Kakeknya. Melihat kondisi Arganta seperti tadi, tidak mungkin kalau baik-baik saja. Yolanda tak tega kalau harus melihat kondisi Arganta seperti tadi. Banyak sekali rahasia yang disembunyikan oleh anaknya. Mengenai teror, kenyataan bahwa Arshana adalah seorang mafia, dan sekarang apa lagi? Yolanda sampai heran.

__ADS_1


Arshana menunduk lesu. Yang awalnya dia kira Arganta sudah sembuh total, ternyata tidak! Masih ada sisa trauma yang melekat dalam memori Arganta. Membuat Arshana merasakan perih bertubi-tubi, apalagi sekarang dia sudah mengetahui kenyataan kalau Arganta adalah adik kandungnya.


"Arshana! Jelaskan kepada kami, kenapa Arganta bisa seperti tadi?" tanya Kakek Abhi.


"Arganta punya trauma berat dimasa lalunya yang mengakibatkan dia depresi. Jadinya seperti tadi yang kalian lihat! Aku kira dia sudah sembuh ternyata....Belum! Kalau Arganta dipaksa untuk mengingat kejadian dimasa lalunya, akibat yang terjadi dia akan kembali ke memori yang lampau disaat orang tua angkatnya dibunuh! Arganta juga tidak segan-segan melukai dirinya sendiri. Bahkan dia hampir meninggal karna tindakannya, beruntung dia bisa bertahan! Aku minta tolong sama Papa, Mama, Kakek maupun kamu sayang. Untuk saat ini jangan mengungkit masa lalu Arganta lagi didepannya," terang Arshana.


Semua ikut tertegun, kaget, gak percaya dengan kenyataan kalau Arganta yang dikenal tegar, kuat, dan ramah senyum kalau didepan mereka. Mempunyai trauma berat, Felix maupun Yolanda tak berpikir jauh tentang hal itu. Karna dulu saat Arganta menjelaskan pada mereka tentang orang tua angkatnya, dia baik-baik saja. Tidak seperti sekarang yang bisa saja melukai dirinya sendiri.


"Sejak kapan Arganta seperti itu?" tanya Felix.


"Sudah dari dulu, sejak awal dia bertemu denganku! Dari situ aku tau kalau Arganta punya trauma berat. Sudah lama Arganta tidak kambuh, Arshan kira dia sudah sembuh, ternyata belum. Terakhir sebelum Papa dan Mama tau kalau dia adik kandungku. Dulu malah lebih parah dari pada sekarang, mangkanya dirumah ini papa dan mama gak tau. Karna memang sudah sudah lama Arganta gak seperti ini! Nanti aku akan bawa dia ke psikiater lagi. Obatnya juga sudah habis, karna Arganta sudah tidak berobat lagi," ucap Arshana.


Awalnya Arshana bingung melihat kondisi Arganta yang sangat memprihatinkan. Akhirnya dia membawa Arganta ke psikiater untuk berobat. Sampai mereka dekat sudah seperti kakak adik. Dan Arganta hanya bisa tenang kalau Arshana berada didekatnya. Hanya pertama saja Arshana mendapat serangan dari Arganta. Itupun luka kecil ditangan. Kalau gak dimarkas ya diapartemen Arganta akan seperti itu. Dulu sebelum Arganta benar-benar menjadi keluarga Abhimarta.


Sudah pernah Marlin mendapat serangan juga dari Arganta saat ingin menenangkan. Bahkan teman-temannya yang satu markas. Hanya Arshana yang mampu membuat Arganta tenang tanpa luka sedikit pun. Arshana sampai heran dan bingung saat pertama kali. Dan sampai sini dia paham kenapa hanya dirinya, karna ikatan batin mereka kuat.


"Mas......Aku ini ibu macam apa gak tau anaknya sakit! Mama menyesal tadi minta Arganta untuk menjelaskan. Tau gitu mama gak akan maksa dia! Hiks.....Maafkan mama Arshan!" ucap Yolanda, tangisannya pecah tak bisa terbendung lagi.


"Kenapa Arshan? Harusnya kita bisa menenangkannya dan memberi semangat," timpal Kakek Abhi.


"Gak bisa, Kek! Arganta gak bisa ditenangkan kalau sama orang lain. Dia hanya bisa tenang kalau Arshana yang menghampiri. Disaat dia seperti itu, semua orang yang mendekat akan dilukai oleh dia! Marlin saja sudah pernah mendapat serangan dari Arganta, bahkan bawahanku yang lain. Aku hanya minta itu saja, tolong lupakan kejadian hari ini, demi Arganta. Aku mau dia sembuh total!" kata Arshana.


