Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Marah


__ADS_3

Pria dengan kemeja berantakan itu berjalan menuju rumah Fimi, setelah menutup pintu mobilnya dengan sangat keras. Nafasnya terlihat memburu dengan tangan mengepal. Saat pria itu masuk tanpa permisi, dia melihat pemandangan Fir yang sedang melompat kegirangan bersama sang mimi. Namun, pria itu langsung memprotes saat mendengar wanita cantik itu akan menikah dengan Davanka.


"Siapa yang mau menikah dengan Dava?" Keduanya terlihat kaget.


"Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku dulu?" Pria itu terus bertanya.


"Sebentar-sebentar, jangan marah-marah dulu." Fimi menatap pria itu seperti biasa.


"Aku nggak terima, pokoknya. Aku udah lama cinta sama kamu, kenapa dengan mudah kamu menerima pria lain. Apa kurang aku, Fi?"


"A-apa? Kamu jangan bercanda?" Fimi terkejut dengan pernyataan itu.


"Menikahlah denganku, Fimi!"


"Kamu jangan gila!" Fimi setengah membentak ke arah pria itu.


"Mimi, siapa dia? Kenapa Fil belum pelnah melihatnya.


"Aku, pipimu, Fir."


"Hey! Fimi menarik tangan pria berkulit eksotik itu ke ruangan lain.


"Fir tunggu di sini ya, ini teman Mimi, Sayang." Fimi membujuk sang putra agar tetap di tempatnya. Fir mungkin lupa dengan Vano, karena pria itu memang jarang bertemu dengan Fimi, saat bertemu dengan Fir saat anak itu berusia sekitar dua atau tiga tahun. Bahkan saat Fimi berpura-pura menjadi tunangannya pun saat ke acara tahunan kantor Dava, anak kecil itu belum bertemu.Jadi, wajar jika ia tak mengingatnya.


Saat ini Vano dan Fimi berada di ruang depan, pria itu tak melepaskan genggaman tangannya. "Aku tahu ini bikin kamu shock, Fi, tapi aku serius dengan perasaan aku," ucap Vano.


Fimi mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Vano. Walau pria itu menahannya, tetapi akhirnya Fimi berhasil melepaskan tangannya. "Kamu jangan gila, Van. Cukup permintaan kamu yang selalu bikin gue gila dulu."


"Aku serius, ternyata cuma dengan kamu aku nyaman, Fi." Vano mengiba.


Fimi melipat kedua tangannya di depan dada. "Ini ngomong-ngomong kenapa gue jadi ngomong aku-kamu? Lo lagi ngeprank gue, kan, Van. Udah deh nggak lucu."


Namun, pria itu malah mengepalkan tangannya, lalu mendorong tubuh Fimi hingga wanita itu membentur tembok. "Aku serius, Fimi. Aku minta batalin pernikahan kalian. Kamu belum tahu siapa Dava sebenarnya." Vano memegang kedua bahu Fimi, hingga wanita itu meringis.


"Lepasin gue, sakit, Vano!" Fimi mendorong tubuh tinggi Vano. Namun, apa yang dilakukan pria itu membuat Fimi merasa dikhianati. Pria itu mencengkram dagu Fimi dan mendekatkan wajahnya.


"Vano, lepasin gue, sakit!" pekik Fimi.


Saat Fimi makin terhimpit, tiba-tiba seseorang datang dan menarik tubuh Vano dengan kasar.

__ADS_1


Fimi bernafas lega dan memegang bahunya yang sakit.


"Bang Angka," lirih Fimi saat pria itu mencengkram kerah kemeja Vano dengan tatapan tajam.


"Dia tunangan gue, lo lupa?" Vano masih diliputi emosi, sehingga dia tak melihat dengan siapa dia bicara.


"Heh, pura-pura tunangan, jangan lupa, Tuan Vano. Karena saat ini dia adalah calon istri saya." Dava menarik satu unjung bibirnya mengejek.


"Kurang ajar!" Vano mendorong Dava dan mulai melayangkan pukulannya, hingga tak terelakkan lagi, mereka beradu fisik. Walaupun Fimi sudah berteriak agar mereka berhenti, tetapi keduanya sama-sama masih dikuasai oleh amarah.


Sampai akhirnya, Fir datang. "Mimi, kenapa libut sekali?" Anak kecil itu bertanya dan melihat semua adegan di depannya.


Fimi berlari menggendong putranya, dan kembali berucap, "Stop! Jika kalian masih ingin berantem silakan cari tempat lain, dan jangan pernah temui aku lagi!"


