Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Berusaha


__ADS_3

Dava baru saja masuk ke kamar Fimi, setelah berbincang dengan papa mertuanya. Pria itu melihat pemandangan yang indah, saat Fimi tertidur dengan memeluk tubuh putranya. Dava pun berjalan pelan dan hendak ikut tidur bersama keduanya.


Namun, baru saja pria itu akan naik ke ranjang tiba-tiba Fir terbangun. "Pipi, sini." Fir menepuk kasur kosong di samping kirinya. Dava pun beralih ke samping kiri, sehingga Fir tidur di tengah di antara Fimi dan Dava. Sepertinya malam pertama mereka memang tak bisa dilakukan sekarang.


Mungkin karena kelelahan juga, akhirnya Dava pun ikut terlelap. Mereka bertiga tidur nyenyak malam ini.


Keesokan harinya, Fimi bangun lebih dulu, dan membiarkan Fir dan Dava tetap tertidur. Wanita itu kemudian pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Sebenarnya Fimi tidak terlalu pandai memasak, tetapi karena hari ini adalah hari pertama ia berperan menjadi seorang istri.


"Ma, Fimi bikin nasi goreng aja kali ya?" Wanita itu masih memilih sarapan apa pagi ini.


"Kamu itu, kebanyakan mikir dari tadi nggak bikin apa-apa, keburu suami kamu bangun," ucap Marina yang sedang membuat kopi untuk suaminya. Bersamaan itu, Dava datang sambil menggendong Fir yang masih mengucek matanya.


"Maaf, Dava kesiangan, Ma." Pria itu terlihat sudah membersihkan badannya, rambutnya juga terlihat basah, tetapi Fir masih dengan piyama tidurnya.


"Nggak apa-apa, Mama ngerti, kok." Wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti pada menantunya. Sepertinya Marina tidak tahu kalau semalam adalah malam pertama mereka tidur bersama, ya hanya tidur saja tanpa melakukan hal yang iya-iya.


"Aduh, aku belum bikin apa-apa buat sarapan, Bang." Fimi merasa serba salah.


"Fil mau loti aja, Mimi." Anak kecil itu berucap sambil terus melingkarkan kedua tangannya pada leher Dava.


"Iya, samain aja, Sayang. Kamu belum mandi?" Dava baru sadar kalau istrinya masih menggunakan baju piyama.


"Belum, nanti saja setelah sarapan," ucap Fimi sambil terkekeh.


"Ish. Ya udah mana rotinya, oh iya tolong bikinin aku kopi ya," ucap Dava.


"Oke, kopi item apa kopi susu?" tanya Fimi, karena wanita itu memang belum tahi kesukaan suaminya.


"Kopi susu dong," jawab Dava sambil menaik-turunkan alisnya.


Dava dan Fir beranjak dari sana kemudian menuju ke ruang makan. Keduanya duduk di sana, menunggu Fimi menyediakan sarapan mereka. Hendra dan Marina sudah berada di sana.


"Nak Dava apa hari ini cuti kerja?" tanya Hendra.


"Iya, Om eh ... Pa. Dava dapat izin buat cuti kerja satu minggu dari papi." Dava menjawab dengan sopan.


"Iya, baguslah jangan kerja terus, apalagi pengantin baru," sela Marina.


Bersamaan itu Fimi datang dengan kopi dan susu untuk Fir. Kemudian wanita itu meletakkannya di depan Dava dan Fir, sementara dirinya hanya minum air putih hangat.


"Bang, rotinya mau pakai selai apa, coklat, kacang atau stroberi?"


"Fil, mau semuanya kaya biasa, Mi," jawab Fir. Dava mengernyit mendengar jawaban dari putra kecilnya.


"Sama kaya aku, Bang." Fimi mulai mengoleskan ketiga selai itu.


"Ya sudah samain aja, aku mau coba," jawab Dava akhirnya.


"Oke." Fimi membentuk huruf O dengan jarinya, wanita itu pun mulai membuat roti untuk suami dan putranya.

__ADS_1


Sarapan hari ini dengan suasana baru, ada Dava diantara mereka, apalagi Fir terlihat begitu senang dengan kehadirannya.


Hari pun beranjak siang dan mereka masih berada di rumah, tanpa pergi ke mana-mana. Namun, saat menjelang sore, Hendra dan Marina pamit akan pergi ke suatu tempat, lalu keduanya pun mengajak Fir.


"Fil pelgi dulu ya, Mi, Pi. Fil mau ikut Oma sama Opa jalan-jalan," pamit anak kecil itu sambil mencium punggung tangan Dava dan Fimi.


"Fil jangan nakal ya sama Oma," pesan Fimi.


"Baik, Mimi. Fil kan nggak nakal, Mi." Anak kecil itu mengerutkan keningnya.


"Pintar." Dava mengusap kepala putranya.


"Mama sama Papa pergi dulu ya, ayo, Fir!" ajak Marina.


"Iya, hati-hati di jalan, Ma. Tenang saja sekarang Fimi udah ada aku," tukas Dava yang tiba-tiba menarik pinggang ang istri.


