Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Pulang


__ADS_3

Selama satu minggu penuh Fimi tak pergi ke butik. Wanita itu terus menemani sang putra, karena rasa bersalahnya telah membentak anak kecil itu.


Hari ini Fimi sedang bermain di halaman belakang bersama sang putra.


"Mimi opa mau pulang sekarang ya?" teriak Fir berlari mengejar bola.


Fimi tertegun sesaat dan mengingat sesuatu.


"Oh, iya Fir, Mimi lupa, tapi kenapa opa belum telepon ya?"


Wanita itu pun mengajak masuk sang putra, lalu mencari sang mama.


"Ma, Mama!" teriak Fimi.


"Ih, Mimi belisik," gerutu anak kecil itu sambil menutup telinganya.


"Apa, Mi?" Wanita dengan apron biru di tubuhnya itu menghampiri Fimi.


"Papa belum telepon minta dijemput, Ma?" Fimi bertanya dengan wajah berbinar.


"Nggak ada, apa mungkin bukan hari ini ya papa kamu pulang?" Marina menggelengkan kepalanya.


Fimi menghela nafasnya pelan, lalu beralih ke sang putra yang berada dalam gendongannya. "Bagaimana kalau sekarang kita jajan yuk, beli makanan?"


"Asyik! Fil mau esklim, cokat, sama pelmen ya, Mi." Fir mengabsen makanan kesukaannya.


"Manis semua, nanti giginya sakit lagi mau?" Fimi menyentuh pipi gembul putranya dengan jari telunjuknya.


"No, Mimi." Fir menggelengkan kepalanya.


"Ish, kamu tuh gimana sih, Mi. Anak tuh diajarin jajan terus, makannya dikit," ucap Marina dengan menggerutu.


"Nggak apa-apa, Ma, mumpung sehat, mumpung ada uang juga, kalau nggak sehat mah mana mu makan apa-apa, kalau nggak ada uang juga nggak mungkin jajan, iya kan, Fir." Fimi menoleh ke arah sang putra yang dianggukki oleh anak kecil itu dengan senyuman.


"Ish, kalian sama saja, awas jangan jajan yang aneh-aneh!" Nasihat Marina, kemudian kembali ke dapur dan membiarkan putri dan cucunya keluar.


"Siap Bos!" Fimi dan Fir memberi hormat pada wanita  paruh baya yang sudah berlalu ke dapur. Keduanya pun keluar dengan berjalan kaki, karena mini market ada di seberang jalan. Sebenarnya ada beberapa warung dekat rumah Fimi, tetapi kali ini Fir ingin membeli sesuatu yang hanya ada di minimarket.


"Padahal Mimi mau jajan cilok krispi di warung Bu Mirna, emang kamu nggak mau gitu?" Fimi membujuk sang putra.


"Fil mau beli esklim sama cokat kesukaan Fil, Mimi. Di walung Bu Mina kan nggak ada," papar anak kecil itu dengan mengerutkan keningnya, yang terlihat menggemaskan bagi Fimi.


"Oke, oke jangan ngambek, tapi Fil jalan ya, jangan digendong!" Fimi menurunkan tubuh Fir dan menuntunnya.


Keduanya menyeberang dengan hati-hati dan akhirnya sampai di minimarket tujuannya. Fimi membawa satu keranjang dan mengikuti ke mana Fir pergi. Anak kecil itu memilih makanan kesukaannya dan memasukannya ke keranjang yang dibawa oleh Fimi.


Setelah makanan yang mereka suka sudah pindah ke keranjang semua, Fimi pun mengajak Fir ke kasir, antrenya hanya tiga orang saja, jadi Fimi menggenggam tangan Fir dengan erat sambil menunggu giliran. Tak berselang lama, giliran Fimi, wanita itu menyimpan keranjangnya di atas meja kasir. Sebelumnya kasir wanita itu menawarkan beberapa barang diskon yang ada di depan. Namun, Fimi dan Fir menggelengkan kepalanya, semua yang ada di keranjang sudah cukup bagi mereka berdua.

__ADS_1


Setelah membayar dan membawa dua kantong belanjaannya, mereka pun langsung pulang. Saat Fimi menyeberang, tiba-tiba ada sebuah mobil hitam yang masuk ke halaman rumahnya. Wanita itu memicingkan netranya, karena seperti pernah melihat mobil hitam itu.


"Mi, siapa yang datang? Mobil Om Aya balu ya, Mi?" papar Fir yang juga melihat mobil itu.


"Mimi juga nggak tahu, Fir." Wanita itu mengajak putranya untuk segera berjalan menuju rumahnya.


Saat ibu dan anak itu sampai di halaman rumah, terlihat dua pria dewasa masuk ke dalam rumahnya. Fimi menggendong Fir dan dengan langkah lebar terus berjalan dan masuk ke dalam rumahnya. Saat sampai di ruang tamu, Fimi menurunkan Fir di sofa dan menyimpan barang belanjaannya di meja.


Wanita itu menutup mulutnya dengan telapak tangan saat tahu siapa yang datang dan memeluk mamanya. "Papa?"


Pria berpakaian serba hitam itu melepas pelukannya dari sang mama dan berbalik melihat putri bungsunya. "Oh, anak kesayangan Papa." Hendra merentangkan kedua tangannya dan Fimi langsung berlari ke arahnya dan mendekapnya erat.


