
"Kita udah jauh-jauh ke sini lho, Sayang," keluh Dava saat mereka duduk bersama di atas ranjang di malam pertama di pulau Bali.
"Iya, aku juga nggak tahu, ini bukan kemauan aku." Fimi rasanya ingin menangis saat dirinya terus disudutkan atas kesalahan yang bukan kemauannya.
"Kenapa nggak diundur pas nanti pul;ang aja sih?" Dava kembali menggerutu. Namun, kali ini Fimi menjadi murka.
"Ya udah besok kita pulang, cape gue dimarahin mulu." Fimi langsung turun dari tempat tidur dan mengambil koper untuk membereskan barang-barangnya.
Dava mengejar sang istri dan mendekapnya dari belakang. "Maafin aku, Yang."
"Lepasin!" Fimi berontak agar lepas dari dekapan suaminya. Pipinya sudah basah karena air mata. Ditambah lagi perutnya sakit juga.
"Maafin aku, kita akan tetap di sini, Sayang. Kita akan menikmati waktu kita di sini bersama. Apa pun yang kamu mau, aku akan lakukan."
"Sakit!" pekik Fimi sambil memegang perutnya.
Dava terkejut dan langsung menggendong istrinya. "Mana yang sakit?" Raut khawatir terlihat jelas dari wajah pria dengan piyama hitam itu.
Namun, Fimi tak menjawab ia hanya meringkuk dan memegangi perutnya.
"Sakit!"
Dava mengusap punggung istrinya dengan lembut, karena bingung harus berbuat apa.
"Pinggangnya aja, Bang." Fimi menunjuk bagian yang ingin dipijat oleh suaminya. Dava pun menurut, pria itu tak menyangka ternyata wanita yang sedang datang bulan akan mersakan sakit seperti ini.
"Maafin aku," bisiknya, tetapi hanya dengkuran halus yang didengar oleh Dava, istrinya sudah tertidur.
Dava memeluk tubuh sang istri sambil sesekali menciumi wajah istrinya. Sampai akhirnya pria itu pun ikut terlelap.
Keesokan harinya Fimi terbangun lebih dulu, wanita itu langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari pertama PMS adalah hari yang membuat setiap wanita benar-benar tidak nyaman, baik fisik maupun psikis. Karena saat-saat seperti ini emosi wanita kadang turun naik.
Apalagi Fimi termasuk kategori wanita yang jika PMS, selalu merasakan sakit perut dan pinggang yang luar biasa. Saat wanita itu sedang berias, setelah menggunakan baju santai, Dava baru saja membuka netranya.
"Bangun, Bang!" Fimi menatap suaminya dari pantulan kaca.
"Kamu udah mandi?" tanya Dava dengan suara serak khas bangun tidur.
"Udahlah, aku mau jalan-jalan, mau kuliner pokoknya. Ayo bangun!" Fimi sedikit menggerutu saat suaminya malah kembali memejamkan matanya.
"Ya udah, aku tinggal." Fimi beranjak setelah menyelesaikan make up-nya.
"Iya, aku bangun, lagian masih subuh mau jalan ke mana sih, Yang?" Dava bertanya sambil turun dari ranjang. Kemudian menghampiri sang istri, lalu memegang bahu istrinya dari belakang.
"Perut kamu udah sembuh?" tanyanya lembut.
"Masih sakit sih, tapi udah biasa kaya gini kalau lagi dapat. Makanya jangan bikin kesel," gerutu Fimi, sambil melihat siaminya dari cermin.
"Iya, Sayang. Maaf, aku baru tahu kalau orang datang bulan itu ternyata sakit kaya gitu, pantesan moodnya sering berubah," papar Dava.
__ADS_1
"Udah mandi sana!"
Dava pun mengangguk, sebelum ke kammar mandi pria itu mencium pucuk kepala istrinya dengan lembut. Sementara Dava mandi, Fimi duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Wanita itu mencari kuliner apa yang terkenal dan khas di pulau Dewata ini. Namun, beberapa saat kemudian, perutnya kembali sakit, akhirnya ia memutuskan berbaring di ranjang sambil memeluk guling dan sedikit menekannya ke perut yang sakit.
"Lho, kamu kenapa lagi, Sayang?" Dava berlari ke arah sang istri dengan bertelanjang dada.
"Sakit lagi," jawab Fimi pelan.
"Sebentar aku pakai baju dulu." Dava berlari ke arah lemari untuk mengambil baju dan memakainya dengan segera. Setelah itu, pria itu melaksanakan dua rakaat terlebih dahulu. Dava menghampiri sang istri yang memunggunginya, seperti semalam pria itu mengusap pinggang sang istri.
