
Hari terus berganti, bulan pun terus berputar. Sudah satu bulan sejak pengiriman foto masa lalu Dava dan Alisa, tetapi semuanya aman-aman saja. Bahkan Abimana yang hendak bertemu dengan Dava pun membatalkan pertemuan mereka secara sepihak.
Fimi juga makin mahir mengasah dirinya dalam bela diri, tentu saja hal itu tanpa sepengetahuan sang suami. Namun, kali ini Fimi merasa tiap pagi selalu merasakan mual yang luar biasa, tetapi saat siang menjelang dia kembali biasa.
Saat Dava menawarkan untuk memeriksakan dirinya ke dokter, wanita itu selalu menolaknya. Fimi selalu beralasan mungkin ini hanya karena masuk angin biasa. Akhirnya Dava pun hanya bisa menuruti kemauan sang istri. Ada satu hal lagi yang membuat sang istri terlihat berbeda, ia begitu manja dan sangat posesif akhir-akhir ini.
Hari ini seperti biasa Dava pergi ke kantor, dan Fimi mengantar sang putra ke sekolahnya. Tidak ada yang aneh pagi ini, semuanya berjalan seperti biasa. Namun, Fimi merasa tak enak hati saat dirinya sudah berada di butik, bahkan beberapa kali ia melakukan kesalahan.
"Lo kenapa sih, Fi? Kaya orang bingung gitu," tanya Nesa akhirnya yang sejak tadi memperhatikan atasannya itu.
"Entahlah, gue juga nggak tahu, tapi gue kok ngerasa nggak enak hati dari tadi." Fimi menutup laptopnya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Nesa pun mendekat dan duduk di hadapan wanita yang sedang memegang pelipisnya itu. "Kamu nggak lagi berantem sama Pak Dava, kan?"
Fimi menggelengkan kepalanya. "Kita baik-baik saja."
Nesa pun mengangguk, dengan ragu ia pun bertanya kembali. "Kalau suster Fir gimana?"
Fimi kini mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dia biasa aja sih sekarang, malah nggak keliatan tepe-tepe sama laki gue.""Tuh kan beneran keburu insyaf keknya, Fi." Nesa terkekeh geli. "Kalah sebelum berperang."
"Iya kali ya, gue juga biasa aja kok sebenernya kalau dia nanyain laki gue," jawab Fimi yang kini kebali menyandarkan tubuhnya.
Bersamaan itu notif pesan berbunyi dari pnsel Fimi. Wanita itu pun langsung membukanya dan ternyata sang suami yng mengirimi pesan bahwa Fir nanti akan pulang bersama dirinya.
"Katanya sibuk, tapi kok bisa jemput Fir sih?" Fimi terdengar menggerutu.
"Kenapa sih?" Siapa yang chat?" Nesa jadi penasaran setelah melihat reaksi sahabatnya itu.
"Laki gue, katanya dia yang akan jemput Fir."
"Lo nggak mau nyamperin?"
__ADS_1
Fimi menggelengkan kepalanya dan melempar ponselnya begitu saja. "Hari ini kan kita ngeluarin koleksi kita yang baru, jadi biarinlah, toh Fir juga pulang sama pipinya.
"Iya juga sih, pelanggan baru kita juga bakal pada datang, Fi." Nesa bersemangat.
Hari pun mulai beranjak siang butik Klarisa sudah penuh dengan pelanggan yang yang akan membeli koleksi baru dari butik itu. Fimi dan Nesa tampak sibuk hingga sore menjelang.
Kesibukan mereka tak luput dari pantauan seseorang dalam mobil hitam yang membawa seorang wanita berambut pendek dan anak laki-laki berseragam paud dalam keadaan terlelap.
"Let's play baby!" Seringai dari pria itu begitu menyeramkan.
Sekitar jam lima sore, butik mulai sepi, Fimi pun memutuskan untuk pulang. Fimi mengecek ponselnya, ada beberapa pesan dari sang mami bertanya tentang keberadaan putranya yang sampai saat ini belum juga pulang.
