
Dava yang mengenakan jas abu berjalan menuju ruang tengah, setelah tadi membantu Fimi yang hampir jatuh dan menggendong Fir. Lalu pria itu pamit sebentar ke lantai atas. Saat turun, jas abu yang melekat di tubuhnya membuat pria itu terlihat lebih tampan dan gagah.
Saat Dava menghampiri keluarganya, Riri terlihat menunjuk pada dirinya. Pria itu menaikkan satu alisnya, lalu ikut duduk di samping Kaivan. "Ada apa?"
"Nggak," jawab Riri tak acuh yang membuat Dava mengerutkan keningnya heran.
Sementara itu Fimi terlihat memilin jari-jemarinya. Bagaimana bisa bayangan di hotel dekat toilet itu kembali terlintas di otaknya. Walau bagaimanapun bagi Fimi saat itu adalah ciuman pertamanya. Saat suasana canggung, tiba-tiba seseorang memanggil mereka untuk ke meja makan, karena makanan sudah siap.
Fimi dan yang lainnya pun berdiri, dan pergi menuju meja makan. Sementara Fir masih bersama Aksa dan Ale dengan mainannya.
"Aku mau ajak Fir dulu, Mbak Risha." Fimi pamit ke ruang lain untuk membawa putranya.
"Oh, sambil ajak Ale sama Aksa juga, Dav. Kamu bisa, kan?" Riri memberi kode agar Dava mengikuti Fimi. Padahal dulu mereka sepasang kekasih, tetapi karena kesalahan fatal Dava, justru sekarang malah menjadi kakak iparnya. Miris. Namun, rasa canggung mereka berubah menjadi sebuah kasih sayang saudara sejak kehadiran si kembar.
Dava yang begitu dekat dengan Aksa dan Ale seolah ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu terhadap Riri dan Kavindra yang sama-sama telah ia khianati. Sehingga Riri pun akhirnya bisa bersikap biasa saja.
Dava pun pergi untuk mengajak keponakannya. Fimi sedikit kebingungan saat mencari ruangan tempat Fir tadi bermain. "Ish, ngapain tadi gue nggak nanya dulu sih," gerutunya dengan memukul dahinya.
"Ayo, di sebelah sini!" Tiba-tiba Dava menarik tangan Fimi ke arah kiri, dan hal itu membuat bayangan ciuman pertamanya kembali datang, hingga Fimi refleks menepis tangan Dava.
"Aku serius, Loly," ucap Dava menghela nafas.
"Awas kalau macam-macam, aku bakal teriak," ancam Fimi yang membuat Dava terkekeh geli.
"Nggak, ya ampun." Dava berjalan lebih dulu dan tak berselang lama mereka mendengar suara ribut anak-anak.
"Fil pinjam mobil-mobilannya ya, Asa."
"Iya."
"Eh, Fir, Ale juga punya mainan baru lo, nih liat. Mami yang beliin."
Fimi berjalan mendekat ke arah ruangan luas yang penuh dengan mainan itu.
Putranya sedang memainkan sebuah mobil warna merah. Warna yang tak disukai Fimi.
"Fir, ayo ikut Mimi, Oma sama Opa udah nungguin di sana!" Fimi mendekat ke arah sang putra, sambil mengelus lembut kepala putranya.
__ADS_1
"Bental, Mimi. Fil lagi main mobilnya Asa." Anak kecil itu terus memainkan mobilnya.
"Ayo, Fir. Kita makan dulu. Opa nggak suka kalau nunggu lama," ajak Aksa sambil berjalan mengikuti Dava.
"Tuh, ayo Fir. Nanti main lagi ya." Fimi akhirnya menggendong sang putra, setelah Fir menyimpan mainannya.
Acara makan malam di kediaman Pramudya berjalan dengan lancar. Mereka berbincang di ruang tengah setelah menyelesaikan makan malam yang istimewa itu.
"Kami mohon maaf saat berita duka itu tidak bisa datang, karena saat itu kami sedang berada di luar kota." Ganendra menyesal karena baru mengetahui baru-baru ini.
"Lupakanlah, semua sudah takdir kami semua baik-baik saja. Takdir Tuhan mempertemukan kita kembali saat ini, bukan waktu itu." Hendra berucap sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Sementara itu, Fimi dan Riri menemani putra mereka di ruang permainan. Saat ini yang berada di ruang tengah hanya para orang tua. Kavindra, Dava dan Kaivan berada di taman belakang.
"Yang sekarang ikut itu putri bungsumu, kan? Apa dia sudah menikah?" Ganendra akhirnya mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya.
