Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Pernikahan


__ADS_3

Setelah kejadian Fimi menghilang dan Dava diduga kecelakaan, hari ini adalah hari dilaksanakannya pernikahan mereka. Keluarga Pramudya sudah bersiap untuk berangkat ke gedung yang akan digunakan untuk pernikahan putra kedua mereka.


Kavindra dan Kaivan lebih dulu pergi ke sana untuk memastikan bahwa persiapan pernikahan sang adik berjalan dengan lancar.


Davanka menggunakan tuxedo putihnya untuk acara akad hari ini. Pria itu terlihat lebih tampan berkali-kali lipat.


Calon mempelai pria pergi bersama kedua orang tuanya, juga dua keponakan kembarnya bersama supir.


"Om, berarti Fir jadi sodara Ale juga ya sekarang?" celetuk gadis kecil dengan rambut dicepol itu.


"Iya, Sayang. Kalian yang akur ya," jawab Dava sambil menoleh ke belakang.


"Fir kan memang temen kita, Om," balas Aksa.


Perjalanan mereka diramaikan dengan celetukan kedua bocah kembar putra-putri dari Kavindra dan Kaivan.


Sementara itu, Fimi dan keluarganya sudah berada di gedung Mutiara tempat acara pernikahan itu berlangsung. Wanita cantik itu sedang dirias di sebuah ruangan yang tersedia di sana. Nesa dan Marina juga dirias dengan sangat cantik.


"Cantik banget putri Mama." Marina kagum melihat kecantikan putri bungsunya.


"Fir mana, Ma?" Alih-alih tersanjung dengan pujian sang mama, wanita itu malah bertanya mengenai putra kecilnya.


"Ada di luar bareng Papa dan Arya."


"Fimi takut dia rewel lagi kayak semalam ... katanya aku bakal ninggalin dia," jawab Fimi lirih.


"Nggak, Sayang. Kamu tenang saja, Fir malah terlihat ceria pagi ini, katanya mau ketemu Asa dan Ale."


Tak berselang lama, riasan mempelai wanita sudah selesai, Nesa mengajak Fimi untuk memakai gaun pengantinnya.


"Cantik banget si lo, Fi." Nesa tersenyum kagum pada sahabatnya itu.


Sementara itu, di ruangan lain Kavindra dan Kaivan menyambut kedatangan Dava dan kedua orang tuanya juga anak dan istrinya. Dava dibawa masuk ke ruangan untuk sedikit diberi make up di wajahnya.


Setelah selesai dengan riasan dan sebagainya, akhirnya akad nikah pun dimulai. Dava berhadapan langsung dengan Hendra sebagai calon papa mertuanya. Sementara itu Fimi dan Nesa masih menunggu di ruangannya.


"Tenang aja, nih makan dulu deh, dari pagi lo belum makan lho, Fi." Nesa akan menyuapi Fimi, tetapi wanita dengan gaun pengantin itu menggelengkan kepalanya, ia malah merema*s jari-jemarinya sendiri. Sampai akhirnya Nesa menyadari itu, kemudian menggenggam tangannya.


Tak berselang lama, Fimi dipanggil seseorang untuk segera menuju meja akad. Nesa menggandeng tangan Fimi dan membantunya keluar dari sana.

__ADS_1


Saat sampai di meja akad, semua orang tertuju pada mempelai wanita yang terlihat begitu cantik dan anggun.


Fimi dipersilakan duduk di samping calon suaminya. Pak penghulu pun mulai berdoa untuk memulai akad pernikahan hari ini. Hendra menjabat tangan calon menantunya, kemudian mengucapkan ijab, tetapi Dava terlihat gugup, sehingga ijab qobul pun diulang.


"Tenang ya, Nak Dava. Jangan grogi. Coba lihat calon istrinya udah cantik gini," kelakar Pak penghulu dengan peci hitam itu.


Walaupun Dava dahulu pernah menjadi playboy, tetapi ijab qobul adalah hal pertama baginya. Setelah diberi minum dan menarik nafas, Dava pun mengangguk pada penghulu dan calon mertuanya. Kemudian, ijab qobul pun dimulai. Kali ini Dava langsung mengucapkan ijab dengan lancar.


"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu.


"Sah." Semua saksi menjawab bersamaan.


"Alhamdulillah." Pak penghulu pun kini kembali membaca doa.


Sementara Dava kini melihat istrinya dengan penuh cinta, sejak sebelum akad pria itu berusaha menahan diri agar tak melihat istrinya, karena saat Fimi pertama masuk saja jantungnya sudah tak karuan.