Dava yang saat ini sedang berada di atas tubuh Vano, hendak melayangkan kembali pukulannya, tiba-tiba berhenti, saat mendengar ancaman Fimi. Apalagi saat tahu, Fir ada dalam gendongan wanita itu.


Dava langsung berdiri diikuti oleh Vano. "Kita sebentar lagi akan menikah, Fi." Dava menghampiri wanitanya.


"Fil, takut, Mimi." Fir memeluk erat leher Fimi dan membenamkan wajahnya di bahu perempuan itu.


"Kamu lihat, kan? Aku nggak yakin bisa lanjutin semuanya," ucap Fimi lirih, matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku yang akan menikah dengan kamu, Fi." Vano menyela ucapan keduanya.


"Fil, takut!" Anak kecil itu kini menangis histeris. Fimi pun langsung membawa putranya ke dalam, setelah menyuruh keduanya keluar dari rumahnya.


Fimi menenangkan putranya, dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Apalagi saat ini mereka hanya berdua di rumah. Marina dan Hendra sedang mengurus persiapan pernikahannya.


Fimi terus memeluk Fir dan mengusap kepala anak kecil itu. Sampai akhirnya, Fir pun tertidur di pangkuannya.nsetelah dirasa sudah lelap, Fimi pun menidurkan putranya ke kamarnya.


Setelah itu, ia membereskan kekacauan di ruang tamu yang tadi dibuat oleh Dava dan Vano. "Kalian berdua memang selalu membuat aku gila." Fimi mengacak rambutnya.


Sekitar satu jam Fimi membereskan semuanya, baru saja ia duduk di sofa, tiba-tiba suara deru mobil terdengar di halaman. Fimi yakin, kalau yang datang adalah orang tuanya.


Namun, saat Fimi membuka pintu depan, ternyata itu adalah mobil Dava. Fimi bergegas kembali ke dalam dan menutup pintunya, tetapi kalah cepat, karena Dava menahan pintu itu dengan kakinya.


"Tolong biarkan aku masuk, Sayang," bujuk Dava yang mencoba membuka pintu yang ditahan Fimi dari dalam.


"Pergi!"

__ADS_1


"Aku minta maaf, aku mohon kita harus bicara." Dava terus membujuk calon istrinya.


"Pergi!" Satu kata itu yang kembali keluar dari bibir Fimi.


"Jika, kamu tidak membuka pintunya, jangan salahkan aku jika aku berbuat lebih." Dava akhirnya mendorong kuat pintu itu, hingga akhirnya terbuka dan Fimi mundur.


Setelah Dava masuk dan kembali menutup pintunya, Fimi berbalik hendak meninggalkan Dava. Namun, lagi-lagi Dava berhasil menahannya, pria itu memeluk tubuh Fimi dari belakang, hingga wanita itu berontak.


"Lepasin aku!" pekik Fimi.


"Aku tidak akan melepaskan kamu, sebelum kamu mau berbicara dengan aku." Dava menempelkan dagunya pada bahu Fimi.


"Lepas!" Fimi kini menginjak kaki Dava dengan keras hingga akhirnya kedua tangannya terlepas.


Fimi berbalik menghadapnya. "Pintu keluar ada di sana, silakan pergi!" geramnya.


Dava yang kini berdiri di depannya, menatap teduh ke arah calon istrinya yang masih terlihat marah. "Maafkan aku, Fi. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


Namun, Fimi kembali tak peduli, wanita itu hendak berbalik, sampai Dava bertanya keadaan Fir.


"Dia baik-baik saja," ucap Fimi.


"Syukurlah." Dava berjalan mendekat ke arah Fimi, tetapi dicegah oleh wanita itu.


"Jangan mendekat! Lebih baik kamu pulang."


Namun, perkataan Fimi tak digubris oleh Dava, sampai akhirnya pria itu berhasil menahan Fimi yang akan pergi menjauh. "Aku minta maaf atas kejadian tadi, aku tahu aku terlalu emosi hingga membuat aku berkelahi dengan Vano tadi."


"Dia, Vano. Sahabat aku. Aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri." Fimi menjawab tanpa melihat ke arah Dava.


"Kamu itu calon istri aku, Fi. Aku nggak mau kamu disentuh oleh dia. Aku nggak suka."


"Dia itu cuma temen aku. Udah deh jangan cari alasan. Sekarang masalahnya Fir menjadi histeris dan takut pada kalian. Aku nggak mungkin menikah dengan orang yang Fir takuti."


"Tapi, Fi ...."


"Keputusan ada pada Fir sekarang."


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading


Makasih buat kalian yang masih nunggu upnya Babang Dava sama Fimi.


__ADS_2