Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Berenang


__ADS_3

Hari ini Fimi pergi mengantar Fir seperti biasa, kebetulan hari ini adalah hari Jumat, jadwal olahraga untuk kober  Ar-Riadhah.


"Fir memang hari ini mau ikut berenang?" tanya Fimi pada sang putra yang duduk di belakang kemudi bersama sang oma.


"Iya dong, Mi. Fil kan udah lama nggak belenang," jawab anak kecil itu semangat.


"Emang nggak bakal kenapa-kenapa dengan luka Fir, Ma?" Fimi beralih pada sang mama.


"Tidak, luka Fir sudah benar-benar kering dan sembuh, kok, Mi. Kamu tenang saja," jawab Marina sambil mengusap kepala cucunya.


"Baiklah, aku percaya sama mama, oh iya nanti pulang dijemput sama Nesa ya, aku ada kerjaan yang harus aku tangani sendiri, nggak apa-apa, kan?"


"Nggak apa-apa, kami akan baik-baik saja, apalagi Nesa yang jemput." Marina mengerti pekerjaan sang putri.


Fimi pun kembali fokus pada jalanan di depan setelah mendengar penuturan sang mama.  


Tak berapa lama Fimi pun sampai di tempat sekolah sang putra.


Wanita cantik itu memarkirkan mobilnya, lalu keluar untuk membukakan  pintu bagi sang putra.


"Belajar yang rajin ya, Nak. Maaf hari ini Mimi nggak bisa jemput Fir, tetapi Ateu Nesa nanti jemput kalian," ucap Fimi sambil mengusap dan mencium kepala putra kecilnya.


"Oke, Mimi tenang aja, Fil nggak akan nakal kok, janji." Anak kecil itu menunjukkan jari kelingkingnya yang disambut oleh jari kelingking Fimi.


"Mimi berangkat dulu ya, Sayang." Wanita berkemeja hitam itu pun kembali ke dalam mobil, sebelumnya mencium tangan sang mama juga.


Adegan barusan tak luput dari perhatian seorang pria dengan kaus pendeknya yang duduk di kantin.


"Cantik ya?" Tiba-tiba suara wanita membuyarkan lamunan pria itu.


"Iya … eh."


"Cantik sih, tapi katanya udah janda ditinggal suaminya," imbuh wanita paruh baya itu sambil duduk di samping pria jangkung itu.


"Apa?"


"Iya yang tadi itu jendes, nggak tahu mungkin ditinggal suaminya karena sering jalan-jalan." Wanita berambut pendek itu mulai bergosip dan berbicara ngawur.


"Kamu ini Om nya Ale, kan?" imbuhnya.


Pria itu hanya mengangguk. Dava juga bingung kenapa wanita ini tiba-tiba datang.


"Saya Tati, penjaga kantin sekolah ini." Wanita itu mengenalkan dirinya.

__ADS_1


Dava hanya mengangguk, tanpa menyebutkan namanya, kemudian karena merasa tidak nyaman, ia pun pamit undur diri. Namun, wanita paruh baya itu menahannya.


"Hati-hati ya suami saya juga sering digodain," ucapnya.


Dava hanya mengangguk lalu pergi dari sana.


"Nggak mungkin type kaya Miminya Fir itu sering godain, muka galak gitu tapi cantik, palingan suaminya yg sering godain," gerutu Dava sambil berjalan menghampiri keponakannya yang sedang asyik bermain dengan teman-temannya, termasuk Fir.


"Ale, Om pamit dulu ya, nanti pulang sekolah Om.jemput kalian lagi." Dava memanggil keponakan perempuannya yang wajahnya begitu mirip dengan sang ibu.


"Oke, Om. Hati-hati di jalan ya, Om!" gadis itu berteriak sambil kembali naik ke tangga perosotan.


"Hati-hati nanti jatuh!" Dava mengingatkan keponakannya yang selalu berlarian itu.


Sementara itu, Fir sedang duduk di ayunan bersama Aksa. Dava juga menghampiri keduanya, pria itu mendorong ayunannya pelan.


"Aksa, Om pulang dulu ya, nanti Om jemput lagi," ucapnya sambil mengusap rambut keponakan laki-lakinya.


"Belajar yang rajin ya!" imbuhnya.


"Oke, Om." Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Aksa.


Fir hanya memperhatikan interaksi keduanya, kemudian anak kecil itu kembali pada mainan di tangannya. Fir sebenarnya merindukan sosok ayah dalam keluarganya. Karena selama ini hanya Mimi dan omanya yang selalu ada untuk dirinya. Mimi memang sering memperlihatkan sebuah foto pria yang disebut sebagai pipinya. Namun, sampai sekarang Fir belum pernah bertemu dengannya, anak itu hanya selalu disuruh untuk mendoakan pria yang disebut sebagai pipinya itu.


