Sikecil Milik SiDosen

Sikecil Milik SiDosen
Putriku putrimu juga!!


__ADS_3

Kejadian itu membuat mereka menikah diusia ichana yang ke 15 tahun kurang 2 bulan. Menikah di umur 15 tahun emang boleh,nggak tau juga lah. Tapi mereka boleh aja tu nikah diumur 15 tahun mana dapat surat nikah juga lagi.Sampai umur jihan sekarang 18 tahun.


Ichana bersandar di dinding hotel tersebut dengan nafas terengah-engah. Iya melihat Bian yang masih menatapnya dengan tatapan yang sangat tak puas.


''Apa karena pria itu kau berubah?" tanya bian, pria mana lagi yang iya bicarakan,sehingga membuat Ichana tak tahu siapa pria yang iya katakan.


''Siapa lagi?!" pekiknya.


''Aku tidak menyangka ternyata dirimu jauh sekali berubah ichana... semakin besar diri mu semakin kasar dan kurang ajar'' upat Bian membuat ichana makin muak melihat nya.


''weeeee!,,Aku hanya ingin bebas, aku capek hidup bersama mu, aku ingin kita pisah. Aku tak mau mengurus anak mu lagi. Aku hanya ingin bebas, apa kah itu salah?" ujarnya ichana menangis.


Kata pisah berhasil membuat pria ini bangkit dan menarik tangan istri kecilnya ini ke ranjang dan menindihnya dengan kasar. Gadis ini meronta-ronta memukul prianya dengan sangat kasar.


Sedangkan pria ini terus memaksakan kemauan nya yang entah apa saat ini. Ketika membayangkan wajah anaknya ia tidak ingin menyakiti ibu dari anaknya ini,namun ketika membayangkan kata kata yang dilontarkannya kepada putrinya membuat pria ini ingin menghabiskan nya.


Bian pun melepaskan cekikikan nya kemudian memukul dirinya sendiri. Setelah memukul dirinya dengan puas bian pun duduk di samping tubuh telantang gadis ini. apakah aku salah membesarkan nya. Kenapa dia berubah begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku membesar kan dia dengan putrinya. Kenapa semuanya jadi begini. Dalam tiga bulan dia tak kembali dari Korea ternyata sifatnya langsung begini.


Ichana menarik tubuhnya untuk menjauh dari pak dosen kejam ini. kemudian dia meringkuk kesakitan dileher nya karena ulah pak dosen tersebut.


''Dulu kamu adalah gadis yang manis, manja bahkan kau manja melebihi putri mu sendiri.Sekarang Rasanya aku sudah kehilangan seseorang dalam hidup ku,hanya dalam waktu 3 bulan."Ucap bian melihat dirinya dalam cermin.


''....Cha kamu ingat nggak waktu kamu hamil alysha?" tanya bian. Bian diam sejenak, kemudian melihat langit langit agar bisa menahan air matanya yang akan membobol benteng pertahanan nya


"Sekarang pikirkan lah?....Alysha selalu menyebut namamu." Bian meletakkan ponsel nya di atas ranjang tersebut. Kemudian pria ini pergi menuju kamar mandi.

__ADS_1


Melihat bian pergi, Ichana pun menangis tak sanggup lagi. Ia benar benar tak sanggup hidup dan tak sanggup menjadi seorang ibu untuk anaknya. Jahat emang ini sangat jahat. Tapi itulah yang ia rasakan.


Bian melihat punggung gadis ini lalu menghampirinya dan mengambil ponselnya kembali. Iya menelepon seseorang untuk membawakan baju perempuan untuk ichana.


Iya duduk, di bibir ranjang, tangannya menyentuh kepala ichana, iya mengusap rambut ichana. ''pulang ya demi putri kita, Alysha sangat menyayangi mu" bujuk bian.


