Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Semangat Baru


__ADS_3

Dava baru saja memasuki gerbang rumah Kavindra, bahkan ia berpapasan dengan mobil lain yang baru keluar daru rumah itu. Dava seperti pernah melihat mobil itu, tetapi ia lupa mengingatnya di sana, dengan tak acuh pria itu masuk ke dalam rumah bercat putih tulang itu, karena pintunya masih terbuka lebar.


"Dava?"


"Iya, Sha, abis ada tamu ya?" Pria itu duduk dan bertanya santai pada Riri yang hendak kembali ke dalam.


"Iya, itu temennya si kembar," jawab Riri.


"Siapa?" Dava berharap kalau temannya si kembar itu adalah putra dari wanita tujuannya.


"Fir, itu lo putra pemilik butik langganan aku, Dav. Kenapa?" Jawaban itu membuat Dava mengacak rambutnya.


"Kamu kenapa?"


"Ish, aku telat datang ke sini, pantesan pengen ke sini dari pagi," ujarnya yang membuat Riri tambah bingung.


"Makan dulu gih! Datang-datang kayak orang stres, kenapa sih?" Riri menatap heran adik ipar sekaligus mantan kekasihnya itu.


Bersamaan itu Kavindra masuk ke rumah, pria jangkung itu baru saja pulang dari kantornya.


"Ada tamu ya, Sayang?" Pria itu mencium kening istrinya.


"Adik kamu, Pi." Riri menunjuk ke arah Dava yang sedikit berantakan penampilannya.


"Lah abis tawuran di mana, Dav?" tanya Kavindra sambil terkekeh yang membuat Dava berdecak sebal.


"Apaan sih, Bang."


"Udah makan belum, Pi?" Wanita yang merangkul pinggang suaminya itu bertanya.


"Udah, Sayang."


"Bisa nggak sih, nggak usah mesra-mesraan di depan Dava?" gerutu pria itu.


Namun, bukan menurut kini Kavindra malah memeluk erat tubuh istinya dan menciumi seluruh wajah dan bibirnya.


"Ish, salah gue datang kemari," sesalnya.


Kavindra tergelak melihat sang adik. Kemudian menyuruh sang istri untuk membuatkan kopi untuk mereka berdua.


Kini pria yang baru pulang kerja itu duduk di samping sang adik dan menepuk bahunya.


"Kamu kenapa? Bukannya lagi cuti ya?"


"Dava ke sini mau minta ...." Pria itu tak melanjutkan ucapannya.


"Minta apa? Riri? Maaf ya dia udah jadi milik Abang," tegas pria itu.


"Ish, bukanlah, Dava nggak segila dulu ya, Bang. Dava udah tobat, Abang masih dendam sama Dava?"

__ADS_1


Kavindra menggelengkan kepalanya. "Nggaklah, ngapain yang lalu biarlah berlalu," ucap Kavindra.


"Kamu tuh kayak orang bingung, kenapa sih? Cerita aja biasanya juga!" tebak sang abang.


Dava pun menghela nafasnya dan kini bersandar pada sofa. "Dava ketemu cewek cantik, menarik, tapi ... udah punya anak," bisiknya.


"Hah, kamu suka sama istri orang? Please Dav, cukup sama Abang kamu kayak gitu," pekik Kavindra yang membuat Dava mendesah lemas.


"Nggak bukan gitu ceritanya, Bang."


"Terus?"


Dava pun menceritakan pertemuan pertamanya dengan wanita itu yang ternyata pemilik butik langganan Riri. Jadi, pria itu datang ke sini untuk meminta nomor telepon wanita itu.


"Kamu pernah nganter ke rumahnya, kan? tanya Kavindra dan anggukkan itu ia dapatkan dari sang adik.


"Ngapain minta nomor kalau rumahnya udah tahu, Dava?" Kavindra terlihat gemas sekali dengan sang adik.


"Terus Dava kalau ke rumahnya mau alasan apa, Bang?"


"Abang jadi ragu kalau dulu kamu mantan playboy." Kavindra memicingkan netranya pada sang adik yang langsung mendapat decakan dari pria di sampingnya.


Kavindra tergelak, dan sang istri pun datang dengan nampan berisi kopi dan makanan kecil. "Maaf lama, Pi," sesal sang istri.


"Nggak apa-apa, sini duduk!" Kavindra menepuk sofa kosong di sebelahnya.


