
Setelah kejadian di taman bermain anak itu, Nesa pulang menggunakan taksi online, sementara Fimi dan anak-anak pulang ke kediaman Pramudya. Aksa dan Ale akan menginap di rumah itu.
Sementara itu, Fimi juga sudah membereskan barang-barang mereka termasuk milik Fir. Wanita itu, sepertinya tak mengerti arti bulan madu sesungguhnya. Padahal Marina dan Hendra sudah bersiap untuk menjemput sang cucu, selama putrinya pergi berbulan madu.
Waktu untuk kepergian Dava dan Fimi pun akan segera tiba. Malam ini, Fir sudah dijemput oleh Marina dan Hendra. Mereka sangat merindukan cucunya, jadi akan membawanya pulang selama Fimi dan Dava berbulan madu.
"Fimi kira Fir akan ikut, Ma," bisik wanita itu pada Marina.
"Masa iya bulan madu sama Fir. Kamu ada-ada saja. Udah nikmatin aja waktu berdua kalian, Fir aman sama Mama."
"Padahal Fir di sini saja, aku dan Mas Nendra senang kok." Alifa berucap sambil melirik suaminya.
"Iya, Jeng, tapi kami juga sangat merindukan dia, sekarang kami cuma berdua di rumah paling sama asisten rumah tangga."
"Iya juga ya, kita jadi kembali ke masa awal kita nikah, karena setelah mereka menikah, mereka tetap akan pergi meninggalkan kita bersama keluarganya." Alifa berkata sambil menahan sesak di dadanya, matanya juga sudah berkaca-kaca.
Malam sudah hampir larut, akhirnya Marina dan Hendra pun pamit undur diri dengan membawa cucu kesayangannya. Fimi dan Dava mengantar kedua orang tuanya ke depan.
"Hati-hati di jalan, Pa!" ucap Fimi sambil memeluk cinta pertamanya itu, kemudian beralih pada sang mama yang menggendong Fir. "Baik-baik sama Oma ya, Sayang. Jangan nakal!" nasihat Fimi pada putranya.
"Iya, Mimi." Anak kecil menjawab kemudian menguap.
"Ya, udah kita pamit pulang dulu ya, jaga Fimi ya, Nak Dava." Marina mengusap lengan putrinya dengan satu tangannya yang bebas.
"Siap, Ma. Tenang aja, Fimi akan aman dan bahagia sama Dava, iya kan, Sayang?" Pria itu beralih ke sang istri yang ada di sampingnya. Fimi mengangguk dan tersenyum ke arah orang tuanya.
Setelah mobil Hendra sudah tak terlihat lagi, Fimi dan Dava pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam. Ganendra dan Alifa masih ada di tempat yang sama, hanya Kaivan saja yang tidak ada, mungkin pemuda itu sudah kembali ke kamarnya.
"Mami sama Papi belum mau tidur?" tanya Dava yang kini duduk di sofa ruangan yang sama dengan orang tuanya.
"Belum. Oh iya, besok kalian berangkat pagi-pagi ya ke Bali, kan? Nggak ada perubahan?" Alifa yang menjawab dan juga memberi pertanyaan pada sang putra.
"Iya, Mi. Ke Bali saja. Tadinya mau ke luar negeri, tapi ... nantilah direncanakan lagi," jawab Dava. Sementara Fimi hanya mengangguk. Karena sebenarnya ia juga baru tahu kemarin.
"Nggak bawa banyak barang, yang diperlukan saja, biasanya nanti juga di sana kalian belanja, kan?" tutur Alifa yang dianggukki sang suami.
__ADS_1
"Iya, dulu kaya Mami juga, kan gitu," timpal Ganendra yang membuat wanita paruh baya terkekeh.
"Ya sudah, kalau gitu lebih baik kalian istirahat dari sekarang, biar besok nggak terlambat.
"Iya juga ya, Mi. Ya udah, ayo, Yang!" Dava menarik tangan sang istri.
Fimi pun akhirnya pasrah dan membiarkan suaminya membawa ke kamar mereka. Saat sudah berada di kamar dan menutup pintu. Dava langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Bang, aku ngantuk beneran lho ini."
"Iya, ayo kita tidur!" Kemudian pria itu mengangkat tubuh sang istri hingga wanita itu memekik kaget. "Boleh dong sekali ya sebelum besok pergi."
