
Fimi sedang sibuk hari ini, jadi wanita itu tidak bisa menjemput sang putra. Ada beberapa barang yang harus Fimi urus sendiri hari ini. Ditambah lagi ada jadwal meeting bersama beberapa klien yang akan memakai jasanya dalam merancang baju.
Hari ini juga Fimi bertemu dengan asisten dari Pramudya Group untuk membahas pesanan baju mereka.
"Terima kasih, Pak Haris atas kepercayaannya pada butik kami, kami akan membuat semuanya tepat waktu," pungkas Fimi pada pertemuan pertamanya.
"Sama-sama untung saja Bu Arisha merekomendasikan butik ini," jawab Haris.
Fimi tertegun sebentar, wanita iy merasa familiar dengan nama itu, tapi ia lupa di mana?
"Bu Arisha itu istri dari kakaknya Pak Davanka," ucap Haris yang seolah tahu bahwa Fimi sedang memikirkan itu.
"Oh, iya sekali terima kasih banyak karena sudah mau memakai jasa kami." Fimi kembali mengucapkan terima kasih. Setelah itu keduanya pun pamit undur diri.
Haris kembali ke kantornya, sementara Fimi pergi ke toko kain langganannya. Wanita itu akan membeli beberapa kain untuk baju yang dipesan oleh kantor Pramudya.
"Warnanya kenapa harus biru dongker sih, padahal warna hitam atau abu lebih bagus," gumam Fimi sambil memilih warna lain.
Namun, karena ini pesanan mereka dan kemauan konsumen, Fimi hanya mengikuti dan wanita itu juga akan membuat baju itu dengan warna lain mungkin saja mereka akan berubah pikiran.
Fimi bahkan harus makan siang di luar sendirian. Wanita itu kembali ke butik sekitar jam tiga sore. Tubuhnya terasa lelah, tetapi rencana hari ini semuanya berjalan dengan lancar. Bahan untuk baju pun sudah tersedia semua, tinggal memberikan pada tim penjahit.
Saat Fimi duduk di kursinya untuk melepas penat hari ini, Nesa datang dengan paper bag di tangannya.
"Ini dapat kiriman makanan dari ... duh lupa tadi namanya, pokoknya katanya ucapan terima kasih deh," ucap wanita itu sambil duduk di hadapan bosnya.
"Aku udah makan, buat kamu ajalah," jawab Fimi sambil menutup kedua matanya dan bersandar pada sandaran kursi.
"Yakin nggak mau? Ini kayanya enak deh," ucap Nesa.
Fimi menggelengkan kepalanya. "Oh iya, Fir udah kamu jemput, kan?"
"Astagfirullah, aku lupa." Nesa menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan.
"Nesa ... kamu jangan macam-macam ya? Ini udah mau jam empat sore." Fimi bangun dan mencondongkan tubuhnya ke depan, wajahnya sudah memerah, mungkin karena ia marah apalagi hari ini sangat melelahkan.
"Tapi boong," jawab Nesa tanpa berdosa yang membuat Fimi geram, hingga melempar pensil ke arah tubuh Nesa dengan kesal.
__ADS_1
"Siyalan!"
"Jangan marah dong, cantiknya ilang tahu. Eh iya, tadi pas aku jemput Fir, ada cowok ganteng banget, tapi dia juga jemput anaknya keknya dua pula," papar Nesa.
"Terus lo mau jadi pelakor gitu?" balas Nesa asal.
"Astagfirullah gue nggak sejahat itu ya buat rebut laki orang, cuma gue penasaran aja sih istrinya ke mana kok dijemput bapaknya gitu?"
"Kenapa nanya aku? Tanya ke dia aja langsung," jawab Fimi yang terdengar menjengkelkan di telinga Nesa.
"Ish, susah banget ngobrol cowok sama kamu, Fi. Oh iya, Heru ngajakin dinner mau nggak?" Nesa mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mulai deh, Nes. Yue lagi sibuk banget, pokoknya hari ini kita lembur," jawab Fimi malas.
"Lo tahu nggak sih, apa yang Fir inginkan saat ini?" Nesa bertanya dengan hati-hati, karena saat wanita itu menjemput Fir dan Marina. Marina bercerita tentang keinginan Fir hari ini, hingga anak kecil itu tak mengikuti kegiatan olah raga.
"Memangnya Fir kenapa?" Fimi merasa ada sesuatu dengan putranya.
"Fir mau ... punya pipi," jawab Nesa ragu.
