Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Kesal


__ADS_3

"Maaf ini dengan Pak Dava?" ucap seorang wanita di telepon.


"Iya?" Dava menjawab sambil mengerutkan keningnya.


"Sa-saya Tari, Pak. Susternya Fir."


"Oh, iya ada apa?" Dava menjawab datar.


"Ini, Pak. Fir katanya mau dijemput Pipinya, kangen katanya."


"Oh, iya."


Dava yang baru saja selesai meeting pun langsung pamit pada Haris untuk menjemput putranya. Ia juga berpesan agar tetap di kantor sampai ia kembali, karena akan bertemu dengan klien baru.


Saat di perjalanan menuju ke sekolah putranya Dava menghubungi sang istri dan akan menjemput Fir ke sekolahnya.


Namun, reaksi sang istri tak terduga dan menyuruh pria itu untuk menunggunya. Dava pun hanya mengiyakan dan ia benar-benar menunggu istrinya di pinggir jalan sebelum masuk ke sekolah Fir.


Sementara itu di tempat lain, Fimi sedang diantar ojek online untuk segera sampai di sekolah sang putra. "Bisa cepetan nggak, Bang? Anak saya nungguin soalnya."


"Iya, Neng diusahakan," teriak kang gojek karena suaranya tersalip oleh bising kendaraan lain.


Fimi pun memilin jari-jemarinya karena ingin segera sampai di tujuan. Tak berselang lama, Fimi melihat sang suami sedang bersandar di pintu mobilnya sambil memainkan ponselnya.


"Kiri, Pak." Fimi menepuk punggung pria berjaket hijau itu.


"Lah, bukannya masih di depan, Neng?"


"Itu suami saya udah nungguin, Pak." Kemudian pria itu menepikan motornya dan Fimi langsung turun dan berlari kecil ke arah suaminya. Sementara tukang ojek itu kembali melanjutkan perjalannya.


"Bang, nunggu lama ya?" tanya Fimi sambil tergesa.


"Sayang? Kenapa lari-lari?" Pria itu menyentuh pipi sang istri.


"Aku juga baru datang, kenapa sih?"


"Ya udah ayo ke sekolah Fir." Wanita itu menarik tangan suaminya.


Dava menuruti sang istri dan hendak membukakan pintu untuk istrinya, tetapi wanita itu sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Dava hanya menghela nafas kemudian langsung duduk di balik kemudi.


Hanya tinggal beberapa meter lagi sebenarnya untuk sampai ke sekolah Fir, tetapi Fimi kekeh harus menunggunya. Akhirnya mereka sampai di parkiran sekolah Fir, suasana sekolah itu masih terlihat ramai, karena anak-anak baru saja keluar.

__ADS_1


Fimi menggandeng lengan suaminya dengan manja, sebenarnya Fimi tidak terbiasa bersikap seperti itu, tetapi berbeda dengan hari ini. Dava senang-senang saja. Namun, saat berjalan ke dalam, tiba-tiba ponsel Dava berdering.


"Iya, saya sudah di sekolah." Dava menjawab dengan biasa saja.


"Siapa, Bang?" Fimi menoleh ke arah suaminya.


"Tari, Sayang." Dava menatap lembut ke arah istrinya.


"Dia tahu nomor kamu dari mana sih?" Fimi menggerutu.


"Lho, bukan kamu yang ngasih tahu?"


"Bukaan! Tadi dia sempet minta nomor ponsel kamu, tapi nggak aku kasih. Eh tiba-tiba kamu bilang mau jemput Fir." Fimi berucap dengan nada sewot.


Tak berselang lama, terdengar suara panggilan yang sangat mereka kenal. "Mimi, Pipi!" teriak anak kecil berseragam Paud itu sambil merentangkan kedua tangannya.


"Hai, Sayang. Bagaimana sekolah hari ini?" Fimi menyambut pelukan putra kecilnya, dan Tari mengikutinya dari belakang. Wanita itu tersenyum ramah pada Fimi dan Dava.


"Kamu dapat nomor suami saya dari siapa?" Fimi langsung bertanya pada Tari, saat wanita itu sudah dekat. Dava bahkan sangat terkejut dengan pertanyaan dari istrinya.


"E-, i-itu dari Bu Alifa, Bu." Tari menjawab dengan tergagap.