"Oma, Fil haus mau minum," ucap anak kecil itu.


"Sini, Sayang!" Sang oma mengambil botol minum dari tas Fir dan memberikannya pada cucu kesayangannya.


Namun, wanita paruh baya itu memperhatikan tingkah cucunya yang tak biasa.


"Fir kenapa? Kok mukanya ditekuk gitu?" tanya Marina yang melihat perubahan pada sang cucu.


"Fir mau dianter pipi, Oma, kayan teman yang lain," ucap Fir yang kini netranya mulai berkaca-kaca.


Marina merasa dadanya dipukul benda tak kasat mata saat mendengar permintaan cucunya. "Fir kan anak hebat, anak hebat nggak boleh nangis." Wanita paruh baya itu mengusap pipi anak kecil itu yang sudah mulai basah.


"Fil mau pipi, Oma." Fir malah makin menangis dalam pelukan sang oma. Marina mengusap punggung cucunya dengan lembut. 


"Nanti Oma bilang sama Mimi ya, sekarang Fir masuk kelas dulu, ya. Tuh lihat teman-teman Fir udah berbaris." Marina memegang bahu kecil cucunya dan mengusap pipi gembulnya lagi.


"Ta-tapi Fil nanti nggak mau belenang, Oma." Anak kecil itu tetap merajuk.


"Iya, Sayang, biar nanti Oma bilang sama Bu Guru. Ayo sekarang Fir ikut baris dulu!" Marina menuntun cucunya menuju barisan anak lelaki.

__ADS_1


Bu Mira dan guru yang lainnya membimbing semua anak-anak untuk berbaris dan langsung berolahraga. Hari ini kegiatan mereka di luar kelas. Marina memperhatikan sang cucu yang masih terlihat murung. Sampai akhirnya Bu Mira menghampirinya dan terlihat mengajak Fir untuk ikut bermain.


Fir mulai mengikuti semua kegiatan olahraga hari ini, kecuali renang. Anak kecil itu memilih duduk di ayunan dan memainkan mobil-mobilan yang ia bawa dari rumahnya. Di sekolah ini memang memiliki fasilitas yang komplit, sehingga membuat anak-anak puas.


"Fir ayo berenang!" ajak Aksa yang kini sudah berada dalam kolam.


"Nggak, Asa, Fil nggak mau belenang," jawab Fir.


"Ayo Aksa, ikut ke Bu Lena!" Bu Mira mengalihkan Aksa agar mengikuti instruksi gurunya.


Sementara itu, Bu Mira pergi menemui Fir. "Apa Fir sedang sakit?" tanyanya lembut.


Hanya gelengan yang wanita itu dapatkan dari siswa didiknya.


"Maaf, Bu mungkin hari ini mood cucu saya sedang tidak baik." Tiba-tiba Marina menghampiri guru dari cucunya itu.


"Apakah di rumah sedang ada masalah?" tanya Bu Mira.


Marina menggeleng, kemudian mengajak sang guru untuk duduk di kursi taman yang agak jauh dari Fir berada, tapi masih bisa terpantau dengan jelas dari sana. Wanita paruh baya itu pun mulai menceritakan keinginan Fir. Padahal mereka tahu bahwa ayah dari Fir sudah meninggal dunia sejak dua tahun lalu.


"Apa Fir tidak mempunyai om?" tanya Bu Mira.


Marina hanya menggelengkan kepalanya.


"Memang Bu Fimi tidak mau menikah lagi, Bu?" Bu Mira bertanya dengan hati-hati, wanita itu takut menyinggung perasaan lawan bicaranya.


"Saya sering mengingatkannya, tapi tahulah dia sibuk dengan kerjaannya," ucap Marina sambil menghela nafas pelan.


"Yang sabar ya, Bu. Mudah-mudahan Bu Fimi cepat dapat jodoh." pungkas Bu Mira kemudian pamit untuk kembali mengajar.


"Semua memang salah Mama, maafin mama, Fimi."


Bersambung...


Happy Reading


Ada aja ya tukang gosip, mau diusir dia juga lagi nyari nafkah di sana. Ya udah nggak apa-apa deh biar rusuh kan ya?😂


Reader: Up nya jangan lama dong, biasanya sarapan pagi baca Bang Dava kemarin malah makan siang.


Monmaaf ya yang review kan bukan aku tapi tim Mangatoon. Jadi sabar aja ya, aku tetap usahain up pagi dari subuh malah. Bukannya nginem malah ngetik gue, demi apa coba? Demi kalian yang mau baca cerita akoh.


Love-love sekebon pokoknya mah ya, timamakasih 😘.

__ADS_1


__ADS_2