"Ish, janganlah nanti kita telat gimana?" tolak Fimi yang kini sudah berbaring di ranjang.
"Nggaklah, sekali doang, ya." Dava terus membujuk sang istri.
"Boleh ... ih sebentar!" Fimi mendorong dada suaminya yang hampir menghimpitnya.
"Kenapa?"
"Boleh, tapi nanti di sana nggak ada jatah mau?" ucap Fimi.
"Mana ada gitu, bukan bulan madu dong itu," omel Dava.
"Iya, iya. Kita tidur saja." Dava kini berguling ke samping tubuh istrinya, kemudian menarik tubuh sang istri untuk ia dekap.
"Nggak usah gini juga, Bang. Engap aku."
"Bawel, udah tidur."
***
Keesokan harinya, Dava dan Fimi diantar Kaivan menuju bandara. Fimi dan Dava menggunakan baju dengan warna senada. Keduanya terlihat begitu cantik dan tampan. Fimi terlihat bahagia menikmati perjalanan mereka.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di hotel. Dava dan Fimi sampai ke hotel bertepatan dengan jam makan siang. Fimi bahkan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Akhirnya aku ke Bali. Kita jalan-jalan yuk, Bang!" ajaknya.
"Memangnya nggak cape?" Dava ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri.
__ADS_1
"Lumayan sih, tapi masa di kamar hotel doang, sambil nyari makan yuk!" Fimi membalikkan tubuhnya ke samping menghadap suaminya.
"Emang di sini kita harusnya di kamar terus, Yang." Dava mencondongkan wajahnya ke wajah sang istri kemudian mengecup bibirnya.
"Ish, panaslah siang-siang gini, ayo dong jalan -jalan dulu!" bujuk Fimi dan Dava pun akhirnya kalah. Kini keduanya berjalan keluar dari hotel untuk mencari makan siang. Dava memberi tahu sang istri mengenai tempat-tempat yang mereka lewati.
"Kita makan di sini aja ya, enak-enak lo makanannya," ajak Dava. Fimi hanya mengangguk dan mengikuti sang suami. Mereka pulang setelah langit mulai gelap. Di tangan Fimi ada dua kantong berisi cemilan, sementara di tangan Dava juga tak luput dari paper bag dan kantong kresek.
Saat mereka kembali ke kamar hotel, Dava lebih dulu membersihkan dirinya, sementara Fimi membereskan barang-barang belanjaannya. "Perut sama pinggang aku sakit banget, tumben," keluh Fimi saat wanita itu hendak kembali berdiri. Bersamaan itu, Dava keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Mandi dulu gih!" ujarnya sambil menggosok rambutnya yang basah.
"Oke," jawab Fimi dan langsung masuk ke kamar mandi. Fimi pun akan mulai dengan ritual mandinya, tetapi saat perutnya kembali terasa sakit, ia pun teringat dengan tanggal hari ini. "Aduh, ini kan awal bulan, biasanya ..." gumamnya. Akhirnya Fimi pun memastikan dugaannya dan ternyata benar. Setelah selesai mandi, wanita itu, memanggil sang suami. "Bang!"
"Iya, Sayang."
"Tolong ambilkan kresek putih kecil yang ada di dekat meja dong," ucapnya.
"Oh, baiklah." Dava pun berjalan ke tempat yang disebutkan sang istri dan membawa barang itu. Dava kemudian mengetuk pintu kamar mandi. "Masuk aja ya, Yang?"
Namun, Fimi sudah menyembulkan kepalanya dan mengambil barang tadi. "Makasih, Abang."
Kemudian wanita cantik itu kembali menutup pintunya. Tak berselang lama, Fimi keluar dengan dress selutut tanpa lengan.
Dava sudah menunggunya di atas ranjang. Pria itu sudah tersenyum ke arah sang istri. Fimi pun menghampiri sang suami.
"Kamu udah siap, kan?" tanya Dava lembut.
"Mmm ... itu ... maaf, aku lagi ... 'dapet', Bang." Fimi berucap ragu.
"Hah?"
"Iya, Bang. Maaf baru aja aku datang bulan."
"Oh, tidak!"
__ADS_1
Bersambung
Kabuuuur!