Setelah menandatangani surat nikah, kini keduanya berdiri berhadapan, Fimi dipersilakan untuk mencium punggung tangan suaminya sebagai rasa hormat, lalu Dava akan mencium keningnya. Alih-alih mencium kening, Dava malah mencium bibir Fimi yang membuat semua orang terkejut.


"Dava!" pekik Alifa sang mami.


"Dikit doang, Mi." Dava mengusap tengkuknya, sementara Fimi terlihat bersemu merah di pipinya, karena malu.


Kini Fimi dan Dava digiring menuju pelaminan. Keduanya terlihat begitu serasi.


Para tamu mulai mengantre menyalami dan memberi selamat pada keduanya. Tamu terus berdatangan dan tak membiarkan pengantin itu beristirahat. Sampai akhirnya keduanya dipersilakan untuk mengganti baju yang kedua. Hal itu dimanfaatkan Dava dan Fimi untuk beristirahat sambil makan siang juga.


Keduanya kini berada dalam satu ruangan yang sama bersama perias mereka dan Nesa.


"Bang Dava ganti baju di sini juga?" tanya Fimi pada Nesa yang tentu didengar jelas oleh Dava.


"Memangnya kenapa, Sayang. Kita udah sah di mata hukum dan agama." Dava menjawab sambil menatap lekat ke arah istrinya.


"Iya, Fi. Kalian udah sah ini mau ngapa-ngapain juga bebas." Namun, sebuah tabokan berhasil wanita itu dapatkan dari Fimi.


"Ya ampun, salah saya di mana, Pak Dava?" adu Nesa pada Dava. Pria itu malah terkekeh geli.


Bersamaan itu salah satu kerabat Fimi membawakan dua piring nasi beserta lauknya.


"Kalian harus makan dulu, karena acara masih banyak, udah gitu tamu juga masih banyak yang datang." Wanita berkebaya maroon yang sama seperti Nesa itu mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, makasih, Ta." Fimi menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah biar pengantin wanitanya dulu yang mengganti pakaian, suaminya makan saja dulu," ucap Keynara perias dari Fimi.


"Baik, Mbak." Fimi pun mengikuti Keynara bersama dengan Nesa. Sementara itu, Dava masih duduk di sofa yang sama. Namun, pria itu bukannya makan, ia malah memejamkan matanya dan tak lama kemudian dengkuran halus pun terdengar. Dava tertidur.


Fimi yang sudah berganti pakaian dengan gaun warna silver. Saat berbalik untuk memanggil suaminya. Wanita itu terkejut, karena Dava sedang tertidur dengan pulas.


"Ya ampun, di acara penting kaya gini masih sempat-sempatnya tidur." Wanita bergaun pengantin itu menggerutu. Lalu mendekati suaminya, yang lain pikir, Fimi akan membangunkan suaminya dengan lembut, tetapi dugaan mereka salah.


Fimi memukul paha suaminya dengan keras, hingga pria itu terperanjat. "Astagfirullah, sakit, Yang." Dava berkata dengan mengucek matanya yang terasa perih.


"Bisa-bisanya di acara pernikahan kita kamu malah tidur," omel Fimi.


"Ck, definisi istri macan gini ya, Pak Dava," sela Nesa yang langsung mendapat tatapan tajam dari bosnya itu.


Saat perdebatan mereka berlangsung, suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka. Nesa pun membuka pintu dan melihat anak kecil dengan setelan jas yang lucu berdiri di sana. Wajahnya cemberut, dan kedua tangannya dilipat di depan dada.


"Fir, kamu dari mana saja, Sayang?" Nesa menggendong anak kecil itu.


"Fil nggak suka sama tante-tante yang bilang kalau pipi Dava itu punya dia," gerutunya.


Fimi dan Dava yang masih berada di tempatnya menatap wajah putra kecilnya yang terlihat marah.


"Siapa, Fir?" Fimi yang bertanya lebih dulu.


"Nggak tahu, Mimi, Fil nggak pelnah lihat."


"Aku." Tiba-tiba seorang wanita dengan dress warna putih itu masuk.


"Kamu?"


Bersambung


Happy Reading


Ish Bang Dava bisa-bisanya tidur di acara pernikahannya. Nah terus itu siapa lagi ya yang datang? Jangan tanya aku, aku nggak tahu pokoknya.


Jan lupa jempolnya ya bestie.

__ADS_1


__ADS_2