"Kenapa nggak kasih tahu Fimi, kan bisa Fimi jemput, Pa?" cerocos wanita itu sambil menangis haru. Tanpa ia sadari bahwa ada orang lain di sana yang sedang memperhatikan interaksi ayah dan anak itu.


"Om Dava, kan? Omnya Asa sama Ale?" Tiba-tiba Fir berucap hingga membuat Fimi membeku.


"Hai jagoan, apa kabar?" tanya pria yang disebut Om Dava itu.


"Baik, Om. Om mau apa ke sini?" 


"Tidak ada yang senang Opa pulang ya?" Tiba-tiba Hendra ayah dari Fimi berucap pada sang cucu yang malah bertanya pada pria lain yang mengantarnya.


"Opa! Fil kangen." Anak kecil itu berlari ke arah sang opa dan langsung menggendongnya.


Sementara itu, Fimi beralih ke pria tinggi yang memakai kaus abu itu. "Pak Dava nagapain di sini?" bisiknya.


"Kamu udah kenal Nak Dava?" Tiba-tiba sang papa memotong percakapan putrinya.


"Lo, Papa udah kenal?" Sekarang Fimi yang malah balik bertanya dengan kening berkerut.


"Kenallah, dia itu anak Om Pramudya, kamu emang lupa?"


Fimi mengingat nama itu, dia memang sering mendengar nama itu, tetapi wanita itu pikir, bukan Pramudya sahabat dari sang papa. Karena selama tiga tahun ini Fimi fokus pada butik dan Firdaus, sehingga tak peduli pada dunia luar.


"Jadi, kamu anaknya Om Ganendra?" tanya Fimi setelah mengingat semuanya. Anggukkan dari pria di depannya membuat wanita berambut pendek itu mengembuskan nafasnya pelan.


"Kamu ingat nggak anak cewek yang dulu sering kamu tarik rambutnya?" tanya Fimi pada Dava.


Dava memegang pangkal hidungnya dan mengingat apa yang dikatakan wanita di depannya.


"Eh malah diajakin ngobrol, duduk dulu, biar Tante bikinin minum ya!" Tiba-tiba sang mama berucap.


"Iya, ayo duduk dulu biar enak ngobrolnya. Papa mau ke kamar dulu ganti baju. Fir mau ikut Opa?" Pria paruh baya itu menatap cucunya.


"Fil mau ikut Opa."


Dava dan Fimi kini duduk di sofa. Sementara sang mama sedang ke dapur membawa minuman untuk tamu mereka.

__ADS_1


"Ingat nggak sih?" Fimi mulai merasa kesal saat pria di depannya hanya menatapnya dengan senyuman.


"Anak cewek itu, yang suka nangis, kan? Terus selalu mengadu ke kakak perempuannya kalau rambutnya ditarik." Dava menerka apa yang terlintas di ingatannya.


"Itu aku tahu, makanya aku nggak suka rambut panjang," ucap Fimi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Alhamdulillah kalau memang benar gadis itu adalah wanita di depan aku ini, mudah-mudahan aku bisa lebih gampang untuk mendekatinya," gumam Dava pelan.


"Kenapa sih? kamu ngatain aku?" Fimi masih dengan sikap juteknya.


"Nggak, kalau itu kamu aku minta maaf ya, ternyata kita udah ketemu sejak kecil, tapi lupa," jawab Dava tenang.


"Ketemu kamu emang nggak ada enaknya, pantes aku pas lihat mobil itu berasa pernah lihat, ternyata kamu yang waktu itu hampir nabrak aku, kan?" cecar Fimi.


"Iya, iya maaf, kamu sekarang sama dulu beda ya?" ucap Dava dengan tetap menampilkan senyuman di wajahnya yang membuat Fimi merasa jengkel.


"Bedalah dulu masih anak-anak, sekarang sudah punya anak," jawab Fimi yang membuat Dava merasa ulu hatinya dihujam benda tajam.


"Iya, boleh ketemu sama suaminya?" Dava memberanikan diri.


"Mm … dia lagi kerja, ada perlu apa?" Fimi tergagap.


"Nggak cuma tanya aja." Bersamaan itu Marina datang dengan nampan berisi minuman dan makanan kecil.


"Ngobrol apa sih kayanya seru banget," tanya wanita paruh baya itu sambil menyimpan nampan di atas meja.


"Cerita masa kecil, Tante," jawab Dava sambil menahan tawanya.


"Nak Dava in yang dulu nganterin Fimi, kan?" Marina menatap Dava.


"Iya, Tante."


"Kenapa nggak bilang anaknya jeng Alifa, gimana mama sehat?"


"Alhamdulillah Tante, mami sehat." 


Percakapan itu terus berlanjut hingga makan siang tiba. Dava bahkan ikut makan siang bersama keluarga Fimi. Sementara itu, Fimi merasa kalau dibalik kebaikan Dava ada niat lain pada dirinya, sehingga wanita itu sebisa mungkin terus menghindar dari Dava.


"Fir sudah besar sekarang, kamu belum mau menikah juga, Mi?" tanya Hendra tiba-tiba saat mereka berada di meja makan.


"Eh."


Bersambung


Happy Reading


 Nah lo, jadi suami Fimi yang kerja siapa?

__ADS_1


Ah aku nggak tahu pokoknya ikutin terus ya, duh Babang Dava berbunga-bunga.


__ADS_2