Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Kecelakaan


__ADS_3

Brak!


Sebuah mobil hitam menabrak pembatas jalan. Malam gelap itu kini riuh dengan suara sirine mobil polisi dan ambulans. Ada beberapa orang berseragam putih-putih yang mengangkat korban kecelakaan itu. Korbannya dua orang laki-laki.


Suasana riuh itu membuat jalanan jadi macet. Diantara kemacetan itu ada sebuah mobil hitam yang juga terjebak di sana.


"Ada apa, Haris?" tanya pria yang baru saja akan terlelap itu.


"Sepertinya terjadi kecelakaan di depan, Pak. Putar balik juga susah," jawab Haris.


Dava menghela nafas. "Ya sudah tunggu saja, mau gimana lagi?"


Haris hanya menganggukkan kepalanya, dan menikmati kemacetan, sebenarnya dipaksa dinikmati karena sudah tidak ada jalan lain. Putar balik pun kendaraan sudah penuh.


Sementara itu, di kediaman Pramudya Kavindra terlihat mondar-mandir bersama Ganendra. Sementara Alifa dan Riri juga anak-anak sudah terlelap sejak tadi.


"Bagaimana apa sudah ada kabar dari Dava, Vin?" Ganendra merasa khawatir pada putra keduanya, setelah mendengar kabar dari Kavin bahwa calonnya menghilang. Pria paruh baya itu tidak ingin kejadian dulu pada Kavindra menimpa Davanka juga, walaupun sebenarnya itu kesalahan Davanka.


"Belum, Pi." Kavin terus melihat ponselnya, pria itu berharap ada kabar dari sang adik. Karena kalut, keduanya sepertinya lupa menghubungi keluarga Hendra. Sampai akhirnya Kavindra pun bertanya pada sang papi mengenai keluarga Fimi.


"Papi sudah menghubungi Hendra, tetapi ponselnya nggak aktif." Pria paruh baya itu kini duduk di sofa.


Menunggu kabar sang adik membuat Kavindra akhirnya melihat kabar di ponselnya, mungkin saja ada pengumuman orang hilang.


Namun, malah yang ada adalah sebuah berita kecelakaan tunggal dengan korban dua orang pria dewasa. Kavindra terkejut saat melihat mobil hitam yang menabrak pembatas jalan itu. "Dava?" Pria itu langsung menghubungi Dava, tetapi ponselnya tidak aktif, lalu menghubungi Haris, pria itu lama sekali mengangkat panggilan teleponnya.


"Halo, Haris?" Kavin memanggil pria yang diteleponnya.


"Iya, Pak, kami mengalami kecelakaan ...."


Tiba-tiba saja sambungan telepon Haris terputus. Kavindra makin kalut. Namun, agar sang papi tak khawatir, akhirnya pria itu pun izin untuk menyusul Dava.


"Papi di rumah saja, Kai juga ada di rumah, biar Kavin menyusul Dava." Pria tinggi itu mencium punggung tangan sang papi, lalu pergi meninggalkan rumah.


Selama perjalanan menuju rumah Fiki, Kavin terus berdoa agar keduanya baik-baik saja, baik itu Fimi ataupun Dava. Pria itu tak mau jika pengalaman pahitnya dulu, dialami oleh sang adik.

__ADS_1


"Abang udah maafin kamu, Dav. Abang mohon kamu harus baik-baik saja, pernikahan kalian hanya tinggal tiga hari lagi." Kavindra terus bergumam sambil mengemudikan mobilnya.


Saat di persimpangan jalan, benar saja terjadi kemacetan yang parah, karena ada kecelakaan. Kavin pun berhenti di sana dan memastikan bahwa yang kecelakaan itu bukanlah sang adik. Kavindra turun dari mobilnya setelah menepikan di pinggir jalan, lalu menemui seorang polisi yang berjaga di sana. Awalnya Kavindra tak mendapatkan izin untuk masuk ke area kecelakaan itu, tetapi saat menjelaskan bahwa ia sedang mencari adiknya, akhirnya polisi itu pun mengizinkan.


Kavindra berjalan masuk melewati garis polisi dan saat melihat mobil hitam itu, bentuknya sungguh mengenaskan. Namun, saat melihat plat nomor mobilnya, Kavin bernafas lega, ternyata itu bukan mobil sang adik. Pria itu pun memutuskan untuk melanjutkan perjalananya menuju kediaman Fimi. Setelah mengucapkan terima kasih pada polisi tadi dan memberitahu bahwa yang mengalami kecelakaan bukanlah saudaranya, Kavindra pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju rumah Fimi.


