Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Nekad


__ADS_3

Keesokan paginya, Dava terlihat masih terlelap di kursi tunggu. Seorang pria paruh baya keluar dari ruangan Fimi.


"Lho, Nak Dava bukannya pulang? Kenapa tidur di sini?" Hendra bertanya pada dirinya sendiri. Namun, saat pria itu hendak membangunkan Dava, tiba-tiba Fimi memanggilnya.


Wanita itu ingin ke kamar mandi. Hendra pun dengan telaten menggandeng lengan putrinya dan membantunya untuk ke kamar mandi.


"Biarkan saya memiliki Fimi, tolong beri saya kesempatan. Saya sudah mencintainya sejak lama. Wanita yang selama ini saya cari. Saya tidak peduli Anda kekasihnya atau suaminya, saya hanya menginginkan Fimi." Tiba-tiba Dava berucap dengan keadaan yang berantakan, saat melihat Fimi digandeng pria itu ke dalam toilet.


Fimi mematung mendengar ucapan pria itu, sementara Hendra menahan senyumnya, tanpa berbalik. "Tidak akan aku berikan gadis kesayanganku ini."


Dava mematung saat mendengar suara yang sangat ia kenal. Pria itu jadi salah tingkah, rasanya ingin pergi jauh dan menggali lubang untuk menyembunyikan wajahnya yang kini mungkin sudah memerah.


Fimi masuk ke toilet sementara Hendra menunggu di luar seperti yang Dava lakukan kemarin. Nesa dan Aji yang ada di sana pun saling melempar pandangan dan menahan senyumnya. Romantis banget si, coba itu cowok gue. Nesa berucap dalam hatinya.


Dava ingin segera keluar dari sana, tetapi entah mengapa kakinya merasa dipaku di tempat itu, sehingga ia susah untuk menggerakkan kedua kakinya. Tak berselang lama Fimi pun keluar, dengan wajah yang basah, mungkin wanita itu membasuhnya. Kini keduanya sudah berbalik dan menghadap Dava. Terlihat Om Hendra yang tersenyum ke arahnya, sementara Fimi memalingkan wajahnya ke arah lain.


"O-om Hendra ... Da-Dava kira bu-bukan Om ...." Dava mengusap tengkuknya dengan canggung karena salah tingkah.


Hendra terkekeh. "Nggak perlu repot minta izin sama suaminya, toh putri Om belum bersuami."


"Apa? Jadi ...." Anggukkan dari pria paruh baya itu membuat Dava ternganga, jadi dia nggak perlu menjadi seorang pebinor (perebut bini orang).


"Tapi kamu harus berhadapan dengan Om sebagai papanya." Hendra kembali menyadarkan Dava.


"Saya benar-benar mencintai Fimi, Om." Dava berkata sungguh-sungguh.


"Bohong, Pa. Kalau emang cinta sama Fimi nggak mungkin dong selalu bikin Fimi marah, kesal pokoknya nyebelin banget." Fimi menyela dan mendelik kesal ke arah Dava. Selain kesal, wanita yang masih dipasang selang infus di tangannya itu juga malu karena selain mereka masih ada Nesa di sana.


"Ayo berjuang Pak Dava, aku mendukungmu." Nesa menyemangati Dava diantara ketegangan yang sedang terjadi.


"Nggak usah kompor lo ya, Nesnes." Fimi menatap tajam ke arah sahabatnya, yang malah tertawa hingga membuat Fimi merasa jengkel.


"Saya serius, Om. Kalau Om nggak percaya saya akan nikahi Fimi sekarang juga." Dava bersikeras membuat pria paruh baya di depannya ini percaya.


"Nggak ada, masa iya nikah di rumah sakit. Fimi nggak mau, Pa." Wanita itu menolak mentah-mentah.


Hendra tersenyum melihat perdebatan yang terjadi antara sang putri dengan pria muda itu. Pria merasa bahwa hubungan mereka akan cocok pada waktunya, walaupun saat ini sepertinya sang putri masih terlihat kesal dan tak suka pada Dava. Namun, Hendra yakin bahwa Dava adalah pria yang baik dan akan mencintai putrinya dengan tulus.

__ADS_1


Tanpa pria paruh baya itu tahu bagaimana seorang Davanka Pramudya di masa lalu.


"Saya akan berusaha agar menjadi orang yang pantas untuk Fimi, Om."


"Om suka semangat kamu, Nak. Berjuanglah untuk mendapatkan hatinya. Tapi ingat jika sampai sekali saja kamu membuat putri kesayangan Om kecewa, kamu berurusan dengan Om." Pria paruh baya itu menepuk bahu Dava, kemudian keluar dari sana.


"Papa ...." Fimi tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh papanya.


Setelah Hendra keluar, kini Dava menghampiri Fimi yang duduk di ranjangnya sambil menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Pria itu memang terlihat berantakan dengan kemeja yang ujungnya keluar, rambutnya juga sama berantakannya dengan bajunya. Namun, entah mengapa keadaan seperti itu malah membuat Dava terlihat lebih tampan dari biasanya. Fimi menghalau pikirannya jauh-jauh.


