Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Ruang Mawar 2


__ADS_3

Fimi ditangani dengan baik, begitu juga dengan Nesa sahabatnya. Mereka mengalami kecelakaan tunggal saat menghindar dari orang yang tiba-tiba menyeberang jalan sembarangan. Fimi membanting stir ke arah kiri saat itu dan langsung menabrak pohon besar. Benturannya cukup keras hingga membuat wanita itu juga sahabatnya kehilangan kesadaran. Beruntung mobil mereka hanya penyok, tidak sampai terbakar.


Saat ini Fimi mendapat perban di pelipis kanannya, ternyata lukanya cukup dalam hingga mendapat empat jahitan, sementara Nesa juga mendapat kan luka yang sama di bagian kirinya. Fimi dan Nesa masih berbaring di belankar ruang IGD.


Dava baru saja bertemu dengan Om Hendra yang menggendong Fir dan Tante Marina. Wanita itu sudah menangis sejak kedatangannya. Apalagi Dava sempat mendengar bahwa wanita itu takut Fir kehilangan Miminya setelah kehilangan kedua orang tuanya. Dava sebenarnya ingin bertanya mengenai hal itu, tetapi melihat Tante Marina yang terus menangis membuat pria itu mengurungkan niatnya. Pria itu akhirnya mengambil alih menggendong anak kecil yang terlelap itu dari pangkuan opanya.


Kini ketiganya sudah berada di ruang IGD untuk melihat keadaan Fimi dan Nesa. Marina langsung memeluk tubuh putrinya yang masih memejamkan matanya.


"Jangan tinggalin Mama lagi, Sayang."


"Tenang, Ma. Fimi pasti sembuh." Hendra mengusap punggung sang istri mencoba untuk menenangkan. Sementara Dava, hanya menatap nanar melihat adegan di depannya. Fir masih terlelap dalam gendongan Dava. Anak lelaki itu belum mengerti apa yang terjadi pada ibunya.


"Fil haus, Opa." Tiba-tiba anak kecil itu bergumam.


Dava melihat ke arah Fir lalu mengangguk. "Biar Dava membeli minuman dulu untuk Fir, Om." Pria itu pamit untuk ke kantin. Dava menggendong Fir yang masih memejamkan matanya. "Opa pake falfum balu ya, kok beda?" gumamnya tanpa membuka matanya.


Dava terkekeh mendengar ocehan anak kecil itu, kemudian pria itu hanya menjawab dengan gumaman. Ketika sampai di kantin, Dava pun membeli minuman dan beberapa cemilan untuk Fir.


"Bangun Jagoan, katanya haus?" ucap Dava sambil mendudukkan anak kecil itu di pangkuannya.


Fir berusaha membuka matanya dengan susah payah, sampai akhirnya benar-benar terbuka. "Opa? Kok sualanya ... eh Om Dava, Opa ke mana?" Fir mulai menoleh ke kiri dan ke kanan.


Dava kembali terkekeh melihat tingkah menggemaskan Firdaus. "Opa ada, katanya Fir udah berat sekarang, katanya mau aus tadi, minum dulu!" Dava menyodorkan air mineral yang sudah dibelinya pada anak kecil yang saat ini sedang mengucek matanya.


"Fil mau susu kotak boleh ya, Om?" Fir berkata setelah meminum air hampir setengah botol itu.


"Boleh, mau apa lagi?" Dava mengangguk. Kemudian Fir pun menunjuk beberapa makanan dan susu yang diinginkannya. Setelah selesai, Dava membayar semuanya makanan pilihan Fir juga dimasukan ke dalam kantong kresek putih yang berisi beberapa cemilan yang Dava pilih tadi.


"Kenapa jadi banyak, Om?" Kini Fir ingin diturunkan dan berjalan dengan digandeng oleh Dava. Jika dilihat dari belakang mereka memang cocok seperti ayah dan anak.


"Nggak apa-apa biar Fir kenyang."


"Oya Fil lupa nanya, sekalang kita ada di mana Om, kok Fil bisa sama Om?" Anak kecil itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dava bingung harus berkata apa, sampai akhirnya ia hanya berkata bahwa nanti anak kecil itu akan tahu. Setelah itu Dava membawa Fir ke keluarganya. Namun, saat perjalanan menuju ruang IGD, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya dan satu remaja laki-laki dengan seragam SMA.

__ADS_1


"Teteh kamu gimana ya, Ji. Ibu khawatir." Wanita paruh baya dengan hijab ungu itu bertanya pada anak remaja yang berada di sampingnya.


