Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Perang


__ADS_3

Alisa mengambil sebuah tongkat kasti yang berada di dekat lemari. Wanita itu merasa geram saat Dava mendorong tubuhnya dan malah memeluk wanita lain di hadapannya. Wanita yang saat ini membelakanginya, menjadi kesempatan bagi Alisa untuk membuat wanita itu menghilang.


Namun, saat Alisa mengangkat tongkat itu dan akan memukulkan ke tubuh Fimi, tiba-tiba wanita lain yang bersama istri Dava itu berteriak, "Awas, Fi!" Nesa langsung mendorong tubuh sahabatnya ke samping.


Alisa tentu saja jadi salah sasaran, wanita itu memukul Dava tepat di bahunya, hingga pria itu ambruk ke bawah. Karena pengaruh obat perangsang itu, Dava menjadi lemas.


"Dava! Kamu nggak apa-apa?" pekik Alisa sambil melempar tongkatnya ke samping.


Fimi yang kini berada di tembok samping langsung menghampiri Alisa dan menarik lengan wanita itu dengan kasar. "Jangan sentuh suami aku!" geramnya.


Alisa memekik kesakitan saat lengannya dicengkeram dengan erat oleh Fimi. "Aw, sakit!"


"Sa-sayang ... ah!" Dava mencoba berdiri, saat akan dibantu oleh Nesa, Fimi kembali berteriak, "Jangan sentuh dia, Nes!"


Nesa pun terkejut dan mengurungkan niatnya untuk membantu Dava. Kini Fimi kembali pada Alisa yang masih berada dalam genggamannya. "Muka lo berasa familiar di mata gue," ucap Fimi sambil menarik rahang Alisa dengan kasar. Dava juga terkejut dengan tingkah istrinya.


"Aku kekasih Dava, aku kekasih pertamanya," bentak Alisa sambil menepis tangan Fimi dari rahangnya.


Fimi tersenyum miring. "Oh, iya yang waktu itu ngirim foto kalian berdua ke Bang Dava ya? Ish, miris banget belum bisa move on dari suami orang," sindir Fimi.


"Dia masih sayang sama aku, kamu cuma pelampiasan dia, aku yakin." Alisa kembali berteriak bahkan hendak memukul Fimi, tetapi dengan sigap wanita itu menangkisnya.


Fimi kini beralih ke suaminya yang sudah berdiri dengan wajah yang basah, karena sebelumnya pria itu meminta Nesa untuk mengambilkan air dingin di mana saja. "Apa benar aku cuma pelampiasan, Bang?" Fimi menekankan kalimatnya.


"Nggak, Sayang. Aku sayang sama kamu, Alisa cuma masa lalu aku," bantah Dava.


Fimi kini berbalik kembali ke arah wanita di hadapannya. "See?"


"Kamu jahat, Dav. Aku masih sayang sama kamu, padahal tadi kita sudah bercumbu, kan?" Alisa meminta persetujuan Dava, tetapi pria itu membantahnya.


Alisa kini mendorong Fimi dengan kuat, hingga wanita itu terpundur beberapa langkah, untung saja Dava berhasil menangkapnya. Kemudian wanita bergaun putih itu mengamuk tak terkendali dan melempar barang apa saja yang ia temui.

__ADS_1


"Kalian semua jahat!" teriaknya.


Bersamaan itu, datang seorang pria bertopi lebar warna hitam dengan dua pria lain yang memegangi seorang anak laki-laki dan wanita berambut pendek.


"Mimi!"


Fimi dan Dava menoleh ke belakang dan terkejut saat melihat putra kecilnya diikat dengan tali di kedua tangannya, tetapi tidak dengan Tari. Wanita itu tersenyum sinis ke arah mereka.


"Fir!" Fimi akan berlari ke arah putra kecilnya, tetapi ditahan oleh Nesa dan Dava.


Sementara itu, Alisa ditenangkan oleh seorang wanita berbaju hitam juga.


"Selamat datang, Davanka! Apakah masih ingat denganku?" Pria paruh baya itu membuka topinya dan tersenyum miring ke arah Dava.


"Bang?"


"Silakan sakiti Alisa, dan aku akan melakukan hal yang sama pada putra kecilmu, oh tidak putra istrimu, heh," ledek pria itu.


