
Brak!
Mobil Fimi tiba-tiba menabrak gerobak mie ayam yang entah dari mana munculnya.
"Astagfirullah!" pekik Fimi dan Nesa berbarengan.
Gerobak mie ayam itu terguling di aspal, bersama pemiliknya. Isinya sudah jelas tumpah berhamburan di jalanan yang tidak terlalu ramai.
Fimi dan Nesa langsung keluar dari mobilnya. Keduanya berlari menghampiri si abang mie ayam itu dan bertanya mengenai keadaannya.
"Kenapa hari ini tema mie ayam yang bikin gue siyal," gumam Fimi yang hanya didengar oleh dirinya.
Pria berkaus abu itu dipapah ke pinggir jalan oleh Nesa dan Fimi.
"Maafin kita, Pak. Kita nggak sengaja," sesal Nesa.
"Tidak, tidak saya tidak apa-apa, tadi kesalahan saya karena tidak lihat kanan kiri saat menyebrang tadi." Pria yang ditaksir berusia kepala empat itu menggelengkan kepalanya.
"Sekali lagi maafin kita, Pak. Untuk kerusakan gerobaknya, kita akan tanggung jawab." Nesa kembali berucap sementara Fimi masih diam seribu bahasa.
Setelah beberapa, saat Nesa pun mengeluarkan amplop berisi uang untuk mengganti kerugian dari pedagang mie ayam itu. Nesa sebelumnya memang menyimpan uang dalam amplop, tak seperti biasanya, ternyata akan ada kejadian seperti ini.
Pria itu berterima kasih, dan tetap menolak saat Fimi akan membawanya ke rumah sakit. Pria itu beralasan bahwa dirinya baik-baik saja, dan hanya luka kecil hal itu bisa ia obati di rumahnya.
Akhirnya Fimi pun bisa kembali melajukan kendaraannya. "Ini hari apa sih, Nes?" tanya Fimi tiba-tiba.
"Hari …." Nesa mengambil ponselnya dan melihat pada layar datar itu.
"Hari siyal, Nes." Tiba-tiba Fimi berucap sebelum Nesa memberitahu hari ini.
"Ish, jangan gitulah, Fi."
"Pokoknya mulai besok gue nggak akan dengerin lo lagi buat ngelakuin hal gila kayak tadi. Gue jadi makin benci warna merah setelah kejadian hari ini," gerutu Fimi sambil mencengkram stir mobilnya.
"Maafin gue, Fi. Gue cuma mau bantuin lo."
"Maksih, tapi nggak dengan cara kaya gini."
"Iya, nggak lagi."
__ADS_1
Kini hening membentang diantara keduanya. Fimi fokus pada jalanan dan Nesa sibuk dengan ponselnya. Sampai akhirnya, mereka kembali ke butik. Fimi melempar tasnya dengan sembarang ke arah sofa, lalu duduk di sofa tunggal.
Nesa menyesal telah melakukan hal gila ini, padahal dia sudah menyeleksi calon untuk Fimi hari ini, tetapi tetap saja gagal. Dari kejadian ini, Nesa sadar bahwa tidak semua orang bisa dipercaya dan jangan melihat orang dari penampilan luar.
Tak mau berlarut-larut, Nesa inisiatif membelikan Fimi makanan kesukaannya, Mie ayam dan jus mangga.
Fimi memejamkan matanya dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar pada sandaran sofa. Sesekali ia menghela nafas.
Nesa keluar dari ruangannya pun tak disadari oleh wanita itu. Karena kejadian menyebalkan hari ini membuat Fimi dan Nesa melewatkan makan siangnya.
Tak berselang lama, Nesa kembali dengan membawa mangkuk dan satu plastik makanan.
"Nih, daripada kesel, gue udah beliin makanan kesukaan lo, Fi." Nesa menuangkan satu bungkus mi ayam pada mangkuk, dan menyimpan satu cup jus mangga.
Fimi membuka matanya pelan dan melihat makanan yang hari ini sudah membuat harinya sempurna. Ya sempurna dengan kesialan.
"Ngapain lo beli makanan siyal ini, Nes. Udah makan sana gue nggak mau, mulai hari ini gue nggak suka makanan ini." Fimi beranjak dari duduknya dan berlalu ke toilet.
