Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Lomba


__ADS_3

Sekolah Fir akan mengadakan perlombaan untuk memperingati hari kemerdekaan. Hari ini Bu Mira mengumumkan bahwa lusa adalah hari perlombaan untuk anak-anak dan orang tua. Jadi, di sekolah itu selalu diprogramkan untuk kegiatan memperingati hari kemerdekaan RI. Selain untuk mengenang jasa para pahlawan, anak-anak juga belajar untuk kerja sama dan bersikap sportif. Sehingga kegiatan ini masuk dalam program tahunan sekolah Fir.


"Mimi, lusa Mimi halus ikut lomba ya, pokoknya, Fil mau sama Mimi." Anak kecil itu menelepon sang ibu.


"Iya, Sayang. Mimi usahain datang ya." Fimi menjawab dengan lembut.


"Nggak mau pokoknya halus datang, Fil nggak mau sama Oma." Anak kecil itu merajuk.


"Baiklah."


"Yeee!" Fir bersorak dan memberikan ponsel itu kepada Marina kembali.


"Kenapa Fir nggak mau sama Oma? Oma masih kuat lo ikut lomba," tanya wanita paruh baya itu.


Fir menggelengkan kepalanya. "Fil mau sama Mimi, Oma. Sama Oma udah seling."


"Baiklah, Sayang." Kemudian wanita paruh baya itu pu mengajak cucunya untuk mengganti pakainnya dan makan siang.


Setelah itu, Fir bermain di ruang keluarga bersama sang opa dan omanya seperti biasa.


**


Di tempat lain, dava sedang mengomel pad seseorang yang ternyata adalah adiknya sendiri. Kaivan.


"Ngapain lo ke sini?"


"Ish, mentang-mentang udah jadian, belagu banget sih, Bang." Kaivan duduk di sofa yang tersedia di ruangan Dava.


"Siapa bilang?" Dava mendelik kesal ke arah sang adik. Bagaimana tidak, pemuda itu dengan sengaja memiarkan semua pekerjaannya, sehingga Dava haru bekerja keras untuk mengurusnya. Padahal pria itu sudah berencana ingin terus melakukan pendekatan pada gadisnya, aar hubungannya cepat dihalalkan.


"Maaf, kemarin-kemarin Kai ada urusan, Bang. Kai akan bantu semuanya mulai hari ini." Pemuda itu menyesali perbuatannya.


"Baiklah, kalau begitu, kamu urus data penjualan ini, dan periksa jika ada sesuatu yang ganjl." Dava memberikan beberapa berkas yang harus dikerjakan oleh Kaivan.


"Siap, Bos!" Kaivan memberi hormat dan bersaman itu pesanan makan siang Dava datang.


"Kamu sudah makan?" tanya Dava pada adiknya. Kai menggelengkan kepalanya. Untung saja Dava memesan dua porsi, awalnya umtuk dirinya, karena hari ini pria itu berniat untuk lembur, sehingga ia harus makan banyak agar tenaganya tetap ada.


"Abang tahu ya, Kai bakal ke sini jadi pesan dua  porsi?" ucap pemuda itu yang kini beralih duduk di samping Dava.


"Enak saja, ini buat Abang. Sana delivery sendiri!' Dava mulai membuka makan siangnya dan menyuapkan makanannya.


"Ish." Kai berdecak sebal mendengar jawaban dari sang abang, lalu pemuda itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Namun, saat pria itu hendak memesan makanan, tiba-tiba dava menyidorkan satu porsi makanannya. "Makanlah, sepertinya Abang tak perlu lembur hari ini."

__ADS_1


**


Dua hari kemudian, di sekolah Fir terlihat begitu ramai.wali murid dan siswa berkumpul di halaman sekolah. Suasana begitu ramai saat beberapa anak berlomba mendandani ibu mereka dengan mata tertutup. Di antara anak itu ada Fir yang sedang membubuhkan bedak pada ibunya.


"Mimi, apa Fil sudah benal?" tanya anakkecil itu yang membubuhkan bedak pada hidung mancung Fimi.


"Iya, Sayang, pelan-pelan saja," ucap Fimi yang pasrah wajahnya dirias ala-ala oleh sang putra.


Di samping Fimi ada Riri yang dirias oleh Aksa dan Sera, adik dari Riri yang jua dirias oleh Ale.


Sekitar dua puluh menit, lomba merias itu dimenangkan oleh Ale dan Sera.


Selain itu ada banyak lagi lomba lainnya. Selain anak-anak, wali mereka juga mengikuti beberapa lomba, diantaranya membuat nasi tumpeng yang terdiri dari empat kelompok, lalu lomba tarik tambang, lomba balap karung, dan lomba memindahkan terigu secara estafet.