"Kan udah saya bilang, suami saya itu sibuk. Maksa banget sih?" omel Fimi.


"Iya, Mimi. Fil mau ketemu Pipi," ucap anak kecil itu yang kini sudah digendong oleh Dava.


"Sudah-sudah, ayo lebih baik kita pulang sekarang," ajak Dava dan langsung berjalan menuju parkiran. Fimi mengikuti suaminya bahkan mengejarnya agar dapat menggandeng lengannya.


Selama perjalanan pulang, Fimi terus saja bersikap mesra pada sang suami, hingga membuat wanita yang sedang menjaga putra kecilnya itu mengepalkan tangannya.


"Aku langsung balik ke kantor ya, Sayang." Dava mencium kening istrinya, sebelum Fimi benar-benar keluar dari mobilnya. "Iya, Bang. Hati-hati di jalan!"


Dava mengangguk kemudian mulai melajukan mobilnya kembali ke jalan raya. Fimi akan mengambil alih putranya dari gendongan suster barunya. "Biar Fir saya yang gendong."


"Nggak apa-apa, Bu, biar saya saja." Wanita itu merasa serba salah.


"Saya ibunya." Fimi langsung menggendong Fir dari pangkuan Tari, lalu membawa putranya ke lantai atas.


Rasa kesalnya belum juga hilang, padahal Fimi sudah berendam di bathtub untuk menenangkan pikirannya. Namun, rasa cemburunya malah makin menjadi, apalagi nomor suaminya kini sudah berada di tangan wanita itu.


"Ish, gue kok kesel gini sih?" Fimi membanting tubuhnya di atas sofa. Bahkan wanita itu tak menyadari kalau mami mertuanya sudah beberapa kali memanggil dirinya. Sampai akhirnya pintu kamar terbuka dan membuat Fimi terperanjat.

__ADS_1


"Mami?" ucap Fimi sambil berdiri.


"Kamu kok nggak jawab sih, dari tadi Mami panggil?" ucap wanita paruh baya itu.


"Eh, iyakah? Maaf, Mi. Mungkin tadi Fimi lagi di kamar mandi," sesal wanita dengan kaus putih itu.


"Nggak apa-apa, Sayang. Ini lho ada yang kau Mami obrolin, Fir masih tidur ya?" Wanita paruh baya yang selalu terlihat cantik itu melirik ke arah ranjang dan melihat cucunya masih terlelap.


"Iya, Mi. Biasanya Fir bangun sekitar jam setengah satu atau jam satu siang."


"Ya udah kita ngobrol di bawah aja." Fimi pun mengangguk dan mengikuti mami mertuanya. Mereka berbincang di ruang keluarga. Ternyata ada teman Alifa yang akan mengadakan pesta pernikahan, dan ia meminta bantuannya untuk membuat gaun pengantin. Fimi tentu saja senang mendapat proyek baru.


Mereka asyik berbincang sampai Fir akhirnya turun sendiri dan menghampiri keduanya.


"Pipi kok nggak ada, Mi?"


"Pipi kan kerja, Sayang. Nanti kalau udah nggak sibuk pasti Pipi main sama Fir."


"Iya, Mimi."


"Fir mau makan?" tanya Alifa lembut.


"Nanti saja, Oma."


Sementara itu, di ruangan lain, seorang wanita sedang melihat sebuah foto pria. "Kamu tenang saja, mas. Aku akan balas mereka semua, aku janji. Kamu tenang saja di sana." Wanita itu mengepalkan tangannya dan menusuk-nusuk sebuah foto pria lain dengan jas warna biru.


"Gara-gara mereka, aku kehilangan kamu, mas. Aku sudah bisa masuk ke keluarga ini untuk menghancurkan mereka, seperti dia menghancurkan hidup kita. Calon bayi kita yang selama ini kita damba juga harus pergi karena mereka."


Tok!tok!


"Sus, ditunggu Nyonya di depan!"


"Iya, sebentar." Tari langsung menyembunyikan barang-barangnya ke dalam koper.


"Apa Fir sudah bangun, Mbak?"


"Sudah."


"Oke, terima kasih. Saya ke depan dulu."


Wanita itu pun berjalan ke depan untuk menemui nyonyanya. Saat akan masuk ke ruang keluarga, tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan yang lain.

__ADS_1


"Aduh, maafin saya, Pak."


Bersambung...


__ADS_2