Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
H-3


__ADS_3

Hari terus berlalu tak terasa pernikahan Dava dan Fimi tinggal tiga hari lagi. Rumah Fimi ramai dengan kerabat yang lain. Nesa dan keluarganya juga hadir di sana. Saat ini keluarga itu tengah menyiapkan hal lain, walaupun acaranya akan diadakan di sebuah gedung, tetapi di rumah Fimi tetap memasak seperti orang hajatan pada umumnya.


"Akhirnya sahabat gue sold out juga, setelah banyak banget drama," ucap Nesa yang saat ini berada dalam kamar Fimi. Fimi sedang melakukan perawatan dan dibantu oleh Nesa.


"Gue masih nggak percaya kalau Fir ternyata mau nerima Bang Angka, Nes."


"Anak kecil tahu mana yang tulus dan modus, Fi. Pokoknya gue bahagia." Nesa memeluk tubuh Fimi.


"Oh, iya gaun pengantin buat akad udah aku rapihin, dan buat resepsi juga pokoknya udah beres," imbuhnya.


Percakapan mereka terhenti saat ketukan di pintu terdengar cukup keras. "Masuk!" titah Fimi.


Ternyata Marina datang dengan nampan berisi makanan. "Kamu jangan perawatan terus, Mi, sampai lupa makan." Wanita paruh baya itu menyimpan nampan di atas nakas.


"Buat Nesa ada nggak, Tante?" Nesa melihat dua piring berisi nasi dan lauknya.


"Ada dong, ini Tante sekalian bawain buat kamu juga, inget kalian harus makan."


"Siap, Ma." Fimi menjawab dengan memberi hormat pada mamanya.


"Eh, bentar Ma. Fir di mana? Dari tadi Fimi belum ketemu sama dia," sela Fimi sebelum wanita paruh baya itu benar-benar keluar dari kamarnya.


"Fir main sama Aji, anteng banget dia," jawab Marina.


"Oh, iya nanti Fimi nyamperin ke sana aja deh kalau ini udah selesai."


Marina pun berbalik dan keluar dari sana. Setelah pintu kembali tertutup, Nesa mengambil nampan yang tadi dibawa wanita kesayangan Fimi itu. "Udah, karena gue udah laper, kita makan dulu. Jangan ngeles buruan makan!" Nesa mengomel saat Fimi menggelengkan kepalanya.


"Pernikahan lo tinggal menghitung hari. 1,2,3, nikah, dan lo harus sehat." Nesa mengambil satu sendok nasi dan menyuapi Fimi.


"Iya, iya, bawel. Gue bisa makan sendiri." Fimi mengambil sendok dari tangan Nesa. Kemudian, keduanya pun mulai menikmati makan siangnya.


Sekitar lima belas menit mereka pun selesai dengan makan siangnya. Nesa yang duduk di sofa, menyandarkan tubuhnya. "Alhamdulillah kenyang banget. Kalau kenyang gini ngantuk, enak kali kalau tidur."


"Nggak boleh, Nes. Ih, kebiasaan lo." Fimi kembali menyimpan piring kosong itu di atas nampan.


Saat Fimi kembali duduk, ponselnya berdering nyaring. Saat wanita itu mengambilnya, ternyata panggilan dari calon suaminya.


"Iya, Bang?" Fimi mengangkat panggilan teleponnya.

__ADS_1


"Kamu lagi ngapain?" jawab Dava di seberang sana.


"Lagi dipingit," jawab Fimi sambil terkekeh.


"Iya, tahu boleh vidio call ya sebentar aja," bujuk Dava, karena selama masa pingitan Fimi tak pernah menerima video call darinya kecuali telepon dan pesan.


"Tinggal tiga hari doang, Bang Angka."


Percakapan tak penting itu pun akhirnya diakhiri oleh Fimi, karena Fir manggilnya. Anak kecil itu kini berada di pangkuannya.


"Fir abis main sama Bang Aji ya? Main apa?"


"Iya, Mi, tapi tadi Bang Jiji pulang sama Oma Lisa." Anak kecil itu menjawab sambil memainkan mobil-mobilan kecil di tangannya.


"Eh, Bang Jiji udah pulang ya?" sela Nesa yang kini mencondongkan tubuhnya ke arah Fir. Anak kecil itu hanya mengangguk.


"Lo mau balik juga?" tanya Fimi.


"Nggaklah, kan gue mau nemenin pengantin balu, gue juga udah bilang sama ibu, kok."