Bersamaan dengan kepergian Kabindra, evakuasi korban kecelakaan juga selesai, dan semua kendaraan saat ini bisa kembali melanjutkan perjalanan masing-masing. Kavindra yang fokus menyetir tak menyadari saat mobilnya berpapasan dengan mobil Dava.


Kavindra sedikit lega dengan kebenaran barusan, sehingga ia terus melajukan mobilnya.


Sementara itu, Dava baru saja terbangun saat mobilnya kembali melaju. "Haris, apa semua sudah kembali normal?" Pria itu bertanya dengan suara serak dan mengucek matanya yang terasa perih.


"Iya, Pak. Evakuasi korbannya sudah selesai sepertinya, jadi semua kendaraan dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan.


"Baguslah." Dava meraba saku celananya mencari sesuatu. "Ah! Sepertinya aku tadi tidak membawa ponsel," desahnya.


"Oh, iya tadi Pak Kavin menelepon, tapi ponsel saya juga kehabisan baterai jadi mati." Haris berkata tanpa menoleh, pria itu hanya melihat majikannya lewat spion.


"Tidak apa-apa, kita juga akan pulang sekarang."


Di tempat lain, Kavindra baru saja sampai di kediaman Fimi. Pria itu memarkirkan mobilnya di halaman rumah Fimi, setelah itu keluar dengan sedikit tergesa. Baru saja akan mengetuk pintu, benda itu sudah terbuka. Terlihat gadis berambut panjang yang sering Kavindra lihat bersama Fimi.


"Pak ... ini suaminya Bu Risha, kan?" tanya gadis itu, yang tak lain adalah Nesa.


"Iya, nama saya Kavindra kakak dari Dava juga, apa Fimi sudah ketemu?" Kavindra masih memperlihatkan raut khawatirnya.


"Silakan masuk, Pak!" Nesa mundur dan membiarkan pria jangkung itu masuk.


Setelah masuk dan duduk, Nesa pun memanggil kedua orang tua Fimi, berikut dengan Fimi juga. Kavindra terlihat lega saat melihat Fimi datang bersama kedua orang tuanya.


"Alhamdulillah kalau Fimi sudah ketemu, Om."


"Bukan ketemu, dia pulang sendiri, Nak Kavin," jawab Hendra sambil melirik putrinya yang menunduk malu.


Kavin mengerutkan keningnya. "Iya, Fimi pergi ke butik nggak bilang orang rumah, Nak Kavin," sela Marina.

__ADS_1


Kavin mengucapkan oh tanpa suara, tetapi raut khawatirnya sudah memudar.


"Syukurlah, tapi ... apa Dava masih ada di sini?" Kavin berucap ragu karena tak melihat pria itu berikut mobilnya.


"Lho, Bang Dava udah pulang sejak tadi, Pak." Fimi yang kini terlihat khawatir.


"Oh, iya ... maaf sudah mengganggu waktu istirahat kalian, tenang saja mungkin Dava sudah pulang. Saya sama papi hanya khawatir." Pria itu terlihat salah tingkah.


"Kalau gitu, saya pamit pulang dulu ya, Om." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Kavin.


Hendra dan Marina pun mengangguk, lalu mengantar tamunya ke teras depan. Kavin bahkan kembali meminta maaf pada keduanya.


"Tenang saja, nanti kalau Dava sudah pulang saya akan mengabari kalian semua."


Kavindra pun pulang dengan lega. Namun, jika Dava benar-benar sudah ada di rumah, dia akan memukulnya tanpa ampun, karena sudah membuat khawatir dirinya dan sang papi.


Saat sampai di rumah, Kavin melihat mobil Dava terparkir dengan rapi di tempatnya. "Siyalan!" umpatnya. Pria itu pun langsung turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke rumah, tampak Dava sedang membaringkan tubuhnya di atas karpet tebal sambil menonton televisi.


Tanpa menunggu lagi, Kavin langsung menindih Dava dan menjewer kedua telinga adiknya.


"Aw! Sakit, Bang!" Dava mengaduh sambil memegang kedua tangan Kavin yang dengan erat memegang kedua telinganya.


"Aku malam-malam keluar buat cari kamu, eh kamu enak-enakan tidur di sini! Jangan bikin kami khawatir, Davanka!" geram Kavindra sambil melepaskan adiknya.


"Iya,iya, maaf, Bang." Kini kedua pria itu duduk bersebelahan.


"Abang bilang ke Fimi kalau ... tadi ada mobil yang mirip punya kamu kecelakaan dan kamu belum juga pulang." Kavin mulai mengerjai adiknya.


"Apa?"


Bersambung


Happy Reading


Makanya kalau kata orang tua dipingit tuh ya diem di rumah, iya kan? Takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Malah ngomel wkwkw.

__ADS_1


Jan lupa jempolnya ya bestie.


__ADS_2