Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
88 #Kecewa


__ADS_3

Maira terbangun dari tidurnya, dia melihat sekeliling kamar yang bernuansa putih. Dia baru teringat kalau sedang berada dirumah sakit. Kejadian semalam masih terbayang dibenaknya Maira. Dia merasa tubuhnya kotor, walaupun Denis belum sempat bertindak lebih jauh. Namun, Denis berhasil merebut ciuman pertama Maira.


Kemudian ada seseorang yang membuka ruangan Maira dan ternyata itu adalah Arganta. Maira kaget melihat Arganta masih ada dirumah sakit. Dia kira atasannya itu sudah pulang dari semalam. Arganta puj mendekati Maira, lalu duduk disampingnya.


"Bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Arganta.


"Hmm sudah baik. Anda kenapa masih ada disini Tuan?" tanya balik Maira.


"Gak apa-apa, memangnya gak boleh?"


Maira merada heran dengan sikap Arganta, yang biasanya cuek, dingin, suka seenaknya. Tapi kali ini beda, Maira bisa melihat jelas sikap Arganta lebih lembut dalam berkata dan sikap. Tidak judes seperti sebelum-sebelumnya.


"Apakah Anda tidak ke perusahaan, Tuan?" tanya lagi Maira.


"Jangan panggil aku Tuan. Panggil namaku saja, ini bukan dilingkungan kantor," ucap Arganta.


"Tapi Tuan, saya merasa tidak enak saja. Anda atasan saya, tidak pantas kalau saya memanggil nama Anda," jawab Maira menunduk.


"Ngapain tidak enak segala, kan aku yang minta kamu memanggil nama. Bukan kemauanmu sendiri," ujar Arganta.


"Baik Tu...maksudku Arganta." Maira masih kaku kalau memanggil Arganta hanya dengan sebutan nama.


Hening sejenak. Maira terus menunduk dengan air mata yang sudah menetes. Namun belum diketahui oleh Arganta, dia terbayang dengan kejadian semalam. Pikirannya masih dihantui oleh peristiwa itu, andai saja Arganta tak segera menolongnya, entah Maira tidak tau nasib dia selanjutnya.


Arganta yang sadar Maira hanya diam saja, lalu mengangkat dagu Maira keatas. Terlihatlah butiran bening sudah membasahi pipi Maira. Arganta tak tega melihat Maira seperti itu, tangannya dia gunakan untuk menghapus air mata Maira.


"Kenapa menangis?" tanya Arganta tertegun saat melihat butiran bening sudah membasahi pipi Maira.


Maira hanya menggelengkan kepalanya saja, tanpa menjawab pertanyaan dari Arganta. Maira menjauhkan wajahnya dari tangan Arga yang masih menyentuh pipi dia.


"Maaf, sebaiknya kamu pulang saja. Terima kasih sudah membantuku," ucap Maira.


"Kamu mengusirku setelah aku membantumu begitu? Jangan kira aku akan pergi!" balas Arganta menyilangkan kedua tangannya didada sambil bersandar dikursi.


Maira sekarang jadi bingung harus apa. Dan tak lama terdengar suara ketukan pintu, ternyata seorang perawat masuk sambil membawa kotak makan ditangannya.

__ADS_1


"Permisi Tuan. Saya ingin mengantarkan makan pagi untuk Nona Maira," ucap perawat wanita tersebut.


"Hm, berikan pada saya," kata Arganta.


Lalu perawat tersebut memberikannya pada Arganta. Setelah itu, perawat tersebut pergi dari ruangan Maira.


Maira masih terdiam tanpa berkata apapun pada Arganta. "Makanlah biar aku suapin!" Maira pun menolak dan ingin makan sendiri. Namun Arganta tak mengizinkan dan memaksa Maira untuk membuka mulutnya.


"Enggak! Biar aku makan sendiri, aku bukan anak kecil. Sini aku gak mau disuapin!" Maira ingin mengambil makanan yang ada ditangan Arganta, tapi malah dijauhkan darinya.


"Biar aku yang suapin!" ucap Arganta.