"Abimana? Apa yang kau inginkan?" desis Dava geram.


"Apa? Abimanyu?" Dava dan Fimi berucap berbarengan. Wanita yang selama ini dicari oleh Dava ternyata ada di depannya dan tinggal di rumahnya.


Tari menatap sinis ke arah Dava dan Fimi. "Aku ingin dia merasakan seperti apa yang suamiku rasakan."


Tanpa terduga beberapa orang sudah mengepung Dava dan hendak menghajar pria itu, tetapi dengan sigap Fimi melindungi suaminya yang masih dalam pengaruh obat siyalan itu. Baku hantam pun terjadi, kini Fimi dan Nesa yang mengerahkan semua tenaganya untuk melawan anak buah Abimana.


Dava terkejut saat istrinya ternyata jago bela diri. Pria itu juga akhirnya tak tinggal diam, ia ikut melawan beberapa pria yang akan menghajar istrinya dan Nesa.


Pertarungan itu pun dimenangkan oleh Fimi dan Nesa. Semua pria itu terkapar di lantai dengan wajah babak belur. "Wah! Ternyata Nyonya Dava hebat juga." Abimana bertepuk tangan sambil mendekati mereka.


"Mimi, hebat!" teriak Fir, tanpa tahu bahwa dirinya sedang dalam bahaya.

__ADS_1


Fimi menjadi kurang fokus saat mendengar suara putra kecilnya. Sampai akhirnya, dalam sekejap dirinya sudah berada dalam dekapan Abimana. Pria itu menyilangkan lengannya di leher Fimi dengan menodongkan sebuah pistol di pelipisnya.


"Kamu lebih memilih wanita yang sudah memiliki putra dari pria lain daripada Alisa, Hah! Di mana otak kamu, Dava? Wanita ini bahkan bekas orang lain," bentak Abimana.


Fimi memegang lengan pria itu dan menahannya agar tak mencekik lehernya. Suasana saat ini begitu tegang, bagi mereka. Apalagi ada Fir di sana.


"Mimi!" Anak itu berteriak histeris saat melihat keadaan maminya.


"Fir, Sayang. Tenang ya, Mimi nggak apa-apa. Fir tutup mata ya, Sayang," ucap Fimi berusaha tetap tenang. Sementara Dava sedang mencari cara agar bisa melepaskan sang istri dari pria jahat di depannya.


"Alisa sudah memilih pria lain, Om." Dava mencoba membujuk pria paruh baya itu.


Namun, sepertinya Abimana benar-benar serius dengan ucapannya. "Jika kau mendekat, aku akan menarik pelatuknya dan kepala istrimu akan pecah!"


"Selamat menikmati Tuan Dava. Suamiku akan tenang di sana setelah melihat dirimu akan sengsara seperti apa yang telah kau lakukan padaku," sela Tari yang kini melipat kedua tangannya.


"Tari, dengar! Bukan aku yang membunuh suamimu," papar Dava yang masih tetap waspada.


Fimi sedang mencari celah agar bisa lepas dari pria paruh baya ini. Saat Abimana lengah, ia menginjak kaki Abimana dan menyikut perut pria itu dengan kuat, sampai akhirnya ia pun terlepas dari Abimana. Namun, ternyata Abimana sudah menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkan pada Dava, hingga akhirnya. "Dor!" Dava tertembak di bagian bahunya.


"Bang Dava!" Fimi berteriak dan berlari ke arah suaminya.


"Sayang, awas!" Dava kini membalikkan posisi dirinya hingga akhirnya ia kembali tertembak di bagian punggung.


"Abang!" Fimi berteriak saat Dava ambruk di tubuhnya. Abimana tertawa puas melihat musuhnya sudah terkapar.


Fimi yang sudah memuncak amarahnya, kini mendorong tubuh suaminya ke samping dan berdiri menghampiri Abimana yang masih memegang pistolnya


"Lo udah bangunin singa tidur!" bentaknya. Saat Fimi akan menyerang pria itu, Abimana langsung kembali menarik pelatuk pistolnya dan suara letusan itu pun terdengar untuk ketiga kalinya.


"Mimi!"

__ADS_1


Bersambung


Aku bilang tamat tapi keknya tetep sepi yang gerakin jempolnya, jadi ya udah aku nulis lagi sampe tamat.


__ADS_2