Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Kencan Buta


__ADS_3

Dava langsung kembali ke kantornya setelah menggoda Fimi. Pria itu membantu sang adik yang sedang belajar di perusahaannya.


"Kai, untuk beberapa hari ke depan Abang nitip kantor ya, Abang yakin kamu bisa," ucap Dava saat mereka berada di ruang kerja Dava sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"Iya, emang mau ke mana sih, Bang?" Kai menjawab sambil fokus pada layar datar di depannya.


"Abang butuh liburan kayanya, Kai." Pria itu menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Pasti lagi galon, kan?" tebak Kai sambil menunjuk sang abang.


"Galon apaan sih?"


"Galau, Bang."


"Abang … ah udah pokoknya Abang mau cuti dulu seminggu deh ya," ucap Dava yang diangguki oleh Kaivan.


"Papi udah tahu Abang mau cuti?" 


"Pulang dari sini Abang mau bilang …."


Kaivan melihat gelagat tak biasa pada sang abang. Seperti orang yang bingung, tapi juga seperti orang jatuh cinta.


"Abang ketemu cewek di mana?"


"Hah?"


"Jangan pura-pura deh, Abang pasti abis ketemu cewek, kan?" desak Kai.


Dava memang tak bisa menyembunyikan perasaannya dari sang adik yang entak kenapa selalu saja bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.


"Abang ketemu cewek, tapi … dia udah …."


"Istri orang?" tebak Kaivan yang membuat Dava berdecak sebal, entah kenapa pria di depannya ini selalu bisa menebaknya.


"Mantan lebih tepatnya."


"Mantan Abang?"


"Ish, bukan mantan istri orang."


"Beuh jus nih kayanya," gelak Kaivan.


Namun, Dava justru mengerutkan keningnya. "Ini orang ya Kai bukan minuman, apa maksudnya jus? Kalau haus tinggal nyuruh OB sana buat beliin," ucap Dava sedikit kesal.


"Eh, siapa yang haus 'Jus' itu 'Janda Usia Subur', see?" Sebuah bantal sofa pun melayang tepat pada kepala Kai, karena pria itu sedang tertawa jadi refleksnya lambat.

__ADS_1


"Jangan gunain bahasa planet apa, pusing," omel Dava.


"Yeh, kita juga hidup di planet ya mohon maaf, planet bumi," jawab Kai tak mau kalah.


"Terserahlah."


Dava menghela nafasnya dan memijat pangkal hidungnya. Masa lalunya yang kelam, membuat dirinya menutup diri dari wanita setelah pernikahan sang abang dengan mantan kekasihnya. Namun, sampai sang abang memiliki putra dan putri, Dava masih belum bisa membuka hatinya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Fimi, pemilik butik seorang ibu beranak satu. Katanya dia single parent, tetapi putra kecilnya menyebut seorang pria lain dengan sebutan pipi.


"Ya udah sih, pepet aja dulu, Bang. Keburu ditikung orang baru rasa." Tiba-tiba Kaivan menepuk bahu sang abang dan duduk di sampingnya.


"Tapi dia tuh kaya nutup diri dari cowok," jawab Kaivan.


"Yaiyalah, Bambang orang dia punya laki." Kaivan berdecak sebal.


"Iya, tapi Abang pernah nanyain suaminya yang mana dia nggak jawab, terus kata Arisha eh Kak Riri dia single parent," ucap Dava yang kini mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan menopang dagu.


"Kalau Kai, percaya sama Kak Riri, udah pepet aja, sambil challenge kali Bang, dapatin mantan bini orang," gelak Kai.


"Ini bukan masalah challenge ya, Kai, tapi masalah hati," decak Dava.


"Jangan main hati deh, Bang sakit kalau gagal, meningan main bola sehat juga." Kaivan tergelak dan menghindar saat akan mendapat tendangan dari sang abang.


"Abang udah nggak muda lagi, udah nggak pantes buat pacaran-pacaran. Kalau bisa Abang mau langsung nikah." 


"Mau nggak kencan buta, Kai punya aplikasi buat itu, ya sekalian biar bisa lupa sama istri orang, Bang. Bahaya."


