Si Miskin Ternyata Seorang Presdir

Si Miskin Ternyata Seorang Presdir
23 #Pulang


__ADS_3

Pagi yang cerah ditemani angin yang bertiup sepoi-sepoi. Embun yang menetes didedaunan menambah sensasi kesejukan dipagi hari. Sinar mentari yang menelisik didalam tubuh, memberi kehangatan tersendiri. Seorang gadis cantik baru keluar dari taxi, lalu berjalan pelan ke arah toko yang ada dihadapannya.


"Neng Zulfa?" panggil bu Aida yang menghampiri Zulfa saat tau kalau Zulfa juga baru saja sampai.


"Eh bu Aida, baru sampai juga bu? Tumben" kata Zulfa hendak membuka toko. Mendengar ada yang memanggil namanya, ia pun menoleh dan ternyata bu Aida juga baru sampai.


"Iya, ada anak ibu dirumah. Dia baru saja sampai kemarin, mangkanya ibu telat. Masakin makanan kesukaannya neng" ucap bu Aida berjalan menghampiri Zulfa.


"Ohh anak ibu baru sampai ya, sekarang jadi ada yang nemenin lah bu kalau mau tidur. Gak sendirian lagi" balas Zulfa membuka pintu toko lalu mereka masuk ke dalam.


"Iya jadi gak kesepian lagi ibu kalau dirumah. Entah kapan dia akan balik lagi, dia juga belum tau. Rencananya anak ibu mau cari kerja yang dekat-dekat sini saja. Katanya biar ibu gak kesepian dirumah" bu Aida sambil menaruh tas ke belakang lalu kembali menemui Zulfa didepan.


"Bagus dong bu. Jadi setiap hari ibu gak perlu kesepian lagi, ada yang nemenin. Anak ibu pun kalau mau pulang gak usah jauh-jauh. Tapi bukannya anak ibu sudah menikah ya?" tanya Zulfa, karna setau dia kalau anak bu Aida ya hanya satu dan sudah menikah.


"Anak ibu ada dua neng, yang pertama memang sudah menikah. Kalau anak ibu yang kedua belum, masih bekerja." terang Bu Aida.


"Ohh begitu, dua-duanya lelaki bu?" tanya Zulfa lagi sambil menata beberapa roti.


"Iya neng, anak ibu memang lelaki semua. Sebenarnya ibu gak boleh kerja sama mereka. Lah ibu bosen kalau dirumah sendirian, jadi ya gini cari sesuatu yang bisa dikerjakan asalkan gak berat-berat." kata bu Aida yang berada dikasir.


"Itu tandanya anak ibu sayang sama bu Aida. Mereka gak pengen ibu capek, memang sudah tugas mereka kan sebagai anak membantu ibu. Kalau mama Zulfa masih ada pun, saya akan melakukan hal yang sama seperti anak ibu" Zulfa jadi teringat mamanya yang sudah tiada. Dia ingin sekali bisa membahagiakan mamanya. Tapi semua itu hanyalah angan-angan yang tak mungkin bisa dicapai oleh Zulfa.


"Mama neng Zulfa sudah bahagia disana. Pasti sekarang lagi lihat neng Zulfa, sabar saja ya neng. Suatu saat gantinya adalah suami yang bisa membahagiakan neng Zulfa. Berdoa saja neng" tutur bu Aida yang sudah dianggap Zulfa sebagai ibunya sendiri.


"Iya bu, Zulfa sekarang mau fokus menyelesaikan kuliah. Tinggal dikit lagi juga lulus, kalau sudah lulus kan Zulfa bisa bekerja untuk masa depan Zulfa."


"Kamu memang perempuan yang hebat dan mandiri. Gak bergantung sama orang tua. Suamimu nanti pasti bahagia mempunyai istri yang baik, lembut, dan cantik seperti kamu nak" ujar bu Aida membuat Zulfa malu sendiri.


"Bu Aida bisa saja. Jadi buat Zulfa malu deh. Masih lama bu nemu jodohnya" pungkas Zulfa berjalan ke belakang untuk mengembalikan keranjang.


"Neng Zulfa..... Neng Zulfa......Ada-ada saja" gumma bu Aida tersenyum melihat tingkah Zulfa.


