
Ichana sampe rumah jam 10 pagi. Dirinya langsung masuk dan melihat alysha yang sedang bertukat dengan ponsel nya dan Tv juga menyala.
Ichana meraih remot tv dan mematikan nya. Alysha langsung memutar matanya melihat sosok tersebut.
''eh mama, mama udah pulang" Gadis ini berdiri.
"kamu udah makan?" tanya ichana sambil meletakan tasnya dikursi tersebut.
"Belum mah" sahut nya dengan tatapan lugu.
"Mau keluar?''
"kemana mah?"
"Makan diluar dengan aku"
"mau mau"
"Ya udah ganti pakaian mu dulu." tutur ichana karena alysha cuma makai celana shot dan singlet.
"Bik bantu alysha"
"Baik nyonya"
Hari ini mereka berdua berputar putar untuk mengelilingi kotanya ini. Ichana menyetir pelan dan menikmati suasana kota yang ramai oleh pedagang kaki lima.
Tak lama mereka menghentikan mobilnya ditepi jalan. Dan menghampiri salah satu gerobak pedagang kaki lima tersebut.
"Alysha kamu mau makan apa?"tanya ichana.
"Mah, kata papa makanan dijalan itu belum dijamin bersih. Jadi ngapain kita makan disini" bisik alysha ke telinga ichana.
''Hey jangan begitu, katakan kamu mau apa?, bakso atau mi ayam?" tanya ichana.
"Ehmm.. alysha tak tahu rasa mereka gimana?"
"Baiklah, mari dicoba. Aku yakin kamu bakalan ketagihan" ujar alysha mencubit pipi Putrinya ini.
"Bg, Baksonya dua mangkok ya"
"Baik neng"
"Yuk duduk sini"
Ichana membimbing alysha duduk. Ini untuk pertama kalinya untuk alysha mencicipi makanan tepi jalan duduk juga ditepi jalan.
"Apakah papa mu tak pernah mengajak mu ke tempat seperti ini?" tanya ichana melihat putrinya ini begitu khawatir dengan tempat ini.
Alysha menggeleng. Abang tukang bakso datang meletakan pesanan mereka.
"Ini adiknya ya neng?,imut benar mirip juga dengan si nengnya." tutur bg tukang bakso sambil meletakan baksonya.
"mmm, bukan. Dia putri saya" sahut ichana tersenyum sambil. Mengambil kan sendok dan ngelapnya pake tisu.
"Hah?, benaran?"
Bukan hanya bang tukang bakso yang tercengang tapi pembeli yang lain. Tidak mungkin dengan wajah semuda ini punya anak. Alysha juga tersenyum karena mamanya mengakaui bahwa dirinya adalah putri nya.
"Kenapa?"tanya ichana melihat mereka semua.
"Mm...umur berapa dek?"tanya ibuk ibuk tersebut?
"18 Tahun" sahut ichana dengan jujur.
__ADS_1
"apakah ada masalah?,kenapa harus tanya umur? apa penting nya umur?" alysha angkat bicara.
"alysha enggak boleh gitu" bisik mamanya agar anaknya tak mengeluarkan kata kata yang tidak mengenakan kepada ibu ibu julit ini.
"saya tau apa yang ada dipikiran kalian, saya berharap ini tidak menjadi masalah buat kalian bila saya ikut makan dengan ibuk om tante kakak ya." ujar ichana menyatukan kedua tanganya.
"tentu tidak." sahut mereka sambil menggeleng namun mata itu tidak dapat dihindari bagaimana mereka memandang tak percaya kepada ichana.
Dikatakan ibu dan anak memang iya sih. Mereka sangat mirip namun kalau diukur umur tidak mungkin. Usia 18 tahun punya anak yang kalau dilihat juga palingan 3 tahun lebih dikit.
"Bagaimana?,enak nggak?" tanya ichana menyuapi alysha.
Alysha mengangguk. "waahh ini benar benar enak banget mah. Baru kali ini aku merasakannya. Aku suka." sahut gadis kecil ini kegirangan.
Ichana juga menyuap nya dan mengabiskanya. Kemudian menunggu alysha selesai makan.
''Sini aku potongkan" ujar ichana membantu alysha kemudian yang tampak sedikit kesusahan dalam memotong Bakso besar nya.
####
"selamat siang tuan Bian" sapa karyawan kantor saat melihat CEOnya ini lewat masuk kedalam kantor.
"siang, mm ada yang lihat sekretaris saya tidak?"tanya bian.
"Mbak Sena kalau ndak salah ada diruanganya tadi pagi tuan" sahut salah satu karyawan nya.
"Baiklah, terimakasih" pria ini melangkah kan kakinya lanjut meninggal tempat untuk bertemu dengan sekretaris nya.
tok
tok
tok
"sena..
