
"Kamu udah tahu kalau Fimi itu udah punya anak, kan?" Dava berucap sambil mulai memilih menu makanan yang akan ia nikmati siang ini.
"Iya, katanya sih, tapi Kai nggak percaya, pas datang ke rumah buat ngundang makan malam, Kai nggak liat ada foto pernikahan dia." Pria itu juga melakukan hal yang sama dengan sang abang.
Setelah memilih menu yang mereka mau, Kai pun memanggil seorang pramusaji untuk menyebutkan makanan yang mereka pesan. Setelah itu, keduanya kembali berbincang mengenai wanita yang tadi jatuh menimpa Dava.
"Jadi, Abang beneran masih suka sama Fifi sampai sekarang?" Kai bertanya hal tak terduga.
"Sepertinya ... iya. Memang dia yang Abang cari selama ini bukan ...." Dava tak melanjutkan ucapannya karena seorang pramusaji datang membawa pesanan mereka.
"Makasih." Satu kata itu meluncur dari bibir Dava, setelah wanita berbaju batik itu mempersilakan menikmati makanannya.
"Ya udah si, kalau emang iya dia yang Abang cari pepet aja terus, Kai juga bakal bantu cari tahu tentang dia." Kai mulai menyuapkan makanannya.
Dava dan Kai langsung pergi setelah menyelesaikan makan siangnya. Keduanya akan kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya mereka yang cukup banyak. Namun, saat mereka melewati persimpangan jalan, ada banyak kerumunan orang.
"Ada apaan ya, Bang. Kaya kecelakaan?" Kai melihat ke arah samping kiri. Keadaan jalanan juga cukup macet. Dava juga menghentikan mobilnya, karena keadaan memang macet.
"Sebentar Kai liat dulu, Bang. Ada apaan sih?" Pria jangkung itu langsung keluar dari mobil. Lalu berjalan ke arah kerumunan yang membuat jalanan menjadi macet itu. Kai mencoba menerobos agar bisa melihat ke depan. Saat sudah tak ada lagi yang menghalangi, Kai melihat sebuah mobil warna putih menabrak pohon besar yang ada di pinggir jalan. Beberapa orang sedang berusaha menurunkan penumpang mobil itu.
Kai yang penasaran langsung mendekati mobil dan melihat siapa penumpang mobil itu. Saat Kai mendekat dan ikut membantu warga di sana. Pria itu mencoba melihat ke dalam mobil itu lewat kaca depan, karena kaca dari pintu cukup gelap. Kai memperhatikan, sampai saat melihat dengan lebih jelas, pria itu seperti melihat pakaian wanita yang mengemudi itu.
"Fi-Fifi?" Kai terbelalak saat seseorang sudah berhasil membuka pintu mobilnya dan mencoba mengangkat tubuh wanita yang tak sadarkan diri itu.
"Astagfirullah, Fifi!" pekiknya tertahan saat wanita itu sudah berada di luar digendong oleh seorang pria berjangggut. Sementara yang lainnya membantu mengeluarkan teman Fimi.
"Coba cari identitasnya, mungkin ada keluarganya yang bisa dihubungi?" ucap seorang pria paruh baya dengan kaos putih.
Kai menerobos masuk ke dalam kerumunan lagi, dan mengatakan bahwa dia adalah keluarganya. Semua orang yang ada di sana menatap curiga ke arah Kai, tetapi Kai meyakinkan semuanya bahwa kedua wanita itu adalah kerabatnya. Kai pun menggendong Fimi menuju ke mobilnya, dibantu yang lainnya untuk menggendong sahabat Fimi.
__ADS_1
Dava mengerutkan keningnya saat melihat sang adik menggendong seorang wanita. Kemudian Dava keluar dan saat melihat siapa yang digendong adiknya. Dava terlihat panik. "Fimi kenapa, Kai?"
"Dia calon suaminya, Bapak tidak usah khawatir, kami akan membawa korban ke rumah sakit." Kai tak menjawab pertanyaan Dava, tetapi pria itu malah berkata hal yang lain, yang membuat Dava kembali mengerutkan dahinya.
Perdebatan dengan warga yang membantu Fimi dan Nesa pun berakhir. Mobil Fimi dibiarkan di sana, dan Kai sudah menghubungi bengkel langganannya. Dava dan Kai mulai melajukan mobilnya.
