
"Mas Ivan?" Seorang wanita dengan tubuh langsing dan rambut panjang itu tiba-tiba menyapa.
Kavindra menatap wanita itu tanpa ekspresi, dia tidak mengenalinya. Sementara Kaivan masih terus menunduk murung. Namun, alih-alih mendekati sang adik ternyata wanita itu melewati mereka dan memeluk seorang pria berbaju putih di hadapan mereka.
Penantian yang dirasa cukup lama itu akhirnya berakhir, kini jenazah sang papi sudah dimasukkan ke dalam ambulans. Kavindra dan Kaivan pun ikut masuk ke sana. Raut sedih masih terpancar begitu jelas dari wajah keduanya, terutama Kaivan.
Malam itu juga jenazah Ganendra dimakamkan. Semua keluarga dan kerabat sudah berkumpul di rumah duka.
Mereka semua menyaksikan pemakaman Ganendra dengan perasaan sedih. Pria itu dikenal sangat baik dan bijaksana. Selalu menolong jika keadaan kerabatnya mengalami kesulitan.
Semuanya merasa sangat kehilangan. Setelah acara pemakaman selesai semua keluarga kembali pulang dana akan melakukan acara pengajian esok harinya karena hari sudah sangat larut.
Kaivan masih diam di sofa ruang keluarga, pria itu terlihat begitu murung. Walaupun Dava dan Kavindra sudah membujuknya untuk segera istirahat, tetapi pria itu hanya bergeming. Sampai akhirnya, Kaivan tertidur di sofa ruang keluarga.
*
Keesokan harinya, kediaman Pramudya sudah disibukkan untuk persiapan acara tahlilan yang akan digelar bada isya. Riri dan Sera bertugas untuk berbelanja. Sementara yang lainnya menata rumah untuk acara nanti malam.
Fimi sendiri masih sibuk dengan bayinya, wanita itu tidak bisa membantu banyak, selain masih masa pemulihan setelah melahirkan, Dava dan yang lainnya melarang wanita itu untuk bekerja.
Semuanya terlihat sibuk hari ini. Dava dan Kaivan juga izin tidak masuk kantor karena masih berkabung. Beberapa kiriman bunga bertuliskan berbelasungkawa berjajar rapi di depan kediaman Pramudya.
Tamu juga tak berhenti datang hingga malam menjelang dan waktu tahlilan pun tiba. Banyak sekali orang yang datang untuk mendoakan mendiang Ganendra, selain saudara dan kerabat, tetangga dekat juga ikut hadir.
__ADS_1
Acara itu berlangsung sampai jam sembilan malam. Setelah semua tamu pulang, keadaan rumah terasa sepi kembali, walaupun Kavindra beserta keluarganya menginap di sana. Termasuk orang tua Fimi dan Riri.
Namun, tetap saja rasa sepi masih begitu terasa saat sosok yang mereka sayangi dan kagumi telah tiada dan tak akan pernah kembali.
Malam semakin larut, anak-anak sudah terlelap, Fimi dan Riri juga sudah tertidur karena kelelahan. Di ruang keluarga kini ada Dava, Kaivan, Kavindra. Mereka bertiga masih duduk di sana. Ruangan favorit mereka bersama sang papi.
Di antara ketiganya, Kaivan yang terlihat berubah, putra bungsu Pramudya itu berubah menjadi pria yang murung.
"Dek, masih ada Abang di sini, masih ada mami juga." Kavindra merangkul bahu adiknya.
"Aku ... nggak nyangka papi ...." Kaivan langsung menubruk dada sang kakak dan menangis di sana. Rasa sesak yang ia tahan sejak tadi sang akhirnya tumpah juga. Pria itu menangis pilu. Kavindra mengusap punggung sang adik dengan lembut.
Sementara Dava bersandar pada sandaran sofa dan menengadahkan kepalanya ke atas, pria itu juga masih terluka atas kepergian sang papi, tetapi mencoba menahannya agar tak mengeluarkan air mata.
Kaivan mendongak, begitu juga dengan Dava yang mulai membuka matanya. "Abang adalah abang terbaik yang Kai punya, jangan pernah tinggalin Kai ya, Bang." Pria itu mulai mengusap pipinya yang basah.