"Eh, kok gitu sih, Fi. Nggak boleh ngatain makanan kaya gitu!" Nesa berteriak saat Fimi sudah menjauh.
"Gue nggak suka makan aja sendiri!" teriak Fimi dari dalam toilet.
"Ish, dia tuh kalau ngambek ngeselin banget," gerutu Nesa kemudian kembali ke sofa melihat mie ayam yang menggoda lidah seperti biasa, apalagi dengan sambel yang melimpah.
Sementara jus mangga dan jus alpukat masih tersimpan di meja dengan posisi yang sama. "Emang salah gue sih, gue kira tuh orang beneran single dan baik, lihat muka sih okelah, tapi ternyata buaya, siyalan emang," umpat Nesa sambi mengepalkan tangannya.
Bersamaan itu, Fimi keluar dengan baju yang tadi pagi ia pakai. Wanita itu bahkan melempar baju merah itu ke arah sofa dengan sembarang. Lalu, duduk di kursinya dan mulai membuka laptopnya. Sudah pasti Fimi akan bekerja tanpa mau diganggu.
"Fi ...." Nesa tak melanjutkan ucapannya, saat Fimi menempelkan jari telunjuk pada bibirnya.
Nesa pun menghela nafasnya berat, lalu ia pun kembali ke mejanya, tetapi sebelumya wanita itu memberikan jus mangga milik Fimi dan menyimpannya di meja wanita itu.
Ruangan itu hening hanya suara ketikan saat tombol-tombol laptop itu disentuh oleh pemiliknya.
Sementara itu di villa Pramudya, Dava sedang mengomel pada seseorang yang duduk di sofa sambil melipat kakinya ke atas.
"Ya udah si, kita cari kandidat lain, lagian yang montok itu **** lagi, Bang," ucap pria yang duduk di sofa itu sambil tergelak.
"Bukan masalah fisik, Kai. Abang nggak masalahin itu, cuma dia bilang gini 'ganteng sih, tapi aku suka jajan, suka makan, kalau cuma pedagang asonga', " ucap Dava menirukan wanita yang tadi kencan bersama dirinya.
__ADS_1
Kaivan tergelak saat mendengar ucapan Davanka. "Lagian, yang bener aja masa jadi pedagang asongan, nggak pilihan lain?"
"Cuma itu yang terlintas dalam pikiran Abang."
"Padahal jangan ngerendahin pedagang ya, Bang. Mereka tuh sebenernya kaya tahu? Iya orangan mainannya duit tiap hari," ucap Kai serius yang membuat Dava berdecak sebal.
"Udah mulai saat ini, detik ini, Abang nggak mau kencan buta kaya gitu lagi, berasa nggak laku banget gue sebagai cowok," tegas Dava sambil menggerutu.
Kai hanya mengangguk dan senyuman di wajahnya masih belum juga pudar, hingga sebuah bantal sofa pun melayang tepat pada wajahnya yang menyebalkan.
"Iya, iya cari aja sendiri sana! Lagian Kai juga sibuk. Kai doain semoga dapat cewek idaman Abang deh," ucap pria tinggi itu.
Dava hanya menghela nafasnya, lalu kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Oh iya, apa kabar dengan 'Jus' incaran Abang?" Kai mengingat sesuatu.
"Jus?" Dava mengerutkan keningnya, padahal Dava tidak terlalu menyukai minuman itu.
"Janda usia subur, Bang." Bantal sofa kembali melayang ke arahnya, tetapi saat ini berhasil ditangkap Kai.
"Namain orang tuh baik-baik, Kai."
"Lah, gue kan nggak tahu namanya siapa?"
"Mm ... Fi ... nggak usah tahulah, nanyi aja," ucap Dava.
"Dih, nggak bakal gue rebut, Bang. Kai masih suka yang ori."
"Siyalan!" umpat Dava.
"Emang sepatah hati itu ya, Bang sama kak Riri?" Kai mencondongkan wajahnya ke arah Dava.
"Jangan ngawur!"
"Terus?"
Bersambung
Happy Reading
__ADS_1
Beuh hari yang semprulna ya bestie wkwkw, ada yang pernah nggak dapat hari semprulna kaya Fimi?
Yuk komen di bawah.