Riri pun duduk di samping sang suami. Dava tahu bahwa tidak akan ada rahasia diantara mereka, jadi pria itu pasrah saat kegalauan hatinya diketahui oleh kakak ipar yang notabene mantan kekasihnya.


Riri tidak terkejut, karena sebelumnya wanita itu sudah melihat gelagat Dava.


"Kamu mau nomor Fimi?" Riri mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya.


"Nggak usah, Yang. Biar dia dapatkan sendiri." Kavindra mencegah sang istri.


"Kenapa?" Riri mendongak menatap sang suami.


"Biar dia usaha sendiri, Sayang. Kali aja yang sekarang beneran jodohnya ... eh tapi istri orang ya?"


"Aku denger sih, dia single parent, Pi. Nggak tahu dia itu bercerai dengan suaminya atau mungkin suaminya meninggal," ucap Riri.


"Terus yang di taman bermain waktu itu siapa?" tanya Dava penasaran.


"Yang mana, kapan?" Riri mengerutkan keningnya.


"Ish, itu saat Aksa tiba-tiba ilang karena kebawelan kamu," sinis Dava yang membuat Riri mendelik sebal.


"Dia anak aku, aku bawel juga buat kebaikan mereka," balas Riri.


"Sudah-sudah, ini yang kita bahas bukan itu, Sayang." Kavindra menenangkan sang istri.

__ADS_1


"Sebentar, cowok yang gendong Fir, kan waktu itu?" Riri mengingat-ingat kejadian saat itu.


"Oh, aku ingat cowok tinggi yang brewokan ya? Aku sih nggak tahu, tapi beberapa kali sering lihat mereka bareng sih," jawab Riri.


"Tapi aku lihat waktu itu, mereka nggak kaya suami istri, beda aja gitu," sela Dava.


"Ya udah itu tugas kamu buat cari tahu tentang dia." Kavindra memberi saran.


"Fimi itu orangnya tertutup soal masalah pribadinya, beda sama asistennya, dia mah sering banget cerita ke aku," ujarĀ  Riri.


"Kalau gitu aku tahu apa yang harus aku lakuin, makasih ya Kakak Ipar." Dava beranjak dan hendak memeluk Riri. Namun, dihadang oleh Kavindra.


"Nggak ada peluk-peluk, enak aja dia istri Abang," omel pria itu.


"Ish, dikit doang, Bang."


"Nggak!"


Saat perdebatan itu berlangsung tiba-tiba kaki Dava dirangkul oleh seseorang. "Om Dava kapan ke sini?" Aksa adalah pelaku rangkulan di kaki Dava.


"Tadi, Sayang." Dava langsung menggendong putra sulung dari Riri.


"Om Dava!" teriak seorang anak perempuan juga terdengar dan terlihat berlari ke arahnya.


"Aku sebagai papinya jadi iri, kenapa mereka malah merindukan Dava dibanding aku, Mi." Kavindra berucap pada sang istri.


"Kalau sama kamu kan ketemu tiap hari, Pi." Riri menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari kedua anak kembarnya.


"Jadi, nggak ada yang rindu Papi?" Kavindra merentangkan kedua tangannya.


"Ale Papi." Gadis kecil itu berlari ke arah sang papi. Pria itu langsung menggendong sang putri.


"Ya udah, aku sama Bibi mau nyiapin buat makan malam dulu, Pi. Kamu makan malam di sini kan, Dav?" Riri menoleh pada pria yang sedang menggendong putra kecilnya.


"Iya dong, aku masih kangen sama mereka." Tunjuk Dava pada Aksa dan Ale yang masih berada di pangkuan papinya.


"Oke." Wanita cantik itu pun berlalu meninggalkan kedua pria dewasa itu bersama anak kembarnya.


Riri dan Bi Sumi sibuk menyiapkan makan malam mereka. Kedatangan Dava membuat rumah itu tambah ramai. Apalagi kedua putra-putrinya itu sangat dekat dengan Dava.


Namun, bagi Dava kedatangannya ke rumah sang abang, membuat dirinya semangat untuk mengejar masa depannya.


"Tunggu aku di tikungan ya cantik."


Bersambung


Happy Reading


Beuh Bang Dava mau main di tikungan katanya, awas ketabrak ya, Bang.

__ADS_1


Jan lupa jempolnya ya bestie...


__ADS_2