
Fir mengunyah coklatnya dengan lahap, sampai sebuah pertanyaan dari pria dewasa di sampingnya membuatnya berhenti mengunyah.
"Kalau Om jadi pipinya, Fir, boleh?" tanya Dava.
"Eh? Mana boleh bertanya begitu sama anak kecil," sela Fimi kaget.
Fir menatap ke arah Dava yang duduk tepat di sampingnya. "Emang Om mau?" Anggukkan dari pria dewasa itu membuat Fir kembali mengunyah makanannya.
"Ya, udah boleh ya, Mimi." Fir menjawab dengan polos tanpa tahu arti yang sebenarnya dari pertanyaan itu.
"Nggak, Fir. Mana boleh kaya gitu?" bantah Fimi lembut.
"Kenapa nggak boleh, Mi? Fil kan bisa diantelin Om Dava tiap hari," tukas anak kecil itu.
"Kalau mau dianter tiap hari, nggak perlu jadi pipi, Fir. Mimi juga bisa antar Fir tiap hari." Fimi mencoba menjelaskan dengan hati-hati. Sementara Dava masih bergeming dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Tapi ... Fil mau diantel pipi, Mi," rajuk anak kecil berkaos biru itu.
"Kalau Mimi belum mau, nggak apa-apa, tapi Fir mau, kan?" Tiba-tiba Dava menyela percakapan ibu dan anak itu.
"Mau, Om." Fir menganggukkan kepalanya. Fimi memutar bola matanya jengah. Apa-apaan dikira punya pipi tuh kaya punya mainan apa?
Tak berselang lama, Marina menghampiri sang cucu dan melihat cucu kecilnya itu belepotan dengan coklat.
"Ya ampun, Fir sini Oma bersihin!" Marina mendekat dan menggendong sang cucu.
Kini di ruangan itu tinggal Fimi dan Dava. Keduanya masih terdiam, tetapi saat Marina sudah hilang di balik pintu, wanita itu mulai mengomel. "Aku nggak suka ya, cara kamu kaya tadi. Fir masih kecil dia belum ngerti apa-apa." Wanita cantik itu melipat kedua tangannya.
Dava terkekeh, entah mengapa omelan Fimi barusan terdengar menggemaskan di pendengaran Dava. Wanita itu masih menekuk wajahnya.
"Kamu itu kalau marah-marah kaya gini, makin terlihat cantiknya." Dava mulai melancarkan godaannya.
"Nggak usah modus, udah sana pulang! Udah mau malam juga," sindir Fimi.
"Mau nginep aja di sinilah, kaya waktu di rumah sakit." Dava menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Nggak usah macam-macam deh," gerutu Fimi. Berada satu ruangan dengan Dava membuat darahnya naik terus, hingga Fimi memegang pelipisnya.
Bersamaan itu, Marina kembali tanpa Fir. Wanita paruh baya itu menawarkan untuk makan malam bersama.
"Dia mau pulang, Ma." Fimi langsung menolak tawaran itu.
"Kamu itu, Nak Dava itu di atas kamu lo usianya, panggil Abang atau Mas, Kakak juga bisa. Lagian Nak Dava kelihatan cape banget."
"Ya makanya suruh pulang cepat, kalau malam bahaya, Ma." Fimi tak mau kalah dan entah mengapa Marina merasa kalau mereka berdua akan cocok.
__ADS_1
"Ini, nih kalau kamu kelamaan sendiri, jadi nggak peka sama orang," gerutu Marina.
"Mama ...."
"Jadi, Fimi beneran belum pernah nikah, Tante?" Dava ingin memastikan semuanya.
"Belum, dia itu terlalu menutup diri untuk hal itu. Padahal Tante udah mau menimang cucu dari dia," sesal Marina.
"Tuh, katanya udah mau menimang cucu lagi, Fi." Dava melirik ke arah wanita yang masih melipat kedua tangannya.
"Masih ada Fir, Ma. Jangan jadiin alasan buat aku nikah cepat," sela Fimi.
"Aku siap kok, Fi. Usia aku juga udah cukup untuk berumah tangga, kalau hanya pacaran, sepertinya sudah bukan masanya." Dava berkata serius.
"Ya udah cari dong cewek yang siap nikah, bukan aku," gerutu Fimi.
Marina menggelengkan kepalanya. "Seenggaknya kamu coba dulu, Fi."
Malam pun tiba, Dava benar-benar makan malam di rumah Fimi. Pria itu menikmati makan malamnya. Sesekali pria itu menggodanya. Namun, Fimi tak meresponnya sama sekali. Sampai akhirnya pukul 21.00, pria itu pun pamit undur diri.