"Mari kita buat kontrak hubungan kita'' Sakit rasanya namun iya harus mengalah demi putrinya agar istrinya ini mau pulang dan bersama putrinya. "Dia butuh kamu, dia hanya ingin melihat kamu, dia tak butuh teman yang seumuran dengannya dia hanya ingin kamu''


Ichana masih menyembunyikan wajahnya dibalik selimut nya. ''aku janji aku tidak akan meminta hak ku, mari kita lanjutkan hubungan kita seperti 4 tahun yang lalu. Seperti adik kakak meski kita pasangan suami istri.. aku akan menutup mulut, bila pria itu cinta mu maka kau boleh pacaran atau bagaimana pun dengannya.Tapi satu syarat pulang ya?...putri kita membutuhkan mu?"


Ichana menyibak kan selimut,iya mengambil posisi duduk,matanya merah, bahkan pipinya masih basah. ''Dari pada saling menyakiti kenapa kita tidak bercerai saja, dan kata kepada anakmu itu ibu nya sudah mati." ketus Ichana dengan angkuhnya.


Yang satu ingin bertahan,yang satu ingin bercerai. Bian melenguh kesal,kemudian melihat ichana lagi. ''Setidaknya kamu tinggal bersama Alysha. Kau tidak perlu melakukan apapun. Kamu hanya perlu menampakkan wajah mu ketika dia bertanya. Bagaimana?"


"Aku Tidak ingin membuat dia berharap lebih denganku. Lebih baik akhiri saja semua ini. Kita Cerai, kemudian bilang ke dia ibunya sudah meninggal." cerai lagi, gadis ini selalu minta berpisah setelah iya mengerti segala sesuatu.


"Nggak ada gunanya mari kita pisah saja.'' bantah gadis ini menegaskan.


"Tapi kenapa!?'' Bentak Bian balik mengamuk. "kenapa harus sekarang,kenapa tidak dari dulu kau minta'' Bentak bian, kali ini berdiri. Matanya menatap sangar kepada Ichana.


''Karena dulu aku tak mengerti dengan suatu hubungan... dan sekarang aku sudah paham dan aku muak juga dengan mu" bentak ichana membelalakkan mata. "Dulu aku masih bodoh dan selalu mengikuti kata katamu. padahal semua kata katamu adalah kebohongan yang akan menghancurkan aku dan masa depanku."


Gadis ini tak bercanda iya memang benar benar muak dengan bian dan putri nya sendiri. Wanita ini sudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar nya yang bebas sehingga iya gelap mata melihat suami dan putrinya.


Namun Bian tak menyerah iya yakin ichana bisa iya luluhkan. Ia pun meraih tubuh Ichana dengan lembut kemudian tersenyum membujuk. "Pulang, ya." ajaknya.

__ADS_1


"Aku tidak mau!"


Plak


Satu tamparan melayang membuat gadis ini meringis kesakitan. Bian benar benar sudah sangat tidak tahan lagi.


Ichana menyentuh pipinya yang kenal tampar, terasa sangat panas dan sangat sakit. "Semakin kamu kasar kepada ku. maka aku semakin membenci putrimu!.


"Dia bukan hanya putri ku. tapi dia juga putrimu. Dia lahir dari rahimmu!!" teriak bian mengoyak mulutnya besar besar. "Kalau putriku tidak menginginkan mu, mungkin aku tidak akan menemui mu lagi. Andaikan saja putriku mengatakan satu kata saja. tidak menginginkan mu lagi. mungkin aku tidak akan melihat mu lagi,meski pun kita berpapasan. Begitu lah aku membenci diri mu." celoteh bian.


"Kalau begitu bilang kepada putrimu itu. Ibu mu orang jahat dia tidak sayang kamu dan bla bla tinggal ngomong apakah itu sangat Sulit hah!" teriak Ichana.


"Kenapa tak kau saja yang mengatakan nya!!" teriak bian sampai urat urat lehernya keluar menyembul.


"Oke. aku yang akan bilang"


Ichana meraih ponselnya kemudian melacak nomor Putri nya di ponsel nya. kemudian ia menelepon dan melihatkannya kepada bian.


"Hallo, Mama. Mama Alysha kangen Mama." suara lembut putrinya terdengar dari sana. Membuat bian makin tersakiti mendengar suara putrinya sendiri.


"Jangan!...


Bian langsung merebut ponselnya Ichana dan mematikan nya.


"Kenapa kau menghalangi hah?!" teriak Ichana.

__ADS_1


Bersambung......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2