"Sebenarnya Fir itu putra dari putri sulung kami yang meninggal dunia waktu itu, saat ini Fimi menjadi ibu penggantinya." Hendra menghela nafasnya sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.
"Padahal hak asuh dan wali berada di tangan kami, tetapi Fimi kekeh dengan pendiriannya, ia selalu merasa bahwa pesan kakaknya ditujukan pada dirinya untuk merawat Fir, cucu kami."
Marina menggenggam tangan suaminya. "Fimi seperti menutup diri untuk membuka hati untuk orang lain, bahkan selama ini aku belum pernah mendengar ia mempunyai kekasih."
"Coba aja kita deketin mereka, Pi," usul Alifa pada suaminya.
"Mi, kita nggak bisa memaksakan kehendak putra kita, mereka sudah dewasa pasti punya kemauan sendiri." Ganendra kurang setuju dengan ide istrinya.
"Apa putri kami tidak sesuai dengan kriteriamu, Mas?" Marina merasa tersinggung dengan ucapan Ganendra.
"Bukan begitu maksud aku, Fimi gadis yang cantik juga keibuan, bagi kami itu sudah cukup, tetapi kebahagian anak kami ada di tangan mereka. Kami tidak mau memaksakan." Ganendra menjadi serba salah.
"Iya, Ma, maksud Ganendra benar, ini jaman modern sudah nggak jaman jodoh-jodohan, kalau mereka mau sendiri, Papa dengan senang jati menerima." Hendra menenangkan sang istri.
Perbincangan mereka tak diketahui oleh Fimi maupun Dava. Namun, ternyata saat ini Riri yang sedang gencar mendekatkan mereka berdua. Riri tahu kalau Dava menyukai Fimi.
"Dava itu baik lo, Fi, walau ladang nyebelin tapi hatinya tuh baik. Katanya dulu saat kecil kalian sering bermain bersama?" Riri terus mengajak Fimi membahas Dava.
"Iya sih, Mbak. Dulu aku sering main sama Kai sih, Kak Dava tuh tukang gangguin aku, masa rambut aku ditarik-tarik terus, sampai aku pernah kejengkang gara-gara dia. Makanya dari sana aku nggak suka rambut panjang." Fimi menceritakan masa kecilnya.
__ADS_1
"Ya ampun jahil banget ya, mungkin Dava udah suka sama kamu kali dari kecil," tebak Riri yang langsung mendapat gelengan dari Fimi.
"Mana ada orang suka jahilin mulu, Mbak." Fimi membantah ucapan wanita cantik di depannya.
"Eh, kalau ada yang suka jahil, nyebelin, gitu biasanya dia cari perhatian kamu. Sekarang masih nyebelin nggak?" Riri terus mendesak bagaimana perasaan Fimi.
"Nggak tahu, Mbak. Sekarang aku kan sibuk kerja sama ngurus Fir, jadi aku nggak terlalu ngurusin yang gitu. Lagian ketemu sama dia aja jarang kok."
"Dava itu masih jomblo lo, Fi, kalau dia udah deketin kamu berarti dia mau membuka hati lagi." Riri makin gencar menjodohkan Fimi dengan Dava.
"Aku udah punya anak, Mbak."
"Nggak apa-apa, yang penting bukan istri orang, kan?" ucap Riri.
"Eh ... itu ...."
"Kamu jujur aja, aku nggak pernah lihat suami kamu yang mana? Kalau memang ada mungkin acara makan malam ini kamu pasti sama suami kamu, kan?" Riri mencoba mengorek kebenarannya.
"Mm ... aku iya masih ... single."
Riri hampir berteriak girang, sampai seseorang menyapa mereka.
"Kalian sedang membahas apa?" Pria tinggi itu merangkul bahu Riri.
"Papi, ini lo ternyata ...."
"Ternyata apa?" Tiba-tiba pria lain yang mirip dengan suami Riri datang.
"Mbak Riri, Fimi permisi ke toilet dulu ya," ucap Fimi yang merasa canggung dengan situasi saat ini.
"Mau aku anter?" Dava menawarkan diri, tetapi langsung mendapat gelengan dari wanita cantik itu.
"Emang tahu toiletnya di mana?"
"Mm ...."
Bersambung
__ADS_1
Happy Reading
Jangan lupa gerakin jempolnya ya bestie, aduh ngetik hari ini tuh perjuangan banget pokoknya, jadi jan lupa komennya yang banyak ya nulis next doang juga nggak apa-apa.