Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Panik


__ADS_3

Riri baru saja menerima panggilan telepon dari sang mama, sehingga wanita itu menitipkan putranya pada Sera, sang adik. Namun, saat wanita itu kembali Sera dan Aksa sudah tak berada di sana. Riri pun mencari dan menghubungi Sera, wanita itu bilang


sedang berada di toilet.


Riri pun menunggu di tempat yang sama, tapi saat sang adik datang sendirian, Riri mengerutkan keningnya. "Aksa mana?"


"Tadi dia bilang mau ke Om Dava, Kak, karena diajak ke toilet dia nggak mau," ucap Sera.


"Oh, yaudah kita cari Dava, tadi sama Ale sama Bang Kavin juga, kan?" Riri berjalan menuju tempat suaminya. Namun, di sana hanya ada sang suami dan putri kecilnya.


"Bang, Aksa ke sini nggak?" tanya Riri masih santai. Namun, wanita cantik itu mulai terlihat khawatir saat suaminya menggelengkan kepala.


"Kalau Dava ke mana?" 


"Dava tadi ke arah sana, udah cukup lama juga, kenapa?" Kavin menggendong sang putri dan menghampiri istrinya.


"Aksa nggak ada, Bang …." Riri mulai panik.


Kavin tahu bahwa sang istri saat ini sedang khawatir, tetapi pria tampan itu berusaha untuk tetap tenang agar istrinya tak panik. "Ayo, mungkin ke arena mainan lain, kita cari bareng-bareng, Sayang."


Riri yang mata cantiknya sudah mulai berkaca-kaca, langsung tersenyum dan mengangguk. Kavin dan putrinya pergi ke sebelah kanan, Sera ke sebelah kiri dan Riri ke depan. Riri terus berlari sambil memanggil nama putranya. Sampai akhirnya wanita cantik itu melihat sosok yang dikenalnya.


"Dav, kamu lihat Aksa nggak?" Riri menarik lengan baju adik iparnya.


"Nggak bukannya sama kamu?" Dava menjawab apa adanya.


"Apa?" Riri makin panik dan kini air mata yang sudah ia tahan luruh juga.


Adegan itu tak luput dari perhatian Fimi dan Arya juga Fir yang masih berada di sana.


"Mbak Risha, kan?" tanya Fimi setelah melihat Riri.


Riri menoleh. "Iya, eh Fimi kan pemilik butik Klarisa?" 


Fimi hanya mengangguk, kemudian wanita itu menawarkan diri untuk ikut mencari Aksa. Sementara itu, Davanka baru menyadari bahwa ternyata wanita itu adalah pemilik butik, tempat kantornya memesan baju.


"Fil mau main pelosotan, Pi." Anak kecil itu merengek, sepertinya dia memang belum mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.


"Ayo, Sayang!" ucap Arya.


"Aku titip Fir dulu ya, Ar," ucap Fimi pada pria yang sedang menggendong putranya.


"Iya, kamu tenang saja, Fir aman sama aku," jawab pria sambil mengusak rambut Fimi, hingga wanita itu mendelik kesal. Sementara Davanka yang melihat adegan itu memalingkan wajahnya.


Sementara Riri sudah pergi dari sana mencari putranya.


"Eh, Mbak Rishanya ke mana?" tanya Fimi pada Davanka.

__ADS_1


"Ke arah sana!" Dava menunjuk ke arah depan.


"Ya udah aku nyari ke sebelah sini!" ucap Fimi berlawanan arah dengan Riri, tetapi ternyata Dava justru mengikuti wanita itu.


Namun, tanpa pria itu duga tiba-tiba Fimi berbalik dan langsung menubruk dada bidang Dava.


"Aduh! Eh maaf." Fimi mengusap keningnya yang bertabrakan langsung dengan pria itu.


Dava mengulum senyumnya. "Tidak apa-apa, mau ke mana balik lagi?"


"Eh, aku mau tanya Aksa pakai baju apa, mm … Pak Dava?"


"Panggil Dava saja, atau Mas, Abang juga boleh," ucap Dava dengan senyum yang masih terukir di bibirnya.


"Oh iya, Bang. Aksa pakai baju warna apa tadi?" ulang wanita itu.


"Pakai kaos warna putih, gambarnya foto dirinya sendiri," jawab Dava lalu kembali berjalan mencari keponakannya.


"Mudah-mudahan cepat ketemu ya, mana hari ini rame banget lagi," ujar Fimi sambil terus mencari anak berbaju putih. Fimi memang mengenal Aksa, karena anak itu teman Fir di sekolah. Dava terus mengikuti wanita di sampingnya. Namun, perhatiannya justru malah ke arah wanita itu bukan fokus mencari Aksa.


Sampai akhirnya, Fimi menemukan anak kecil berbaju putih sedang duduk di kursi. Fimi berlari menghampirinya. Ternyata memang benar Aksa.