Percakapan mereka terus berlangsung, dan Fimi kembali melakukan perawatan setelah Fir tidur di pangkuannya.


Sementara itu di kediaman Pramudya, Alifa dan Riri sedang membantu Dava mencoba jas pengantinnya.


"Ish, mana ada enak aja badan aku sixpack gini," bantah Dava saat dirinya berdiri di depan cermin dengan baju yang akan dipakainya.


"Kamu abis telepon Fimi ya?" Riri bertanya padahal ia tahu karena saat Dava mengubungi calon istrinya, Riri berada di sana.


"Kepo." Dava menjawab asal yang sukses mendapat tabokan di lengannya.


Bersamaan itu, Kavindra suami dari Riri datang menghampiri mereka.


"Kamu apain kakak ipar kamu?" Kavindra bertanya saat melihat Riri memukul lengan sang adik.


"Astagfirullah, Bang, nggak diapa-apain beneran." Dava mengacungkan dua jarinya di depan cermin.


"Pi, lihat deh Dava agak gemukan, kan?" Riri kini bergelayut manja pada suaminya seperti biasa.


"Mungkin dia saking bahagianya mau melepas masa lajang, jadi banyak makan, Sayang." Kavindra menjawab sambil terkekeh.

__ADS_1


"Udah sana kalian pergi!" usir Dava sementara Alifa hanya menggelengkan kepalanya.


Waktu terus berjalan malam pun menjelang. Keluarga Pramudya baru saja menyelesaikan makan malam bersama. Kini keluarga itu sedang berkumpul di ruang keluarga. Ale dan Aksa bahkan masih asyik bermain.


Saat mereka sedang berbincang ringan, tiba-tiba Haris datang dan memberi tahu bahwa ada sesuatu yang harus disampaikan pada Davanka.


Davanka pun pamit ke ruang kerjanya bersama Haris.


Saat keduanya sampai di ruang kerja Dava. Haris langsung menunjukkan sebuah foto seorang wanita. "Pak Dava, apakah Nona Fimi baik-baik saja dan ada di rumah?"


"Seseorang mengirimkan foto ini pada saya, dan berkata untuk menemuinya di gedung tua yang ada di dekat kantor Pramudya. Dia juga bilang jika ingin calon istrinya selamat datang sendiri ke gedung itu." Haris menjelaskan apa yang diminta penelepon gelap itu.


Dava memperhatikan sosok wanita yang ditutupi wajahnya dengan kain hitam, walaupun sekilas tubuhnya mirip dengan Fimi, tetapi Dava yakin bahwa itu bukan calon istrinya.


"Biar aku telepon Fimi dulu, tadi siang aku kasih menghubunginya dan dia sedang berada di rumahnya, Ris." Dava mengambil ponselnya dan mulai menghubungi calon istrinya, tetapi nomornya tidak aktif.


Dava mulai khawatir, dan setelah mencoba beberapa kali untuk menghubungi calon istrinya itu, ponselnya tetap tidak aktif. "Tumben nomornya nggak aktif, biasanya dia nggak pernah mematikan ponselnya." Raut wajah Dava mulai terlihat khawatir.


"Coba telepon keluarganya saja, Pak." Haris mencoba menenangkan bosnya.


Dava mengangguk dan mulai menghubungi nomor ponsel Hendra, papa dari Fimi.


Dava sedikit bernafas saat sambungan teleponnya terhubung ke sana, walau menunggu beberapa saat, akhirnya pria paruh baya itu menjawabnya.


"Nak Dava apa Fimi menemui Nak Dava?" Pertanyaan itu langsung keluar dari pria paruh baya itu.


"A-apa, Om? Fimi ke mana?" Dava kini mulai panik saat tahu bahwa ada yang tidak beres dengan calon istrinya.


"Halo, Om ...." Dava tak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba saja sambungan teleponnya terputus. Saat pria itu kembali menghubungi calon mertuanya itu, nomornya malah tidak aktif.


Dava kini mulai gusar dan akan segera menemui si pengirim foto itu bersama Haris. Namun, saat akan pergi keduanya dihadang oleh Kavindra.


"Ada apa, Dav?" Pria itu memang peka jika ada sesuatu yang tak beres pada salah satu keluarganya.


"Maafin aku, Bang." Dava berlutut di hadapan sang abang.


"Kenapa ini?"


Bersambung...

__ADS_1


Happy Reading


Apakah Fimi beneran diculik? Tunggu lanjutannya ya.


__ADS_2