Lomba berakhir sekitar jam sebelas siang. Mereka beristirahat sambil memakan nasi tumpeng yang sudah dibuat oleh para wali.Semuanya menikmati hari ini. Fimi, Riri dan Sera menjadi satu kelompok dalam membuat nasi tumpeng. Mereka makan bersama.


"Bagaimana hubungan kamu sama Dava? Udah ada kemajuan belum?" bisik Riri yang membuat Fimi terbatuk.


"Minum, Mbak." Sera menyodorkan air minum pada Fimi.


"Makasih." Fimi menerima gelas itu dan mulai meminumnya.


Riri hanya terkekeh. "Sepertinya udah ada kemajuan ya. Baguslah biar adik ipar aku itu nggak jomblo terus."


"Ada apa?" Fimi yang tidak fokus karena pertnyaan Riri, tak mendengarkan pengumuman pembagian hadiah bagi pemenang lomba.


"Fir kan menang lomba balap karung tadi, Tante." Aksa menjaab pertanyaan Fimi.ee


"Oh iya, udah mulai pembagian hadiah ya?"


"Udah, Tante."


Fimi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Riri dan Sera menahan tawanya melihat Fimi yang jadi salah tingkah. Tak berselang lama suara tepuk tangan riuh, saa Fir dan beberapa anak lain menerima hadiahnya.


Semua pemenang dalam lomba sudah mendapatkan hadiahnya. Kini saatnya mereka pulang. Fimi menggandeng putra kecilnya menuju mobil dengan beberapa hadiah di tangannya.


"Saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil. Fir langsung menempelkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi. "Fil ngantuk, Mimi. Fil mau bubu." Anak kecil itu kembali menguap dan mulai memejamkan matanya.


Fimi mengusap kepala putra kecilnya, kemudian mulai melajukan mobilnya. Wanita itu fokus mengemudi, tanpa menghiraukan yang lain, apalagi putranya sudah terlelap. Fimi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tak berselang lama, mobil putih itu pun sampai di kediamannya. Fimi menggendong sang putra yang yang masih terlelap. Saat masuk, Fimi dikejutkan oleh seseorang yang sangat ia kenal.


"Eh, Tante Alifa?" sapa Fimi sambil membenarkan posisi Fir dalam gendongannya.

__ADS_1


"Eh, baru pulang ya? Tante sengaja main ke sini. Aduh itu tidur ya?" jawab Alifa yang beranjak sambil mengusap punggung Fir.


"Udah ketemu sama Mama, Tante? Maaf aku mau nidurin Fir dulu ke kamarnya." Fimi pamit pada wanita paruh baya yang kini kembali duduk.


"Mama kamu ada, kok, tadi lagi ke dalam sebentar," jawab Alifa sebelum Fimi benar-benar pergi.


Fimi pun akhirnya mengangguk dan kembali pamit pada wanita paruh baya itu. Wanita cantik itu membaringkan tubuh kecil putranya di ranjang milik sang putra. Dirasa putranya masih terlelap, Fimi pun beranjak dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket.


Setelah selesai membersihkan diri, Fimi mengganti pakaian dengan baju rumahannya. Kaos longgar dan celana pendek selutut, rambut sebahunya diikat asal.


Setelah dirasa sudah, Fimi pun keluar da menemui orang tuanya juga tamu mereka.


"Tante ke sini sendirian?" Fimi duduk di samping sang mama. 


"Tadi ikut ke Kai, Tante mampir ke sini, udah lama nggak main, soalnya," jawab wanita berbaju biru dongker itu.


"Oh, pantesan aku kaget, Tante ke sini tapi nggak ada mobil di depan." Fimi menganggukkan kepalanya.


Mereka berbincang hingga sore menjelang, sampai suara deru mobil terdengar di halaman. Fimi melihat ke luar, ada sebuah mobil parkir di halaman rumahnya, dan mobil itu sangat ia kenal.


"Bang Angka," lirihnya.


"Tante sepertinya jemputan sudah datang," uca Fimi pada Alifa yang masih asyik berbincang dengan sang mama.


"Oh, Kai sudah datang ya?" Alifa menoleh ke arah Fimi.


"Mami?"


"Dava? Kai ke mana?" Alifa melirik ke arah lain mencari putra bungsunya.


"Mami ke sini sama siapa?" Dava malah menjawab dengan pertanyaan lagi.


"Tadi ikut sama Kai, kirain mau dijemput lagi sama dia, ternyata kamu yang datang."


"Kata siapa, Dava ke sini mau ketemu Fimi, Mi."


"Hah!"


Bersambung


Happy Reading


Maaf ya kemarin aku sibuk 17-an wkwkw jadi nggak sempet nulis. Lomba makan sih sebenarnya hihihi...

__ADS_1


Jan lupa gerakin jempolnya.


__ADS_2