Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Suster Baru


__ADS_3

Fimi sudah satu minggu terbaring di rumah sakit, karena sesaat setelah wanita itu diperbolehkan pulang, saat sampai di rumah ia kembali tak sadarkan diri.


Pagi ini, wanita itu kembali di periksa dan jika hasilnya baik, besok sudah diperbolehkan pulang. Dava selalu menemani sang istri sampai kadang bolak-balik rumah sakit kantor.


"Bang, katanya aku udah boleh pulang besok," ucap Fimi sore ini pada sang suami.


"Iya, tapi kamu tetep harus istirahat dulu di rumah, nggak boleh ke butik dulu pokoknya," ucap Dava sambil kembali menyuapi sang istri dengan buah-buahan.


"Iya, maaf ya aku udah bikin kamu khawatir, bikin kamu cape," lirih wanita yang masih terlihat pucat itu.


"Ssstt!" Dava menggelengkan kepalanya. "Itu udah kewajiban aku sebagai suami kamu, Sayang."


"Besok mami sama Fir akan jemput kita, kamu juga pasti sudah merindukan Fir, bukan?" Fimi menganggukkan kepalanya.


Keesokan harinya, pagi-pagi Fimi sudah mengganti pakaiannya. Wanita itu akan pulang hari ini.


"Kamu sarapan dulu, Sayang. Mau dibeliin apa bubur lagi?" tanya Dava pada sang istri.


"Kalau boleh aku mau bakso yang pedes," jawab Fimi sambil terkekeh.


"Ish, nggak ada. Gara-gara makan yang pedas terus tuh kamu akhirnya masuk rumah sakit," gerutu Dava kemudian beranjak dari sana untuk membeli bubur. Sebenarnya pihak rumah sakit juga memberi makanan untuk setiap pasien, tetapi Fimi selalu merasa bahwa makanan itu membuatnya begitu mual.


Setelah sarapan, jemputan pun datang. Akhirnya Fimi pun pulang kembali ke rumah. Selama dalam perjalanan Fir terus memeluk perut sang mimi. "Fil kangen banget sama Mimi. Jangan akit lagi ya, Mi." Anak kecil itu terus berceloteh.


"Iya, Sayang. Maafin Mimi ya, tapi Fir nggak nakal kan sama Oma?"


"No, Mimi. Fil kan anak baik, Fil nggak nakal." Fir menggelengkan kepalanya. Sementara itu, Dava sudah terlelap di samping Fimi. Pria itu memang selama satu minggu ini kurang tidur, karena mengurus sang istri yang sakit karena gejala typus.


Fimi sesekali melirik ke arah suaminya yang terlelap, dalam hatinya ia mengucapkan banyak terima kasih karena pria itu dengan sabar dan penuh perhatian menjaganya saat dirinya tak berdaya terbaring di rumah sakit.


"Mami udah nyariin suster buat antar jemput Fir, Fi. Namanya Tari." Alifa menoleh ke belakang.


"Memangnya Fir mau, Mi?" Fimi kaget, karena selama ini Fir tak mau berdekatan dengan orang luar.


"Sustel Tali baik kok, Mi. Dia jaga Fil sama kaya Mimi," sela Fir


"Iya, kah?"


"Iya, Mimi."


Setelah itu, keadaan mobil itu menjadi hening sampai akhirnya mereka sampai di kediaman Pramudya. Fimi membangunkan suaminya, baru mereka akhirnya turun dari mobil. Saat turun, ada seorang gadis berbaju putih-putih dengan rambut pendek seperti Fimi menyambut mereka.

__ADS_1


"Ini yang namanya Tari, Fi." Alifa mengenalkan wanita cantik itu.


"Selamat datang kembali, Bu Fimi, Pak Dava. Hai jagoan!" Wanita itu merangkul tubuh kecil Fir.


"Terima kasih." Satu kata itu yang terucap dari bibir Fimi, sementara Dava hanya mengangguk kemudian menggandeng sang istri masuk ke dalam.


Dava mengajak istrinya langsung ke kamar, pria itu menyuruh sang istri untuk istirahat. Fir juga ternyata mengikuti mereka ke kamar. "Fil masih kangen sama Mimi, Pi. Boleh ya?"


"Boleh dong, Sayang. Sini!" ajak Dava.


"Sustel Tali, Fil mau sama Pipi dan Mimi dulu, ya?" Anak kecil itu mendongak ke arah susternya.


