Sikecil Milik SiDosen

Sikecil Milik SiDosen
Tok Tok Tok....


__ADS_3

Tok Tok Tok....


Setelah sekian lama mencari ruangan dosen itu, akhirnya ketemu juga.


"Masuk" Suara khas dari dalam.


Ichana mendorong pintu dari luar, iya melihat pria yang akan iya temui ini. Wajahnya terhalang leptop dan iya juga berposisi mendengkur jadi wajar wajahnya tak nampak.


Ichana juga melihat sisi lain,tak ada orang, pria ini memiliki ruang khusus atau memang ruang dosen pisah pisah,tapi tak tau lah.


Lagian ichana baru disini mana tau dia tentang ruangan dosen dan lagian itu bukan urusan nya juga. Yang jelas sekarang iya punya urusan dengan pria sialan ini.


Ichana tiba didepan meja bian, sedangkan bian tampak sibuk dengan kertas kertas pemeriksaan nya. Ichana yang melihatnya makin kesal,untung ichana orang baik dan bisa mengendalikan emosinya.


Cukup lama, akhirnya Ichana menghela nafas panjang dan menghembuskan nya. satu menit, dua menit,tiga menit, sampai lima menit lagi iya berdiri tampa di acuhkan bian.


Dah.... Ini waktunya memberlakukan kalimat ini "Sabar itu ada batasnya" Nah karena itu Ichana terlihat habis kesabaran melihat pria ini yang didepannya.


"Maaf pak!....tadi saya sudah lancang kepada anda!"Ucap ichana lantang. Lantang?, apakah bisa disebut itu tidak beretika?.


Bian tersenyum tipis,namun iya tak melihat ichana iya hanya melihat kertas itu dengan senyuman terukir di bibirnya. Ichana merasa di abaikan, dan diabaikan itu adalah hal yang paling dibenci olehnya.


"Hey kau!" bentak ichana membentak bian,tangan nya melekat kemeja dan sekali gus gemetar. Etika nya sangat rendah.


Bian mengangkat kepalanya,kemudian matanya melihat wajah ichana,kemudian turun menelusuri tubuh gadis ini sampai iya berakhir dititik kedua tangan ichana yang masih menapak di meja dan gemetar.


"Why?..." Satu kata keluar dari mulut pria bibir merah ini. Kemudian matanya melihat wajah gadis ini lagi. Ada tersirat sebuah kalimat yang sangat ingin dia katakan namun ia tahan.


"....Kalau tak sanggup marah,jangan marah. Lihat tubuh mu gemetar,Putrimu saja akan menertawakan mu. Bila kamu marah dengan gemetar begitu" Lanjut bian sambil meledeknya kemudian melihat kertasnya lagi.


"haha..." gadis ini terkekeh singkat. kemudian membesar matanya "...Apa kau sedang bercanda dengan ku hah?" lanjutnya. Kali ini menarik kedua tangannya dan duduk tanpa disuruh oleh bian.


"Bian!" Ketusnya. Iya hanya memanggil namanya padahal bian adalah seorang dosen dan umurnya juga beda jauh.


"apakah kita seumuran?..." sahut bian,sambil menyusun berkasnya dan meletakan nya ditepi meja,iya juga menutup leptopnya.


"....27-18,berapa beda kita,Dan saya juga seorang dosen yang akan mengajar anda sekaligus saya adalah dosen pembimbing anda juga..eh... waw kalau di pikir pikir.. ternyata tuhan itu maha baik kepada kita berdua sehingga kita di pertemukan secara kebetulan begini"


aishhhh....kenapa harus dia?,kenapa aku harus bertemu dia? gumam gadis ini didalam hati.


Iya membalas tatapan mata bian,Bian menatapnya dengan perasaan namun ichana menatapnya dengan mata kebencian.


Bibir pria ini terukir lagi,Menunjukan senyuman "Terlalu membenci seseorang itu bisa menjadi malapetaka untuk dirinya sendiri. Dan apa lagi orang itu selalu ada selama 24/7 di sekitar dirinya" ucap bian menyatukan kedua tangannya lalu menupang dagunya.

__ADS_1


Ichana makin mempertajam matanya menatap bian "Apa maksud anda,apa anda sedang mengatakan benci akan jadi cinta begitu" Ichana meludah. "Itu tak akan terjadi."


"Bila itu terjadi?"


"Maka aku akan bunuh diri!" bentaknya berdiri.


"Kau akan bunuh diri?"


"Pak.! Bian.! Urus aja urusan anda, dan jangan urus urusan saya, Kita hanya memiliki hubungan sebatas antara dosen dan mahasiswa. Anda mengajar saya dan saya mengikuti pelajaran anda.!!" Ucap ichana penuh tekanan,iya hendak pergi namun menarik langkahnya lagi kemudian melihat bian kembali.


