Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Kembali Kerja


__ADS_3

Pagi ini Dava sudah siap dengan setelan kerjanya, begitu juga dengan Fimi. Fir juga sudah siap dengan seragam sekolahnya. Mereka bertiga turun ke lantai bawah. Dava terlihat segar dengan rambutnya yang tertata rapi. Begitu juga dengan Fimi. Namun, wanita itu menggunakan syal di lehernya.


"Ngapain ditutupin sih, Yang?" bisik Dava saat mereka turun ke bawah.


"Gara-gara kamu, Bang." Fimi mendelik sebal ke arah suaminya.


"Kenapa, Mimi?" Fir yang berjalan di tengah itu mendongak ke arah orang tuanya secara bergantian.


"Nggak apa-apa kok, Sayang." Fimi mengusap kepala putranya.


Sementara itu, Dava hanya terkekeh geli, pria itu mengingat bagaimana ia membuat tanda kiss mark di leher istrinya, padahal istrinya sudah menolaknya, tetapi Dava tetaplah Dava, pria itu ingin memperlihatkan bahwa Fimi sekarang miliknya.


Kini mereka berada di meja makan, untuk sarapan bersama. Fimi dan Fir lebih memilih roti tawar dan selai tiga rasa kesukaan mereka.


Setelah itu, ketiganya pamit untuk bekerja, Fir diantar oleh Fimi karena arah mereka sama, sementara Dava pergi sendirian.


"Hati-hati di jalan ya, maaf Pipi nggak bisa nganter kalian hari ini," ucap Dava sambil mengusap kepala putra kecilnya, kemudian mencium pipi istrinya. Setelah itu, pria itu juga berjongkok dan mencium kening putranya.


"Nggak apa-apa, Pipi. Fil sama Mimi aja dulu, tapi nanti antelin Fil ya," ucap Fir.


"Iya, Sayang. Nanti kalau Pipi udah nggak sibuk ya," jawab Dava.


"Ya udah, aku pergi dulu ya, Bang," ucap Fimi kemudian langsung membuka pintu mobilnya, tetapi Dava menahannya.


"Kenapa?" tanya Fimi heran. Sementara Fir sudah masuk ke dalam.


"Masa nggak salim dulu sama suaminya?"


"Eh, iya lupa, Bang." Fimi mencium punggung tangan suaminya, kemudian melepaskan dan akan kembali masuk, tetapi kembali ditahan oleh Dava.


"Apa lagi?"


Tanpa Fimi duga, Dava langsung menempelkan bibirnya pada bibir Fimi, tidak terlalu lama, karena sang papi tiba-tiba datang.


"Abang ..." desis Fimi.


"Dav, Papi ikut kamu saja ya," ucap pria paruh baya itu.


Fimi dan Fir pamit untuk segera berangkat karena Fir bisa terlambat jika terus berada di sana.


"Lho, Papi mau ke mana?" tanya Dava.


"Ke kantor, memangnya mau ke mana lagi?"

__ADS_1


"Udah Papi di rumah saja, Papi kan udah pensiun juga, udah temenin mami aja," tolak Dava. Pria paruh baya itu memang sudah memutuskan untuk berhenti dari kantornya, dan menyerahkan semua perusahaannya pada kedua putranya, sementara Kavindra tetap dengan perusahaannya sendiri. Karena sekarang ada Kaivan dan Davanka yang mengurus perusahaannya.


Tak berselang lama, Alifa datang menghampiri keduanya bersama dengan Kaivan.


"Papi mau ke mana?" tanya sang istri.


"Papi mau ke kantor katanya, Mi," jawab Dava.


"Papi kebiasaan, Papi kan udah nggak kerja udah kita di rumah saja, Pi." Alifa menggandeng lengan suaminya.


"Ada Kai, Pi. Tenang saja," sela Kaivan yang sudah siap juga dengan setelan kerjanya.


Ganendra terkekeh, kemudian menuruti saran istrinya. "Papi lupa, soalnya udah bisa pergi kerja kalau pagi-pagi gini," ucap pria paruh baya itu.


"Ya, sudah sekarang kalian berangkat, nanti telat, malu sama yang lain," imbuhnya.


Dava dan Kaivan pun menyalami kedua orang tuanya, kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing. Mereka tidak pergi berama karena Kaivan nanti harus pergi menemui klien di luar kantor.


Dava dan Kaivan mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Apalagi Dava karena cuti satu minggu, pria itu cukup banyak meninggalkan pekerjaannya.