Cukup lama, sampai akhirnya matahari sudah masuk ke celah jendela yang tirainya belum terbuka. "Masih sakit ya?"
"Hm."
Dava kembali mengusap punggung sang istri, sampai jam menunjukkan pukul 08.00.
"Yang, kamu mau sarapan di luar hotel atau di hotel saja?"
"Aku di sini aja, Bang. Perut aku masih nggak enak, aku mau di sini dulu aja," jawab Fimi tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Baiklah, aku bawain ya, kamu mau sarapan apa?"
"Terserah kamu aja, Bang."
"Baiklah, kalau gitu aku nyari sarapan dulu, kamu jangan ke mana-mana, ya!" ucap Dava.
"Iya, emangnya aku mau ke mana?"
Benar saja saat Dava membeli makanan di luar hotel, sang istri menghubunginya dan memesan sesuatu yang pedas. "Masih pagi, Yang. Masa sarapan sama cabe?" Namun, Fimi kekeh dengan keinginannya, akhirnya Dava pun mencari makanan yang diinginkan oleh sang istri.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Dava pun segera kembali ke hotel. Pria itu membawa dua kantong makanan, dan satu kantong minuman. Pria itu merasa, bahwa hari ini mereka akan tinggal di hotel seharian.
"Sayang, aku datang." Dava memanggil sang istri. Namun, saat masuk wanita itu sudah tidak ada di tempatnya. Dava panik dan terus memanggil sang istri.
"Sayang! Kamu di mana?" Dava terus masuk dan mencari keberadaan sang istri, tetapi saat ke kamar mandi, pintu itu terkunci. Dava yakin kalau istrinya ada di sana. "Sayang?"
"Iya, sebentar, Bang!" teriak Fimi dari dalam.
Mendengar suara sang istri, membuat pria berkaus putih itu kembali tenang. Akhirnya, Dava pun kembali ke meja di ruangan itu untuk menyiapkan sarapan mereka.
Tak berselang lama, Fimi keluar dengan pakaian yang berbeda. "Kamu mandi lagi?" tanya Dava.
"Nggak, aku cuma ganti baju. Mana pesanan aku?" Fimi melirik ke arah sofa dengan meja yang sudah penuh dengan makanan.
"Kamu nggak salah, beli makanan sebanyak itu?"
"Nggak, aku merasa hari ini kita akan seharian di sini, kondisi kamu aja nggak fit gitu," ucap Dava.
"Iya juga sih, ya udah ayo kita makan!" ajak Fimi pada suaminya. Mereka pun mulai memakan sarapan mereka.
__ADS_1
"Besok kalau perutnya udah nggak sakit, kita jalan ya?" ucap Dava.
"Ayo!"
"Kamu mau beli apa? Baju,tas, sepatu atau apa?" tanya Dava.
"Aku cuma mau kuliner, aku suka makan, suka ngemil," jawab Fimi.
"Di sini banyak lho tas branded, baju sama sepatu juga, emang kamu nggak mau?" Dava terkejut dengan jawab sang istri.
"Baju aku bisa bikin sendiri, tas, di rumah juga masih banyak, sepatu juga masih ada, belanja itu kan yang penting fungsinya bukan gayanya." Fimi kemudian melanjutkan sarapannya.
Dava benar-benar terkejut, karena ternyata sang istri tak seperti wanita sebelum-sebelumnya yang selalu meminta dibelikan baju bermerk, tas dan sepatu belum lagi perhiasan.
"I Love You, Sayang."
"You too."
Mereka pun kembali menikmati makanan mereka dengan lahap, padahal biasanya jika sedang PMS, Fimi akan malas untuk makan, tetapi tidak dengan hari ini.
"Bang, emangnya dulu mantan kamu bajunya **** ya?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut Fimi.
"Jangan mulai, Sayang."
"Nggak, aku cuma nanya doang kok. Tinggal jawab iya sama nggak doang," bantah Fimi.
Dava ragu harus menjawab bagaimana, tetapi akhirnya ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bohong, kata Ale dulu pacar kamu tuh bajunya kurang bahan," sela Fimi dengan wajah yang mulai sewot.
"Memangnya Ale cerita apa?"
"Nggak penting, tinggal jawab aja sih," kekeh Fimi.
"Iya, dulu iya."
"Seneng banget dong bisa lihat cewek ****," sindir Fimi.
"Udah, Yang. Itu masa lalu."
"Aku kesel sama kamu." Fimi beranjak dan meninggalkan Dava di sofa.
"Yang, Sayang!"
"Jangan deket-deket!"
Bersambung
Happy Reading
__ADS_1
Tuh kan makanya jangan mancing-mancing ya. Definisi istri selalu benar nih wkwkw.
Jan lupa gerakin jempolnya ya bestie.