****
Satu minggu berlalu, kini Fimi sudah kembali bekerja di butik, begitu pun dengan Nesa. Wanita itu, terlihat bawel seperti biasa, walau di pelipisnya masih menempel plester sama seperti Fimi.
"Udah nggak usah dibahas, Fi. Musibah siapa yang tahu." Nesa duduk di samping Fimi.
Tak berselang lama, seseorang mengetuk pintu ruangan itu memberitahukan bahwa pesanan makan siang mereka sudah datang.
"Biar gue aja." Fimi menahan Nesa agar tetap duduk, kemudian wanita utu beranjak dan berjalan menuju pintu.
Saat benda itu terbuka, terlihat seorang pria dengan topi hitam membawa pesanan mereka. "Makasih, Mas." Fimi mengambil pesanannya, tetapi saat akan dibawa, pria itu menahannya.
"Kenapa, Mas? Udah dibayar, kan makanannya?" Fimi mengerutkan keningnya, saat pria itu hanya bergeming.
Fimi mulai kehilangan kesabaran, akhirnya wanita itu menepiskan tangannya, lalu menggerutu, "Kalau nggak niat jualan jangan jualan, ribet banget si."
"Fi ...." Nesa kaget mendengar amarah sahabatnya itu. Kemudian wanita berambut panjang itu pun mendekat ke arah Fimi.
"Lho, Pak Dava, kan?"
"Apa?" Fimi terkejut mendengar ucapan asistennya itu.
Saat Fimi kembali melihat ke arah pria yang saat ini sedang membuka topinya itu, ia pun kaget. Bagaimana bisa, dirinya tak mengenali pria menyebalkan ini.
"Pantesan nyebelin." Fimi pun berbalik meninggalkan Nesa dan Dava.
__ADS_1
"Itu atasan kamu, masa nggak kenal sama saya?" bisik Dava.
"Saya juga heran, Pak. Dia itu kelewat cuek, jadi kadang kalau saya nyamar aja dia nggak kenal." Nesa ikut berbisik membicarakan Fimi.
"Kalau mau ghibah jangan di depan orangnya, gue masih punya kuping ya tolong!" sindir Fimi yang kini sudah kembali duduk di sofa.
Nesa dan Dava menahan senyumnya mendengar gerutuan dari Fimi. Kemudian keduanya pun masuk dan ikut duduk di sofa yang tersedia di sana.
"Nih, makan dulu biar punya tenaga buat ngomel, Fi. Marah-marah juga butuh tenaga tahu." Nesa memberikan makan siang Fimi dan menyiapkannya di meja.
Ternyata Dava juga membuka makan yang sama dengan Fimi. Pria itu, kini beralih duduk di samping Fimi, saat Nesa beranjak untuk mengambil minum.
"Makan dulu, nanti lanjutin ngomelnya, aku makin hari terbiasa dengan omelan kamu." Dava mengangkat satu sendok nasi dan lauknya, untuk menyuapi Fimi.
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Ngapain ke sini sih?" Fimi mulai menyuapkan makanannya.
"Pengen diomelin." Dava menjawab asal, hingga sebuah cubitan pun ia dapatkan.
"Ya ampun romantisnya." Tiba-tiba Neasa berucap sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Romantis dari mananya sih, Nes. Jangan kompor deh!" Fimi
mendelik kesal ke arah sahabatnya itu.
Nesa hanya terkekeh, dan kini mulai menikmati makan siangnya juga. Dava selalu berusaha menarik perhatian Fimi, dengan cara apa pun. Namun, sepertinya Fimi tak peduli.
Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya, dengan tegas Fimi berkata, "Udah sana balik kantor, ngapain masih di sini?"
"Astagfirullah, Fi. Lo jahat banget sih, kuta baru aja selesai makan, makanan aja belum turun semua." Nesa sedikit mengomel saat mendengar pengusiran pada Dava.
"Bos, kamu tuh butuh kasih sayang, Nes. Makannya jutek gitu," sela Dava yang mendapat decakan dari Fimi.
"Yang sayang sebenarnya banyak, Pak. Dianya aja yang nggak peka. Ya ampun kenapa gue jadi kesel." Nesa mengusap dadanya.
"Kalau gitu bantuin saya buat nyadarin dia," tukas Dava.
"Caranya?"
Bersambung
Happy Reading
Judes banget Fiminya, kau kesel tahu. Masa itu udah dibaik-baikin masih aja judes.
Gerakin jempolnya ya bestie. Makasih.
__ADS_1