"Iya kami tidak akan membicarakan kejadian hari ini. Mama ingin Arganta bisa sembuh, mama gak kuasa melihatnya seperti tadi!" balas Yolanda.


"Aku berpikir kalau Arganta punya semangat buat sembuh karna seseorang! Arganta pernah cerita kalau orang ini special baginya. Dan dia ingin disaat benar-benar bersamanya, Arganta sudah sembuh agar tak menyakiti perempuan yang dicintainya," terang Arshana.


"Siapa dia, Arshan?" tanya Yolanda.


"Sahabat istriku, Maira! Bagi Arganta perempuan itu unik. Makanya dia punya semangat agar bisa melawan ketakutan dalam dirinya. Tapi sekarang........Maira malah merasakan yang dirasakan Arganta. Mungkin karna hal itu juga membuat semangat Arganta jadi down," ucap Arshana.

__ADS_1


"Sekarang keadaan Maira bagaimana Mas?" tanya Zulfa.


"Dia sudah membaik, besok juga sudah boleh pulang. Arganta berniat membawa Maira juga ke psikiater agar lebih membaik. Setidaknya bisa konsultasi untuk menghilangkan rasa traumanya," jawab Arshana.


"Aku minta maaf gak pernah jujur kepada kalian terutama mama dan kamu sayang. Sejak awal ingin sekali aku jujur, tapi waktunya gak tepat. Aku harap mama dan kamu bisa menerima kenyataan," ucap Arshana berharap Zulfa masih mau berada disisinya.


Ketakutan terbesar Arshana adalah Zulfa. Takutnya Zulfa gak mau mempunyai suami seorang mafia. Dan bisa kapan pun Zulfa meninggalkannya. Oleh sebab itu, Arshana ragu untuk berkata jujur sejak awal.


"Aku memang kecewa mas sama kamu! Tapi apa yang bisa aku perbuat sekarang? Gak akan pernah merubah semuanya! Aku tau sifat kamu gimana! Kalau pun aku suruh kamu untuk meninggalkan duniamu itu pasti gak akan mau! Jadi apa yang bisa aku perbuat? Maaf Papa, Mama, Kakek, Zulfa ke kamar dulu," ucap Zulfa lalu beranjak dari tempatnya duduk ke kamar.


Dia sungguh kecewa mendapati kenyataan yang ada. Namun dia tak bisa merubah semuanya yang sudah terjadi. Zulfa akan berusaha untuk menerima, tapi tidak sekarang. Karna dia juga mencintai suaminya, apalagi mereka akan dikarunia anak. Zulfa gak mau anaknya lahir tanpa kasih sayang seorang ayah.


"Arshana pergi dulu ke kamar Arganta!" ucap Arshana.


Dia tak mengejar istrinya untuk sekarang. Arshana akan memberi ruang bagi Zulfa untuk sendiri. Percuma kalau menghampirinya sekarang, yang ada malah dicueki. Arshana lebih memilih ke kamar Arganta untuk melihat keadaannya.


Saat gagang pintu sudah dibuka, Arshana melihat Arganta sudah terbangun sambil duduk dan memegangi kepalanya. Arshana segera menghampiri dan duduk disamping Arganta.


"Sudah bangun, loh mau minum gak? Jus atau apa gitu?" tawar Arshana ramah.


"Enggak! Kepala gue pusing!" jawab Arganta.


"Istirahat saja! Gue temenin," ucap Arshana.


Tak sengaja mata Arganta menatap cermin lemarinya pecah, meja kamarnya sedikit berantakan, dan tangannya diperban. Apa yang terjadi? Arganta menunduk lesu. Dia tak berhasil melawan gejolak dalam dirinya. Melihat adiknya yang menunduk, Arshana tau apa yanh dipikirkan.


"Udah lah gak perlu lesu gitu, katanya mau sembuh biar bisa bersama dengan Maira! Jangan dipikirkan terlalu jauh!" nasihat Arshana.


"Gue gagal! Gue gak bisa melawan ketakutan itu! Dan sekarang Maira malah merasakan yang gue rasakan! Gue benar-benar gagal!" ucap Arganya mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


"Hey stop! Jangan begini, dengarkan gue! Loh ingin bersama Maira kan?" Arganta pun mengangguk.


__ADS_2