Siang menjelang tiba, waktunya Zulfa mengantarkan roti ke perusahaan Abhimarta. Ia jadi teringat dengar kabar meninggalnya pewaris tunggal keluarga tersebut. Zulfa merasa iba dan berpikir kenapa bisa meninggal secepat itu. Kabar penyebab kematiannya pun tidak diketahui atau dirahasiakan oleh keluarga Arshana.


"Bu, Zulfa pamit antar pesanan dulu ya. Entar Zulfa mau sekalian ke supermarket bentar." ucap Zulfa.


"Iya neng, hati-hati dijalan. Jangan ngebut loh bawa motornya" kata bu Aida.


"Tenang saja bu, saya mah gak pernah bawa motor ngebut-ngebut takut juga" jawab Zulfa lalu menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


"Saya pergi dulu bu"


"Iya neng"


Zulfa pun mengendarai motor seperti biasa untuk mengantarkan pesanan ke perusahaan Abhimarta. Beberapa menit akhirnya Zulfa sudah sampai didepan perusahaan. Ia memarkirkan motornya ditempat biasa.


Didepan pintu ada satpam yang berjaga. Zulfa langsung masuk dan ternyata Anin sudah menunggu kedatangan Zulfa. Karna hari ini pekerjaannya tidak terlalu banyak. Zulfa langsung menyerahkan pesanan Anin didalam kantong plastik merah besar. Anin pun memberikan uang tunai kepada Zulfa sesuai dengan harga roti yang dipesannya.


"Makasih mbak" ucap Zulfa memasukkan uang tersebut ke dalam sakunya.


"Iya sama-sama" jawab Anin tersenyum.


"Ohh ya mbak, aku boleh tanya sesuatu gak?" sambil melirik kesamping kanan dan kiri.


"Tanya apa memangnya?"


"Hmm apa yang diberita itu benar kalau tuan Arshana sudah meninggal?" tanya Zulfa secara hati-hati.


"Iya benar, tapi kami gak tau penyebabnya apa. Keluarganya menyembunyikan dari media dan publik." jawab Anin yang juga merasa bahwa kematian Arshana sangat mendadak dan kenapa harus dirahasiakan.


"Aneh juga ya......." pikir Zulfa.


Daniel hanya melirik sebentar lalu melanjutkan jalannya ke keluar kantor. Zulfa merasa ada yang aneh, walau pun dia baru saja satu kali bertemu dengan Arshan dan Daniel. Tetapi ia sudah bisa merasakan perbedaan pada diri Daniel.


"Itu bukannya asistennya tuan Arshan ya mbak? Kok beda gitu gak kayak dulu deh" ujar Zulfa.


"Iya memang, sejak tuan Arshana pergi. Pak Daniel jadi cuek, dingin, sama persis seperti tuan Arshan dulu. Mungkin gara-gara ditinggal pergi sama tuan Arshan" balas Anin berpikir sejenak.


"Hmm bisa jadi, eh aku kok gak lihat Hans dari tadi. Kemana mbak?"


"Hans sudah resain dari sini. Katanya sih balik ke kampung halamannya. Sudah gak balik kesini lagi. Ngapain kamu tanya soal Hans? Hayoo ada apa" goda Anin, Zulfa hanya tersenyum.


Daniel lah yang membuat surat pengunduran diri palsu dan alasan pun Daniel yang mengarangnya. Ia yang mengatakan kalau Hans resain dengan alasan mau kembali ke kampung halamannya dan membantu orang tuanya disana. Padahal kenyataannya Hans sudah tiada. Tak ada Arshan artinya tidak ada Hans juga, karna mereka satu orang yang sama.


"Yaelah mbak, gak ada apa-apa tanya saja kok. Aku beberapa kali bertemu sama dia, belum lama sih. Tapi ya lumayan akrab, gak sama aku saja dengan sahabatku pun Hans juga kenal" jawab Zulfa menjelaskan agar Anin tidak berpikiran yang macam-macam.


"Ada pun juga gak pa-pa Fa. Hans juga orang baik, ya walau pun gitu deh"


"Gak boleh mbak bahas fisik orang. Gak baik, kalau mau melihat itu dari hatinya jangan dari luarnya. Percuma dong orangnya tampan atau cantik kalau hatinya buruk! Belum tentu yang jelek rupa, jelek juga hatinya. Jadi jangan memandang orang dari fisik" tutur Zulfa membenarkan.