"Aksa kamu nggak kenapa-kenapa, kan Sayang?" Fimi memegang bahu kecil anak lelaki itu.


"Ateu Mimi, ngapain di sini?" tanya anak kecil polos.


"Ngapain nyariin sih, Aksa kan udah gede, mau main sendiri, malas ditungguin mami, teriak-teriak mulu," jawab anak kecil itu sambil melipat kedua tangannya.


Dava menepuk keningnya, kalau saja keponakannya itu sudah besar ingin rasanya ia memukul kepala anak itu.


Fimi duduk di samping Aksa sambil memeluk bahu anak kecil itu.


"Itu tandanya mami sayang sama Aksa, Tante juga suka gitu sama Fir." Wanita itu menarik dagu anak kecil itu agar menoleh ke arahnya.


"Iyakah, Ateu?" Aksa bertanya.


"Tentu saja, tidak ada seorang pun ibu yang mau anaknya celaka, kamu tahu bagaimana tadi mami nyariin kamu sampai nangis-nangis?" Fimi menasihati Aksa dengan lembut hingga membuat Dava makin tertarik pada wanita di depannya.


"Mami nangis? Ayo Ateu kita ke mami, Aksa nggak mau mami nangis lagi," ajak anak kecil itu sambil berdiri dan menarik tangan Fimi.


"Kita tunggu di sini saja, biar Ateu telepon mami dulu ya." Wanita yang mencepol rambutnya itu pun mengeluarkan ponselnya dan langsung mencari nomor Arisha.


"Mbak Risha, Aksa udah ketemu, ini aku di dekat wahana trampolin," ucap Fimi. Setelah mengangguk dan menjawab iya, akhirnya Fimi pun menutup sambungan teleponnya.


"Sebentar lagi mami ke sini, janji nggak ulangi lagi ya, Sayang," ucap Fimi yang diangguki oleh Aksa.


Dava pun ikut duduk di samping Aksa. "Untung ada Tante Fimi, kalau nggak udah Om tinggalin kamu."

__ADS_1


Aksa yang mendengar itu hanya mendelik sebal pada sang om.


"Lagian Aksa udah bilang kan, mainnya mau sama Om, malah sama Ale sama papi juga," gerutu anak kecil itu.


"Om pusing lihatin kamu main tuh, pengen ngomel tapi anak orang, makanya mami bawel karena kamu nggak bisa diem."


"Nggak apa-apa, Fir juga sama aktif banget, kalau dilarang justru malah ngelakuin, yang penting sebagai orangtua kita harus tetap mengawasi anak-anak," sela Fimi sambil melihat ke arah Dava.


"Oh iya, ngomong-ngomong Fir tadi sama papinya ya?" Dava mengalihkan pembicaraan.


"Eh, mm ... itu ...." Tiba-tiba Fimi jadi salah tingkah.


"Mimi! Fil mau main tlampolin," teriak anak kecil dengan mata bulat itu sambil berhambur ke pangkuan sang mami.


"Eh, ada Asa, ayo main sama Fil!" ajaknya.


"Jangan dulu, Sayang sini duduk sama Mimi." Fimi menggendong tubuh mungil putranya.


Bersamaan itu Arisha dan yang lainnya datang dengan setengah berlari.


"Aksa!" Arisha berteriak dan memeluk tubuh putranya dengan erat. "Mami takut kamu kenapa-kenapa Sayang."


"Aksa baik-baik aja, Mami." 


"Dia kabur gara-gara sering diomelin kamu katanya, Sha." Dava menyela percakapan ibu dan anak itu.


"Semua gara-gara kamu sering manjain mereka, Dava." Arisha jadi menyalahkan Dava, wanita itu benar-benar marah saat ini, sampai akhirnya Kavindra pun menghampiri istrinya dan menenangkannya.


"Sudah, Sayang yang pentin anak kita sudah ketemu."


Fimi yang berada diantara mereka jadi salah tingkah dan merasa tak enak hati. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk pamit undur diri.


"Fimi terima kasih ya," ucap Arisha pada Fimi.


"Sama-sama, Mbak Risha, kalau gitu kami pamit."


"Ayo, Arya kita pulang!" ajak Fimi sambup menggendong putranya.


Pria itu hanya mengangguk dan mengikuti Fimi. Namun, hal itu ternyata selalu diperhatikan Davanka. Pria itu merasa kalau hubungan mereka tidak seperti suami istri pada umumnya.


"Gue harus nyari tahu tentang dia pokoknya," gumamnya dalam hati.


"Hei, ayo pulang!"


Bersambung


Happy Reading

__ADS_1


Nah lo udah tahu kan kalau ternyata cewek incarannya yang punya butik. Apa yang bakal dilakuin Dava ya buat dapetin Fimi. Pantengin terus ya ceritanya biar gampang tap lovenya kalau up notifnya pasti muncul, timamakasih 😘


__ADS_2