Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Sahabat Kecil


__ADS_3

"Hai, Loly," ucap seseorang yang membuat Fimi terkejut.


"Kamu?"


Nesa yang memberi tahu Fimi bahwa putranya sudah kembali tidur. Wanita itu melihat pria yang tadi mencari Fimi.


"Nah, ini tamunya, kamu kenal, Fi?" Nesa mendekat ke arah Fimi yang masih terkejut dengan kedatangan pria di sampingnya.


Kemudian Nesa mendekat ke arah Fimi yang masih mematung. "Hei, Fi!" Nesa mengibaskan tangannya di depan Fimi.


"Ngapain di sini?" Tiba-tiba kalimat itu yang keluar dari bibir Fimi, hingga membuat pria yang sejak tadi menebar senyuman itu tergelak.


"Masih aja galak, tapi sekarang udah nggak cengeng dong," jawab pria dengan kaus biru itu.


"Lo ke sini pasti ada maunya, kan?" Fimi menebak, dan hal itu kembali membuat pria dengan kulit sawo matang itu tergelak.


"Lo tahu aja kalau gue lagi butuh bantuan," jawab pria itu, sambil mengusak rambut Fimi hingga berantakan, walaupun wanita itu sudah menepisnya dengan kasar.


Mereka sepertinya lupa kalau ada Nesa yang masih kebingungan dengan tingkah keduanya. Sampai sebuah sikutan menyadarkan Fimi.


"Siapa sih, Fi?" bisik Nesa.


Fimi menoleh, lalu menepuk dahinya. "Maaf gue lupa. Kenalin dia Vano, temen kecil gue yang super nyebelin." Fimi mengenalkan pria bernama Vano itu pada Nesa.


"Nesa." Wanita berambut panjang itu menyambut uluran tangan Vano, saat pria itu menyebutkan namanya.


"Ya udah aku ke depan dulu kalau gitu, Fi." Nesa pun pamit pada Fimi untuk ikut bersama yang lain menunggu pelanggan.


Fimi hanya mengangguk dan kini di ruangan berukuran lima kali enam meter itu tinggal Fimi dan Vano.


"Lo mau minta bantuan apaan sih? Lo tuh kalau butuh sama gue aja baru datang ke sini," ucap Fimi sedikit menggerutu. Vano menjadi pelampiasan kekesalannya saat ini.


"Biasa aja kali ngomongnya nggak usah ngomel gitu?" ucap Vano yang sudah tahu bagaimana karakter sahabat kecilnya ini.


"Lagian lo tuh ke sini pasti mau ngeribetin gue, kan?" tebak Fimi.


"Mm ... iya juga sih, tapi cuma lo sih yang mau diajak ribet sama gue, yang penting kan cuannya gede," jawab Vano tak mau kalah.

__ADS_1


"Iyalah, ngebantu lo itu taruhannya nyawa." Fimi menjawab dengan sewot.


Vano kembali tertawa, permintaannya memang kadang ekstrim, dulu dirinya pernah meminta Fimi menjadi adiknya yang gangguan jiwa hanya karena ingin lepas dari wanita yang selalu memerasnya. Tak hanya itu, bahkan Fimi juga pernah diajak ke sebuah club malam, sampai ada yang menawar dirinya.


"Iya, iya maafin gue, kali ini gue minta bantuan lo yang aman kok, Fi. Oya, lo sama anak Fi ...." Fimi membekap mulut Vano sambil melihat ke sekeliling yang jelas-jelas tidak ada siapapun.


"Kenapa sih lo?" Vano menepis tangan Fimi.


Wanita itu menempelkan telunjuknya pada bibir mungilnya. "Pokoknya Fir itu anak gue, udah gitu aja. Lo jangan bocor deh, Van."


"Oke, oke!"


"Nah sekarang apa yang harus gue lakuin buat lo, Van? Tapi gue nggak mau ya ke tempat lucnut kaya waktu itu," ucap Fimi yang kini mengangkat satu kakinya ke atas sofa dan melipatnya.


Vano kini terbahak mendengar ucapan Fimi. "Iya, nggak, sekarang ke tempat aman pokoknya, tapi lo harus pura-pura jadi tunangan gue, gimana?"