"Tanganku gak sakit, aku bisa makan sendiri! Aku gak mau disuapin, kalau kamu masih tetap ngotot mendingan aku gak makan deh!" ucap Maira merajuk sambil memutar tubuhnya membelakangi Arganta.


Kini Arganta mengumpat kesal, niat mau bantu buat suapin, eh malah sekarang Maira ngambek. Lebih tepatnya memang sengaja Arganta ingin menyuapi Maira. Kalau sudah begini harus bagaimana? Terpaksa deh Arganta membiatkan Maira makan sendiri.


"Ya sudah nih makan, jangan sampai gak makan!" ujar Arganta.


Maira pun membalikkan badan dan bangun dari tidurnya. Dibantu oleh Arganta untuk bangun, lalu dia makan sendiri sampai kandas. Tak diketahui oleh Maira, Arganta tersenyum melihat perempuan didepan dia bisa kembali ceria. Walau tak bisa dipungkiri kalau Maira pasti masih menyimpan rasa takut dalam hatinya.


...*****...


Entah ditaruh mana wajahnya nanti, Devon sangat malu sekali. Saat dia turun dari mobil tadi, ada ibu-ibu yang lewat depan rumahnya dan membicarakan kelakuan Firsi. Sekarang Devon sudah berada diruang tamu dengan amatah yang gak bisa dia tahan lagi. Sudah cukup sabar selama ini dia kepada Firsi. Bukannya berubah malah makin menjadi.


"FIRSI! FIRSI KELUAR KAMU!" teriak Devon memanggil nama Firsi dengan kencang. Membuat Elena segera turun dan melihat suaminya dengan wajah marah.


"Ada apa sih mas, kamu kok teriak-teriak manggil Firsi. Bicara dengan baikkan bisa, gak perlu sampai teriak begitu!" ucap Elena yang sekarang berada didepan Devon.


"Kamu mau aku bicara baik? Oke sekarang kamu lihat video ini, apakah setelah kamu melihatnya masih bisa bicara dengan baik!" kata Devon sambil membuka layar ponselnya dan memutarkan video yang sekarang sedang hot dibicarakan banyak orang.


Elena mengambil ponsel yang ada ditangan Devon dan melihatnya dengan jelas. Matanya membulat kala menonton video yang menurutnya sangat menjijikkan. Awalnya dia pikir, kenapa Devon menunjukkan video tak senonoh itu padanya. Setelah dilihat kembali Elena begitu tertegun dan syok. Sampai tak kuasa menahan tangis, hanya beberapa menit saja, sudah banyak yang melihat dan kolom komentar menembus ribuan.


"Pasti itu bukan Firsi, Mas! Anakku gak mungkin melakukannya untuk kedua kali, apalagi sampai seviral ini!" kata Elena yang terduduk disofa sambil terus menangis.


"Terus kamu belain dia! Sebelumnya dia sudah mempermalukan kita! Dan sekarang makin tambah menjadi saja kelakuannya. Aku sudah cukup sabar selama ini dan sekarang kesabaranku telah habis! Mau taruh mana wajahku kalau ketemu banyak orang. Tetangga rumah juga sudah tau semuanya, setelah ini pasti banyak yang akan menghujat kita, Ma!" terang Devon dengan amarah yang memuncak.

__ADS_1


Elena hanya menggelengkan kepala. Dia masih teramat syok setelah melihat video tersebut. "Dimana Firsi sekarang? Suruh dia turun!" titah Devon.


"Dia gak ada dirumah, Mas! Firsi keluar tadi!" jawab Elena. Pun mengkhawatirkan kondisi anaknya diluar sana.


Ting. Tong. Ting. Tong.


Suara bel rumah berbunyi, Elena segera membukakan pintu dan melihat wanita didepannya menggunakan hoodie yang wajahnya ditutupi. Dan saat dia membukanya, Elena begitu terkejut melihat Firsi pulang. LaluElena membawa Firsi masuk kedalam rumah.


"Mas!" panggil Elena saat melihat Devon sedang duduk disofa sambil memijat keningnya.