__ADS_1


"Iya iya Zulfa, mbak tau kok. Maaf deh gak ada niatan begitu" balas Anin sambil nyengir.


"Ya sudah lah mbak. Aku mau balik dulu makasih ya"


"Iya, hati-hati. Jangan lupa besok"


"Siap mbak" jawab Zulfa mengangkat tangannya hormat seperti tentara.


Zulfa pun pergi dari perusahaan menggunakan motornya. Ia akan pergi ke supermarket terlebih dahulu sebelum kembali ke toko. Ada yang akan dibeli oleh Zulfa, beberapa barang yang habis stok diasrama. Sabun, shampoo, dan beberapa barang lain.


Setelah dari supermarket, Zulfa langsung kembali ke toko. Kebetulan nanti Zulfa tidak ada jadwal mata kuliah. Sehingga dia bisa pergi jalan-jalan sama Maira selepas dari toko, mereka sudah janjian akan nonton bareng dibioskop. Sebelum pergi Zulfa terlebih dahulu kembali ke asrama untuk mandi dan berganti pakaian.


Sore pun tiba, Zulfa pamit sama bu Aida untuk kembali pulang. Zulfa menaiki taxi menuju asrama. Selang dua puluh menit, Zulfa sudah sampai. Ia membayarnya lalu turun dari taxi. Zulfa pun bergegas ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Saat hendam membuka pintu, ternyata kamarnya dikunci.


"Kok dikunci, apa Maira gak ada didalam ya" pikir Zulfa.


Ia pun mengambil kunci ditasnya, lalu dibuka lah pintu tersebut. Masing-masing dari mereka memang membawa kunci. Zulfa pun masuk dan memang didalam tidak ada Maira. Sepertinya dia pergi keluar entah kemana. Ditaruhnya tas diatas meja, lalu Zulfa mengambil baju dilemari. Ia hendak mandi dulu sambil menunggu Maira datang.


Selepas mandi dan berkemas, Zulfa menunggu kedatangan Maira yang tak kunjung memunculkan batang hidungnya. selang lima menit, akhirnya Maira datang membawa paper back coklat yang berukuran sedang ditangannya. Zulfa merasa heran melihat Maira membawa paper back.


"Dari mana kamu Mai? Kok lama banget sih, aku tungguin juga" ucap Zulfa.


"Maaf Fa, aku habis membeli ini. Disert cake yang kamu suka. Kebetulan lagi adain promo jadi aku beli deh. Harganya murah, kalau hari-hari biasanya kan mahal. Sangat langkah untuk membelinya, karna emang rasanya enak. Nih cobaim deh" Maira memberikan paper back yang dia bawa kepada Zulfa.


"Ya ampun Maira, makasih loh. Udah mau ngantri demi aku, kalau gitu kita makan bersama deh. Apa promonya hari ini saja?" tanya Zulfa sambil membuka paper back tersebut. "Eeh kamu beli dua? Memang berapa harganya? Sampai kamu membeli dua" tanya Zulfa heran, karna harga normalnya sangat mahal.


"Iya, promonya hari ini saja. Tenang saja murah Fa, beneran diskon besar-besaran loh. Mangkanha aku tadi buru-buru beli, dapat info dari temen nih" jawab Maira.


"Huh, gitu tadi aku ikut kamu Mai. Aku pengen beli yang banyak juga. mumpung promo kan, kalau harga normal mah mahal." ujar Zulfa.


"Sudah lah, itu saja makan. Jangan banyak-banyak makan coklat entar gigimu kropong loh, belum tua sudah makan bubur nanti" ujar Maira menggoda Zulfa. Zulfa sangat suka dengan apapun yang berbau coklat. Mangkanya Maira bisa mengatakan demikian.


"Yaelah Mai, gak bakalan kropong kali. Iya kalau aku makannya tiap hari. Sekarang kan aku jarang makan coklat, aku saja sudah lupa kapan terakhir makan coklat" balas Zulfa.


🍏🍏🍏


Hay readers, good morning. Selamat Hari Senin waktunya kembali beraktivitas. 😄


Seperti author yang kembali untuk up 😁, maaf ya kalau lama nunggu.

__ADS_1


Like......Like.....Vote.......Pagi-pagi enaknya ngopi nih 🤭


__ADS_2