Single Parent Tapi Perawan

Single Parent Tapi Perawan
Cemburu


__ADS_3

Pria berjas abu itu baru saja duduk di kursi kebesarannya, setelah memimpin rapat bulanan perusahaan. Tiba-tiba saja asisten pribadinya datang dan memberi tahu bahwa ibu dari pria itu akan datang ke kantor.


"Baiklah, aku di sini, tidak akan ke mana-mana, Haris." Pria yang tak lain adalah Dava itu menjawab pesan dari asistennya. Kemudian, Haris pun pamit undur diri.


"Tumben Mami ke sini, ada apa ya?" Dava bergumam sendiri, kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi pujaan hatinya. Namun, saat pria itu memberi pesan, hanya tertera dua centang abu yang artinya belum dibaca, lalu pria itu pun mencoba menelponnya, tetapi tak diangkat juga walaupun sambungannya aktif.


"Mungkin Fimi sedang sibuk." Dava meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, matanya terpejam. Tidak tidur, hanya melepas penat saja.


Tak berselang lama suara ketukan di pintu, membuat matanya terbuka, saat pria itu berkata masuk, Haris membuka pintu dan diikuti oleh pria dan wanita paruh baya yang sangat ia sayangi.


"Mami, Papi?" Dava beranjak menyambut orang tuanya, pria itu tak menyangka kalau papinya juga datang.


Keduanya duduk di sofa, lalu diikuti oleh Dava. Setelah menyalami keduanya, Dava pun bertanya maksud kedatangan mereka.


"Mami sama Papi udah pesenin kamu baju pengantin, jadi kamu tinggal fitting nanti di butiknya Fimi, ya," ucap Alifa yang dianggukki oleh Ganendra.


"Lho, emang Papi sama Mami udah ngelamar Fimi?" Dava tersentak mendengar ucapan dari sang mami.


Namun, jawaban dari keduanya membuat Dava  makin bingung.


"Mami udah siapin jodoh yang lain buat kamu," sela Alifa.


"Mi, jangan bercanda, Dava bisa nyari jodoh Dava sendiri," bantah pria yang kini hanya mengenakan kemeja putih itu, sementara jasnya ia sampirkan di kursi.


"Mami sama Papi nggak bercanda, besok kamu pergi ke butik Klarisa bersama calon kamu, untuk fitting baju." Alifa berucap tanpa ingin dibantah.


"Mi … tapi Dava …."


"Sudah pokoknya dengerin Mami, kami sudah mulai senja dan belum tenang smapai kamu akhirnya menikah, Dav."


"Kaivan juga belum, Mi." Dava mencoba membantah.


"Usia kamu sama Kai itu jauh, kamu udah cukup untuk membangun rumah tangga."


"Bisakah, Dava menentukan pilihan Dava, Mi?" Pria itu mencoba bernegosiasi dengan sang mami.


"Kali ini nggak, Mami sama Papi udah setuju, orang tua pihak sana juga udah setuju," ucap Alifa sambil menlirik ke arah suaminya yang sedang tersenyum.


"Pi, bantuin Dava dong," rengek pria dewasa itu.


Namun, sepertinya permintaan sang mami tak bisa dibantah lagi, sampai akhirnya pria itu menyetujuinya. Setelah itu, Alifa dan Ganendra pun pamit pulang.

__ADS_1


"Ingat pesan Mami ya." Wanita paruh baya itu mengusap kepala putranya.


Dava menelepon kembali kekasihnya, setelah kepergian orang tuanya. Namun, nihil wanita itu tetap tak mengangkatnya. Sampai akhirnya, pria itu pun memutuskan untuk pergi menemui kekasihnya.


Pria itu berpesan pada Haris agar meng-handle semuanya untuk sementara waktu.


Dava melajukan mobilnya menuju butik sang kekasih. Selama perjalanan kalimat sang mami tentang pernikahannya terus berputar di kepalanya, sampai suara klakson mobil menyadarkan dirinya kalau lampu lalu lintas sudah berubah hijau.


Pria yang kini hanya mengenakan kemeja putih itu pun kembali melajukan mobilnya. Sesekali ia mengacak rambutnya karena gusar. Bagaimana menjelaskan semuanya pada Fimi, wanita yang baru saja ia dapatkan.


Tak berselang lama, mobil hitam itu sudah sampai di parkiran butik. Dava menghela nafasnya pelan, sebelum keluar dari mobilnya. Dua kancing kemeja atasnya sengaja pria itu buka. Lalu ia pun akhirnya keluar dan masuk ke butik.


