Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Makan Siang


__ADS_3

Hari terus berlalu, setelah kejadian di meja makan itu, Fimi akhirnya mengomeli sang suami untuk tidak membuat tanda kiss mark lagi di tubuhnya.


Fimi baru saja menyelesaikan tugasnya. Semua pesanan baju pelanggannya sudah selesai dan siap untuk dikirimkan. Wanita itu akan merayakan keberhasilannya dengan mengajak makan siang semua karyawannya di sebuah resto, seperti kebiasaan Fimi sebelumnya.


"Siang ini kita mau makan di mana?" tanya Fimi pada semuanya, saat mereka berkumpul di depan.


"Kita mah terserah Bu Fimi aja, udah ditraktir juga udah alhamdulilah," ucap salah satu karyawan Fimi.


"Oke, kalau gitu, bagaimana kalau kita ke Resto Almahera saja, kalian belum pernah kan ke sana?" tanya Fimi.


Semuanya mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah, kalau gitu kalian siap-siap, saya harus jemput Fir dulu, jadi kita ketemu di sana saja, ya?"


"Siap Bu Fimi, hati-hati di jalan, utamakan keselamatan bukan kecepatan!" ucap wanita berbaju biru itu menirukan salah satu jargon dari sebuah sinetron di televisi.


"Haish! Ketahuan banget suka nonton sinetron," ucap Nesa sambil tergelak begitu dengan Fimi. Akhirnya Nesa dan Fimi pun berangkat terlebih dahulu.


Selama perjalanan Fimi bercerita pada Nesa mengenai rencana bulan madu yang diutarakan oleh suaminya. "Kerjaan udah nggak terlalu banyak kan, Nes?"


"Udah beres pokoknya, udah kalau mau bulan madu, pergi aja gih! Asal dengan satu syarat," ucap Nesa yang membuat Fimi menoleh ke arahnya.


"Apaan?"


"Oleh-oleh dong bestie," jawab Nesa santai yang membuat Fimi mendelik kesal.


"Haish, kirain apaan. Entar gue minta sama laki gue," ujar Fimi.


Tak berselang lama, mereka sudah sampai di sekolah Fir, anak lelaki itu sedang duduk di ayunan bersama Ale dan Aksa. Fimi pun menghampiri mereka.


"Mimi, Ale sama Asa mau ikut pulang baleng Fil, boleh ya?" Fir berteriak sambil turun dari ayunan.


"Boleh dong, Sayang. Ayo! Tapi kita nanti makan dulu ya," ucap Fimi sambil mengusap kepala ketiga anak kecil itu bergantian.


"Makasih, Ateu. Katanya mami harus pergi sama papi, jadi nggak bisa jemput kita hari ini," ucap Aksa.


"Iya, Sayang, nggak apa-apa. Sekarang kan Tante Fimi udah jadi Tantenya Aksa sama Ale juga, jadi jangan sungkan."


"Kalau Ateu nggak jadi ateunya Ale, Ateu Fimi mau nggak anterin kita?" Tiba-tiba anak perempuan berkuncir dua itu bertanya.


"Mau dong, kan Ale sama Aksa temennya Fir. Udah ayo! Nanti keburu siang."


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam mobil, setelah semuanya siap, Fimi pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di mobil itu hanya suara berisik anak-anak yang sibuk membicarakan kegiatan mereka di sekolah hari ini.

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Fimi dan Nesa bergegas turun bersama anak-anak.


Fimi memilih lantai atas agar mereka bisa duduk lesehan di sana. Saat sudah mendapatkan meja. Fimi menyuruh Nesa untuk menghubungi yang lainnya. Baru saja Nesa mengambil ponselnya, tiba-tiba suara ribut dari tangga mengalihkan mereka. Terlihat karyawan Fimi yang datang.


"Aduh, Bu Fimi, untung aja aku lihat mobil ibu," ucap Riska.


"Kenapa memangnya?"


"Kita nyasar dua kali, Ibu." Wanita berhijab itu menimpali.


"Ya ampun nggak usah norak deh, masa ke sini aja nyasar," sela Nesa.


"Ish, Bu Nesa, kita kan belum pernah ke sini."


"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kalian pesan makan siang kalian, apa saja yang kalian mau pokoknya, asal habis." Fimi menengahi perdebatan mereka.


Setelah itu, wanita cantik itu beralih pada ketiga anak kecil di sampingnya. "Kalian mau makan apa?" Fimi menyodorkan buku menu dan membiarkan ketiga anak itu memilih menu yang mereka suka.