Fimi awalnya biasa saja, mungkin Fir diajak jalan-jalan oleh Dava, tetapi ia juga mulai merasa cemburu jika benar mereka jalan-jalan bertiga. Fimi pun memberitahu mmi mertunya bahwa Fir ada bersama Dava jadi mereka tak perlu khawatir.
Fimi pun mulai menghubungi ponsel suaminya, saat menghubungi Tari, wanita itu tak mengangkatnya.
"Apa-apaan mereka masamain sampai sore gini? Nggak ngehubungin orang rumah lagi." Fimi mengomel sambil terus menghubungi ponsel suaminya.
"Apa-apaan ini? Siapa lo?" Fimi mengepalakan tangannya geram.
"Al apa yang kamu lakukan?" Itu adalah suara Dava dengan nafas yang memburu juga.
"Siyalan! Bang kamu lagi di mana?" bentak Fimi mulai kehilangan kontrolnya.
"Fi, ada apa?"
"Dava ayolah aku sangat merndukanmu," ucap wanita dari ponsel Dava.
Fimi langsng menyambar kunci mobilnya dan dan mematikan sambungan teleponnya, ia juga mengajak Nesa untuk ikut bersamanya.
"Nes, lo bisa lacak ponsel laki gue ada di mana, kan?" Fimi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Nesa langsung melakukan tugasnya dan melacak ponsel Dava.
__ADS_1
Tak berselang lama, Nesa sudah mendapatkan posisi Dava ada di mana. "Pak Dava ada di Puncak, Fi, Villa Green."
Fimi pun langsung tancap gas untuk mencapai ke sana. Bisa-bisanya dia bermain serong sambil mengajak putranya.
Perjalanan mnuju ke sana cukup memakan waktu apalagi kemacetan di ibu kota sudah menjadi rutinitas penduduk di sana. Fimi dan Nesa akhirnya samapi ke tempat tujuan. Wanita itu bisa masuk dengan leluasa karena di sana tidak ada pejagaan yang ketat bahkan bisa dibilang sepi.
"Fi, lo yakin kita aman?" bisik Nesa saat mereka membuka pintu villa itu.
"Walaupun nggak aman gue harus tetap masuk buat mastiin keadaan Fir, Nes." Fimi mengendap-endap memasuki villa itu.
"Lepasin gue, Alisa!" Terdengar suara pria dari lantai dua.
"Aku nggak mau kehilangan kamu, Dava."
Fimi dan Nesa langsung berlari ke lantai atas. Mereka ingin memastikan kalau mereka adalah Dava, suami dari Fimi. Keduanya menyusuri ruangan yang ada di lantai atas, sampai akhirnya merek mendengar suara ribut dari arah kamar yang berada di ujung ruangan.
"Aku sudah menikah, kamu juga kan, Al?" Dava mencoba membujuk wanita yang saat ini terus menyergapnya. Apalagi dengan siyalnya pria itu sudah diberi minuman yang mengandung obat perangsang sepertinya.
"Gue mohon jangan dekat-dekat!"
Bersamaan itu pintu terbuka dan Fimi berada di hadapan mereka yang saat ini sedang berpelukan. "Bang?" Fimi memekik kaget saat melihat suaminya yang sedang dipeluk erat oleh wanita yang Fimi merasa familiar dengan wajah itu.
"Sayang? Dengerin aku dulu!" Dava mendorong tubuh Alisa dengan agak kasar hingga wanita itu hampir saja tersungkur.
"Di mana Fir, Bang? Kamu bilang kamu akan jemput Fir?" Fimi terkejut saat tak melihat sang putra di sana. Wanita itu menjadi khawatir dan panik, ia bahkan tak peduli saat Dava dipeluk oleh wanita lain.
"Fir?Aku nggak jemput dia, Sa-sayang." Dava mulai menahan nafasnya saat berdekatan dengan Fimi, wajahnya sudah memerah.
"Kamu jangan main-main, Bang? Tadi kamu yang chat aku kalau kamu yang akan jemput Fir?" Fimi masih saja mendebat suaminya sampai tak menyadari apa yang akan dilakukan oleh lawannya.
"Awas, Fi!" Nesa berteriak
__ADS_1
Tamat