"Ish, bisa nggak sih lo cari cewek sendiri, kenapa harus pura-pura mulu, sih?"


"Udah, Fi, udah gue coba tapi semuanya cuma morotin gue." Vano menghela nafas pasrah.


"Lagian lo tuh kalau deketin cewek dijajanin, ditraktir, dibeliin apa aja yang mereka mau, iyalah mereka pasti nyari duit lo," ujar Fimi.


"Oke deh, terus pura-pura jadi tunangan lo, ATM gue nambah berapa digit nih?" goda Fimi dengan mengedipkan satu matanya.


"Siyalan, lo ternyata sama aja sama mereka," decak Vano.


Fimi tergelak melihat kekesalan di wajah sahabat kecilnya itu. "Terus kapan gue jadi tunangan bayaran lo? Acaranya di mana?" Kini wanita itu bertanya dengan serius.


"Acara tahunan perusahaan temen gue, tempatnya di Hotel Aghata. Pokoknya longue jemput nanti, oke?" papar Vano.


"Bentar dulu jangan oke-oke dulu, emang acaranya kapan?" tanya Fimi.


"Oh, iya lupa gue, acaranya minggu depan," ucap Vano sambil menggaruk tengkuknya.


"Masih lama dong ya, gue bisa minta izin dulu ke anak gue sama orang tua gue juga," ucap Fimi.


"Ya pokoknya terserah lo, tapi sebelumnya gue juga pasti mampir dulu ke rumah lo. Om Hendra udah pulang juga ya?"

__ADS_1


"Iya, udah pulang. Ya udah kalau gitu lo kabarin gue aja lagi, jangan lupa transferannya nomor rekening gue masih sama kok." Fimi beranjak dan pergi menuju ke kamar untuk melihat Fir.


"Siyalan." Vano melempar bantal sofa ke arah wanita yang kini sudah masuk ke dalam kamar itu.


Sementara itu, di tempat lain. Seorang pria berjas hitam sedang sibuk di ruangan besar dengan beberapa orang berpakaian sama.


"Acara tahunan minggu depan hàrus lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya."


"Baik, Pak Dava. Kami sudah menyusun acara dengan sangat detail dan sempurna," ucap pria dengan tubuh sedikit berisi itu.


"Bagus." Pria yang dipanggil Pak Dava itu menjawab.


Setelah acara rapat itu selesai, pria yang ternyata Davanka itu kembali ke ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya. Hari ini perusahaannya sedang sibuk untuk mempersiapkan acara tahunan perusahaan. Kaivan juga sebenarnya ikut membantu dalam persiapan acara itu.


Namun, saat ini yang menjadi masalah bagi Davanka adalah siapa yang akan menemani dirinya di acara itu. Untuk mengajak Fimi, tentu saja dia cari mati pada suaminya. Masa iya harus meminjam istri orang.


"Udah deh, Bang. Santai aja kenapa sih? Biasanya juga sendiri, atau mau aku sewain satu?" tawar Kaivan yang langsung mendapat gelengan dari Dava.


"Nggak, nggak cukup waktu itu Abang ikutin saran kamu, Kai. Kali ini nggak." Dava berdecak.


Kaivan tertawa saat mendengar gerutuan sang abang. "Aku kan cuma nawarin, Bang. Kalau nggak mau Kai juga nggak maksa," bantah pria tampan itu.


Tak berselang lama, Haris asisten dari Dava mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilakan. Pria itu membawa beberapa map di tangannya. Ternyata ada berkas yang harus ditandatangani.


Dava sibuk dengan berkas yang dibawa Haris di mejanya.


Bahkan kepergian Kaivan pun tak disadari oleh pria itu.


Setelah selesai, Haris pun membawa kembali berkas-berkas tadi keluar. Sementara itu, Dava menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lalu menutup matanya. Pria itu juga menutup matanya dengan satu lengannya.


"Aku siap jadi pasangan kamu di acara tahunan perusahaan, Mas Dava."


"Anak cengeng?"


Bersambung


Happy Reading

__ADS_1


Maaf ya up nya malam-malam, dari siang aku sibuk RL. Pokoknya aku tetap usahain update bab tiap hari kok, tapi waktunya aja yang nggak tentu, jadi tetap tungguin ya! Timamakasih.


__ADS_2