Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Pulang


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu Dava masih berbaring di rumah sakit, tetapi pria itu dipindahkan ke rumah sakit yang ada di Jakarta, agar dekat dengan kediamannya.


Fimi juga sempat dirawat selama satu minggu untuk memantau janin yang ada dalam kandungannya, apalagi wanita itu sempat berkelahi juga. Namun, sepertinya janin dan rahimnya kuat jadi janin itu tetap tumbuh dan tidak terganggu dengan kegiatan ibunya.


Dava sudah bisa berbicara dengan istrinya, dia juga begitu bahagia mendengar kabar bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah.


"Kamu jagan terlalu cape, Sayang? Maaf aku belum bisa jadi suami yang siaga buat kamu." Sore ini Dava mengajk ngobrol sang istri.


"KIta baik-baik aja, Bang. Yang penting kamu cepet sembuh, emang kamu nggak kangen rumah?" Fimi kemudian menyuapi kue kering yang entah sejak kapan Dava jadi sering memintanya.


"Ish, mana ada aku nggak betah di sini, pengen cepat pulang, kumpul bareng lagi. Tidur bareng kamu lagi," goda Dava yang mendapat delikkan dari sang istri.


*


Waktu terus berjalan, selama satu bulan penuh Dava diawat di rumah sakit. Pagi ini pria itu sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah stabil.


Fimi sudah menunggu jemputan di ruangan Dava. Sang suami terlihat lebih segar walau wajah pucatnya masih terlihat sedikit. Setelah Fimi dikabarkan mengandung, wanita itu tidak diizinkan untuk menyetir sendiri mobilnya, saat in Tari lah yng menjadi supir sekaligus susternya Fir.


Tari sudah meminta maaf kepada Dava dan keluarganya setelah mengetahui kebenarannya. Wanita itu pun berjanji akan mengabdikan diri pada Dava dengan mengasuh Fir dan bayi yang dikandung oleh Fimi, karena ia dan Abimanyu tidak mendapatkan kesempatan memiliki bayi, karena keduanya telah pergi meinggalakan tari terlebih dulu.


Fimi juga senang kalau Tari yang menjaga Fir dan mengantar dirinya ke mana pun, karen Fimi tak menginginkan supir laki-laki.


Sekitar tiga puluh menit, Dava dan Fimi menunggu, akhirnya terdengar seseorang membuka pintu ruangan Dava, ternyata Kaivan dan Fir yang datang.


"Mimi, Pipi!" Anak kecil itu blari ke arah orang tuanya dengan  ceria.


"Sayang." Fimi mendekap tubuh putranya kemudian akan menggendongnya. Namun, Fir menolaknya. "Jangan gendong Fil, Mimi, kasian dedek bayinya."


"Anak pintar, siapa yang ngajarin?" Dav mengusap kepala putranya.


"Sustel Tali bilang, Fil akan punya adik, Pi. Jadi Fil nggak boleh digendong lagi."


Fimi hanya tersenyum melihat putra sang kakak yang saat ini sudah tumbuh semakin besar. Wanita itu tanpa sadar sudah menitikkan air matanya.


"Haish. nggak usah drama ayo buruan mau pulang nggak sih?" Tiba-tiba Kaivan menyela mereka.


"Pulanglah, Abang udah pusing lihat ruangan ini, ayo!" ajak Dava sambil turun dari ranjang,


Tak berselang lama seorang perawat laki-laki datang menghampiri mereka dengan membawa kursi roda. Kenudian Dava dipersilakan duduk di sana.


"Saya bisa jalan sendiri, saya sudah sembuh, kok." Dava menolak, tetapi Fimi memaksa suaminya untuk mengikuti perawat itu. Akhirnya Dava pun menurut dan duduk di kursi roda. Fimi, Kaivan dan Fir mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Setelah sampai, Dava dan Fimi pun mengucapkan terima kasih pada perawat itu. perawat itu pun mengucapkan selamat jalan dan semoga selalu seahat untuk Dava. 


Kini Dava, Kaivan, Fir, dan Fimi sudah berada dalam mobil. Fir duduk di depan berssama Kaivan yang mengemudi, sementara Dava dan Fimi duduk di belakang.


"Alhamdulillah akhirnya kita pulang ke rumah, Bang." Wanita cantik itu menyandarkan tubuhnya dengan nyaman pada jok mobil.


Selama perjalanan mereka terus berbincang ringan, bahkan Dava berkali-kali menawarkan beberapa makanan yang terlihat di sepanjang jalan.


"Aku lagi nggak mau apa-apa, Bang. Aku mau tidur aja, ngantuk." Fimi mulai menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.


"Ya udah kamu tidur." Dava mengusap kepala istrinya dengan lembut. Tak berselang lama Fimi pun sudah terlelap.


Kaivan fokus menyetir dan membiarkan sang kakak untuk istirahat juga, pria itu hanya sesekali mengajak ngobrol keponakannya.


