Sikecil Milik SiDosen

Sikecil Milik SiDosen
Jalan kaki


__ADS_3

Setelah alysha pergi, ichana turun dari tangga iya memakai tampilan sederhana layaknya orang biasa dan miskin pakaian.Namun karisma menariknya tak pernah sirna walau seperti apa pun pakaian yang iya pakai. Iya menyandang tas kuliahnya.


Bian yang melihat ini langsung bertanya.''Mau kemana kamu?''ucapnya menghampiri wanita yang sedang tampak bengih ini.


"anak anda kan sudah pergi dan berarti saya juga akan pergi. Kita tidak memiliki ikatan apa pun lagi.... aku juga akan mengubah nama ku dan menghilang dari negara ini.''Sahutnya ingin berlalu namun tanganya ditahan pria ini.


"Apa kamu akan memutuskan tali darah dengan keluargamu hah?"ucapnya.


"Yes... saya akan memutuskan tali darah dengan mereka semua termasuk putri mu!!!" Ucapnya menekan suaranya pada kata PUTRI MU.


Bian menghela napas dan membuangnya. ''kata mu hidup tanpa mereka akan membuat hidup mu baik baik saja... kamu adalah gadis manja dan selelu membutuhkan uang.. bahkan untuk menggoreng telur mata sapi aja kau tidak bisa. Bagaimana mungkin kamu bisa hidup tanpa semua ini"ucap bian mengungkapkan diri ichana yang sebenarnya.


"Kau....


"....Kamu selalu membutuhkan pelayan, kau memang mampu tidur dengan beralaskan tikar.Tapi kamu tak bisa melakukan apa pun untuk mengurus hidup mu. kau bilang kau mandiri selama ini...tapi sebenarnya itu bukan mandiri. Kau hanya ingin menjauh dari kehidupan yang sebenarnya tak mampu kau jauhi" tegasnya.


"Bacot banget lo ya!!!... dosen sialan''pekiknya,matanya berputar kemudian melotot dan tanganya gemetar. Tubuhnya mengeluarkan aura panas. ''Saya akan buktikan saya bisa melakukan apapun tanpa kalian semua''ucap nya meyakinkan kemudian iya berjalan menjauhi Bian.


"Coba lah kalau kau bisa....''ketus bian tak menghentikan icha. Iya melakukannya agar ichana bisa melihat betapa susahnya hidup orang orang diluar sana tanpa uang dan tanpa rumah. Sedangkan dirinya tak Pernah bersyukur atas apa yang iya miliki.

__ADS_1


Ichana benar benar meninggal rumah itu,iya berjalan gontai dengan satu tas kecilnya. Menelusuri trotoar sama dengan pejalan kaki lainnya. Menelusuri jalan demi jalan tanpa arah dan tujuan mau kemana.


Sedangkan bian mengikuti nya dengan mobil. ''Jalan terus dan rasakan apa yang dirasakan mereka" ucapnya menunjuk pejalan kaki dengan membawa karung dibpundaknya.


Ichana tak. mengubris iya terus berjalan, lama lama kakinya memerah karena berjalan terus menerus. ''kenapa kau mengikuti ku hah"ketusnya berhenti.


''Melihat anda seberapa kuatnya?" Sahutnya ikut memberhentikan mobilnya.


"Apa kau ingin mengejek ku hah''bentak nya marah.


"Lakukan apa pun yang kau mau" ucapnya tak peduli.


Ichana membuka sendalnya kemudian meninggal nya, Kini iya berjalan ceker ayam dari tadi iya berjalan sudah 7 kilo mungkin lebih bahkan pagi kini berganti sore karena begitu lamban nya berjalan. Kaki cantiknya sudah memerah ditambah sekarang iya tampa sendal pula.


Wanita ini tak mejawab iya terus berjalan tanpa alas kaki, iya benar benar nekat, bahkan perutnya sudah berdemo minta diisi namun sang tubuh menyuruhnya untuk bertahan. Jauh makin jauh kali ini kakinya lecet dan memar, kulit putih bersih, menjadi hitam dan merah muda,urat berwarna kehijauan itu membengkak bersamaan dengan kakinya ita tumbang keaspal.


Bian yang melihat itu langsung turun, dan melihat ichana yang sedang menangis dengan memegang kakinya. Kakinya tiba tiba tak bisa digerakan. Betisnya terasa naik dan sakit ''Kamu nggak papa"Menyentuh bahu Ichana.


Ichana menepisnya, iya menggeram Kemudian mencoba berdiri kembali, jatuh beberapa kali pada akhirnya bian menggendongnya dan memasukan nya kedalam mobil setelah itu melaju mobil putar arus ke arah rumahnya kembali.

__ADS_1


"Saya tak ingin kembali''Teriak ichana menangis.


"Diam!!!!" Bentak bian membuat Ichana diam, iya melihat bian langsung takut dengan ekspresi marah itu,Namun takutnya itu hanya untuk sesaat tiba tiba iya mengoceh lagi dan lagi membuat bian makin geram iya ngegas mobil dan memotong motong mobil didepannya dengan sangat lihai membuat wanita ini ketakutan tangan nya bertumpu pada memegang pada atap mobil itu dengan kuat.


Waktu tempuh 8 kilo meter hanya 5 menit kurang untuk bian sampe kerumah kembali. Mereka tiba dirumah,ichana langsung pusing dan membuka pintu, tiba tiba iya jatuh,bukan jatuh tapi tergantung karena sabuk pengaman dari mobil nya belum lepas. Sontak pengawal yang berdiri Segera menghampiri. Ichana langsung muntah muntah hampir saja muntahnya mengenai sepatu hitam mengkilat yang di pakai pengawal ini.


Bian menyuruh pengawal nya untuk Minggir,iya membukakan sabut pengaman nya membuat kepalanya hampir saja mengenai lantai halaman rumahnya ini. Namun kerena tangan bian yang cepat tanggap dalam merangkap nya jadi hal itu tak terjadi.


Bian menggendong ichana seperti iya menggendong putrinya yaitu alysha. Iya membawa keruang keluarga kemudian merebahkan nya disofa. Bian meminta pelayan untuk membersihkan kaki ichana yang hitam itu,setelah bersih bia mengurutnya sempat memberontak namun satu ancaman mampu membuat gadis ini takut dan tutup mulut.


''Apa kau ingin membunuh ku hah?"ketus ichana.


"Mama dan papa mu menitipkan kamu pada saya, maka saya akan bertenggang jawab untuk ini"Ucap bian terus mengurut nya.


"Saya sudah katakan bukan?.... Saya bukan lagi putrinya" ketus ichana menarik kakinya namun bian kembali menarik kaki ichana.


''Kau sangat nakal, sama dengan alysha" ucap bian. ''Kau lihat alysha sekarang sangat lah bijak.Bijaknya tak. terkalahkan."tambah bian.


"Aku tak peduli dengan anak itu''ketusnya memegang kepalanya yang sangat pusing.

__ADS_1


Bian diam tangannya terus mengurut betis ichana sampai terlelap. sibawel tingkat dewi ini akhirnya terlelap juga setelah mengoceh ngoceh tak jelas.


.Bersambung.........................


__ADS_2