
Fir hari ini mulai sekolah, lututnya sudah sembuh, lukanya sudah kering dan perbannya sudah terlepas.
"Mimi cepat, Fil udah nggak sabal mau ketemu bu gulu," teriak anak lelaki itu yang sudah siap dengan seragamnya.
"Iya sebentar, Fir. Mimi ngambil tas dulu," jawab Fimi yang sibuk memasukan beberapa gambar ke dalam tasnya.
"Udah sini sarapan dulu sama Oma, ayo!" Marina menggendong tubuh mungil cucunya menuju meja makan.
"Rotinya mau pakai selai apa, cokelat, stoberi atau kacang?"
"Fil mau semuanya, Oma, sepelti biasa," jawab Fir sambil membenarkan posisi duduknya.
"Oke!" Marina membentuk huruf o dengan jarinya dan mulai mengolesi roti tawar ítu dengan ketiga selai tadi. Bersamaan itu Fimi datang dengan tas dan kunci mobil di tangannya.
"Kalian sudah siap?" tanya Fimi dengan senyum di bibirnya.
"Bental, Mi, Fil makan loti dulu," jawab Fir sambil sibuk mengunyah roti tawar yang sudah diolesi tiga macam selai kesukaannya.
"Iya, nih kamu juga sarapan dulu, Mi." Marina menyodorkan roti dengan selai kombinasi seperti milik Fir. Ibu dan anak itu memang memiliki selera yang sama.
Fimi menerima roti itu dan langsung memakannya dengan lahap. Wanita itu terlihat bahagia melihat sang putra sudah kembali ceria dan bisa sekolah lagi. Setelah selesai dan mengecek kembali bekal untuk Fir, ketiganya pun berangkat ke sekolah.
Fir terus berbicara saat dalam mobil selama perjalanan, anak kecil itu senang karena bisa kembali ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya.
"Tapi ingat ya, kaki kamu baru sembuh, jadi nanti tidak boleh lagi lari-larian, jika berjalan lihat ke depan agar kamu tak terjatuh lagi seperti beberapa hari lalu." Fimi mengingatkan sang putra sambil terus menyetir.
"Iya, Mi, janji Fil nggak nakal lagi," jawab anak kecil itu dan terlihat mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya dari spion depan.
"Oke, baik-baik sama Oma ya, Mimi pergi kerja dulu ya, Sayang." Fimi berucap setelah menghentikan mobilnya. Namun, wanita itu tak turun dari mobilnya.
"Nanti pulang sekolah, Mimi jemput lagi ya. Have fun honey!" Fimi melambaikan tangannya pada sang putra dan ibunya, lalu kembali melajukan mobilnya menuju butik.
Setelah mobil Fimi pergi, dari belakang tampak mobil hitam, sepertinya orang tua siswa yang mengantar putra-putri mereka juga untuk sekolah. Namun, saat pintu mobil itu terbuka, terlihat pria tampan dengan kemeja hitam turun, kemudian disusul oleh dua anak laki-laki dan perempuan, mereka si kembar Ale dan Aksa.
"Om Dava ayo masuk antar Ale sampai masuk ya," ucap gadis kecil bernama Aleena itu sambil menarik tangan sang om.
"Iya, Sayang." Pria yang dipanggil Om Dava itu adalah Davanka Pramudya.
__ADS_1
Ketiganya pun mulai masuk ke sekolah itu. Saat Aksa dan Aleena masuk ke dalam kelas, seorang anak menghampirinya.
"Hai Asa, Ale, Fil udah sembuh lo," ucap anak berwajah tampan itu.
"Hai Fir, alhamdulillah kalau udah sembuh, coba lihat kakinya!" Ale melihat ke lutut Fir dan terlihat lukanya memang sudah kering.
"Makanya lain kali jangan lari-larian lagi, Fir," sela Aksa sambil menyimpan tasnya di meja.
"Iya, Asa. Ih Asa bawel kaya Mimi." Fir berucap dengan mengerutkan keningnya.
Sementara itu, Davanka hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan dari tiga anak kecil di depannya.
"Kalau gitu Om pulang dulu ya, nanti siang Om jemput kalian lagi, oke!" Tiba-tiba Davanka berjongkok dan mengusap rambut kepala keponakannya.
