
Dava tak bisa tidur semalaman, tetapi untuk mendekati sang istri pun ia khawatir ancaman sang istri benar-benar dilakukan. Saat pagi tiba, Dava tetap bersandar pada kepala ranjang, ya pria itu tidak tidur di sofa seperti apa yang diinginkan sang istri.
Saat Fimi menggeliat, wanita itu membuka matanya sedikit. "Kamu udah bangun, Bang?" ucapnya dengan suara khas bangun tidur.
Kalimat itu ternyata mampu membuat seorang Dava menerbitkan senyumnya. Tanpa menunggu lama, pria itu langsung masuk ke dalam selimut dan mendekap sang istri dengan erat. Tidak ada penolakan dari wanita itu, dan Dava pun mulai melancarkan aksinya. Fimi sempat tersentak saat tubuhnya sudah didekap erat suaminya, tetapi wanita itu merasa bahwa suaminya biasa seperti ini. Sepertinya Fimi lupa bahwa ia sedang marah dengan suaminya.
"Sekali ya, Yang." Dava berbisik dan mulai melancarkan aksinya di pagi hari yang dingin menjadi panas.
Mereka bergumul dalam selimut hingga matahari sudah mulai naik. "Awas, aku mau mandi, Bang." Fimi melepaskan tubuhnya dari sang suami.
Pria itu pun melepaskan dekapannya dan membiarkan sang istri pergi ke kamar mandi. Namun, baru saja wanita itu menutup pintu kamar mandi terdengar sebuah teriakan dari dalam sana. "Abang! Aku masih marah sama kamu ya!"
Dava hanya tergelak, ternyata sang istri baru menyadari bahwa dirinya masih marah padahal tadi ia begitu mesra. "Ya udah kita mandi bareng aja, ayo!" goda Dava yang tentu saja mendapatkan penolakan mentah-mentah dari sang istri.
Tak berselang lama, wanita cantik itu keluar dengan jubah mandinya sementara kepalanya dililit handuk karena rambutnya basah setelah keramas.
"Seger banget istri aku," ucap Dava sambil menghampiri sang istri yang menuju ke meja rias.
"Nggak usah deket-deket!" tolak Fimi dengan menatap tajam ke arah sang suami dari pantulan kaca.
Bukan Dava kalau mengikuti kemauan sang istri, pria itu malah mendekat kemudian membuka handuk di kepala sang istri dan mulai menggosoknya. "Aku cuma mau bantuin ngeringin rambut kamu, Sayang."
"Nggak usah." Fimi tak habis pikir kenapa ia bisa lupa kalau sedang marah pada suaminya, dan dengan mudahnya menerima setiap sentuhan suaminya.
"Sana mandi!" usir Fimi.
"Sekali lagi lah, boleh ya?"
"Nggak! Aku nggak mau mandi lagi ya, Bang. Inget aku masih ngambek sama kamu."
"Iya, iya. Ya udah sun aja boleh dong ya?" Dava mencondongkan wajahnya ke arah wajah sang istri, tetapi dengan cepat wanita itu menahannya dengan telapak tangannya. "Nggak ada!"
Akhirnya Dava pun berbalik menuju kamar mandi, bahkan sebelum benar-benar masuk pria itu kembali menawarkan untuk kembali berolah raga pagi. Namun, Fimi tetap menolaknya, bahkan melemparkan satu bantal ke arah suaminya.
Setelah Dava benar-benar sudah masuk ke kamar mandi dan terdengar gemericik air, Fimi segera mengambil pakaiannya, kemudian mengenakannya. Lalu mulai memoles wajahnya dengan make up naturalnya.
__ADS_1
"Fimi-Fimi, bisa-bisanya lo lupa kalau lo sedang marahan." Wanita itu mengetuk kepalanya sendiri sambil bercermin melihat pantulan dirinya di cermin. Bersamaan itu, suara ketukan di pintu membuyarkan semuanya.
"Mimi, Mimi! Udah bangun belum? Fil udah siap sekolah."
"Iya, Sayang! Mimi datang!" Fimi berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya. Wanita itu melihat sang putra sudah berseragam sekolahnya. Fimi merasa malu karena hari ini terlambat. "Fir pakai baju sendiri?"