"Aji juga nggak tahu, Bu." Mereka berjalan cepat menuju ruang IGD sama seperti yang dilakukan oleh Dava.


"Bang Jiji!" teriak Fir saat melihat anak remaja itu.


Pemuda dengan seragam SMA itu pun menoleh dan melihat ke arah anak kecil yang dituntun oleh pria tak dikenalnya.


Hanya satu anak yang memanggilnya dengan sebutan menyebalkan itu yaitu Firdaus putra dari Fimi teman kakaknya.


"Astagfirullah, Aji oi!" ucap pemuda itu sewot.


"Bang Jiji ngapain di sini?" Fir tak menghiraukan omelan pemuda itu, saat mereka berhenti di depan ruang IGD.


"Fir kenal Kakak ini?" Dava akhirnya bertanya.


"Iya, Om. Bang Jiji namanya sodala ateu Nesnes."


"Aji, Fir. Ya Allah ampuni dosaku, mau ngamuk dia masih bocah." Pemuda bernama Aji itu mengusap wajahnya.


"Mau, Om."


"Ya udah ayo, Bang Aji juga mau ketemu ...."


"Ateu Nesnes, Om," sela Fir.


Ketiganya pun masuk ke ruang IGD, Dava melihat bahwa gadis itu sudah siuman saat ini walau masih berbaring, begitu juga dengan temannya. Mereka memang bersebelahan jadi tidak terhalang oleh pasien lain.


"Ya Allah Teteh!" pekik ibu berhijab ungu tadi.


"Nesa nggak apa-apa, Bu." Wanita dengan perban di pelipis kirinya berucap lirih.


"Mimi kenapa? Kok ada pelban di kepalanya?" Fir bertanya saat melihat keadaan sang mama.


"Mimi nggak apa-apa, Fir." Wanita itu akan beranjak, tetapi ditahan oleh Dava.

__ADS_1


"Jangan banyak gerak dulu," ucapnya lembut.


Sementara itu, Hendra sedang mengurus kamar inap yang akan dihuni oleh Fimi dan Nesa beberapa hari ke depan. Hendra memutuskan memilih kamar untuk dua orang, agar Fimi dan Nesa bisa bersama. Jika Hendra atau istrinya telat datang setidaknya sang putri ada teman.


Marina masih terlihat menangis di tepi ranjang putrinya. Hal itu membuat Dava berjalan menghampirinya. "Tante, Fimi sudah siuman, Tante nggak usah khawatir, Dava akan jagain Fimi," ucap pria itu.


"Tante hanya takut seperti ...."


"Ma, Fimi baik-baik saja, hanya luka sedikit." Fimi langsung menyela ucapan sang mama. Wanita itu takut kalau sang mama mengungkapkan jati diri Fir sebelum waktunya. Padahal tanpa Fimi ketahui Dava sudah mendengar semuanya, tetapi pria itu belum memastikan semuanya.


Tak berselang lama, Hendra datang dan dua orang perawat laki-laki berada di belakangnya. Mereka akan memindahkan Fimi dan Nesa ke kamar inap.


Hendra memeluk bahu istrinya sambil berjalan mengikuti perawat laki-laki yang mendorong blankar Fimi dan Nesa. Di belakangnya ada Dava, Aji sambil menggendong Fir, juga Bu Lisa ibu dari Nesa.


Bu Lisa memang terlihat lebih tenang dibandingkan dengan Marina yang benar-benar terpuruk. Tak berselang lama mereka sudah masuk ke ruangan Mawar 2.


Nesa dan Fimi akan dipindahkan ke ranjang yang sudaah tersedia di sana.


"Biar aku yang pindahkan, Om." Tiba-tiba pria berkemeja biru itu menawarkan diri.


Fimi hendak menolak, tetapi pria itu sudah menyelipkan kedua tangannya di antara bahu dan lipatan kakinya. Dava sudah menggendongnya.


Sementara itu Nesa dibantu oleh perawat laki-laki dan adiknya.


Kedua keluarga itu berkumpul di ruangan yang luas itu.


"Om Dava mau nginep di sini, kan?"


"Fir ...."


Bersambung


Happy Reading


Maaf ya semalam ga up aku lagi nggak enak badan. Jadi aku up pagi ini. Untuk reader baru makasih udah mau mampir dan kasih komen juga. Seperti biasa aku hanya minta atu ya, gerakin jempol kalian buat tap love, vote, like, sama komen ya. Satu doang kok, tapi isinya banyak wkwkwk. Timamakasih.

__ADS_1


__ADS_2