"Ya nggak gitu juga, tapi biasanya sih yang melakukan kencan buta tuh yang udah malas pacaran, yakali Abang langsung dapat jodoh dari sana. Kai janji akan seleksi semua."


"Ya udah terserah kamulah, Abang ikut aja, tapi jangan sampai Bang Kavin sama Mami tahu, apalagi maminya si kembar jangan!" Dava mengingatkan sang adik.


"Siap, Bang!"


Butik Klarisa


Fimi tersedak saat mendengar penuturan sang mama, mengenai perjodohan.


"Mama jangan ngaco deh, Fimi bisa cari sendiri nanti," ucapnya.


"Oke, kalau sampai satu bulan ini kamu belum juga mendapatkan seseorang untuk diajak ke rumah, Mama yang akan atur semuanya," tegas wanita paruh baya itu.


"Ayolah, Ma. Fimi masih mau fokus berkarir," rajuk Fimi sambil menggandeng tangan sang mama agar luluh.


"Usia kamu sudah cukup untuk berumah tangga, Fimi. Mama yakin Fir juga menginginkan hal yang sama, dia ingin memiliki seorang papi," ucap sang mama.


"Oke satu bulan, kan?" tanya Fimi. Marina hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Oke."


"Mama tunggu, ayo sekarang habiskan makanannya dan kita pulang." Marina membawa kotak makan yang masih terisi setengahnya itu.


"Mama duluan saja, Fimi masih ada kerjaan sedíkit lagi, nanti habis Maghrib Fimi pulang, janji nggak akan pulang malam," ucap Fimi.


"Kamu tuh kalau udah kerja lupa segalanya, ya udah Mama pulang duluan." Wanita itu beranjak dari duduknya, lalu Fimi mencium punggung tangan wanita kesayangannya.


"Iya, Ma. Hati-hati di jalan!"


Setelah kepergian sang mama, Fimi langsung mencari Nesa. Lalu mengajak wanita itu pergi ke ruangannya.


"Nes, bantuin gue. Gue harus ketemu cowok dalam sebulan ini kalau nggak gue bakal dijodohin, gue nggak mau," papar Fimi dengan wajah serius.


"Lo sebenarnya tinggal pilih, Fi. Selama ini yang deketin lo tuh banyak, cuma lo nya aja yang cuek," jawab Nesa dengan melipat kedua tangannya.


"Hah, siapa aja? Gue nggak ngerasa." Fimi mengerutkan keningnya.


"Radit, Alif, Ikhsan, Heru, Doni, Arya juga masih ngarepin lo." Nesa menyebutkan beberapa nama yang sebenarnya Fimi tak terlalu mengenalnya.


"Heru? Please Nes dia itu suami orang, Arya gue udah anggap dia kaya abang gue, sahabat gue, gue nggak bisa sama dia," ucap Fimi yang kini pindah ke sofa setelah dari tadi berdiri.


"Yang lainnya?"


"Gue nggak kenal mereka, emang kapan mereka ketemu gue?" jawab Fimi.


Nesa merasa gemas sendiri mendengar ucapan Fimi. "Ish, lo itu gimana sih masa lupa sama mereka?" Namun, anggukkan dari Fimi membuat Nesa menghela nafas.


"Gimana kalau lo kencan buta, kalau cocok ya lanjut kalau nggak udahan aja si, mau?" saran Nesa yang membuat Fimi membelalakkan matanya.


"Gila lo ya, masa kencan buta kalau mereka macam-macam gimana? Terus kalau yang datang om-om ish gue nggak mau." Fimi melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ya nggaklah, biar gue aja yang atur, sebulan, kan?" Nesa kembali meyakinkan Fimi.


"Tapi gue nggak tahu kencan buta tuh ngapain aja sih? Orang kencan aja gue kagak pernah," ucap Fimi.


"Hah, masa sih lo nggak pernah kencan, terus lo bisa dapat Fir dari mana?" Nesa terkejut mendengar penuturan sahabatnya itu.


"Sebenarnya …."


Bersambung...


Happy Reading


Monmaaf baru bisa up ya bestie, biasa agak riweh RL, apalagi anak bontot aku lagi aktif-aktifnya duh jadi kudu ekstra jagain.

__ADS_1


Jan lupa gerakin jempolnya kek biasa ya say🤗


__ADS_2