"Eh tuan bian" gadis ini langsung berdiri dan menunjukan rasa hormat.
"Kamu!,kenapa tak mengangkat telepon saya?" ketus bian kesal.
"Apakah tuan bian menelepon saya?" ucapnya langsung melihat ponsel. ''aduh maaf tuan seperti nya tadi saya tidak diruangan dan ponsel saya juga senyap. sekali lagi saya minta maaf." sena meminta maaf sebesar besarnya.
"Mana dokumen yang saya minta kemarin?"
Sena langsung kalang kabut mencari nya dan "ini tuan" ucapnya memberikan.
"Baiklah, ayo"
"Kemana tuan?
"Kamu ini bagaimana sih.....,ya sudah biar saya saja. Sini dokumentnya" bian kesal dan kemudian pergi setelah mendapatkan dokumen tersebut.
"Punya sekretaris lemot banget,Digantikan tidak mau. Mohon mohon tapi tidak bisa memghandel semua pekerjaan." ketus bian terus merungut.
Bian melaju mobilnya dan meninggalkan kantor kembali. Setengah perjalanan iya tak sengaja melihat sebuah mobil dan mobil itu dalam ke adaan tak baik baik saja.
"Kecelakaan?"
Setelah melihat mobil itu dengan teliti,bian langsung tersintak. ''itu bukannya mobil kesayangan istiku." Laju mobil yang sedang tersebut langsung ngerem mendadak membuat orang orang juga terkejut.
Bian langsung turun dan langsung mendekati lokasi kejadian. ''permisi pak, Pemilik mobil ini dimana?" tanya bian gemetar kepada polisi.
"Sudah dibawa kerumah sakit untuk dioutopsi pak" sahut polisi muda ini.
__ADS_1
"apah!!!,
"Pengemudi meninggal dunia pak"
Bian langsung terduduk dijalan tersebut. Membuat semua nya panik.
"Di di rumah sakit mana?'' tanyanya lemah dan tak berdaya karena sangat syok.
"Anda pemilik mobil ini? atau anda siapa korban?" tanya pak polisi.
"Saya suaminya, sekarang katakan dirumah sakit mana istri saya?, katakan pak!. Dia tidak mungkin meninggal.'' Pria ini memohon mohon.
"Tenang kan diri anda pak, istri dan putri anda baik baik saja. Yang meninggal dunia si pencuri mobil ini" sahut polisi langsung membuat bian terdiam.
Ada kelegaan dihatinya. ''sekarang mereka dimana?"tanya bian. Namun dirinya tetap panik akan terjadi sesuatu pada ichana,apalagi putrinya
"Kami sudah mengantar nya ke rumah anda" sahut polisi tersebut.
"terimakasih"
Bian langsung tancap gas meninggal kan TKP. Pertemuan apapun itu iya tak peduli. Sekarang dirinya harus pulang menemui kedua gadis kecil tersebut.
Sebelum masuk rumah ternyata keduanya sedang mencicipi makanan yang tak jauh berjualan dari rumahnya itu. Dia membeli gorengan dan aneka sifood dengan harga 20 ribu dapat 10 tusuk.
"Ichana, bagaimana bisa dia membiarkan putrinya makan makanan ditepi jalan." rungut bian.
Tapi disisi lain aku juga senang melihat mereka baik baik saja dan bercanda canda seperti itu,,pasti alysha sangat bahagia sekali
tiiit
"eh papa"
"Kalian lagi apa diluar?" tanya bian didalam mobil.
"Lagi jajan" sahut alysha.
"masuk lah"
"okey"
"kalian duluan saja,aku akan menyusul" tutur ichana enggan untuk masuk.
"Ichana, aku ingin bicara dengan mu. Jadi masuk lah" perintah bian.
"aku akan berjalan." sahut gadis ini meneruskan jalanya.
"Kalau gitu aku juga, papa duluan saja" ucap alysha turun kembali dan menghampiri mamanya.
"ooo begitu, baiklah...buru masuk rumah okey."
"siap pak dosen" sahut alysha hormat dengan tanganya.
"Okey manis"
Bian melanjutkan menyetir mobil untuk masuk kedalam perkarangan rumah. Lumayan jauh untuk jalan kegerbang sana namun ichana punya jalan pintas.
"Mah kita lewat sini saja" ujar alysha melihat pohon yang merunduk tersebut. "Terlalu jauh kalau lewat sana" ucapnya mengeluh.
"Hah,yang benar saja. masa kita manjat sih,Aku tidak manjat ca" ujar ichana melihat keatas.
"Makanya dicoba dong, icha aja coba makanan yang mama kasih, masak mama tak mau coba cara icha" ledek alysha. "Mama liat gerbang itu terlalu jauh mah,emang nggak capek jalan kaki kesana. " goda anak pintar ini.
"Baiklah" sahut ichana nurut.
__ADS_1