Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Cerita


__ADS_3

Dava berada di ruangannya bersama dengan Haris. Kedua pria itu terlihat sangat serius.


"Apa? Jadi maksud kamu Abimanyu sudah meninggal?" Dava memekik kaget saat mendengar kabar bahwa rekan bisnisnya telah meninggal dunia. Padahal selama ini beredar kabar bahwa pria itu menghilang setelah mengurus sebuah proyek bersama Davanka di kota Bandung.


Dava selama ini telah mencarinya ke mana-mana, tetapi jejaknya tak pernah ditemukan, sampai seseorang mengabari bahwa pria itu telah meninggal dunia delapan bulan yang lalu. Proyek itu bahkan kini berjalan dengan sangat lancar. Dava mencari keberadaan Abimanyu dan keluarganya untuk memberikan hak mereka.


Dava mengacak rambutnya gusar saat Haris menceritakan kematian Abimanyu yang tak wajar. "Siapa pelakunya? Aku ingin kamu temukan mereka secepatnya, Haris!" Dava mengepalkan kedua tangannya.


Dava bersumpah akan menjaga keluarganya, jika memang istri atau anaknya masih ada, karena Abimanyu proyek di Bandung berjalan dengan lancar. "Kamu juga temukan keluarganya, istrinya, anaknya atau siapapun yang berhubungan dengan Abimanyu."


"Baik, Pak Dava." Haris pun pamit undur diri.


Selama ini Dava menjadi sibuk karena memikirkan masalah Abimanyu yang juga belum terpecahkan. Bagaimana bisa ia kehilangan jejak begitu lama, sampai akhirnya ia mengetahui fakta bahwa rekan bisnisnya itu telah tiada.


Dava pulang menjelang isya. Pria itu menugaskan anak buahnya untuk mencari keluarga Abimanyu. Dava tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya. Pria itu menyetir mobil sendiri. Selama dalam perjalanan Dava terus mengingat bagaimana awal bertemu dengan Abimanyu. Pria itu bahkan akan mengenalkan istrinya jika proyek mereka berhasil. Namun, saat proyek itu sudah berjalan dengan baik Abimanyu tak bisa dihubungi. Semua kontak tentang pria itu menghilang tanpa jejak.


Saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Dava masih bergeming di tempatnya, sampai suara klakson pun bersahutan. "Iya."


Pria itu pun mulai kembali melajukan mobilnya. Kini pria itu fokus pada jalanan di depan, sampai akhirnya Dava memasuki pelataran rumahnya.


Pria itu menarik dasinya agar terbuka, dan membuka jasnya. Kemudian keluar dari mobil. Saat membuka pintu, pria itu disambut oleh sang istri. Wanita cantik itu mengambil tas dan jasnya terus bergelayut manja pada lengan suaminya.


"Kamu udah makan belum, Bang?" tanya wanita yang kini bergelayut manja.


"Sudah, Sayang. Maaf ada sesuatu di kantor jadi aku makan di kantor tadi." Dava mengusap kepala istrinya.


"Iya, nggak apa-apa. Kalau gitu Abang mandi dulu terus istirahat ya." Fimi menggandeng suaminya menuju kamar mereka. Fir sendiri baru saja tidur bersama Alifa.


Saat mereka berjalan menuju tangga, keduanya berpapasan dengan Tari.


"Malam, Pak Dava, Bu," sapanya ramah.


"Malam, belum tidur?" ucap Dava. Namun, Fimi langsung mengajak suaminya ke lantai atas.


Tari tersenyum miring saat melihat Fimi cemburu kepadanya. "Tenang saja Bu Fimi, saya tidak akan memiliki suami Anda, saya hanya ingin bermain-main dengannya." Tari bergumam sendiri sambil kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Saat Dava dan Fimi sudah sampai di kamar mereka. Wanita itu langsung berkata, "Sekarang Abang mandi dulu ya, aku tunggu di sini." Fimi mendorong tubuh suaminya ke kamar mandi.


"Aku mau minum dulu, Yang." Dava berbalik hingga tubuh mereka bertubrukan.


"Eh, iya lupa." Fimi terkekeh geli dan langsung mengambil air minum yang memang sudah tersedia di kamarnya.


Setelah itu, Fimi memberikan air itu pada sang suami. Dava duduk di tepi ranjang dan meminum airnya hingga tandas. "Aus banget ya, Bang?"


