
"Kamu jangan tinggalin aku dengan cara seperti ini, Dav!" teriak wanita berambut gelombang itu.
"Bukan aku yang mau, tapi kamu, Al." Pria itu memejamkan matanya dan berusaha melepaskan gandengan tangan wanita cantik itu.
"Aku nggak mau, maafin aku, Dav." Wanita itu kembali menarik tangan prianya.
"kamu yang memilih dia, Alisa. Aku tahu aku bukan pria yang kamu inginkan." Pria yang dipanggil Dava itu kembali melerai geggaman tangan wanita di hadapannya.
"Aku bersumpah akan membalas semuanya, Davanka Pramudya!" pekik wanita bernama Alisa itu.
Davanka yang saat itu baru saja lulus kuliah dan baru merintis perusahaannya, dikhianati begitu saja oleh cinta pertamanya, Alisa. Saat wanita itu meminta izin pada dirinya untuk pergi ke luar kota dengan alasan akan bekerja di sebuah perusahaan yang direkomendasikan oleh sang paman. Namun, ternyata wanita itu bertunangan dengan pria lain di sana.
Davanka yang sudah sangat mencintai wanitanya merasa terpukul, marah, kesal, sakit hati membuncah menjadi satu dalam hatinya. Sehinga ia memutuskan untuk tak pernah mempercayai wanita mana pun.
Suatu hari, Dava mendapatkan klien bernama Abimana, pria paruh baya yang terlihat antagonis pada kesan pertamanya. Tanpa ia duga ternyata pria itu adalah paman dari Alisa.
Dava memang masih baru dalam menekuni pekerjaannya saat itu, tetapi pria itu memiliki insting yang cukup baik dalam menilai rekan bisnisnya. Akhirnya, kontrak bersama Abimana pun ia batalkan.
Alisa makin geram mendengar kabar itu dari sang paman, sehingga ia bekerja sama dengan sang paman untuk menghancurkan pria Pramudya itu.
Segala macam cara telah mereka tempuh untuk menghancurkan Davanka, tetapi selalu saja gagal, sampai akhirnya saat Dava ada pyoyek di Bandung bersama rekan bisnisnya yang baru. Mereka menculik pria itu dan menyiksanya dengan sangat keji, setelah pria itu jatuh pingsan, anak buah Abimana mengantarkan pria itu ke kediamannya. Mereka akan mengkambinghitamkan Davanka atas kasus itu.
\*
Abimana baru saja mengadakan rapat bersama anak buahnya di sebuah gedung tua. Pria itu memilih tempat terbengkalai agar kejahatannya tak terendus oleh pihak mana pun.
Saat perjalanan pulang, ia diberi tahu asistennya bahwa Alia ingin bertemu dengannya. Pria paruh baya itu pun dengan segera menyuruh asistennya itu untuk segera ke tempat keponkannya itu.
Alisa sedang menunggu di sebuah resto, wanita itu beberapakali meneguk minumannya dengan gusar. Tak berselang lama wajahnya berubah berbinar saat orang yang ditunggunya telh datang.
"Paman, akhirnya Paman datang." Wanita cantik itu beranjak dari duduknya.
"Duduklah, Al. Apa ada masalah lagi?" tanya Abimana yang kini duduk di hadapan keponakan kesayangannya itu.
"Apa Paman tahu kalau Dava sudah menikah?" tanya wanita itu dengan serius.
Abimana menghela nafas. "Iya, Al. Paman tahu tiga hari lalu dari anak buah Paman yang ditugaskan untuk mengikuti Dava satu minggu ini."
"Apakah wanita itu lebih cantik dari aku?"
__ADS_1
Abimana merasa iba, Alisa menjadi terobsesi pada Dava setelah kejadian beberapa tahun lalu. Walau bagaimana pun sebenarnya dia lah yang telah membuat keputusan untuk membuat pesta pertuanangan Alisa dengan Anggara saat itu. Pertunangan yang membuat Alisa menjadi wanita matrerialistis. Sampai akhirnya, Anggara memutuskan pertunangan itu saat rencana pernikahan mereka sudah dirancang.
"Paman!" Alisa mengguncang lengan pria paruh baya itu saat, pria itu malah melamun.
"Tentu saja kamu lebih cantik dari dia, Al. Keponakan Paman adalah wanita yang paling cantik." Abimana menghibur Alisa.
Wanita itu sebenarnya sangat depresi atas kejadian yang meimapnya, sehingga membuat dirinya terkadang bersikap seperti anak kecil. Orang tuanya sudah lama meninggal dunia, saat Alisa masih duduk di bangku sekolah dasar. Sehingga hak walinya jatuh kepada Abimana sebagai adik dari mendiang ayah Alisa.
"Kenapa Dava nggak cari aku, Paman? Aku sangat merindukannya."