Sementara itu, Fimi juga sudah sibuk di butiknya karena banyak pesanan baju yang harus wanita itu buat.


"Aduh pengantin baru, nikah enak nggak sih, Fi?" Nesa yang sejak kedatangan Fimi terus mengekorinya dan menggodanya.


"Coba cerita dulu deh, gue udah kangen tahu sama lo," ucap Nesa.


"Kayanya ada yang mau dipotong bonus nih," jawab Fimi.


"Ish, jangan gitulah, masa nggak ada bonus," gerutu Nesa.


"Ya udah kerja sana!" usir Fimi.


Nesa bukannya kembali ke mejanya, wanuta cantik itu malah duduk di depan Fimi dengan menopang dagunya dengan kudua tangannya.


"Kalau gitu cerita malam pertama aja deh, gimana sih?" Namun, sebuah pensil melayang hampir mengenai wajahnya.


"Iya, iya, galak banget si, ya udah kalau nggak cerita sekarang ditunggu nanti pas makan siang aja," ucap Nesa sambil beranjak dan melangkah menuju meja kerjanya.


Fimi hanya berdecak kesal. Setelah itu keduanya fokus pada pekerjaan mereka. Fimi mendesain beberapa baju yang dipesan oleh pelanggannya. Modelnya cukup unik sehingga Fimi harus lebih teliti saat nanti akan membuatnya menjadi sebuah baju.


Matahari mulai memancarkan cahayanya yang panas, wanita itu lupa bahwa ia harus menjemput putranya, sampai Nesa bertanya mengenai Fir.


"Astagfirullah, Nes. Gue harus jemput Fir, gue lupa kalau ...." Fimi tak melanjutkan ucapannya, wanita itu langsung menyambar tas dan kunci mobilnya. Dengan gegas ia berjalan menuju mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sekarang sudah hampir jam setengah dua belas, sementara Fir pulang sekitar jam sebelas.

__ADS_1


"Aduh, kenapa gue bisa lupa sih?" Fimi memukul kepalanya sendiri. Beruntung jalanan tidak terlalu macet dan Fimi akhirnya sampai di sekolah Fir yang sudah sepi, tetapi para guru masih berada di sekolah. Wanita itu berjalan cepat menuju kantor sekolah, untuk menanyakan keberadaan putranya.


Saat sampai di depan pintu kantor, terlihat wanita berhijab sedang mengajak bicara seorang anak laki-laki.


"Assalamu'alaikum," sapa Fimi sebelum masuk ke dalam kantor itu.


"Waalaikumusalam, tuh Miminya udah datang," jawab wanita berhijab yang tak lain adalah Bu Mira.


"Aduh, maaf Bu, saya telat," ucap Fimi sambil langsung menghampiri sang putra yang tampak merajuk.


"Maafin, Mimi, ya," bujuk Fimi.


Fir terlihat cemberut, tetapi menganggukkan kepalanya juga. "Ayo kita pulang," ajak Fimi.


"Bu gulu, Fil pulang dulu ya, besok pakai baju putih-putih, kan?"


"Oh, iya, minggu depan akan ada acara manasik haji, Bu Fimi. Apa Fir mau ikut serta?" Bu Mira berkata saat Fir menyebut pakaian putih-putih.


"Oh, ikut saja, Bu. Itu kan acara sekolah juga," jawab Fimi.


Kemudian, Bu Mira pun mengajak Fimi ke mejanya dan memberi tahu biaya pendaftaran juga memberitahukan fasilitas apa yang akan didapat oleh setiap peserta.


Fimi mengangguk mengerti, lalu membayar sejumlah uang yang disebutkan oleh Bu Mira.


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu kami pamit." Fimi menyalami guru Fir dan menyuruh putranya untuk melakukan hal yang sama.


Saat berada dalam mobil, Fir kembali cemberut. "Mimi ke mana dulu sih? Fil kan tadi sendilian," gerutu anak kecil itu.


"Maaf, Sayang. Mimi tadi sedang banyak kerjaan." Fimi menjawab sambil mengusap kepala putranya, ia tak mungkin bilang, kalau dirinya lupa.


"Sekarang Fir mau ke mana dulu, Mimi pasti anterin," bujuk Fimi.


"Fil mau ketemu Pipi."


"Eh, tapi kan Pipinya lagi kerja."


"Pokoknya Fil mau ketemu pipi, Mimi."


"Iya, Sayang."


Bersambung


Happy Reading

__ADS_1


Monmaaf kemarin ga up ya, aku nggak enak badan. Jan lupa jempolnya gerakin ya.


__ADS_2