"Nggak, Mi. Oma Ifa yang pakein baju Fil." Anak kecil itu menggelengkan kepalanya. Fimi makin merasa malu karena ternyata mami mertuanya yang membantu sang putra memakaikan seragamnya.
"Mi, di kamal Mimi banyak nyamuk ya?" Fir bertanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Nggak, Sayang, kenapa Fil digigit nyamuk?" Namun anak kecil itu menggelengkan kepalanya. "Lalu?"
"Itu lehel Mimi kok melah-melah? Pasti digigit nyamuk, kan?" Fimi terkejut dan memegangi lehernya.
"Iya, Sayang. Di sini ada nyamuk, gede lagi." Tiba-tiba Dava sudah berdiri di belakang Fimi dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya, bahkan rambutnya saja masih basah.
"Iyakah, Pipi?" Fir terlihat terkejut dengan pernyataan pria dewasa itu.
"Pipi cuma bercanda, Sayang." Fimi mengalihkan perhatian sang putra dari suaminya.
"Udah cepet pakai baju, Bang. Nanti kamu telat." Fimi berbalik ke arah suaminya, kemudian melewatinya untuk mengambil syal. Sementara itu, Fir masih berdiri di tempatnya.
"Ayo, Sayang!" Fimi menuntun tangan kecil putranya untuk pergi ke lantai bawah.
"Nggak nungguin, Pipi dulu, Mi?" Fir mendongak melihat miminya.
"Nggak usah, nanti Pipi nyusul, ayo!" ajak Fimi.
Saat mereka turun, Alifa dan Ganendra juga Kaivan sudah duduk di meja makan. Fimi sebenarnya sangat malu, tetapi karena ulah suaminya dan dia juga lupa sedang marah, akhirnya mereka terlambat.
"Maaf, Mi, Pi. Fimi telat." Wanita itu berkata dengan malu-malu.
"Nggak apa-apa, kalian pasti cape, kan?" jawab Alifa lembut.
"Pengantin baru mah dimaklumi, Loly." Kaivan ikut menimpali sambil terkekeh.
__ADS_1
"Apaan sih?" Fimi mendelik ke arah Kaivan.
"Oma, emangnya di sini nggak ad obat nyamuk ya?" tanya Fir tidak terduga. Fimi sudah merasa salah tingkah saat mendengar pertanyaan itu.
"Lho, kenapa memangnya?" tanya Ganendra.
"Fir, lebih baik Fir sarapan dulu, nanti telat lho." Fimi mengalihkan sang putra agar tak menjawab pertanyaan papi mertuanya.
"Iya, Mimi." Fir akhirnya mengangguk dan membiarkan Fimi mengoleskan tiga selai kesukaan sang putra pada roti tawarnya.
"Kasian Mimi, Opa. Lehelnya melah-melah." Fir tiba-tiba menjawab pertanyaan sang opa yang membuat Fimi, hampir saja menjatuhkan rotinya.
"Eh, Fir ...." Fimi salah tingkah dan tentu saja sangat malu.
Ganendra dan Alifa hanya terkekeh, berbeda dengan Kaivan yang terbahak. Bersamaan itu, Dava datang dengan setelan kerjanya.
"Kalian ngetawain apa pagi-pagi gini?" Dava kemudian duduk di samping sang istri yang saat ini sibuk memberikan roti untuk Fir.
"Ada nyamuk." Kaivan menjawab dengan menatap miring ke arah sang abang.
"Oh." Kemudian Dava meminta roti pada sang istri dan meminta selai yang sama dengan Fir. Fimi pun mengangguk dan membuatkan roti selai kombinasi untuk suaminya. Mereka sarapan bersama. Namun, kali ini setelah sarapan, Dava akan mengantarkan anak istrinya. Pertama-tama Dava akan mengantar Fir menuju sekolahnya, kemudian mengantar sang istri.
Fimi kini hanya berdua bersama sang suami setelah mengantarkan Firdaus. "Kamu masih marah sama aku, Yang?" tanya Dava saat mereka menuju butik sang istri.
"Kalau iya mau apa?"
"Aku mau ngajak kamu honeymoon," jawab Dava.
"Hah?"
"Iya, kita kan belum melakukan itu, Sayang."
"Kerjaan aku lagi banyak, Bang."
"Kalau bulan depan bagaimana?"
__ADS_1
"Gimana nanti sajalah."
"Aku pengen punya bayi."