Mendapat panggilan dari istrinya, Devon menoleh dan melihat ada Firsi disana yang sedang menunduk. Amarah Devon yang belum reda, kembali memuncak saat melihat wajah Firsi.


Dia dekati anaknya itu, lalu satu tangan dilayangkan keudara dan pada akhirnya mendarat di pipi Firsi dengan keras.


Plak.


Firsi merasakan pipinya ngilu, sakit, dan perih. Tamparan Devon tidak main-main sampai berbekas dipipi Firsi yang putih. Elena mencegah suaminya agar tak main kasar dengan Firsi. Elena memeluk anaknya dengan erat, dia juga takut melihat kemarahan dari suaminya.


"Dasar anak gak tau diri! Kamu sudah mempermalukan kami sebagai orang tua! Dimana akal sehatmu, FIRSI! Bukannya berubah malah menjadi-jadi! Harusnya kamu belajar dari kesalahan yang dulu! APA KAU SEMURAH ITU, HAH! TUBUHMU INI SUDAH KOTOR DENGAN SENTUHAN BANYAK PRIA! MURAHAN SEKALI KAU!" marah Devon memaki.


"Sudah, Mas! Kasihan Firsi, dia pasti juga syok. Berpikirlah dengan kepala dingin, jangan seperti ini!" sahut Elena sambil terus memeluk Firsi.


"Terus kamu belain dia! Memang banyak kamu manka, akhirnya jadi begini! NGELUNJAK! Gak bisa mandiri dan sukanya hanya bersenag-senang sampai mau jadi wanita murahan! Papa malu, Firsi!" pekik Devon makin membuat Firsi ketakutan.


"A-aku minta maaf, Pa. Aku memang salah!" hanya kata maaf yang bisa Firsi lontarkan. Mau berbua apa lagi? Nasi sudah menjadi bubur.


Dia tidak menyangka akhirnya akan jadi seperti ini. Entah siapa yang menyebarkan video tak senonoh itu ke media sosial. Apalagi itu dirinya dan Denis yang sedang bercinta. Apa bisa orang diam-diam menyusup ke apartemen Denis? Tidak mungkin! Karna harus memakai kata sandi. Lalu bagaimana bisa ada video itu? Firsi berpikir kalau ada orang diam-diam menaruh kamera tersembunyi.


"Papa sudah kenyang dengan kata maafmu! Semua orang juga bisa mengucapkan kata maaf! Papa sudah sabar selama ini denganmu, tapi sekarang tidak! Kamu pergi dari rumah ini sekarang!" usir Devon yang sudah geram dengan tingkah laku anaknya.


Firsi dan Elena tertegun mendengar ucapan Devon barusan. Elena segera memohon kepada suaminya agar tidak mengusir Firsi dari rumah. Dia khawatir dengan keadaan anaknya kalau diluar, pasti banyak massa yang menghakimi Firsi nanti. Firsi juga memohon agar tidak diusir dari rumah. Karna takut dengan semua orang yang ada diluar. Tadi saja dia terpaksa menggunakan hoodie untuk menutupi wajahnya. Banyak bising-bising pembicaraan yang mereka lontarkan tertuju padanya.


"Aku mohon, Pa. Jangan usir aku dari sini! Aku janji akan berubah, aku gak akan ulangi kesalahan yang sama. Aku mohon jangan usir aku!" kata Firsi bersimpuh dikaki Drvon agar tak mengusirnya.


"Sudah menjadi konsekuensimu! Sekarang kemasi barang-barangmu! CEPAT!" titah Devon menjauhkan dirinya dari Firsi.

__ADS_1


"Ma, bujuk Papa agar tak mengusirku. Aku takut, Ma!" ujar Firsi sambil menangis sesegukan dipelukan Sang Ibu.


"Maafkan Mama, Firsi. Mama gak bisa berbuat apapun! Papamu itu kalau sudah begini gak bisa merubah keputusannya. Apalagi dengan keadaan marah! Kesalahanmu juga sangat fatal! Mama kecewa denganmu! Mendingan kamu pergi saja dari sini!"


__ADS_2