Suasana di butik itu ramai seperti biasa, Dava langsung menuju ke ruangan Fimi. Pria itu mengetuk pintu dan tak berselang lama benda itu pun terbuka. Seorang wanita yang berdiri di depannya, adalah wanita yang sedang ingin ditemuinya.


"Silakan masuk, Pak Dava!" Fimi mempersilakan pria itu masuk dengan nada formal seperti pada para pelanggannya.


"Fi ...." Dava menatap teduh ke arah gadisnya yang saat ini terlihat kembali dingin seperti sebelumnya.


"Apa Pak Dava menginginkan model baju yang lain? Sehingga harus datang ke sini dalam keadaan ...." Fimi menatap Dava dari atas sampai bawah, pria itu terlihat berantakan seperti awal pertemuan mereka saat hendak bertabrakan dulu.


Dava mengabaikan ucapan wanita yang kini tetap berdiri dengan pita meteran di lehernya. Kemudian pria itu, mendekat dan mendekap tubuh mungil Fimi, walaupun wanita itu menolaknya.


"Biarkan seperti ini sebentar saja," lirihnya.


"Ini bukan keinginan aku. Aku nggak tahu semua akan terjadi ... aku mohon, dengarkan penjelasan aku dulu." Dava semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepasin aku, Pak Dava." Fimi berucap lirih dan menahan tangisnya.


"Nanti ada yang marah lho, Pak," imbuhnya.


"Apa kamu tidak mau memperjuangkan aku?" Dava meregangkan dekapannya dan menatap wajah gadisnya yang sedikit berbeda.


Fimi mendorong tubuh Dava, hingga dekapannya terlepas. "Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika orang tuamu tak menghendakinya."


Saat wanita itu akan berbalik, Dava kembali menariknya ke dalam dekapannya. Kali ini pria itu memeluknya dari belakang.


"Lepasin aku!" Suaranya tercekat di tenggorokan menahan sesak di dadanya. Menahan tangis agar terlihat baik-baik saja, tetapi tetap saja saat Dava ada di hadapannya pertahannya seolah luruh.


"Maafin aku, Sayang."


"Lepas!" Kini Fimi mulai menangis. Nesa yang melihat itu, akhirnya keluar dari sana, membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu mau mendengarkan aku," jawab Dava.


Fimi pun mengalah, ia akhirnya mengangguk dan bersedia untuk mendengar semua penjelasan pria yang saat ini terlihat begitu kacau.


Dava menarik tangan Fimi dan mengajaknya duduk di sofa. Wanita itu terlihat mengusap pipinya yang basah, hidungnya yang merah karena menangis terlihat begitu menggemaskan di mata Dava. Namun, pria itu menahan diri untuk tidak mengecupnya.


"Mami kamu datang untuk membuat baju pengantin ... kenapa harus aku yang buat, Bang?" Fimi akhirnya mengutarakan isi hatinya.


"Kalau memang kamu mau bikin aku cemburu, kamu berhasil dan rasanya begitu sakit." Fimi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Dava mendekat dan kembali menarik tubuh gadisnya. "Maafkan aku."


Setelah itu, Dava pun menjelaskan duduk permasalahannya. Dia juga bersumpah bahwa semua itu di luar kendalinya, bahkan ia juga terkejut saat orang tuanya datang ke kantornya.


"Besok aku disuruh Mami ke sini, katanya sama calonnya, kita lihat besok," ucap Dava hati-hati.


"Kamu tega banget bawa cewek lain ke sini, terus aku harus bikin baju pengantin buat dia?" protes Fimi.


"Aku janji akan gagalkan semuanya, kalau calonku itu tak sesuai," balas Dava.


"Jadi, kalau dia cewek yang kamu suka kamu mau? Jahat!"


"Eh, bu-bukan gitu, Sayang." Dava tergagap, dia memang salah mengucapkan kata.


"Udah sana nikah sama cewek pilihan kamu, jangan harap aku kerjain baju pengantin kalian," ancam Fimi.


Namun, mendengar ancaman itu, Dava malah tersenyum hingga membuat Fimi mengerutkan dahinya. "Ternyata kamu bisa cemburu juga, senang banget aku."


"Eh, mana ada, nggak," bantah Fimi.


"Iya, tuh mukanya merah gitu."


"Nggak."


"Iya."


"Nggak, nggak."


Tiba-tiba saja Dava mendekat dan mencondongkan wajahnya ke arah wajah Fimi, makin dekat, makin dekat dan ....


Bersambung

__ADS_1


Happy Reading


Cemburu itu emang nyiksa sih, sama kaya aku cemburu ke kalian yang nggak mau gerakin jempolnya, padahal aku juga gerakin jempol lo buat cerita ini. Eh canda.


__ADS_2