Acara makan siang kali ini terasa begitu berbeda, Fimi melihat raut bahagia dari setiap orang yang ia sayangi. Saat mereka sedang menikmati makan siang, tiba-tiba dering ponsel Fimi mengalihkan perhatian wanita itu. Tertera nama suami di layar pipih itu. Fimi pun langsung mengangkat panggilan teleponnya. Dava memberitahu bahwa pria itu akan pulang terlambat hari ini, dan meminta maaf karena tidak bisa ikut makan siang bersama mereka.


Fimi pun mengiyakan, dan yang lebih membuat wanita itu terkejut, karena keberangkatan bulan madu mereka hanya tinggal dua hari lagi.


"Pokoknya kamu tunggu aku di rumah dan beresin semua barang yang akan kita bawa untuk bulan madu," ucap Dava.


"Makanya aku lembur sekarang, biar semua segera selesai, kalau gitu kamu nanti pulang hati-hati ya, bye, Sayang." Dava pun mengakhiri panggilan teleponnya.


"Pipi ya, Mi. Pipi mau jemput kita ya?" tanya Fir yang saat ini sedang memakan makan siangnya sendiri.


"Iya, Sayang, tapi Pipi nggak bisa jemput kita, katanya masih banyak kerjaan."


"Om Dava kalau udah kerja emang gitu, Ateu, susah pulang kata Oma." Aksa menimpali.


"Iya, Ateu, tapi kadang kalau kita minta dianterin sekolah Om Dava tetap mau kok." Kini Ale yang ikut berbicara.


Fimi terkekeh. "Iya, kalau gitu sekarang habiskan dulu makannya ya, nanti pulang dari sini mau ke mana?" tanya Fimi.


"Memangnya boleh kalau main dulu, Ateu?" tanya Ale.


"Kenapa nggak? Kalian kan sama Tante."


"Hole!" Fir bersorak dan kini ketiga anak kecil itu berlomba untuk menghabiskan makan siangnya.

__ADS_1


Benar saja Fimi mengajak ketiga anak itu untuk bermain di area bermain anak-anak. Nesa masih ikut bersamanya, sehingga Fimi tak kewalahan untuk menjaga mereka.


"Untung saja tante kita Ateu Fimi ya, Aksa, kalau yang waktu itu pasti kita nggak dibolehin main kaya gini," ucap Ale pada Aksa.


"Iya, tante yang dulu galak banget, baiknya kalau ada Om Dava doang," jawab Aksa yang sibuk dengan mainan pasirnya.


Percakapan itu ternyata didengar oleh Fimi dan Nesa yang berada tak jauh dari mereka.


"Memangnya tante siapa Ale?" Nesa yang bertanya lebih dulu.


"Ada tante yang bajunya kurang bahan gitu, Tante." Ale menjawab sambil memegang kepalanya sepertinya ia mengingat-ingat nama wanita itu.


"Tante Azina, Ale," tukas Aksa.


"Oh, iya itu, Ale lupa." Gadis itu kemudian tertawa.


Nesa kini berbalik ke arah Fimi yang terlihat biasa saja. "Lo nggak cemburu? Ternyata Pak Dava suka yang terbuka juga ya," goda Nesa pada wanita di sampingnya.


"Gue nggak peduli, yang jelas istri sahnya tetap gue, kan."


"Iya juga sih. Setiap orang punya masa lalu juga ya, kan."


"Nah, itu lo tahu."


"Iya sih. Duh kapan gue punya pacar ganteng, kaya dan setia ya, Fi?" Nesa menatap jauh ke depan.


"Sebentar lagi gue doain deh."


"Eh, Fi lihat deh, tuh cowok ganteng banget, Ya Allah." Nesa menunjuk ke arah samping yang diikuti oleh Fimi. Pria berkaus hitam dengan celana selutut.


"Nggak apa-apa deh gue sama dia juga ikhlas gue," ucap Nesa yang tak melepas pandangannya dari pria itu. Namun, tak berapa lama tampak seorang wanita dan anak kecil berlari menghampirinya.


"Papa!"


Fimi langsung tergelak saat mendengar suara anak kecil tadi yang memanggil pria tampan itu dengan sebutan papa. "Mohon maaf ya, kalau mau sama dia harus saingan sama istri sah, besti!" Fimi terus tertawa sementara Nesa cemberut dan mendelik kesal.


"Siyalan!"


Bersambung


Happy Reading

__ADS_1


Ada yang mau sama Nesa, kuy daftar dia cantik, baik, pekerja keras dan bertanggung jawab juga lo.


Jan lupa gerakin jempolnya ya besti!


__ADS_2