"Sebentar lagi, kamu hanya harus bersabar sedikit lagi," ujar Abimana sambil meraih kedua tangan keponakannya.
"Lebih baik kita pulang sekarang ya," ajaknya.
Alisa pun mengangguk dan mengikuti sang paman. Wanita itu kini sudah berada dalam mobil sang paman, dan duduk berdampingan.
"Kamu ke sini sama siapa, Al? Sudah paman bilang jika pergi ke mana pun ajak Sisi," ucap Abimana sambil mengusap rambut keponakannya. Sisi adalah asisten yang ditugaskan untuk menjaga Alisa.
"Sisi nggak asyik ah, dia tuh pasti larang aku buat keluar, makanya tadi aku nggak bilang ke Sisi," jwab Alisa sambil memberengut dan melipat kedua tangannya.
Abimana menghela nafasnya. "Sisi benar, Al. Dia nggak mau jterjadi apa-apa pada kamu. Pasti saat ini dia sedang khawatir memikirkan kamu."
Setelah itu, suasana menjadi hening dalam mobil itu. Alisa fokus pada jalanan di sampingnya, sementara Abimana sibuk dengan benda pipih di tangannya.
Tak berselang lama mereka sampai ke kedimannya. benar saja Sisi sedang mondar-madir di ruang tamu dengan sesekali menempelkan ponselnya pada telinga kirinya. Saat pintu terbuka dan Abimana masuk bersama Alisa. Sisi langsung menghampirinya.
"Ya ampun, Non Alisa dari mana? Sisi sampe pusing nyari-nyari, diteleponin juga nggak diangkat-angkat," cerocos wanita yang ditaksir seumuran dengan Alisa itu.
"Kamu bawel, Si. Aki cuma main sebentar," ketus Alisa.
"Alisa aman bersama saya, Si. kamu tenang saja," sela Abimana.
Sisi pun mengangguk dan kini menghikuti Alisa menuju kamarnya. Wanita berpakaian serba hitam itu takut kalau nonanya membutuhkan sesuatu.
\*
Keesokan harinya Alisan dan Abimana sarapan bersama seperti biasa. Pria paruh baya itu memang tidak menikah lagi setelah istrinya meninggal dunia. Jadi, di rumah besar itu hanya ada Alisa dan bebrapa asisten ruamh tangga.
"Hari ini kita jalan-jalan ya, sepertinya kamu sudah lama tidak berbelanja," ucap Abimana.
__ADS_1
Alisa mengangguk karena mulutnya masih penuh dengan makanan. Setelan menelan makananya, kemudian ia berkata, "Aku mau beli baju yang bagus ya, Paman. Biar nanti kalau ketemu Dava dia menyukaiku."
Abimana tersenyum walau sudut hatinya terasa sakit. "Iya, kamu boleh memilih baju apapun yang kamu suka, Al."
"Makasih, Paman."
Setelah selesai sarapan mereka langsung berangkat untuk berbelanja. Sebenarnya Abimana akan mengajak Alisa ke sebuah butik.
Saat merka akan menuju mal, Abimana menghentikan mobilnya di sebuah butik yang baru kali ini Alisa lihat. 'Butik Klarisa'.
"Ngapain ke sini, Paman?" Alisa menoleh ke arah pria di sampingnya.
"Kamu lihat-lihat saja dulu, mungkin saja ada baju yang kamu cari, ayo!" Abimana keluar dari mobilnya.
Alisa pun hanya menurut, dan mengikuti sang paman. Saat mereka memasuki butik itu, keduanya dsambut dengan sangat ramah. Alisa menjadi suka dengan butik baru itu. Pelayanannya juga sangat baik.
Alisa memilih banyak baju di sana dan mencobanya. Semua desainnya begitu unik dan cantik, sehingga Alisa membeli bebrapa baju di sana.
"Pemilik butik ini ada di mana?" tanya Animana pada salah satu karyawan butik.
"Bu Fimi sedang keluar, Tuan, Ada yang bisa kami bantu?"
"Ah, tidak saya hanya ingin berterima kasih karena keponakan saya menyukai baju-baju di sini."
"Nanti akan saya saampaikan. Jika berkenan lain kali boleh kembali ke butik kami untuk mlihat koleksi baru kami."
"Ah! Tentu saja."
Alisa meborong beberapa baju terbaik di butik itu. Wanita itu begitu bahagia. "Paman nanti ajak aku ke sini lagi ya."
Abimana hanya tersenyum, tetapi menganggukkan kepalanya juga.
Nanti kita pasti akan bertemu, Nyonya Dava, tunggu saja kejutan dariku. Abimana mengepalkan tangannya.
Bersambung...
Happy Reading
Cerita babang Dava mau ditamatin sekarang apa mau dipanjangin nih bestie?
__ADS_1