Akhirnya mereka sampai di kediaman Pramudya. Ternyata di rumah itu sudah berkumpul juga Kavindra dan keluarganya, juga orang tua dari Fimi  Mereka menyambut Dava dan Fimi dengan bahagia. Bagaimana tidak? Dava terluka begitu parah karena tembakan, tidak banyak yang bisa selamat, tetapi Dava masih diberi kesempatan oleh yang maha kuasa untuk tetap hidup.


Mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Semuanya terlihat bersuka cita. Sementara itu, anak-anak bermain bersama di ruangan lain ditemani oleh Tari.


Wanita itu benar-benar menyukai anak kecil, sehingga membuat anak-anak dekat dengan dirinya. 


Hari pun beranjak siang, mereka makan siang bersama, Riri yang kali ini memasak untuk semuanya, karena menantu pertama Ganendra itu cukup mahir memasak, sementara Fimi hanya membantu sebisanya, walau akhirnya wanita itu berhenti karena merasa mual saat melihat bawang merah.


*


"Anak pipi lagi ngapain di sana?" Dava mengusap perut istrinya yang masih rata.


"Lagi liatin pipinya yang ganteng banget ternyata," jawab Fimi dengan menirukan suara anak kecil.


Dava mendongak melihat wajah sang istri yang entah mengapa malah terlihat makin cantik saja. Kemudian, pria itu beranjak dan meraup bibir istrinya dengan rakus.


Fimi tentu saja membalasnya, sudah lama mereka tak melakukan itu selama Dava berada di rumah sakit. Namun, saat Dava mulai bergerilya, Fimi menahannya. "Jangan, Bang. Kamu masih sakit ...."


Dava menatap sang istri kemudian kembali menempelkan bibirnya. Namun, hanya itu saja. Pria itu menuruti perkataan sang istrinya untuk tidak melakukannya sekarang.


"Tidur, Bang. Kamu pasti cape," ucap Fimi saat mereka sudah melepas pagutannya untuk menghirup oksigen banyak-banyak.


"Baiklah, aku akan tidur, Sayang. Nanti setelah aku benar-benar sembuh, jangan harap kamu bisa lepas dari aku," pungkas Dava yang kini tidur berbaring miring menghadap sang istri.


"Iya, siapa takut?" tantang sang istri yang kembali mencium bibir suaminya sekilas.


"Jangan mancing-mancing deh, Yang." Dava mengomel. Fimi hanya terkekeh geli mendengar omelan suaminya. Namun, baru saja Dava memejamkan matanya, tiba-tiba Fimi beranjak dan menuju ke kamar mandi. Terdengar istrinya seperti sedang muntah-muntah.

__ADS_1


"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?" Dava ikut beranjak dan setengah berlari menuju kamar mandi menemui istrinya. Dengan telaten pria itu memijit tengkuk istrinya yang terus saja muntah.


Tak berselang lama, Fimi pun kembali ke kamar dan duduk di sofa, Dava mengambil air hangat untuk istrinya.


"Kamu mau ke rumah sakit, Yang?" Dava terlihat khawatir. Namun, Fimi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Nggak usah, aku udah biasa kaya gini sebelum tidur, Bang," ucap Fimi sambil menyandarkan tubuhnya.


"Biasa gimana sih? Dulu nggak apa-apa?"


"Katanya sih bawaan bayi, Abang. Kan ada tuh yang tiap pagi mual terus muntah-muntah kaya aku barusan." Fimi menjeda ucapannya sambil melihat suaminya yang masih khawatir.


"Kalau aku pagi-pagi aman sih, tapi kadang juga mual, nah pas malam mau tidur baru kaya gini," imbuhnya.


"Maafin aku ya." Dava menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya. "Maaf karena aku nggak ada di samping kamu."


"Kan Abang sakit, makanya cepet sembuh ya, aku mau minta ...."


"Minta apa? Bilang aku akan berikan asal yang masuk akal," jawab Dava. Pria itu teringat cerita sang kakak saat istrinya sedang hamil, selalu saja ada hal yang aneh.


"Iya, pokonya sembuh aja dulu deh, aku masih bisa nahan kok." Fimi menatap wajah suaminya.


Kemudian keduanya pun kini tertidur pulas di atas ranjang dengan saling berpelukan.


"Kamu jangan tinggalin aku kaya gini, Dav! Aku juga sedang mengandung anak kamu!"


"Bohong. aku nggak pernah sentuh kamu."


"Ini anak kamu, Dava!"


"Nggak!"


"Bang, Bang Dava!"


Bersambung


Happy Reading


Ini beberapa bab lagi tamat ya bestie, tungguin aja. Ada yang mau cerita Bang Kai nggak? Kalau mau entar aku bikin beda buku ya...


Jan lupa jempolnya gerakin ya bestie. Timamakasih

__ADS_1


__ADS_2