Fir melihat ke arah Davanka dengan mengerutkan keningnya. "Lo kok papinya Asa dipanggil Om?"
Davanka tergelak, memang wajah dirinya dengan sang abang ada kemiripan, dan sepertinya anak bernama Fir ini baru sekarang bertemu dengannya, padahal Davanka sudah sering mengantar keponakan kembarnya.
"Bukan, Fir. Ini om Ale, ya papi kedua Ale deh," jawab gadis kecil itu.
"Oh, mukanya milip sama papi kamu, Ale," bisik Fir walau masih terdengar jelas di telinga Dava.
Davanka pun keluar dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Pria itu akan menemui Haris di sebuah kafe. Hari ini, pria itu memang izin tak ke kantor, tetapi Kaivan ada di sana.
"Iya, Ris saya segera ke sana," ucap Davanka saat menerima telepon dari Haris asistennya.
Davanka pun melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Pria itu masih geram dengan apa yang terjadi beberapa hari lalu. Saat ini Davanka dan Haris akan mengurus masalah itu. Karena sudah tersebar sebuah foto dirinya bersama seorang wanita di kalangan petinggi perusahaan, dan hal itu membuat dirinya dan perusahaan terancam.
Davanka baru saja masuk ke sebuah kafe Hati, tempat janjian dirinya dengan Haris. Namun, baru saja masuk pandangannya tertuju pada sosok wanita yang sedang duduk di deretan pertama kursi pengunjung. Tanpa menunggu lama, Davanka langsung menghampiri wanita itu
"Senang bertemu denganmu, Azrina," ucap Dava dingin.
Wanita itu terlihat kaget, tapi saat akan beranjak dan pergi, Davanka langsung mencekal lengan wanita cantik itu.
"Lepasin aku, Dav!" pekiknya.
"Tidak akan sebelum kamu menjelaskan sesuatu," jawab Dava dan langsung duduk di samping Azrina tanpa melepaskan cekalannya.
__ADS_1
"Menjelaskan apa? Aku nggak tahu apa-apa."
Davanka terkekeh. "Iyakah? Padahal baru beberapa hari lalu kita bertemu, iya, kan?"
"A-aku hanya mengikuti perintah, jika tidak aku akan kehilangan pekerjaanku, Dav," jawab Azrina yang kini mulai menahan tangisnya.
"Perintah siapa?"
Azrina hanya diam, ada sorot ketakutan dari matanya yang bulat.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus menghapus semua foto rekayasa itu, kita tak melakukan apapun waktu itu, kan?" tanya Davanka ragu.
"Apa kamu lupa dengan apa tang sudah kita lalui malam itu, Dav?" goda Azrina yang entah kenapa membuat Dava menjadi jijik pada dirinya sendiri di masa lalu.
"Jangan macam-macam, Azrina bahkan aku bisa membuatmu kehilangan pekerjaanmu sekarang, seperti dulu," ancam Davanka yang membuat wanita itu beringsut.
"Aku mohon jangan lakukan itu, cuma ini pekerjaanku satu-satunya. Sudah tidak ada lagi perusahaan yang mau menerima aku, Dav."
"Tentu saja siapa yang mau menerima seorang penghianat," tegas Dava dengan nada dingin yang makin membuat aura di meja itu mengerikan bagi Azrina.
"Aku minta maaf, tapi aku nggak bisa melakukan apa-apa."
"Pak Dava di sini, saya nunggu di sebelah sana." Haris menunjuk meja lain yang jauh dari tempat Azrina.
"Haris tolong aku!"
"Apa?" Dava menatap sang asisten yang dipanggil Azrina. Aura dingin itu makin menguar di sana, kini bukan hanya Azrina, Haris juga mulai merasa tak nyaman dengan keadaan ini.
"Apa kamu ada hubungannya dengan kejadian ini, Haris?"
Bersambung ...
Happy Reading
Yah masa Babang Haris juga penghianat? Terus Babang Dava gimana dong?
Readers: Dih terserah elu ya thor elu yang bikin.
__ADS_1
Oh iya lupa, ya udah ntar gue mikir lagi dah, kalau inget.
Readers: Tampol nih