"....dan satu lagi,jangan pernah kau sebut nama ku di kampus ini!!! baik itu dalam hal apa pun. Pria seperti mu tidak pantas menyebut namaku!" Lalu iya pun pergi,menarik pintu dengan kasar dan menutupnya dengan keras.


Ichana berdiri di jenjang kampus, matanya bak laser menahan emosi yang memuncak itu. Fadlan melihatnya dari bawah iya menaiki anak tangga,tanpa sadar oleh ichana pria ini sudah ada dihadapan ichana.


Disisi lain bian yang merasa kesal mengejar ichana, saat iya melihat ichana,Namun apa. yang iya lihat? Dia melihat ichana dipeluk oleh fadlan. Seketika langkahnya terhenti,tangannya langsung menyentuh dadanya,menggenggam dengan kuat dan merintih tertahan, kepalanya bersandar di dinding kakinya mundur.


Sesakit itu kah yang dirasakan bian?, saat melihat wanita itu dipeluk orang lain. Ichana dia hanya gadis remaja yang akan menginjak dewasa apa yang harus anda khawatirkan?,perasaan apa yang telah anda berikan padanya.?


"Pak bian," sakin sakitnya suara wanita ini tak terdengar oleh pria ini. "pak bian!,anda kenapa?,apa anda baik baik saja?" tanya wanita ini panik.


Saat itu bian tersadar dan akhirnya meninggalkan tempat itu dengan mengacuhkan wanita yang telah mengkhawatirkannya ini.


Karena bian pergi begitu saja,wanita ini melihat ke arah penglihatan bian tadi,namun iya tak melihat apa apa. "Apa yang dia lihat?" wanita ini jadi kebingungan lalu pergi ke tempat tujuannya.


"Nih minumlah" fadlan memberikan minuman kaleng kepada ichana.


Ichana meraihnya ''Makasih Fad"


"Ya sama sama" sahut fadlan, kemudian meminum minumannya.


Iya melihat ichana, ''Apa yang membuat mu se emosi itu? "tanya fadlan.


''Bukan apa apa? " sahut ichana kemudian meminum minumannya.


Ichana melihat fadlan, iya memikirkan sesuatu. Entah apa yang merasuki nya iya tersenyum lalu memukul bahu fadlan


''ada apa? " fadlan heran dengan sifat ichana.


"Hmm.. kok bisa kamu milih jurusan ini?... bukan kah kamu suka musik? bagian seni gitu bukan kalau nggak salah?"


"aku memang suka seni tapi aku lebih suka dengan jurusan ini" sahut fadlan.


''Owh... tapi kenapa harus kampus ini, seharusnya orang sehebat kamu pasti bisa dapat universitas yang lebih terkenal dari ini bukan?"

__ADS_1


"Hm.. nyatanya nggak begitu. Aku milih kampus ini di urutan kedua setelah aku gagal di tahap pertama.''


"owh, kalau jurusan?


"Jurusan ini pilihan satu satunya dihati ku"


Ichana mengangguk angguk. Fadlan melihatnya. kemudian bertanya juga.


''Nah gimana dengan kamu?,''


"Apanya? "


"Kenapa kamu pilih jurusan ini?"


"ooooo... karena aku suka fisika


"sejak kapan?


"SMP"


"lah kok aku nggak pernah tau? "


Gimana kamu tau kalau fisika adalah mata pelajaran yang paling aku sukai,dirimu kan sibuk pacaran dengan nenek lampir itu sampai sampai kamu menjauhi ku hanya demi nenek lampir itu. Gumam ichana dalam hati, giginya merapat dan matanya sipit namun bibirnya tersenyum.


"Kenapa kamu tak bilang waktu itu, kan kita bisa kerjasama" ucap fadlan lagi.


"Hehe, anu.. hm gimana hubungan mu dengan chika?, apakah berlangsung baik?,Apa kamu masih memiliki hubungan denganya?, berapa lama hubungan mu?" Ucap ichana menghujani fadlan dengan pertanyaan.


"Aku butuh payung" ucap fadlan serius, ichana melihat cuaca. Cuaca memang tampak panas tapi tidak terlalu panas. Jadi tidak cocok kalau digunakan payung apalagi dia seorang cowok.


"Untuk apa payung?."


"hehe habisnya kamu menghujani aku pertanyaan..


"haha... kira in apa an" ucap ichana memukul bahu fadlan.


"Udah lama sekali aku tak mendengar tawa mu, akhirnya aku mendengar nya." sahut fadlan membuat ichana terdiam dan salting.


next...


sampai ketemu dibab selanjutnya🙏


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2