"Maafin Dava, Bang." Pria itu juga kini memeluk tubuh sang abang. Kini ketiga pria itu saling berpelukan dengan air mata yang kembali tumpah. Mereka semua mencoba kuat di depan sang mami agar wanita itu tak terpuruk atas kepergian suaminya. Namun, malam ini ketiganya benar-benar menumpahkan rasa sedihnya. Sampai akhirnya mereka bertiga kelelahan dan. tertidur di sofa dengan posisi saling berpelukan. Kavindra berada di tengah dengan kedua tangannya merangkul bahu adik-adiknya.
Sementara itu di kamar Fimi, terdengar suara tangis bayi yang meminta susu. Fimi pun langsung bangun dan tak melihat suaminya di tempat tidur. Namun, karena putri kecilnya terus menangis, akhirnya ia pun langsung menyusui bayinya dengan posisi berbaring miring. Karena setiap malam, Fia akan tidur di ranjang bersama pipi, miminya.
Walaupun Fimi masih mengantuk, tetapi wanita itu menahannya, sampai putrinya benar-benar terlelap kembali. Setelah itu, Fimi akan kembali tidur biasanya, tetapi malam ini tidak. Wanita itu beranjak turun dari tempat tidurnya dan mencoba keluar untuk mencari suaminya.
Saat wanita itu membuka pintu kamar, terlihat pemandangan yang membuat wanita itu menutup mulutnya dengan telapak tangan. Terlihat suaminya sedang tertidur bersama kakak dan adiknya sambil saling berpelukan. Karena ia merasa momen ini sangat langka, Fimi tak mau menganggu mereka, ia pun kembali ke kamarnya. Alih-alih untuk kembali tidur, wanita dengan baju tidurnya itu malah mengambil ponselnya, kemudian kembali keluar.
__ADS_1
Fimi pun langsung mengatur posisi untuk memotret adegan itu. Dirasa sudah cukup, ia pun kembali ke kamarnya dan langsung berbaring di samping putrinya.
Baru saja wanita itu terlelap, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya, hampir saja Fimi menjerit. Namun, suara sang suami membuatnya kembali tertidur.
Sementara Kaivan dan Kavindra tetap tidur di sofa hingga waktu subuh tiba. Keduanya terbangun saat mendengar lantunan adzan. Karena, rumah itu sedang banyak orang, semua lelaki pergi ke masjid untuk melaksanakan salat subuh. Sementara, wanitanya berjamaah di rumah.
Kesibukan hari ini sama seperti kemarin. Mereka semua melakukan hal itu hingga tujuh hari meninggalnya sang papi. Setelah itu, satu per satu keluarga dan kerabat mulai pulang, termasuk Marina dan Hendra juga orang tua Riri. Di rumah itu, kini tinggal Alifa dan anak cucunya.
Kavindra beserta keluarganya masih diam di rumah itu, untuk menemani sang mami. Rasa kehilangan makin terasa saat Davanka, Kavindra dan Kaivan mulai kembali bekerja. Alifa hanya bersama Fimi dan cucu kecilnya juga para asisten rumah tangga.
"Mana cucu Oma, sini udah mandi ya?" ucap Alifa pagi itu pada Fimi yang baru saja selesai memandikan bayinya. Alifa masuk ke kamar Fimi dan melihat menantunya itu sedang memakaikan baju untuk putrinya.
"Iya, Oma. Sebentar lagi kita mau berjemur mumpung matahari udah terang." Fimi menjawab seolah-olah bayinya yang menjawab.
"Kamu jangan pindah rumah ya, Fi. Temenin Mami di sini, Mami nggak mau sendirian di rumah ini." Tiba-tiba Alifa berkata sambil duduk di tepi ranjang.
"Mami janji nggak akan ikut campur urusan rumah tangga kalian, tapi temenin Mami di sini," imbuhnya.
"Mami ...." Fimi selesai memakaikan baju untuk bayinya, kemudian wanita itu menggenggam tangan mami mertuanya. "Iya, Fimi dan anak-anak akan temenin Mami."
Bersambung
Happy Reading
__ADS_1
Ini part-part akhir babang Dava ya bestie jan lupa gerakin jempolnya. Mon maaf aku msih ga enak badan jd kmrin ga up.