Marina tersenyum, kemudian membawa sang cucu menuju mobil.


Selepas kepergian Fir dan oma, opanya. Fimi dan Dava kini hanya tinggal berdua di rumah.


Dava mulai gencar menggoda istrinya, tetapi wanita itu masih saja tetap diam.


"Kita ini pengantin baru lo, Sayang. Kok malah marah kaya gini?" ucap Dava saat keduanya duduk di sofa ruang keluarga.


Fimi berbalik menghadap suaminya, kemudian melipat kedua tangannya. "Pertama saat pernikahan kita, kok bisa-bisanya Abang tidur saat akan mengganti baju?" Fimi menatap ke arah suaminya yang menampilkan senyumannya.


"Kedua, siapa cewek yang bikin Fir marah kaya gitu? Kalau mau ngeprank, kalian berhasil, tapi itu tetep bikin aku nggak suka."


Dava menarik bahu istrinya dengan lembut agar wanita itu kembali menghadap ke arahnya. "Maafin aku, aku salah udah tidur saat acara nikah kemarin. Soal cewek itu, dia Kiandra ... mantan Bang Kavin."


"Bang Kavin? Kok bisa datang sih? Sama mantan bisa jadi teman gitu?" Fimi tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Lah, emang kenapa kalau jadi teman?" Dava mengernyit.


"Ya, aneh aja sih, kalau aku ya, mana mau temenan sama mantan, mantan sama teman itu beda," papar Fimi.


"Emang mantan kamu berapa?" tanya Dava dengan nada berbeda, pria itu seolah tak terima jika istrinya mempunyai mantan.


"Kenapa jadi bahas aku sih, jelas-jelas yang salah itu kamu, Bang." Fimi mulai kesal.


Dava yang melihat istrinya mengerucutkan bibir itu, langsung memagutnnya dengan rakus, hingga Fimi mengerjap kaget. Namun, saat wanita itu menahan dada suaminya agar melepas pagutannya, Dava justru memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk istrinya.


Adegan itu terus berlanjut, sampai akhirnya Fimi kalah dan. menerima ciuman suaminya. Walaupun wanita itu kewalahan mengimbangi permainan suaminya, tetapi Fimi berusaha membalasnya.


Sampai akhirnya, Dava melepaskan pagutannya untuk mengambil oksigen. Fimi bahkan sedikit terengah karena oksigennya mulai menipis. Rona merah di pipi wanita cantik itu mulai terlihat saat Dava kembali menyatukan bibir mereka.


Tanpa sadar, kini Dava sudah mengungkung tubuh sang istri di sofa itu. Kemudian, Dava melepas pagutannya untuk melihat istrinya. Kabut di matanya sudah terlihat.


"Bang ...." Fimi memanggil suaminya, tetapi tersekat di tenggorokan.

__ADS_1


"Iya, Sayang," jawab Dava serak.


Hening, kini menguasai keduanya, seolah tak ada kata untuk diucapkan.


Dava mencium kening istrinya lama, kemudian berkata, "Bolehkah aku meminta hakku sekarang, Sayang?"


Fimi menelan salivanya, mendengar permintaan suaminya, tetapi untuk mengatakan iya, wanita cantik itu masih takut, mengatakan tidak pun, ia merasa berdosa. Akhirnya, Fimi hanya diam dan bergeming.


"Sayang?"


"Iya ... iya."


"Baiklah, ayo!" Dava beranjak dan menggendong tubuh istrinya.


"Abang!"


"Iya, Sayang."


Namun, saat pria itu membawa sang istri menuju kamarnya, tiba-tiba sebuah ketukan di pintu depan terdengar begitu jelas.


"Permisi!" teriak seseorang dari luar.


"Ada tamu, Bang." Fimi menepuk bahu suaminya.


"Biarin sajalah." Dava tetap melanjutkan menggendong istrinya.


"Permisi!" Suara pria di luar kembali terdengar.


"Nggak ada orang," balas Dava yang membuat Fimi kembali memukul bahu suaminya sambil tergelak.


"Turunin, Bang. Kali aja penting." Fimi akhirnya berontak dan Dava pun mengalah.


Kemudian keduanya kembali ke ruang depan dan saat membuka pintu rumah, tampak seorang pria berpakaian rapi.


"Cari siapa, Mas?" tanya Dava.


"Maaf, apa benar ini rumah Bu Seli?" tanya pria itu sopan.


"Bukan, Mas. Salah alamat," jawab Dava.


"Oh, bukan ya, kalau gitu nggak apa-apa makasih." Kemudian pria itu pun berlalu begitu saja.


Fimi yang melihat itu terkekeh geli. "Ada ya orang lempeng kaya gitu."


"Sayang? Kita belum selesai ya." Dava yang merasa kesal kini mengejar istrinya.


"Ampun, Bang."


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading


Udahlah pokoknya bab hiya-hiyanya segitu aja ya, aku takut nggak ada yang baca, udah sesek nafas bikin tapi nggak dibaca.


__ADS_2