Fimi menghela nafasnya pelan. "Dia pikir pipi itu makanan kah yang bisa dibeli di toko?"
"Coba sama Heru aja gimana? Atau sama Arya?" imbuhnya.
"Please, Nes. Heru itu ... dia udah punya istri ...." Fimi kembali bersandar pada sandaran kursi.
"Apa? Kata siapa?" Nesa terlihat kaget.
"Memangnya kamu tahu apa yang dia katakan sama aku saat dinner pertama kita, dia bilang aku mau dijadikan istri keduanya karena aku sudah ada Fir," jelas Fimi.
"Kurang ajar, kalau ketemu gue pasti udah jambak maki-maki tuh cowok sialan!" Nesa mengepalkan tangannya.
"Oke, sekarang udah tahu jangan suruh-suruh aku buat ketemu dia lagi." Fimi mengangkat bahunya.
"Iya, malam ini juga gue temuin dia." Nesa masih terlihat marah, sementara Fimi hanya menahan tawanya melihat ekspresi dari sahabatnya itu.
Sebenarnya Arya yang memberitahu semuanya, karena pria itu selalu menjaga Fimi, agar tak berhubungan dengan pria sembarangan. Saat tahu Fimi dekat dengan Heru, Arya selalu mencari informasi tentang pria itu. Sampai akhirnya, Arya berhasil mendapatkannya. Ternyata Heru sudah mempunyai istri dan anak di kota kelahirannya, sementara di ibu kota ia bekerja untuk mencari nafkah.
__ADS_1
Namun, saat tahu bahwa Fimi adalah single parent, pria itu terus mengikutinya dan akhirnya berhasil mendekatinya. Wajahnya memang cukup tampan, tingkahnya juga sopan sehingga wanita mana pun akan tertarik padanya. Hingga suatu malam, Fimi diajak makan malam oleh Heru. Awalnya biasa saja, mereka juga masih terlihat bercanda. Tanpa mereka ketahui, Arya mengikutinya dan duduk di meja belakang Fimi dan Heru.
Saat terdengar Heru melamar Fimi, Arta datang dan memberikan beberapa bukti bahwa pria di depannya sudah menikah. Namun, tanpa Fimi duga ternyata Heru memang mengakuinya dan mengucapkan hal yang merendahkan statusnya sebagai single parent.
"Kamu kan juga sudah pernah nikah, jadi tidak apa kan untuk jadi yang kedua?" Ucapan itu keluar dengan santai dari bibir Heru.
Fimi marah dan sakit hati, tanpa berpikir apapun, wanita itu berdiri dan langsung menampar Heru dengan keras, hingga tangannya sendiri pun kesakitan. Akhirnya, Fimi pun pulang bersama Arya. Setelah kejadian itu, Fimi selalu menutup diri dari setiap lelaki yang mendekatinya.
Fimi selalu menyibukkan diri di butik, jika weekend, Fimi akan mengajak Fir untuk jalan-jalan atau apapun yang Fir inginkan. Seperti hari ini, Fimi begitu sibuk, karena wanita itu selalu berusaha mengerjakan pekerjaannya sekaligus agar ke depannya ia bisa santai dan fokus pada sang putra.
"Nes, udah jangan cemberut mulu, mening makan gih!" Fimi menyikut asistennya itu yang masih terlihat marah.
"Gue nggak habis pikir, udah punya anak sama istri masih mau aja nambah, mening kalau kaya raya, ini karyawan biasa aja, kan?" geram Nesa.
"Ya udah sih, eh tapi kan cowok boleh 4 loh, Nes," goda Fimi.
"Iya, kalau mampu dan memenuhi syarat, terutama adil, lah ini nafsu doang buat apa? Kesel gue," jawab Nesa.
"Jangan ngegas dong, yuk kita makan kiriman tadi aja, sayang mubazir kalau didiemin!" ajak Fimi sambil pindah ke sofa.
"Oh iya, ini kiriman dari Davanka."
"Apa?"
Bersambung...
Happy Reading bestie
Yang sabar nunggunya ya karena reviewnya mungkin antre lagi kek kemarin.
Awas kena pelet Fi, langkahi dulu tuh makanannya.
Readers: ish biarinlah biar cepet jadian, daripada sama si Heru kesel gue😑
Lagian ngapain sih si Heru muncul, gue juga kan kesel.
Readers: elu yang bikin ya thor, awas aja kalo sampai nggak jadi sama Dava.
__ADS_1
Sama Arya ajalah udah jelas dia ngelindungi gitu, iya kan?😘
Readers: santet online mau,,🙄