
Hari ini adalah kencan buta pertama bagi Fimi. Wanita itu sedang berputar di depan cermin menggunakan dress merah selutut. Penampilannya cukup menarik, walau wanita itu tak menyukai warna dressnya.
"Nes, perasaan gue kok nggak enak ya, batalin aja deh ya?" ucap Fimi saat berbalik dan menatap Nesa yang sedang memperhatikan penampilannya.
"Jangan dong, Fi. Gue kan bakal anter lo, pokoknya tenang aja, gue tetep awasin lo kok, nanti." Nesa mendekat dan merapikan rambut Fimi.
Fimi menghela nafasnya, ini adalah kencan pertama baginya setelah lepas dari Heru. Fimi masih menyimpan rasa takut jika harus berhubungan kembali dengan lawan jenisnya.
"Demi Fir dan Tante Marina, Fi." Nesa mengingatkan dan memberi semangat.
Fimi kembali menghela nafasnya. "Okelah, tapi anterin gue dan jangan pernah tinggalin gue, ok!"
Nesa membuat huruf O dengan jari telunjuk dan jempolnya, sambip mengedipkan satu matanya.
Jam makan siang pun tiba, Nesa dan Fimi bersiap ke Resto Prima yang sudah dijanjikan. "Katanya dia bawa bunga mawar merah, Fi." Nesa membaca chat dari kandidat pertama itu, karena sebelumnya Fimi benar-benar tak mau berhubungan langsung dengan pria itu, termasuk lewat chat, jadi Fimi menyerahkan semuanya pada Nesa.
"Dih, kenapa hari ini yang datang yang nggak gue suka sih, Nes. Lo tahu kan gue nggak suka bunga, apalagi warna merah lagi," omel Fimi sambil fokus menyetir.
"Terkadang apa yang kita nggak suka juga justru yang terbaik buat kita, Fi."
"Iyakah?" Fimi menoleh ke arah Nesa yang duduk di sampingnya, setelah mendapat anggukan dari sahabatnya itu, Fimi kembali fokus pada jalanan di depan.
Perjalanan yang mereka tempuh cukup lama, apalagi jam makan siang seperti ini, jalanan ibu kota macet. Fimi dan Nesa sibuk dengan pikirannya masing-masing, sampai akhirnya mereka samapi di tempat tujuan. Nesa memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela besar, sehingga bisa melihat pemandangan kota yang ramai.
"Udah lo duduk di sini, gue duduk di meja belakang lo, ok!" Nesa menarik salah satu kursi yang hanya diperuntukkan untuk dua orang itu.
"Nes ...."
"Fi, lo aman sama gue," ucap Nesa meyakinkan Fimi.
Fimi akhirnya pasrah, dan menunggu dan menunggu dengan perasaan tak karuan, wanita itu melihat ke arah pintu masuk, berharap bahwa pria yang akan menemuinya bukanlah om-om atau pria paruh baya.
Tak berselang lama, ada seorang pria berkemeja merah maroon dengan bunga mawar merah di tangan kanannya. Tubuhnya tinggi, dengan wajah terbilang tampan. Namun, sorot matanya terlihat jelalatan. Hal itu membuat Fimi bergidik dan ingin segera pergi dari sana.
Namun, Nesa menghampirinya dan memberi tahu bahwa yang ditunggunya sudah datang. Baru saja Nesa hendak kembali ke kursinya, seseorang menyapa mereka.
"Dengan Nona Fimi?" sapanya sambil melirik ke arah Nesa.
"Ini Fimi, saya asistennya," jawab Nesa sambil menunjuk ke arah wanita yang duduk dengan sikap tak acuh. Nesa sampai menyikut lengan Fimi. Namun, wanita itu hanya bergeming.
__ADS_1
"Senang bisa bertemu denganmu, Nona." Pria itu menyodorkan bunga mawar merah ke arah Fimi, tetapi Fimi tetap diam, sampai Nesa kembali menyikunya. Dengan terpaksa Fimi menerima benda yang tak ia suka itu.
Setelah itu, pria tinggi itu pun duduk di hadapan Fimi, dan mulai memperkenalkan diri.
"Indra Lesmana." Pria itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Fimi.
Namun, wanita itu sedikit ragu hingga akhirnya dia berkata, "Seperti yang Anda tahu nama saya Fimi Klarisa."
Nesa yang mendengar dari meja sebelah berdecak sebal mendengar ucapan sahabatnya itu. "Fimi lo nyari pasangan apa nyari masalah sih?" gerutunya dengan pelan.