"Iya, tadi pas udah makan kayanya aku lupa minum deh." Dava menyodorkan gelas kosong pada sang istri.


"Ish, kok gitu sih?"


"Mau tolongin aku lagi nggak?" ucap Dava kemudian.


"Boleh dong, aku akan selalu setia buat bantuin kamu." Fimi kini mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.


"Bantuin aku mandi," bisik Dava.


"Ish, nggak-nggak kalau yang itu." Fimi langsung melerai pelukannya pada sang suami. Namun, dengan cepat Dava menggendong sang istri ala brydal dan membawanya ke kamar mandi.


Sekitar satu jam mereka berada di kamar mandi, kini keduanya sudah memakai piyama tidur masing-masing. Fimi berbaring di ranjang dengan berselimut. Sementara Dava duduk bersandar pada kepala ranjang. Pria itu mengusap kepala istrinya dengan lembut.


"Kamu lagi ada masalah?" Fimi melihat raut bingung dari suaminya.


"Hm. Boleh aku cerita?" Anggukkan dari sang istri membuat Dava menarik nafasnya sebelum ia memulai ceritanya.


"Satu tahun lalu, aku memiliki rekan bisnis. Ia begitu baik dan ceria. Proyek kita di Bandung bahkan sukses karena ide brilian dia." Dava menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya. Sementara itu, Fimi mendengarkan dengan serius walau dalam posisi berbaring.


"Namun, suatu hari aku hilang kontak dengannya, bahkan sampai aku menikahimu. Tapi tadi tiba-tiba Haris memberitahu bahwa ia telah meninggal dunia delapan bulan yang lalu." Fimi menutup mulutnya kaget.


"Saat di mana aku dan dia akan membicarakan keuntungan yang kita terima. Kematiannya tak wajar, dan itu sedang kita selidiki." Dava kini ikut berbaring menghadap pada sang istri.


"Maaf kalau akhir-akhir ini aku terlalu sibuk, aku sedang mencari keluarganya untuk memberikan haknya."


Fimi mengusap wajah suaminya dengan lembut. "Aku ngerti, Bang. Aku berdoa semoga semua masalahnya cepat selesai. Kamu juga harus hati-hati, mungkin saja orang uang mencelakai rekan Abang itu juga mengincar Abang."

__ADS_1


Dava menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya. "Aku akan selalu hati-hati, aku akan selalu menjaga kalian."


Setelah itu keduanya pun terlelap dengan saling berpelukan.


Sementara itu di sebuah gedung tua, terlihat beberapa orang dengan pakaian serba hitam.


"Apa maksudmu? Jadi Davanka sudah tahu bahwa Abimanyu telah mati?" ucap pria bertopi hitam itu, tetapi setelah itu ia tertawa terbahak-bahak.


"Bagus, sekarang dia yang harus kita lenyapkan. Proyek itu harus menjadi milik kita. Davanka Pramudya, tunggulah kini giliranmu!" Pria itu kembali terkekeh.


"Ada kabar bagus lain, Bos. Istri Abimanyu kini bekerja sebagai suster dari putra Davanka, dia berniat membalas dendam atas kematian suaminya."


"Waw! Gunakan wanita itu untuk melancarkan rencana kita, aku yakin wanita itu tidak tahu siapa pelaku sebenarnya."


"Baik, Bos!"


Kemudian mereka pun membubarkan diri. Kini tinggal pria bertopi lebar bersama dengan pria yang dipastikan adalah asistennya.


"Kamu, selidiki kembali apa benar dia istri Abimanyu? Aku tidak ingin salah sasaran lagi."


"Siap, Tuan."


Kemudian mereka beranjak dari sana dan menuju mobilnya. Mereka pergi meninggalkan gedung tua itu membelah jalanan yang tatap ramai dengan hiruk-pikuk dunia malamnya.


"Maaf, Tuan. Nona Alisa ingin bertemu dengan Anda?"


"Temui dia, aku berjanji akan membalaskan sakit hatinya, melalui tangan orang lain."


"Baik, Tuan."


Mobil itu pun melaju cepat menuju tempat tujuan mereka.


Bersambung


Happy Reading

__ADS_1


Wah kayanya ada musuh dalam selimut ya?


__ADS_2