Fimi dan Nesa masih belum sadarkan diri, darah di wajahnya akibat luka di dahinya. Dava terlihat sangat khawatir, bahkan pria itu sering sekali membunyikan klakson agar kendaraan di depannya melaju lebih cepat. Namun, karena jalanan memang macet, mungkin setiap kendaraan pun melaju dengan kecepatan rata-rata saja.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di rumah sakit terdekat. Dava langsung keluar dari mobilnya setelah membuka sabuk pengamannya dengan tergesa. Lalu pria itu menggendong gadisnya yang masih belum sadar, sementara Kai menggendong Nesa.
Keduanya berjalan cepat dan memanggil perawat agar mendapat penanganan cepat. Untung saja pelayanan di rumah sakit ini cepat, jadi keduanya langsung dibawa ke ruang IGD dan ditangani langsung. Dava dan Kai menunggu di ruang tunggu.
Kai terlihat tenang, tetapi tidak dengan Dava. Pria itu terlihat gelisah dan sesekali mengusak rambutnya. Rasa takut kehilangan mulai menghantuinya.
"Tenang, Bang. Mereka pasti akan baik-baik saja." Kai menepuk bahu sang abang lembut.
"Abang takut ... kehilangan untuk kesekian kalinya." Dava mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Namun, saat keduanya sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba seorang perawat datang menghampiri keduanya. "Maaf ini ponsel milik wanita tadi, sepertinya ada penggilan telepon. Mungkin salah satu keluarganya."
Dava langsung mengambil ponsel itu dan melihat ada foto Fir di layar depannya. Tak berselang lama, benda itu kembali berdering, tertera nama 'Kesayangan' di sana. Dava sempat terdiam, dia berpikir apa mungkin itu suaminya atau mungkin putranya. Namun, akhirnya pria itu pun mengangkat panggilan telepon itu, selain ingin tahu siapa yang menelepon juga ingin mengabari keadaan Fimi.
"Mi, nanti pulang dari butik jangan lupa beliin pesanan mama," ucap seorang wanita di seberang sana yang Dava yakini sebagai Marina, ibu dari Fimi. Ada perasaan lega saat tahu bahwa kesayangan di sana bukan suaminya.
"Assalamu'alaikum maaf, Tante. Ini Dava ...."
"Lo, kok sama Nak Dava, Fimi lagi ke mana?" Marina bertanya heran.
"Maaf, Tante. Saat ini Fimi ... sedang di ... rumah sakit."
__ADS_1
"Apa? Fimi kenapa?" Marina terdengar panik dan mulai terdengar menangis.
"Dava juga tak tahu pasti kejadiannya, Tante, tapi mobil Fimi menabrak pohon di pinggir jalan." Dava memberitahu Marina apa yang ia tahu dari Kai.
"Astagfirullah, Fimi. Pa, Papa! Ayo ke rumah sakit!" Marina terdengar berteriak memanggil suaminya.
"Kamu shareloc rumah sakitnya ya, Nak. Tante akan segera ke sana." Lalu panggilan telepon pun terputus.
Dava kembali duduk sambil memegang erat ponsel milik Fimi. Kai juga baru saja selesai menerima telepon. "Bang, Kai harus segera ke kantor, Abang di sini aja biar Kai urus kantor. Mobilnya Kai pinjam dulu, nanti biar supir yang anterin ke sini." Pria jangkung itu menepuk bahu abangnya.
"Abang di sini nunggu Om Hendra dan Tante Marina dulu, Kai."
"Oke. Tenang saja mereka akan baik-baik saja. Kai duluan ya! Eh mana kunci mobilnya?" Pria itu kembali berbalik dan membalikan telapak tangannya untuk meminta kunci mobil.
Selepas kepergian Kai. Dava hanya bisa menunggu dengan gelisah yang masih menghantui. "Tolong baik-baik saja demi Fir, Fimi." Pria itu bermonolog.
Saat Dava sedang mondar-mandir untuk menghilangkan kegelisahannya, terdengar suara ribut dari arah belakang.
"Mama nggak mau kehilangan untuk kedua kalinya, Pa. Mama takut."
"Tenang, Ma. Kuta berdoa yang terbaik buat putri kita."
"Fir sudah kehilangan papi maminya sejak kecil, Mama nggak sanggup kalau dia juga harus kehilangan Miminya."
"Apa?"
Berasambung
Happy Reading
__ADS_1
Monmaaf ya sepertinya akhir-akhir ini aku upnya bakal malam terus, karena siang tuh riweh banget sama RL, tapi kalau aku bisa up pagi atau siang aku akan langsung kirim kok, tenang aja. Jangan lupa jempolnya ya gerakin.