"Iya, Sayang." Tari mengusap kepala Fir dengan lembut, tetapi entah mengapa Fimi merasa kalau wanita di hadapannya itu sedang berakting untuk menarik perhatian.


Mereka pun langsung berjalan ke lantai atas menuju kamar Dava.


Setelah menutup pintu, Dava kembali merebahkan tubuhnya. "Sini!" Dava menepuk ranjang kosong di sampingnya. Fimi dan Fir pun langsung naik ke ranjang dan ikut berbaring. Fir berada di tengah sambil memeluk perut ibunya.


"Pipi juga mau peluk, Mimi, Fir." Dava mulai menggoda putra kecilnya.


"Nggak, Fil aja, Pipi peluk Fil aja," tolak anak kecil itu.


"Ih, Bang."


Setelah berebut Fimi, akhirnya mereka bertiga tidur juga. Fimi memang masih agak pucat, tetapi karena kondisinya sudah stabil, akhirnya diperbolehkan pulang.


***


Bulan telah berganti dan Fimi sudah sembuh total seperti sedia kala. Wanita itu sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Fir tetap diantar jemput oleh Fimi, tetapi kali ini ada Suster Tari yang menjaganya selama di sekolah.


"Fi, lo nggak curiga sama suster lo?" Tiba-tiba Nesa bertanya saat keduanya sedang berada di ruangannya.


"Kenapa emang?" Fimi malah balik bertanya tanpa menoleh ke arah Nesa.


"Gue rasa tuh cewek ngincer laki lo, deh," papar Nesa yang kini mulai duduk di hadapan Fimi.


"Masa sih? Dia kaya baik dan sayang sama Fir, tapi ... ah udahlah."


Saat mereka sedang mengerjakan projek baru. Tiba-tiba ponsel Fimi berdering, kemudian wanita itu pun mengangkatnya. "Iya, Tari?"


"Ini, Bu. Fir katanya mau nelepon Pipinya, apa boleh saya minta nomor Pak Dava?" ucap Tari di seberang sana.

__ADS_1


"Tumben ya, Fir nggak apa-apa, kan?" Fimi mengerutkan keningnya.


"Eh, ng-nggak apa-apa kok, Bu. Ya sudah Bu sekarang Fir mau masuk kelas lagi." Kemudian sambungan telepon pun terputus.


"Kenapa-kenapa?"Nesa mulai kepo.


Kemudian Fimi pun menceritakan semuanya seperti biasa. "Tuh kan apa gue bilang, kayanya dia emang mau tepe-tepe sama laki lu," ucap Nesa.


"Masa sih kek gitu?" Fimi masih tak percaya.


"Coba aja ntar lihat kalo du rumah terus ada laki lo, gimana reaksi dia?"


"Laki gue kan jarang di rumah, paling pas libur doang," jawab Fimi.


"Iya pokoknya lu awasin aja deh, bibit-bibit pelakor keknya udah nampak."


"Ish, jangan gitulah!" omel Fimi.


"Sedia payung sebelum hujan, Fi. Eh dia tahunya Fir anaknya Dava, kan?" Nesa menatap Fimi dengan tatapan tak terbaca.


"Iya, emangnya gue harus bilang kalau dia ank gue doang gitu?"


"Jangaan! Udah gini aja, pokoknya lo jangan bilang dia anak lo sebelum nikah sama Dava."


"Kenapa?"


Nesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena gemas dengan sahabatnya ini. "Gini lo, kalo iya dia bibit pelakor, kalo tahu itu anak lu, mau Fir diapa-apain?"


"Astagfirullah, nggaklah, amit-amit." Fimi mengetuk meja dan kepalanya secara bergantian.


"Ya makanya."


"Iya, iya. Ish nggak nyangka gue bisa ngalamin kaya gini pas udah nikah."


"Nggak apa-apa, Fi. Dengan ini kita bisa tahu gimana laki lu kalau ada cewek yang mau deketin dia. Kalau setia nggak mungkin lah, Pak Dava ngelirik tuh cewek." Fimi hanya menganggukkan kepalanya.


Tak berselang lama, ponsel Fimi kembali berdering ada tulisan 'My Hubby' di sana.


"Yang, aku mau jemput Fir, katanya Fir kangen, tumben banget."


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung


Ish aku nggak mau ya ada pelakor diantara Babang Dava ama Fimi. Nggak suka pokoknya.


__ADS_2