Fimi dan Indra masih pada posisi masing-masing. Fimi bahkan lebih sering menunduk dibandingkan bertatapan langsung dengan pria di hadapannya. Indra terus menarik perhatian Fimi dengan menceritakan dirinya. Dari mulai usia, status dan pekerjaan.
"Aku masih single dan juga pengusaha sukses. Aku yakin kamu akan suka padaku," ucap Indra.
"Aku single parent dengan satu putra, apa masih berminat?" telak Fimi tanpa menutupi statusnya.
"Apa? Jadi kamu janda punya anak pula," sinis Indra.
Fimi hanya mengangguk santai. "Saya tidak pernah mengaku kalau saya single sejak awal, Tuan Indra."
"Okelah, tidak apa-apa janda pun jadilah kalau secantik ini." Indra mencondongkan wajahnya dan mencolek dagu Fimi. Tentu saja wanita itu menepisnya kasar, dan menatap tajam ke arah pria di depannya. "Jaga sikap Anda, jangan kurang ajar!" desisnya.
Indra tergelak mendengar ancaman Fimi. "Jangan sok suci! Janda aja sok kaya perawan."
"Lo pikir, lo siapa?"
"Bang Indra! Ternyata kamu di sini." Tiba-tiba seorang wanita dengan rambut panjang datang.
"Ka-kamu ngapain di sini, Bun?" Indra tergagap saat melihat perempuan cantik yang memanggilnya abang.
"Eh, tinggu ini siapa? Oh jadi ini pelakor yang sering kamu ajak kencan!" Wanita itu melihat Fimi sambil membentak ke arahnya.
"Eh, tunggu-tunggu, Mbak. Ini salah paham." Nesa langsung menghadang wanita itu saat hendak mendekati Fimi.
"Ini lagi siapa? Bang jelasin ke Bunda!" Wanita yang menyebut dirinya Bunda itu menoleh ke arah pria yang saat ini sedang salah tingkah.
Karena menjadi perhatian banyak orang, Nesa pun mengajak duduk keduanya, dan mengambil kursi dari meja yang ditempatinya untuk bergabung ke meja Fimi. Nesa sudah berjanji akan menghandle semuanya, jadi dia benar-benar menjelaskan kejadian sebenarnya. Wanita yang dipanggil Bunda itu sudah mengeratkan giginya hingga rahangnya mengeras menahan amarah.
"Jadi dia ngaku pengusaha sukses apa, Mbak?" tanya Bunda ke Fimi.
__ADS_1
"Entahlah saya hanya mendengar dia pengusaha sukses," jawab Fimi singkat.
"Dia itu penjual mie ayam, Mbak. Saya istrinya."
"Astagfirullah," pekik Fimi dan Nesa.
"Sudah menghina status orang, ternyata dirinya lebih rendah dari itu," ejek Fimi.
"Urusan kita sudah selesai di sini, maaf saya tidak bermaksud merebut suami Anda. Terima kasih, silakan bawa pulang suaminya," ucap Fimi lalu beranjak meninggalkan resto itu.
Sementara itu di meja lain, terlihat pria berkemeja merah maroon juga duduk bersama wanita dengan tubuh berisi. Keduanya terlihat tak memulai percakapan. Sampai akhirnya perempuan bertubuh berisi itu bertanya, "Mas Dava kerja apa?"
"Penjual asongan."
"Oh, padahal ganteng gini, kenapa nggak jadi pengusaha, Mas?"
"Tak ada modal. Lebih baik cari pasangan lain saja, saya tidak bisa menjamin hidupmu," ucap Dava.
"Iya juga sih, aku suka jajan, suka makan, kamu kayanya bukan kriteria aku walau kamu ganteng, maaf ya, Mas."
Dava hanya mengangguk dan bersumpah akan memukuli adiknya jika ia bertemu.
"Kalau gitu saya pamit," ucap Dava beranjak dan pergi begitu saja.
"Kai siyalan, bisa-bisanya ngasih gue cewek nggak jelas gitu." Dava memukul stir mobilnya, lalu pergi dari resto tersebut.
Sementara Fimi saat ini sedang menyetir dengan wajah masam. "Gue nggak mau lagi kencan buta kaya gini, Nes. Lo udah bikin gue malu dengan predikat pelakor."
"Maaf, Fi. Gue akan hubungi agennya lagi," ucap Nesa.
"Agen? Astagfirullah Nes lo kaya mau jual gue, udah stop cukup hari ini saja nggak ada besok-besok lagi." Fimi mendelik ke arah Nesa dengan kesal dan marah.
"Tapi, Fi ...."
Brak!
Bersambung
Happy Reading
__ADS_1
Eh ternyata bukan babang Dava, malah babang miayam yang datang hehee..
Jan lupa jempolnya gerakin ya bestie.