"Udah pulang sana! Penampilan berantakan gitu juga," gerutu Fimi.


"Makasih udah perhatian sama aku," balas Dava santai dengan ujung bibir yang ditarik ke atas.


"Dih, siapa yang perhatian?" sangkal Fimi memalingkan wajahnya.


Tak berselang lama, Om Hendra kembali dengan membawa sarapan untuk mereka. Fimi dan Nesa memang sudah diberi jatah sarapan dari rumah sakit, tetapi keduanya enggan memakannya dengan alasan tak enak. Jadi, Hendra pu inisiatif membeli makanan di luar.


"Kalian sarapan dulu, Papa pulang dulu ya, kasihan Mama sama Fir. Kamu dijagain Nak Dava aja ya, nggak apa-apa, kan?" Hendra mengusap kepala putrinya.


"Tapi, Pah ...." Wanita cantik itu tak melanjutkan ucapannya.


Akhirnya Hendra pun kembali pulang untuk memastikan bahwa sang istri tetap baik-baik saja. Kini di kamar itu hanya ada Nesa, Fimi dan Dava, karena Aji juga pamit pulang untuk pergi sekolah. Nesa menikmati sarapannya sendirian, untunga saja tangannya hanya lecet saja jadi wanita itu bisa makan sendirian tanpa bantuan orang lain. Sementara Fimi tangan kanannya memakai perban karena ada luka sobek di sana.


Dava dengan telaten menyuapi Fimi, walaupun Fimi sepertinya enggan, tetapi mau bagaimana lagi, tangannya saja masih sakit.


"Aku serius dengan ucapanku, Fimi. Aku sudah mencarimu ke mana-mana sejak keluargamu pindah waktu itu." Dava mulai menjalankan aksinya.


"Nggak usah bohong, kamu bilang gitu biar lebih leluasa untuk membully aku, kan?" bantah Fimi.


"Mana ada kaya gitu."


"Buktinya sejak kecil, kamu yang sering banget gangguin aku, apalagi saat kamu narik rambut aku, aku paling nggak suka pokoknya, udah sakit, kejengkang pula. Ish!" Fimi mendelik ke arah Dava yang malah tersenyum ke arahnya.


"Aku suka rambut kamu, cantik." Dava kembali menyuapi Fimi.


"Udah nggak usah ngomel terus, makan dulu biar kamu cepet sembuh."

__ADS_1


Fimi hanya diam, dan tetap memakan sarapannya sampai habis. Apa yang dikatakan pria di depannya ini ada benarnya juga, dia harus segera sembuh, apalagi ada Fir yang menunggunya.


"Aku kangen Fir. Aku mau ketemu dia." Tiba-tiba Fimi berucap lirih.


"Nanti siang mereka akan ke sini. Jadi, sekarang kamu sama aku dulu." Dava menjawab apa adanya.


"Apa kalian mau jalan-jalan ke taman?" Dava memberi penawaran pada kedua wanita yang ada di hadapannya.


"Kalau mau biar aku akan mengantar kalian secara bergantian," tawar Dava.


"Udah Pak Dava aja sama Fimi. Saya di sini saja. Mau rebahan mumpung ada kesempatan." Nesa menolak halus tawaran pria di hadapannya.


"Aku juga di sini aja deh, kepala aku masih pusing." Fimi menimpali.


"Udah kamu sama Pak Dava ke taman aja, gih! Nyari angin segar, Fi." Nesa menggelengkan kepalanya.


"Nggak maulah, gue mending tidur di sini."


Dava pun menghela nafasnya, kemudian kembali duduk di tepi ranjang Fimi. Ya udah nggak apa-apa kalau kalian nggak mau, kalian istirahat saja."


Pria itu kemudian beranjak dan duduk di sofa, tubuhnya disandarkan pada sandaran sofa, kepalanya mendongak ke atas, lalu matanya terpejam. Suasana hening kini mendominasi ruangan bernuansa putih itu.


Sampai suara dering ponsel terdengar dari arah sofa. Dava masih bergeming, sampai akhirnya suara penggilan itu berhenti. Fimi dan Nesa hanya saling melempar pandangan.


"Mungkin dia tidur kali, Fi." Nesa setengah berbisik.


Fimi hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli. Namun, tak berselang lama, ponsel itu kembali berdering. Namun, sang pemilik tetap saja bergeming. Akhirnya, Fimi pun turun dari ranjangnya karena sofa itu lebih dekat ke ranjang Fimi dari pada Nesa.


Awalnya Fimi juga enggan untuk memberitahu Dava, tetapi Nesa memaksanya.


Saat, Fimi berjalan pelan menuju sofa, tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu hingga tubuhnya limbung, dan hal utu membuat Fimi hilang kendali, hingga tak terduga menubruk tubuh Dava tepat di atasnya.


"Aw!"


Bersambung


Happy Reading

__ADS_1


Jan lupa gerakin jempolnya ya buat komen di setiap babnya. Yang masih males buat komen aku doain dapat hidayah wkwkwk.


__ADS_2